Aku Memilih Berpisah

Aku Memilih Berpisah
Episode 39


__ADS_3

"San,aku sudah menerima cinta Mahendra" Cerita Rianti saat dia berkunjung kerumah sahabatnya itu.


"Wah,bagus dong.Aku senang mendengarnya Ri" Sahut Sania.


"Tapi aku masih ragu dan tidak yakin dengan perasaanku,San.Lagi pula aku masih takut untuk memulai suatu hubungan,aku masih trauma,aku takut gagal" Ucap Rianti sendu.


"Wajar sih kamu masih ragu...tapi aku tekankan sekali lagi Ri,Mahendra itu baik dan tulus mencintai kamu."


"Andika juga dulu baik,perhatian dan penuh kasih sayang tapi kenyataannya dia tetap selingkuh kan?"


"Sekarang coba kamu pikirkan Ri,masa iya Mahendra akan selingkuh dan meninggalkan kamu,setelah hampir sepuluh tahun mencintai kamu dan menunggu kamu" Sania menatap Rianti untuk meyakinkan sahabatnya itu.


Rianti menunduk dan terdiam memikirkan ucapan Sania.Ada benarnya juga ucapan Sania.Rianti menarik nafas.


"Baiklah San,aku akan coba jalani hubunganku dengan Mahendra" Rianti tersenyum.


"Aku yakin hubungan kalian akan berhasil,kalian pasangan yang cocok,semangat ya."


***


Rianti bagun pagi lebih awal,dia berencana mulai hari ini akan membawa bekal makan siang dari rumah setiap hari.Dia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.Karna setelah menerim cinta Mahendra,bosnya itu seperti tidak sungkan menunjukkan perasaannya.Selesai menyiapkan bekal untuk dia dan Andre dan mengantarkan Andre ke sekolah.Rianti bersiap siap untuk berangkat ke kantor.


Rianti berdiri di depan teras rumahnya untuk menunggu ojek online.Sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depannya.Dari dalam mobil keluar Mahendra sudah rapih dengan pakaian kantornya dan tersenyum pada Rianti.


"Pak Mahendra,kenapa bapak tiba tiba ada di sini?"


Rianti terkejut dan celingak celinguk melihat sekelilingnya apakah ada tetangganya yang melihat.


"Ah iya,saya sengaja datang untuk menjemput kamu" Mahendra kembali tersenyum dan membukakan pintu mobil bagian depan untuk Rianti.


Tanpa bertanya lagi Rianti masuk tergesa gesa kedalam mobil,takut ada yang melihat ada seorang pria yang menjemputnya.


"Pak Mahendra,apa yang bapak lakukan?" Rianti memandang wajah Mahendra dengan tidak ramah.


"Saya hanya menjemput kamu,apa ada yang salah?" Mahendra mulai menjalankan mobilnya.


"Salah pak! Besok-besok jangan jemput saya lagi.Saya tidak mau ada tetangga yang menggosipkan saya!" Rianti agak kesal atas pertanyaan Mahendra.


"Masa hanya karna saya menjemput kamu,tetanggamu menggosipkan kita."


"Pak Mahendra harusnya mengerti posisi saya pak.Saya ini seorang janda,apa kata orang orang nanti,melihat saya di jemput oleh seorang pria."


"Maaf" Mahendra terdiam mendengar Rianti menyebutnya seorang janda,dia sampai lupa hal itu.


Rianti memandang Mahendra yang terdiam." Maaf pak,bukan maksud saya mau marah marah pada bapak" Rianti mulai melunak.


"Ngga apa apa,seharusnya sebagai orang yang mencintai kamu,saya harus lebih peka terhadap kamu.Tapi kamu sudah tidak marah lagi kan?"


"Iya"


"Syukurlah,saya jadi merasa bersalah,karna kita baru menjadi sepasang kekasih tetapi sudah membuat kamu marah" Mahendra tersenyum dan lebih mengencangkan laju mobilnya.


Istirahat makan siang,Rianti beranjak dari kursi kerjanya menuju pantry.Mahendra yang berniat mengajaknya makan siang mengikuti Rianti.


"Bu Rianti,mari kita turun untuk makan siang."


Rianti kaget dan membalikkan badannya menghadap Mahendra.


"Ah maaf pak,saya bawa bekal makan siang dan saya hendak ke pantry untuk makan siang."


"Oh begitu ya...kalau begitu apa saya boleh ikut?" Mahendra senang akan makan siang hanya berdua dengan wanita pujaannya.


"Ah bagaimana ya...saya kuatir masakan saya tidak cocok di lidah bapak."


"Pasti cocok" Mahendra mendorong pintu pantry untuk duluan masuk.


Rianti mengikuti langkah Mahendra dan menggelar masakan yang dia bawa diatas meja.


"Sepertinya ini enak semua,tapi kenapa kamu membawa bekal makan siang sebanyak ini? Apa kamu sudah merencanakan untuk mengajak saya untuk makan berdua di pantry?" Mahendra tertawa ringan.

__ADS_1


"Tidak! Mana ada saya berencana akan mengajak bapak makan siang bersama.Saya membawa agak banyak,akan saya berikan untuk mas Raka,OB yang banyak membantu saya selama saya di sini" Jawab Rianti dengan cepat.


"Kamu kenapa tidak senang begitu wajahnya?"


"Bapak mau makan atau ngobrol terus!" Rianti mulai sewot.


"Ok-ok...kita makan" Mahendra mulai mengambil makanannya.Sepotong ikan kakap gulai dan mulai memakannya.Tapi dia mengalami kesulitan karna menggunakan sendok.


Melihat hal Itu, Rianti berinisiatif membantu Mahendra melepaskan daging ikan dari durinya.


"Kalau makan ikan lebih enak pakai tangan,jadi dagingnya bisa diambil semua."


Mahendra memandang wajah Rianti yang sedang serius memisahkan duri ikan miliknya.


"Rianti"


"Ya?"


"Kamu romantis sekali"


Rianti mengangkat wajahnya hendak marah pada Mahendra,tapi tiba tiba dia teringat dengan perkataannya akan menjalani hubungannya dengan Mahendra.Akhirnya Rianti tersenyum.


"Sudah selesai,bapak boleh makan" Rianti menjilati sisa sisa kuah ikan yang ada ditangannya.Melihat itu Mahendra jadi ingin di suapi oleh Rianti.


"Tapi aku mau di suapi,soalnya takut bumbunya tumpah mengenai kemeja saya."


"Ih bapak apaan sih,nanti kalau dilihat orang bagaimana?"


"Nggak akan ada,ini kan bukan pantry umum."


"Iya baiklah pak bos,kesini kan sendok bapak."


Rianti mulai menyuapi Mahendra,tapi baru suapan pertama tiba tiba pintu pantry terbuka dan dari balik pintu Ardi muncul dengan wajah terkejut.


"Ah maaf" Ardi hendak langsung pergi.


"Seperti yang saya bayangkan pun tak apa apa bu Rianti" Ardi melenggang pergi sambil nyengir.


"Ya Tuhan...bagaimana ini pak! Pak Ardi melihat kita!" Rianti panik.


"Sayang...kita hanya makan,kenapa kamu sampai panik gitu" Mahendra menenangkan Rianti dengan menyentuh tangannya.


"Tapi..."


"Sudah,kamu suapi aku lagi,lapar nih..." Mahendra membuka mulutnya.


"Aku juga lapar..." Sungut Rianti.


"Mau aku suapi..."


"Nggak...aku bisa makan sendri"


"Sini aku suapi" Mahendra mengambil sendok dan piring dari tangan Rianti.


"Iiih...Nggak mau"Rianti menahan piring dan sendok.


"Ternyata selain cantik,Kamu juga menggemaskan" Mahendra mencubit hidung Rianti.


"Hendra berhenti godain aku..." Rianti menggembungkan pipinya.


"Ha...ha...ha..." Mahendra tertawa renyah,dia benar benar gemas.


Setelah menjalin hubungan selama hampir tiga bulan dengan Rianti dan menunjukkan ada prospek kedepan,Mahendra memutuskan untuk membawa Rianti bertemu kedua orang tuanya.


Selepas jam kerja Mahendra menghampiri Rianti yang sedang merapihkan mejanya"Besok aku mau ajak kamu ketemu dengan kedua orang tuaku.Kamu dandan yang cantik ya."


"A-Apa...ketemu dengan orang tua mu?" Mata Rianti terbelalak tak percaya.


"Iya,ini bukti keseriusan ku pada mu" Mahendra duduk di sisi meja Rianti.

__ADS_1


"Tapi aku belum siap Hen,aku takut orang tua mu tidak setuju dengan hubungan kita."


"Kamu sedikit sudah mengenal orang tua ku kan...terutama ibu.Dulu waktu SMA Kamu dan Sania sering datang untuk kerja kelompok.Kamu lihat sendiri,keluarga ku itu keluarga moderat,independen...jadi apa yang kamu takutkan?"


"Hendra...kuharap kamu mengerti posisi aku."


"Kamu jangan takut,ada aku...aku akan selalu menggenggam tanganmu."


"Tapi Hen..."


"Jangan katakan kamu takut karna statusmu.Tidak ada wanita di dunia ini mau menyandang status janda.Percaya sama aku semua akan baik baik saja,kita akan hadapi bersama" Perkataan Mahendra mampu meyakinkan dan membuat Rianti Percaya diri.


***


Kedua orang tua Mahendra terkejut,wanita yang di bawa anaknya kerumah ternyata Rianti.Mereka sempat mengenal Rianti walau tidak dekat.Terakhir mereka bertemu Rianti sewaktu Mahendra di rawat di rumah sakit karna kecelakaan.Yang mereka pikirkan Rianti datang hanya sebagai seorang sekretaris,tidak lebih.


Tapi hari ini,Mahendra memperkenalkan Rianti sebagai calon istrinya.


Bu Widya sangat syok begitu tau bahwa Rianti adalah seorang janda anak satu,tapi beliau berusaha menyembunyikannya.Rianti hanya bisa diam dan menunduk.


"Kamu sudah dewasa Hendra,jadi ayah menyerahkan semua keputusan ditangan kamu.Kami sebagai orang tua hanya bisa memberi dukungan dan doa" Kata pak Heriawan ayahnya Mahendra.Sementara bu Widya hanya diam.


"Ayah,ibu...terimakasih atas dukungan dan doa kalian berdua.Hendra izin antar Rianti pulang dulu."


Rianti pamit izin kepada bu Widya." Tante,Rianti pamit pulang dulu" Rianti menyalim pada bu Widya tapi beliau masih tetap diam,Rianti jadi merasa tidak enak.


Bu Widya pun tidak ikut mengantarkan Mahendra dan Rianti kedepan seperti yang dilakukan pak Heriawan.


"Sayang...kamu mengapa diam saja.Kasihan kan Riantinya.Dia pikir kamu tidak menyetujui hubungan mereka" Ucap pak Heriawan begitu Mahendra dan Rianti pergi.


"Memang ibu tidak setuju pak!" Bu Widya mengeluarkan amarahnya yang dari tadi dia tahan.


"Sampai mati pun ibu tidak akan setuju Hendra menikah dengan Rianti!" Mata bu Widya mulai berkaca kaca.


"Sudah bu...lebih baik kita istirahat,sudah malam.Besok kita bicarakan lagi sama Mahendra" Pak Heriawan menarik tangan istrinya dengan pelan.


"Ibu mau menunggu Hendra sampai pulang!" Bu Widya menarik tangannya kembali.


"Ya sudah,ayah istirahat dulu."


Tidak sampai satu jam Mahendra kembali pulang kerumah sesudah mengantar Rianti pulang.


"Ibu belum tidur?" Mahendra duduk disebelah ibunya.


"Ibu mau bicara sama kamu sekarang...ibu tidak setuju kamu menikah dengan Rianti!" Bu Widya to the point.


"Bu,apa alasannya ibu tidak setuju Hendra menikah dengan Rianti...apa karna dia seorang janda?"


"Itu kamu tau,Ibu heran sama kamu Hendra.Apa tidak ada lagi anak gadis di dunia ini,hingga kamu memilih seorang janda?!"


"Bu,ini bukan masalah gadis atau janda.Ini masalah cinta.Hendra tidak bisa memilih pada siapa Hendra jatuh cinta.Cinta itu hadir begitu saja."


"Ibu nggak ngerti dengan jalan pikiran kamu.Otak kamu di taro dimana? Hingga kamu memilih wanita bekas orang lain."


"Ibu nggak boleh berkata begitu...bukan keinginan Rianti untuk menjadi seorang janda tapi itulah takdir yang harus dia terima" Mahendra berusaha melunakkan hati ibunya.


"Oh Tuhan...Hendra...apa nanti kata orang saat kamu menikahi seorang janda.Membayangkannya saja ibu hampir gila!"


Pak Heriawan datang karna mendengar suara istrinya sampai ke kamar.


"Bu,sudahlah...besok lagi kita bicarakan,lebih baik sekarang kita istirahat.'


"Ibu maunya bicara sekarang! Pokoknya kamu harus memutuskan hubungan kamu dengan Rianti.Kalau tidak,lebih baik ibu mati saja!" Bu Widya terus berteriak.


" Sudah bu,malu di dengar tetangga" Pak Heriawan membawa istrinya kekamar.


"Hendra,kamu istirahat sana!" Kata pak Heriawan sambil menuntun istrinya.


"Baik ayah" Mahendra berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2