
"Ma,Mahendra melamar Rianti,kami akan segera menikah" Ucap Rianti saat berkunjung kerumah bu Halimah untuk melihat Andre.
"Wah syukurlah sayang,selamat ya...semoga semua berjalan lancar sampai hari pernikahan" Bu Halimah merasa bahagia mantab menantunya itu akan segera menikah lagi.
"Aamiin,terimakasih ya ma...oiya besok rencananya Rianti mau bawa Andre kerumah Mahendra untuk diperkenalkan kepada keluarganya.Ini juga atas usul Mahendra."
"Mama yakin pasti keluarga Mahendra pasti langsung suka lihat Andre.Dia anak yang pintar dan ramah."
"Oiya ma bagaimana keadaan mas Andika,apa sudah dapat pendonor livernya?"
"Belum Rianti,kondisinya makin hari kian melemah.Dia sering mengeluh sakit di bagian perutnya yang membengkak.Ke kantor pun sudah jarang,mungkin sebentar lagi dia harus resign" Rianti memberikan pelukan untuk bu Halimah yang terlihat mulai rapuh.
Ternyata percakapan Rianti dan mamanya didengar oleh Andika saat akan melewati rung tamu.Dengan cepat dia kembai masuk kedalam kamar dan menghubungi Anita.
"Anita,kerjamu memang tidak becus.Saya sudah membayar mahal tapi mana haslnya.Rianti dan Mahendra sebentar lagi akan menikah!" Omel Andik begitu Anita mengangkat teleponnya.
"Maaf pak Andika....Mahendra itu orangnya sangat sulit didekati.Orangnya seperti tidak tersentuh,saya sudah berusaha sebisa saya,mau bagaimana lagi."
"Karna kamu gagal, jadi uang yang saya sudah transfer kamu kembalikan lagi,saya tidak---"
Tut tut tut...
Sambungan telepon diputus Anita,Andika kesal dan melempar ponselnya diatas kasur.
"Sial,dasar tidak berguna!"
Bu Halimah dan Rianti mendengar suara teriakan Andika dan dengan cepat mereka menyusul kekamar Andika takut terjadi sesuatu padanya.
Bu Halimah langsung menerobos masuk pada pintu yang setengah tertutup dengan wajah tegang.
"Andika,kamu kesakitan lagi?" Suara bu Halimah terdengar bergetar.
Andika hanya diam dengan wajah dingin dan menyeramkan.
"Nggak apa-apa ma,keluarlah!" Andika melirik Rianti tajam.
Dengan cepat Rianti keluar,diam tau Andika tidak menginginkan kehadirannya.Namun terbesit rasa kasihan dihatinya melihat kondisi tubuh Andika.Wajahnya begitu pucat,tubuhnya agak membengkak.
Bu Ratih menutup pintu,memang akhir-akhir ini Andika sangat susah di ajak bicara,akibat emosinya yang semakin labil.
__ADS_1
"Ma,kenapa mas Andika tidak dirawat dirumah sakit saja,kondisinya sepertinya semakin drop" Ucap Rianti saat mereka kembali keruang tamu.
"Andika menolak,sangat susah untuk untuk berkomunikasi dengan dia sekarang.Oiya sayang...apa kamu masih berminat pindah kerumah yang ditempati Siska?"
"Masih ma,memangnya kenapa ma?"
"Mama nggak tega menyuruh Siska pindah karna ternyata dia sedang hamil."
Rianti sedikit terkejut," Kalau gitu nggak usah ma,kasian juga Siskanya."
***
Mahendra kini ada di depan gerbang rumah Rianti,"Kamu kecepatan datangnya,saya kan suruh jemput jam sepuluh,ini baru jam tujuh pagi.Sebaiknya kamu pulang dulu atau kemana dulu jalan-jalan,aku mau mandi dulu" Rianti berdiri dibalik gerbang rumahnya masih memakai baju tidur.
"Dari tadi malam saya tidak tidur karna ingin cepat-cepat pagi biar ketemu kamu.Sekarang kamu suruh saya pulang.Nggak mau,saya mau tunggu disini aja" Mahendra berdiri tersenyum dengan kedua tangannya di masukkan kedalam kantong celananya.
"Ya sudah,kalau gitu kamu tunggu diteras aja" Rianti membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Mahendra masuk.
"Kamu sudah sarapan belum?"
"Tadi hanya sempat ngopi doang" Mahendra duduk di salah satu bangku yang ada diteras.
Mahendra senang Rianti memperhatikan dan mengkuatirkan dirinya.
"Mau bubur ayam nggak? Itu kedengaran suara bubur ayam mau lewat" Tawar Rianti.
"Mau,tapi biar saya aja yang beli" Sahut Mahendra berdiri dari duduknya.
"Jangan,biar aku aja.Kamu mau campur atau pakai apa aja?"
"Baiknya kamu kedalam dulu,pakai jaket atau apa gitu."
"Memangnya kenapa dengan baju tidur saya? Nggak pendek atau seksi" Rianti melihat baju tidur yang dia kenakan dari bawah hingga atas.Tiba-tiba dia tersadar tidak memakai bra di balik baju tidurnya.Matanya membulat,seketika Rianti berlari masuk kedalam sambil menutup wajahnya yang merah padam dengan kedua tangannya.Mahendra hanya geleng-geleng kepala.
Rianti memutuskan untuk sekalian mandi,lupakan bubur ayam,perutnya tiba-tiba laparnya hilang.
Didalam mobil Rianti hanya diam.Mahendra meliriknya sesekali.
"Lain kali jangan berpakaian begitu kalau keluar rumah,untung saya lihat sebelum kamu beli bubur ayam,kalau nggak ab---"
__ADS_1
"Biasanya juga aku nggak pernah keluar pagi-pagi,kamu yang salah,pagi-pagi sudah datang" Rianti masih ngambek dan menyalahkan Mahendra.
Pagi ini mereka berniat menjemput Andre kerumah neneknya.Mereka akan membawa Andre untuk dikenalkan pada keluarga Mahendra.
Sampai didepan rumah,terlihat Andika ada diatas kursi roda sedang didorong pak Arman dibantu pak sopir yang akan menaikkan Andika keatas mobil.
Ada bu Widya dibelakangnya menangis sesenggukan.Rianti dengan cepat menghampiri dengan wajah takut dan penuh kekuatiran.
"Ma,apa yang terjadi?" Rianti menyentuh lengan bu Halimah.
"Andika tadi muntah darah banyak sekali,kami akan membawanya kerumah sakit.Andre sudah rapih,kamu bawa saja Andre kerumah kamu.Mama belum tau kapan pulang kerumah."
Rianti mengangguk" Maaf ma,Rianti tidak bisa ikut ngantar."
"Iya sayang nggak apa-apa,kamu jaga Andre ya" Bu Halimah ikut masuk kedalam mobil.
Mahendra berdiri agak jauh,kuatir kehadirannya tidak tepat.Ada rasa kasihan didalam hatinya melihat kondisi Andika yang lemah tak berdaya.
Rianti masuk kedalam rumah untuk menjemput Andre dan membawa barang-barangnya yang sudah rapih didalam tas.
"Halo Andre,masih ingat sama om?" Mahendra menyapa Andre yang tampak ganteng dan segar karna habis mandi.
"Halo juga om,masih ingat dong" Andre berjalan mendekat pada Mahendra dan menyalim tangannya.
"Hari ini om akan ajak Andre kerumah om,mau kan?"
"Mau om" Andre tersenyum senang.
"Ok,kalau gitu kita naik ke mobil om sekarang ya!" Rianti sengaja menyuruh Andre duduk di bangku depan sebelah Mahendra agar mereka bisa mengobrol lebih akrab.
Rianti senang,Andre anak yang ramah dan mudah bergaul.Tapi dia merasa kuatir dan was-was,bagaimana nanti reaksi bu Widya saat bertemu Andre.
"Hen,bagaimana nanti kalau Tante Widya juga tidak menyukai kehadiran Andre.Aku takut" Rianti menahan tangan Mahendra saat akan memasuki rumah orang tua Mahendra.
"Ibu nggak akan menyakiti anak kecil,kamu harus yakin" Mahendra mengusap pelan punggung Rianti.
Tanpa di perintah Andre mengucapkan salam saat memasuki rumah orang tua Mahendra.Nenek dan Elara menyambut kedatangan mereka dengan senang dan bahagia.Terlebih Elara,karna belum punya anak setelah tiga tahun menikah dia begitu surprise Rianti datang dengan membawa anaknya.
Andre dengan ramah menyapa dan menyalami semua penghuni rumah.Nenek dan Elara selalu mengekori kemana pun Andre bergerak.Dengan gemas mereka berdua selalu bergantian memeluk dan mencium pipi chubby Andre.
__ADS_1
Tiba-tiba emosi dan rasa marah bu Widya hilang begitu saja begitu melihat Andre yang ramah dan sopan.Ingin juga dia mencium pipi chubby Andre.