
Setelah seminggu lebih tidak ngantor,pagi ini Mahendra kembali pada rutinitasnya.Mahendra sangat merindukan suasana kantor,ruang kerjanya,tentunya lebih rindu untuk bertemu Rianti.Sudah tidak sabar rasanya Mahendra untuk sampai ke kantor.Dia menyuruh supirnya untuk lebih cepat lagi,tapi apa mau dikata pagi begini memang jamnya macet.Rasa rindu menghentak hentak di dadanya.Seandainya saja ia punya sayap ingin rasanya terbang secepat kilat.Atau coba saja mobil ini punya sayap.Mungkin lain kali dia akan memesan mobil khusus di desain mempunyai sayap.Jalanan macet benar benar menyiksanya.
Baru sampai di depan gedung perkantoran saja,jantung Mahendra sudah berdebar kencang.Mahendra bergegas keluar dari mobil,tubuhnya yang tinggi tegap berjalan penuh kharisma.Semua karyawan yang berpapasan memberi hormat.
Saat berada di dalam lift,rasanya lift itu lambat sekali menuju kelantai dua belas tempat kantornya berada.
Setelah sampai Mahendra langsung masuk tidak menggubris Ardi yang menyambut dan menyapanya.Matanya fokus mencari keberadaan Rianti.
Rianti tidak ada dibalik meja kerjanya,ternyata dia sedang ada didalam ruang kerja Mahendra.Pintu dibuka,Mahendra melihat didalam,tampak Rianti sedang merapihkan meja kerjanya.
Mendengar suara pintu dibuka Rianti mengangkat kepalanya yang sedang menunduk.Rianti tersenyum dan menyapa Mahendra yang sudah berdiri didepan matanya.
"Selamat pagi pak,senang melihat pak Mahendra sudah sehat seperti sediakala.Selamat kembali bekerja pak" Rianti kembali tersenyum dengan sedikit membungkukkan badannya.
Mahendra diam terpana melihat penampilan Rianti hari ini,dia kelihatan cantik dan anggun dengan stelan kerjanya yang berwarna navy,sangat cocok di kulitnya yang putih.
"Pak Mahendra...apa bapak kurang sehat?" Tanya Rianti melihat Mahendra hanya diam memandangnya.
"Pak Mahendra" Panggil Rianti lagi lebih mendekat pada Mahendra.
"Ah iya,terimakasih sudah merapihkan ruangan saya" Mahendra tersadar.
"Apa ada lagi yang bapak butuhkan?"
"Oiya...tolong buatkan saya segelas kopi,jangan terlalu manis jangan terlalu pahit" Mahendra masih ingin berbicara dan memandang wajah Rianti.
Rianti heran dengan permintaan Mahendra karna bosnya itu bukan penyuka kopi dan selama bekerja disitu belum pernah sekalipun minta dibuatkan kopi.
"Baik pak" Rianti bergegas ke pantry.Hanya dalam hitungan menit kopinya selesai dibuat Rianti.
"Ini kopinya pak,bapak coba dulu,apakah sudah pas rasanya" Rianti meletakkan mug putih yang berisikan kopi di atas meja Mahendra.
"Kalau kamu yang bikin pasti rasanya pas jadi saya tidak perlu mencobanya."
"Tapi tadi saya belum mencobanya pak,bapak coba dulu,kalau kurang kopi atau gula tinggal ditambahkan."
"Kamu saja yang mencobanya" Mahendra menyodorkan mug itu pada Rianti.
__ADS_1
Rianti meraihnya dan menyicip kopi itu langsung dari mugnya.
"Rasanya pas pak...eh tapi maaf pak,saya langsung mencobanya langsung dari mugnya,saya lupa lupa kopinya untuk bapak"Rianti malu dan menunduk karna ada bekas lipstiknya di pinggir mug.
"Tidak apa" Mahendra tersenyum dan menyeruput kopinya dari pinggir mug yang ada bekas lipstik Rianti.
"Ahh...rasanya pas mantap" Mahendra memandang wajah Rianti penuh arti.
"Pak...maaf kenapa bapak minum dari bekas bibir saya...apa pak Mahendra tidak jijik" Kata Rianti dengan mata terbelalak.
Mahendra pura pura tidak mendengar ucapan Rianti."Oiya nanti kita meeting dan sekalian makan siang diluar bersama Ardi."
"Baik...pak" Rianti berjalan keluar dengan wajah memerah.
Mahendra merasa konyol dengan apa yang dilakukan,tapi merasa senang karna langkah awalnya mendekati Rianti berjalan sukses.Untuk selanjutnya Mahendra bertekad akan lebih gencar lagi untuk menunjukkan rasa sukanya pada Rianti jangan sampai di dahului sama pria lain.
Rianti kembali ke meja kerjanya dengan perasaan biasa,karna kejadian tadi tidak berarti apa apa baginya.Beda dengan Mahendra,kejadian tadi sukses membuat senyumnya selalu mengembang dan membuat dirinya tidak bisa fokus bekerja.
Siang harinya saat jam makan siang di sebuah restoran,Ardi merasa kesal dengan tingkah bosnya.Tidak sedikit pun Mahendra memperdulikan kehadirannya.
"Baiklah pak Mahendra dan bu Rianti.Apa meeting sudah bisa kita mulai" Ardi memberanikan diri untuk bicara.
"Biar saya sendiri saja pak" Rianti berusaha meraih pisau dan garpu dari tangan Mahendra.
"Nggak apa apa biar saya saja,wanita itu harus dilayani dan di manjakan" Perkataan Mahendra berhasil membuat Ardi terperangah.
"Tapi pak Mahendra dari tadi belum makan" timpal Rianti.
"Saya kebenaran belum lapar" Jawaban Mahendra kembali membuat Ardi terperangah.
"Bukankah tadi Mahendra menyuruh saya cepat cepat meyelesaikan pekerjaan karna katanya dia sudah lapar,dasar modus" Bathin Ardi melirik sinis pada Mahendra.
"Kalau memang meeting nya belum dimulai,saya izin ke toilet dulu sebentar" Ardi menyeruput minumannya sampai habis dan bangkit dari kursinya dengan kasar.
"Pak Ardi sepertinya marah" Rianti merasa tidak enak karna dia belum selesai makan meeting nya belum dimulai juga.
"Oh pak Ardi tadi pagi kebanyakan sarapan sambel,perutnya mulas jadi dia buru buru ke belakang" Jawaban Mahendra membuat Rianti tertawa.
__ADS_1
"Bapak ada ada saja,mana ada orang sarapan sambel" Rianti menerima tissue yang diberikan Mahendra.
Ternyata Andika juga sedang makan siang bersama atasannya di restoran yang sama dengan Rianti.Andika mengetahui keberadaan Rianti,Mahendra,dan Ardi di restoran itu.
Dian diam Andika memperhatikan interaksi antara Rianti dan Mahendra.Ada kekesalan dihatinya saat melihat Rianti bisa tertawa setelah perceraian mereka.
"Sepertinya Rianti sangat bahagia setelah bercerai dengan saya.Apa dia tidak ingat saat saat indah dulu bersama saya sehingga tidak ada kesedihan diwajahnya" Bathin Andika mulai gelisah.
"Secepat itu dia melupakan saya,ini tidak adil,dia bisa tertawa bahagia bersama orang lain sementara saya..." Mata Andika menatap tajam ke arah Rianti dan Mahendra.
Hati Andika terasa panas melihat Rianti dan Mahendra duduk berdekatan sambil memandang laptop di hadapkan mereka.Tangan Mahendra berada di sandaran kursi Rianti.Seolah terkesan memeluk Rianti dilihat dari kejauhan.
"Dasar tidak tau malu,baru juga janda beberapa hari,sudah gatal dekat dengan kaki laki lain" Maki Andika dalam hati.
Akhirnya setelah selesai meeting,Mahendra pergi ke toilet sebentar.Kesempatan itu digunakan Andika untuk memperingati Mahendra.Diam diam dia mengikuti dan menunggu Mahendra keluar dari toilet.
Setelah keluar dari toilet,Mahendra menerima telepon dari seseorang dan menjawabnya di tempat yang sepi.Andika mengikutinya.
"Ehem ehem...oh ada jomblo akut dan bujang lapuk disini" Andika berjalan mendekati Mahendra.
Mahendra terkejut dan langsung mematikan teleponnya.
"Oh pak Andika,selamat siang" Sapa Mahendra ramah.
"Ga usah basa basi pak Mahendra,saya hanya mau peringatkan anda untuk tidak mendekati Rianti!"
"Anda tidak punya hak untuk mengatur saya pak Andika.Apalagi sekarang Rianti sudah bukan istri anda,siapa saja bebas untuk mendekatinya,termasuk saya."
"Pak Mahendra pasti tau kalau Rianti baru saja mendapat predikat janda,harusnya anda tau diri.Nama baik Rianti bisa menjadi buruk karna ulah anda.Orang orang akan menilai Rianti sebagai janda gatal,karna baru bercerai sudah dekat dengan laki laki lain."
"Justeru itu pak Andika,saya ingin secepatnya melepaskan status janda Rianti" Jawaban Mahendra membuat Andika marah dan tangannya sudah terangkat hendak memukul wajah Mahendra.
"Saya peringatkan anda sekali lagi,jangan coba coba untuk mendekati Rianti! Saya tidak main main pak Mahendra dengan ancaman saya!" Andika langsung pergi meninggalkan Mahendra karna atasannya meneleponnya.
"Saya semakin semangat untuk mendapatkan Rianti" Gumam Mahendra.
Saat akan meninggalkan restoran,giliran Rianti yang ketoilet.Dengan tergesa gesa dia berjalan tanpa memperhatikan ada Andika menghadang jalannya.
__ADS_1
Andika menarik tangan Rianti dan membawanya ke dekat tangga darurat.Karna Rianti berteriak,Andika melepas dasinya dan langsung menyumpal mulut Rianti.
Sampai di tangga darurat,Andika menyandarkan tubuh Rianti ke dinding dan mengungkungnya.Lalu melepaskan dasi yang menyumpal mulut Rianti.Sebelum Rianti sempat berteriak,dengan ganas Andika mencium bibir Rianti.