
Mata Andika terus mengawasi pintu keluar rumah sakit.Sesekali melihat jam dipergelangan tangannya.
"Lama sekali pak Mahendra didalam,ngapain aja dia disana.Ini sudah mau habis waktu makan siang" Andika menggaruk kepalanya yang terasa gatal karna hari sedang terik teriknya.
Tak menunggu lebih lama lagi,Mahendra keluar dari rumah sakit.Andika dengan cepat menghampirinya.
"Pak Mahendra!" Panggil Andika,Mahendra melihat sebentar kemudian melanjutkan jalannya menuju ke mobilnya.
Setengah berlari Andika mensejajarkan langkah Mahendra.
"Pak Mahendra,saya mau bicara sebentar dengan anda!" Andika menarik bahu Mahendra karna kesal tidak digubris sama sekali.
"Anda mau bicara apa pak Andika?Jam makan siang sudah mau habis.Apa pak Andika tidak takut di pecat oleh atasan anda karna tidak disiplin.Kalau saya bebas karna saya yang punya perusahaan" Mahendra mengibas ngibaskan bajunya bagian bahunya yang ditarik Andika.
Andika kesal dengan sikap Mahendra yang terkesan sombong."Saya minta anda untuk menjauhi istri saya!"
"Istri anda bilang! Seorang istri seharusnya dapat perlindungan,kasih sayang dari suaminya.Bukan di sakiti baik hati maupun fisiknya."
"Ini bukan urusan anda pak Mahendra! Lagipula saya melakukan itu semua bukan tanpa sebab.Saya hanya ingin memberi pelajaran karna dia adalah seorang istri yang pembangkang."
"Pasti semua wanita di dunia ini akan jadi istri pembangkang bila di dikhianati,diselingkuhi,apalagi dipoligami oleh suaminya sendiri."
"Alaa...anda ga usah sok menceramahi saya.Saya tau anda menyukai istri saya dan mencoba untuk mendekatinya."
"Saya memang menyukai Rianti dari dulu.Tapi untuk mendekatinya,mungkin nanti setelah kalian resmi bercerai."
"Jangan mimpi! Saya tidak akan pernah menceraikannya apapun yang terjadi.Jadi mulai sekarang jauhi Rianti.Kalau tidak, saya akan membuat perhitungan dengan anda.Saya tidak perduli anda adalah rekan bisnis atasan saya.Camkan itu!" Andika meninggalkan Mahendra menuju mobilnya.
Andika membiarkan mobil Mahendra keluar lebih dulu dari pelataran rumah sakit kemudian mengikutinya dari belakang dengan jarak yang aman.
Andika terus mengikuti mobil Mahendra dan saat pada jalan yang sepi,Andika tancap gas menyalip mobil Mahendra.Dan tiba tiba berhenti hanya berjarak dua meter dari mobil Mahendra.
Mahendra terkejut dan langsung membanting stir ke kanan.Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menabrak pembatas jalan dan tiba tiba berhenti karna menabrak sebuah pohon akasia yang besar.
Andika melambatkan laju mobilnya dan melihat dari kaca spion mobilnya,dari dalam kap mobil Mahendra keluar asap.
Dengan tersenyum sinis Andika kembali melajukan mobilnya dengan kencang menuju kantor.
Sampai dikantor Andika tersenyum bahagia berhasil memberi pelajaran pada Mahendra.
Andika mendudukkan tubuhnya pada kursi kerjanya.Seketika senyumnya hilang saat melihat ada surat pemanggilan dari kantor polisi.
Dengan cepat Andika membuka amplop surat itu dan membacanya.Matanya melotot membaca nama yang melaporkannya dengan dugaan kdrt terhadap istrinya.
"Ternyata papa serius melaporkan saya kekantor polisi.Ini tidak bisa dibiarkan,saya harus bicara pada papa.Masa anak kandungnya sendiri akan dijebloskan ke penjara" Andika ******* ***** surat panggilan itu dengan kasar.
__ADS_1
***
Warga sekitar dipinggiran jalan raya tempat Mahendra mengalami kecelakaan bergotong royong menolong Mahendra.
Dengan cepat mereka mengeluarkan Mahendra dari dalam mobil.Ada juga yang saling membantu menyiramkan air ke kap mobil.
Tak lama kemudian mobil ambulance yang telah dihubungi sampai di tkp,dengan segera membawa Mahendra kerumah sakit yang sama dengan Rianti dirawat.Bersamaan datang kedua mertua Rianti untuk membawanya pulang.
"Rianti sayang...kata dokter kamu sudah boleh pulang hari ini" Kata bu Ratih mulai merapihkan barang barang Rianti.
"Terimakasih ya ma,sudah mau mengurus Andre dirumah.Terimakasih juga sudah sayang pada Rianti" Rianti sangat terharu dengan kebaikan mertuanya.
"Iya sayang" Bu Ratih tersenyum dan mengusap puncak kepala Rianti.
"Oiya Rianti,papa sudah melaporkan Andika kepolisi.Hasil visum kamu juga sudah papa serahkan sebagai bukti" kata pak Arman.
Rianti terdiam dan menunduk sedih.Pak Arman dan bu Ratih bingung dengan sikap Rianti.
"Kenapa kamu malah sedih,seharusnya kamu senang.Mungkin dipenjara adalah hukuman yang tepat untuk Andika" Kata bu Ratih selesai mengemasi barang barang Rianti.
"Rianti memikirkan Andre ma.Rianti takut bila mas Andika dipenjara akan berpengaruh pada mental Andre.Rianti takut teman teman Andre akan menjauhi atau bahkan membully Andre."
"Jadi kita cabut saja laporannya" Pak Arman agak sedikit kecewa tapi ada benarnya juga kata Rianti.
"Iya pa"
Sore harinya saat bubar jam kantor,Andika tidak menjemput Siska seperti biasanya.Dia memilih pergi kesebuah bar untuk menghilangkan pikirannya yang mumet.
Andika menghubungi Irawan untuk menemaninya minum.
"Ya elaa...lo suruh gua datang kesini buat nemani lo minum" Irawan mendudukkan bokongnya di sebelah Andika.
"Lo tenang aja,gua yang traktir.Lo mau minum apa?" Andika mulai menyesap minuman yang telah dipesannya lebih dulu.
"Nggak,gua ga minum.Bisa di gorok leher gua sama istri gua."
"Sekali ini aja Wan" Andika mulai mabuk.
Tiba tiba ponselnya berdering ada panggilan masuk dari Siska.
"Mau apa perempuan ini telepon" Andika menjawab telepon Siska.
"Halo mas Andika kamu lagi ada di mana? Mengapa jam segini belum pulang?!" Teriak Siska kesal.
"Mas mu ini lagi di surga sayang...ada apa kamu telepon?"
__ADS_1
"Mas pulang sekarang juga.Bapak menanyakan uang yang kemarin kamu janjikan untuk bapak!"
"Ah sudahlah Siska...bilang sama bapakmu yang matre itu kalau mas hanya janji...janji itukan untuk di ingkari."
"Mas,nanti bapak marah,dia bisa memukul aku.Aku takut mas."
"Ah sudahlah...mas muak dengan kamu dan bapak mu itu.Setiap hari mintanya uang" Andika memutus sambungan telepon.
"Istri lo minta uang lagi?" Tanya Irawan.
"Iya Wan.Bisa bisa gua bangkrut diporokin terus sama anak dan bapak itu."
"Sekarang lo menyesal nikah dengan Siska?"
"Nggak lah Wan.Setimpal dengan apa yang gua dapatkan di ranjang.Goyangannya yahut,mau berapa ronde juga di layani sama Siska" Andika tertawa.
"Parah lo ya" Irawan juga tertawa mendengar ocehan Andika.Irawan mulai iseng memancing Andika.Biasanya orang mabuk jujur.
"Dika,menurut lo cantikan mana,Rianti atau Siska?"
"Rianti lah,jauh kemana mana."
"Bodynya bagusan siapa?"
"Rianti lah,Rianti itu bodynya kaya gitar spanyol,putih dan mulus.Kalau Siska bodynya kaya okulele,hitam,ada bekas koreng lagi" Andika dan Andre tertawa terbahak bahak.
"Tapi kok lo mau sama Siska kalau lebih cantik Rianti dan bodynya lebih bagus?" Irawan pertanyaannya makin iseng.
"Goyangannya coy dahsyat" Mereka berdua kembali tertawa.
"Lo benar benar parah Dik.Diotak lo cuma ada nafsu."
"Lo jangan munafik Wan.Lo juga sebenarnya pengen kaya gua kan,punya istri dua.Cuma lo ga punya modal."
"Nggak lah.Guakan sudah pernah bilang,gua tipe laki laki setia.Gua sama istri gua mau hidup until jannah.Lagian buat apa dua,rasanya sama ajakan?"
Tiba tiba Andika mendekatkan mulutnya ke telinga Irawan.
"Wan,gua mau kasih tau satu rahasia sama lo" Bisik Andika.
"Apaan? Irawan juga berbisik.
"Gua sudah buat pak Mahendra kecelakaan,lo jangan bilang siapa siapa ya?"
"Apa? Pak Mahendra?!" Irawan terkejut dan langsung pergi meninggalkan Andika,tak perduli Andika terus memanggilnya sampai pengunjung yang lain merasa terganggu.
__ADS_1
"Gua ga mau ikut campur,pak Mahendra kan orang berpengaruh,dia juga relasi bisnis atasan kita Dik" Gumam Irawan sambil terus berjalan.