
Rianti kembali kekantor dengan perasaan galau dan kalut.Duduk dibalik meja kerjanya hanya memandang laptop dengan tatapan kosong.
Mahendra datang" Tadi saya mencari mu untuk makan siang bersama."
Rianti kaget atas kemunculan Mahendra" Oh maaf pak,tadi saya tiba tiba ingin makan ketoprak yang dibelakang kantor,saya yakin bapak tidak akan mau kalau saya ajak."
"Siapa bilang tidak mau."
"Bapak makan bekal yang saya bawa saja ya" Rianti mengeluarkan bontot makanan yang dia simpan di laci mejanya dan memberikannya pada Mahendra.
"Kamu temani saya makan."
"Aduh,maaf pak tiba tiba perut saya mulas,mungkin karna makan ketoprak pedas tadi.Saya izin ke toilet dulu" Rianti dengan cepat berjalan menuju toilet.
Ketika jam pulang tiba,Rianti cepat-cepat merapihkan mematikan laptopnya dan merapihkan meja kerjanya.Dengan cepat berjalan keluar,jangan sampai Mahendra melihatnya.
Benar saja beberapa menit kemudian Mahendra keluar dari ruangannya dan tidak menemukan Rianti.
Mahendra menghampiri Ardi" Pak Ardi,apa bu Rianti sudah pulang duluan?"
"Iya pak,tadi saya lihat bu Rianti seperti terburu buru."
"Baiklah,terima kasih."
Mahendra berjalan keluar gedung sambil menghubungi Rianti,tapi ponsel Rianti tidak aktif.
Setelah selesai membantu Andre membuat tugas sekolah dan menemaninya sampai tertidur,Rianti duduk diatas tempat tidur.
Pikirannya dipenuhi dengan perkataan bu Widya tadi siang.Rianti harus mengakhiri hubungannya yang baru saja terjalin dengan Mahendra.Tapi bagaimana cara mengatakannya.Dan apa alasannya.Dia juga harus segera membuat surat pengunduran diri dari kantor.Bagaimana kehidupannya setelah dia tidak bekerja lagi.Bagaimana harus membayar sewa kontrak rumah kedepannya.Bagaimana cara membayar cicilan perabotan rumah yang sudah dia beli secara kredit.Untungnya untuk kebutuhan Andre ada dari Andika yang ditransfer tiap bulan.
Ah,kepala Rianti bertambah pusing dan sakit,tapi dia harus melakukannya.Walau sebenarnya dia mulai menyukai dan merasa nyaman bersama Mahendra.Ini juga demi hubungan baik antara Mahendra dan ibunya.
Rianti tidak dapat memejamkan matanya sama sekali.Sampai pagi menyongsong matanya tidak bisa di ajak kompromi.
Mahendra menatap heran kursi meja Rianti yang kosong.Biasanya sekretarisnya itu lebih dulu datang.Mahendra menuju meja Ardi.
__ADS_1
"Kenapa bu Rianti jam segini belum datang,apakah dia ada memberi khabar padamu?"
"Tidak ada pak,saya sudah mengirim pesan pada bu Rianti perihal keterlambatannya hari ini.Tapi belum di jawab juga karna ponsel bu Rianti tidak aktif."
Mahendra berjalan masuk ke ruangannya.Pikirannya terus tertuju pada Rianti.Hampir setiap menit dia mencoba menghubungi ponsel Rianti tetapi jawabannya selalu sama yaitu nomor yang anda tuju sedang tidak dalam jangkauan.Bahkan sesekali Mahendra mengintip keluar apakah Rianti sudah ada ditempatnya.
Apakah Rianti sedang sakit atau anaknya yang sakit.Apakah Rianti sedang ada masalah.Apakah tanpa saya sadari saya membuat Rianti marah.Begitu banyak pertanyaan muncul dibenaknya.Mahendra mulai frustasi,otaknya tidak bisa fokus bekerja.
Tepat jam sepuluh pagi Rianti datang dan mengetuk pintu.
"Tok-tok-tok"
"Masuk"
"Selamat pagi pak" Suara orang yang ditunggu tunggu Mahendra menggema di ruangannya.
Rianti berdiri di depan pintu ruangan Mahendra.Tapi tidak mengenakan pakaian kantor seperti biasanya.
Mahendra heran sekaligus terpesona dengan penampilan Rianti.Dengan memakai celana jeans berwarna biru dan kemeja lengan panjang berwarna putih.Lengannya digulung sampai bawah siku.Rambut di kuncir ekor kuda dan makeup yang terkesan flawless.Rianti tampak cantik dan memesona seperti gadis remaja.
Ada apa dengan Rianti,apakah dia ingin mengajak kencan disaat jam kerja begini.Kalau iya,tidak masalah.Akan saya limpahkan semua pekerjaan kantor pada Ardi hari ini.
Tapi tunggu dulu,mengapa wajah Rianti datar tanpa ekspresi.
"Permisi pak" Tegur Rianti.
"Pagi juga bu Rianti" Mahendra tersadar dari pikirannya.
"Maaf pak Mahendra...mulai hari ini saya berhenti bekerja...saya memutuskan untuk mengundurkan diri.Surat pengunduran diri saya sudah saya serahkan ke bagian administrasi.Maaf bila ada ke kurangan selama saya bekerja,terimakasih" Rianti membungkukkan sedikit badannya,kemudian pergi meninggalkan ruangan Mahendra.
Mahendra terdiam mendengar perkataan Rianti.Matanya terbelalak tak percaya.
Rianti berjalan dengan gontai ruangan yang baru beberapa bulan tempat dia mencari nafkah.Rianti tersenyum tipis dan membungkukkan sedikit badannya saat melewati meja Ardi.Ardi menatap heran dan penuh tanya.
Setelah beberapa saat terdiam,Mahendra berlari mengejar Rianti.Tapi Rianti sudah tidak kelihatan.Mahendra berfikir kalau Rianti pasti sudah masuk lift.
__ADS_1
Mahendra memutuskan menggunakan tangga untuk sampai ke bawah.Mahendra menuruni tangga dengan berlari.Walau sesekali dia tersandung anak tangga.
Sampai dilantai dasar mata Mahendra celingak celinguk mencari keberadaan Rianti.Terlihat Rianti sedang berjalan di lobi menuju pintu keluar.
Dengan nafas ngos ngosan Mahendra kembali mengejar Rianti.
"Rianti!" Panggilnya.
Rianti terkejut dan berhenti.
Mahendra mencekal lengan Rianti dan menariknya.Membawa Rianti ke dekat tangga darurat.Tidak perduli pada tatapan semua karyawannya yang melihat.
"Sayang,sebenarnya ada apa?" Mahendra menangkup kedua pipi Rianti tapi Rianti langsung melepaskan tangan Mahendra dengan kasar.
"Apa kurang jelas dengan apa yang tadi saya katakan?"
"Memang jelas,tapi kamu harus kasih tau alasannya."
"Karna saya merasa tidak nyaman ada didekat kamu.Dan mulai sekarang jangan panggil saya dengan kata sayang lagi.Mulai saat ini kita putus."
"Pu-putus? Kamu jangan bercanda" Mahendra terkejut tak percaya dan mulai panik.
"Iya kita putus,kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.Jadi jangan pernah hubungi saya."
"Tapi kenapa tiba tiba,apa saya menyakiti perasaan kamu?"
"Sebenarnya...saya tidak pernah menyukaimu...selama ini saya hanya pura-pura suka...karna kasihan dengan kamu" Ucap Rianti dengan tegas walau sebenarnya hatinya menangis.
Ucapan Rianti benar-benar menyakiti hati dan mungkin seluruh jiwa dan raga Mahendra.Dadanya tiba tiba terasa sesak,sakit seperti ditusuk tusuk.
"Kamu...hanya pura-pura...kamu hanya kasihan terhadap saya?" suara Mahendra terdengar lirih dan serak menahan sakit yang teramat sangat.
Rianti menunduk dan hanya mengangguk sambil menahan airmata nya jangan sampai tumpah.
Tanpa menunggu lama lagi Rianti berlari kecil pergi meninggalkan Mahendra.
__ADS_1
Mahendra menatap kepergian Rianti dengan mata nanar.Dadanya terlihat naik turun menahan rasa yang bercampur aduk.Hatinya begitu hancur,sehancur hancurnya oleh cinta pertamanya.Cinta tulusnya dipermainkan oleh wanita yang begitu dia cintai.