Aku Memilih Berpisah

Aku Memilih Berpisah
Episode 53


__ADS_3

"Andre,sini duduk dekat kakek dan nenek" Pak Heriawan menepuk tempat kosong antara dia dan bu Widya duduk.


Andre tersenyum senang mendudukkan dirinya.Menatap Pak Heriawan dan bu Widya bergantian.


"Kakek dan nenek baik,sama dengan kakek dan nenek Andre yang ada di rumah."


"Wah,Andre punya kakek dan nenek dirumah? Lain kali Andre ajak main kesini ya" Pak Heriawan sangat tersentuh oleh perkataan Andre.


"Dirumah Andre sudah punya kakek dan nenek,bagaimana kalau Andre memanggil kami oma dan opa" Bu Widya sangat bahagia di bilang baik oleh Andre.


"Wah keren! Andre punya oma dan opa" Andre tertawa riang memandang pada mamanya.


Semua yang hadir disitu sangat terharu,Andre bisa meluluhkan hati bu Widya.


"Oma,opa" Panggil Andre sebahagia itu.


Pak Heriawan dan bu Widya bersamaan mengusap kepala Andre.


"Tapi opa,oma...kakek dan nenek Andre tidak bisa main kesini,karna kakek dan nenek sedang membawa papa ke rumah sakit" Ceria diwajah Andre hilang seketika.


"Papa Andre sakit apa?" Bu Widya dan pak Heriawan menatap pada Rianti.


Rianti menghampiri Andre yang tertunduk sedih dan menarik kedalam pelukannya.Ternyata dibalik wajah cerianya, Andre merasa sedih,dia telah paham bahwa papanya mengalami sakit yang parah.


"Papa Andre mengidap penyakit liver,dan dia harus menjalani pencangkokan liver segera" Terang Rianti.


Semua terkejut dan terdiam mendengar keterangan Rianti,kecuali Mahendra karna dia sudah tau lebih dulu.


"Nanti kita berdoa bersama biar papa Andre cepat sembuh ya" Pak Heriawan kembali mengusap kepala Andre.


Rianti duduk disebelah bu Widya untuk menenangkan Andre yang mulai terisak.Reflek bu Widya pun ikut menenangkan Andre.


"Oiya,nek uyut ada punya es krim loh di kulkas,Andre suka es krim?" Nenek punya ide untuk menenangkan Andre.


Andre memalingkan wajahnya menatap nenek,seketika senyumnya kembali merekah.


"Mau" Andre tersenyum malu.


"Ayo sini sama om Hendra aja ambil es krimnya" Mahendra mengambil Andre dari pangkuan Rianti dan menggendongnya.Walau agak kesusahan menahan berat badan Andre yang berusia tujuh tahun.Elara ikut menyusul dari belakang,dia tiba-tiba jadi mau makan es krim juga.


Mata Rianti terasa berembun dan hidungnya kembang kempis menahan haru agar jangan sampai berakhir pada air mata.


Pertemuan mereka hari itu diakhiri dengan bersantap siang bersama.Bersantap siang penuh kehangatan dan keakraban.Selesai makan Elara dan Rianti membantu asisten rumah tangga untuk beberes meja makan dan mencuci piring.

__ADS_1


Kelar mencuci piring,Rianti diajak bu Widya untuk mengobrol di taman dekat samping rumah.


"Rianti,tante minta maaf atas sikap Tante selama ini,tante sangat malu" Bu Widya mengambil tangan Rianti dan menggenggamnya.


"Nggak apa-apa tante,saya juga sudah melupakannya" Rianti mengangguk.


"Terimakasih,kamu sudah bawa Andre kerumah ini,dia seperti malaikat kecil yang lucu,rumah ini jadi rame karna dia"Mata bu Widya tampak berkaca-kaca.Rianti sebenarnya ingin memeluk bu Widya tapi mereka belum seakrab itu.Tak terduga bu Widya lah yang memeluknya duluan.Tak terkatakan bagaimana bahagianya Rianti.


Setelah maghrib,Mahendra mengantarkan Rianti dan Andre pulang.Dalam perjalanan pulang Andre tertidur jadilah Mahendra kembali menggendong tubuh Andre yang lumayan gembul untuk masuk kedalam rumah.


Rianti dan Mahendra duduk dan ngobrol diteras rumah.


"Ah akhirnya...tak ada lagi halangan,kita harus segera menentukan hari pernikahan kita,tapi sebelum menikah saya mau kita tunangan dulu" Mahendra menggenggam tangan Rianti.


"Ih nggak usah pakai tunangan langsung nikah aja" Rianti melepaskan tangannya dari genggaman Mahendra.


"Nggak,kita tunangan dulu.Saya sudah merencanakan hal ini saat kamu menerima saya.Kita tunangan di Bali,saya ingin mengumumkan tentang hubungan kita dan rencana pernikahan kita" Mahendra kembali menggenggam tangan Rianti dan mengecupnya lembut.


"Yasudah,aku nurut aja.Tapi Hen,kamu sebaiknya pulang sekarang,aku terlalu takut dengan gosip-gosip tetangga" Rianti menarik tangan Mahendra.


"Ini baru jam tujuh,masih terlalu siang untuk pulang,masih banyak yang harus kita bicarakan" Mahendra kembali duduk.


"Mahendra!" Mata Rianti melotot tajam.


"Iya-iya...kamu seram juga kalau marah' Dengan terpaksa Mahendra pulang.


Mahendra menurunkan kaca mobilnya" Sayang,kamu masuk sana, sudah malam!"


"Tapi aku mau menunggu mobil kamu jalan dulu baru aku masuk' Rianti masih berdiri didepan pintu pagar


"Aku mau menunggu kamu masuk rumah dulu baru aku jalan" Mahendra tak kunjung menyalakan mesin mobilnya terus menatap Rianti seakan berat untuk pulang.


"Ish ribet banget sih,yang tamu itu siapa sih sebenarnya...yaudah aku masuk,kamu pulang sana!" Rianti masuk rumah dengan menghentak hentak kan kakinya.


Saat sudah didalam rumah,Rianti mengunci pintu dan mengintip sebentar lewat gorden jendela,benar mobil Mahendra sudah jalan.


Rianti bersih-bersih sebelum berangkat tidur,dan mengganti baju tidur.Baru merebahkan tubuhnya sebentar diatas kasur ponselnya yang berada di sampingnya berdering.


Dengan malas malasan Rianti mengangkat telepon tanpa melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.


"Halo"


"Halo sayang"Terdengar juara Mahendra membuat Rianti terkejut.

__ADS_1


"Iya Hen,ada apa...apa ada yang ketinggalan?"


"Saya mau ngomong sesuatu,ini penting dan sangat mendesak."


"Apa tidak bisa menunggu sampai besok."


"Nggak bisa,saya sekarang susah balik lagi kedepan rumah kamu."


"Ya sudah,tunggu sebentar aku keluar."


Rianti bergegas berjalan keluar untuk menemui Mahendra,siapa tau benar-benar ada hal yang penting yang akan disampaikan Mahendra.


Rianti membuka pintu,tampak Mahendra telah berdiri diluar pagar dengan kedua tangan dilipat didada.


Rianti berlari kecil menghampiri Mahendra," Ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan?" Rianti berpegangan pada pintu pagar tanpa berniat membukakan untuk Mahendra.


"Nggak ada,saya hanya masih ingin ketemu" Jawab Mahendra santai.


Rianti memutar mata kesal," Tapi tadi seharian kita sudah ketemu."


"Entahlah,tapi saya ingin terus ketemu,masih kangen" Tatapan Mahendra tampak sendu dan memelas.


"Hendra pulanglah,enggak enak sama tetangga,takut ada yang lihat kita."


"Nggak mau pulang,maunya dipeluk dulu,baru saya pulang" Rianti baru tau kalau ternyata Mahendra pria tipe manja.


"Ya ampun Hendra" Rianti gregetan.


"Ya sudah sini sebentar aku peluk,tapi janji pulang ya?" Rianti membuka pintu pagar dan dengan cepat memeluk Mahendra kemudian langsung melepaskannya.


"Sudah sekarang kamu pulang!" Rianti mendorong tubuh Mahendra dan bergegas menutup kembali pintu pagar dan berjalan masuk.


"Rianti" Panggil Mahendra menghentikan langkah Rianti.


"Ya"


"Kamu mau dicium nggak?"


"Nggak"


"Rianti!"


"Ya,apalagi"

__ADS_1


"Gaun tidur kamu cantik"


"Mahendra! Besok aku nggak mau ketemu kamu lagi!" Rianti masuk dan membanting pintu.Lagi-lagi Rianti keluar dengan baju tidur tanpa dalaman.


__ADS_2