
"Jadi bagaimana nih status anak saya Siska" Tanya pak Emir.
"Seperti yang saya katakan tadi,yang kami tau istri Andika itu Rianti.Kami datang melamarnya pada orang tuanya dan kami menyaksikan mereka menikah.Sedang Siska anak bapak,bahkan kami tidak mengenalnya.Kami tidak pernah datang melamarnya apalagi menikahkannya dengan Andika" Jawab eyang panjang lebar.
Jawaban eyang begitu menohok,pak Emir dan Siska terdiam menunduk dan pergi tanpa pamit.
"Siska,lebih baik kamu cari suami baru yang benar benar kaya,yang hartanya tak habis tujuh turunan.Apa yang kamu harapkan dari Andika,warisan pun dia tak kebagian" Kata pak Emir sudah berada didalam mobil.
"Pak,Siska mencintai mas Andika.Cukup sudah bapak mengatur hidup Siska,biarkan Siska dan mas Andika hidup normal seperti padangan lainnya."
"Iya kamu cinta sama Andika,tapi apa Andika cinta sama kamu? Buktinya dia tidak mau bercerai dari istri pertamanya." Siska hanya diam,memandangi jalanan.
Eyang meminta pada Rianti untuk menceritakan yang apa sebenarnya terjadi dalam rumah tangga dia dan Andika.Rianti menceritakan semuanya tanpa ada yang dikurang atau ditambah.Andika sendiri tidak membantah sedikit pun.
"Eyang pun sama dengan papa dan mama mu Andika,mendukung Rianti menggugat cerai kamu.Apa yang kamu lakukan pada Rianti tidak bisa dimaafkan.Eyang salah satu orang yang menolak keras poligami dan kdrt.Jadi maaf Andika,nama mu di coret dari daftar penerima warisan dari eyang."
"Eyang ini ga adil,ini pelanggaran hak azasi namanya.Lagi pula Andika tidak pernah berniat menceraikan Rianti,dianya aja yang ngeyel mau bercerai" Andika sampai berdiri menyuarakan keberatannya.
"Keputusan eyang finish,tidak bisa diganggu gugat" Kata eyang dengan penuh penekanan, Andika duduk kembali dengan lemas.
***
__ADS_1
"Hendra,ada apa? Kamu kelihatan gelisah ,jangan takut mama papa ada disini.Operasi kamu pasti berjalan dengan lancar" Bu Alma mamanya Mahendra mengusap punggung tangan anaknya.
"Papa dan mama selalu berdoa dan mendukung kamu nak,semangat ya!" Kata Pak Efendi papanya Mahendra.Mahendra tersenyum dan memeluk tangan pak Effendi.
Mahendra memang kelihatan gelisah,menjelang operasi yang tinggal beberapa jam lagi,Mahendra berharap Rianti datang untuk memberi support.Paling tidak meneleponnya untuk memberi semangat sebagai teman atau sebagai karyawan.Harapan Mahendra sepertinya tidak terkabulkan,sampai dia masuk ruang operasi,Rianti tidak datang ataupun meneleponnya.
"Apa namaku tidak ada sedikit pun di hati dan pikiranmu Rianti" Mata Mahendra selalu mengarah ke pintu kamar operasi berharap keajaiban tiba-tiba Rianti berdiri didepan pintu itu.Sampai operasi berlangsung Rianti tidak pernah datang.
Setelah beberapa jam operasi selesai,tapi Mahendra masih belum sadarkan diri akibat pengaruh obat bius total.Mahendra di masukkan di ruang pemulihan.Setelah efek obat bius habis,Mahendra mulai sadar.Mahendra membuka matanya dengan mengerjab ngerjap.Kepalanya terasa sakit,Mahendra kembali memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.
Samar samar Mahendra seperti mendengar suara Rianti dan mamanya.Mahendra berusaha membuka matanya untuk memastikan walau kepalanya terasa teramat sakit akibat efek dari obat bius.
Matanya menangkap sosok yang dihafal sekali wajahnya,wajah yang dirindukannya.Mahendra mengangkat kepalanya yang terasa berat.
"Mahendra,kamu sudah sadar nak...Alhamdulillah ya Allah" Bu Alma merengkuh kepala Mahendra kedalam pelukannya.
"Ma,sepertinya ada Rianti ya?" Mahendra menarik kepalanya dari dekapan mamanya.Matanya berbinar melihat Rianti ada berdiri di sisi tempat tidurnya.Seketika rasa sakit dikepalanya hilang.
Mata bu Alma terbelalak tak percaya putranya Mahendra lebih memperdulikan Rianti dari pada dirinya sendiri ibu kandungnya.Bu Alma sudah mengenal Rianti.Waktu dulu jaman sekolah Rianti dan Sania sering bikin PR bersama dirumah Andika.Setau bu Alma,Rianti sudah menikah dan punya anak.Tapi dia tidak tau kalau rumah tangga Rianti sedang diujung tanduk.
"Rianti,sejak kapan kamu ada disini? Terimakasih sudah menjenguk saya." Mahendra merasa semua sakit dan beban hidup yang dia rasa meluap semua hanya dengan melihat Rianti.
__ADS_1
"Ada mungkin sekitar lima belas menit saya disini pak.Saya turut senang operasi pak Mahendra berjalan lancar.Tapi maaf pak,saya harus segera pamit ke kantor karna banyak kerjaan yang menunggu" Sahut Rianti ramah dan formal.Senyum dan wajah bahagia Mahendra lenyap tak berbekas.Itupun tak luput dari penglihatan bu Fatma.
***
Andika dan Irawan sedang makan siang.Irawan memperhatikan Andika lebih banyak diam tidak seperti biasanya.
"Dik,lo kenapa? Dari tadi pagi gua perhatikan lo lebih banyak diam.Lo lagi ada masalah?"
"Lo pakai nanya lagi,banyak banget masalah gua.Pekan depan sidang putusan hakim atas tuntutan Rianti.Kalau gugatan cerai Rianti dikabulkan berarti gua resmi bercerai dengan Rianti.Kemarin waktu gua pulang ke Yogya,kata eyang gua,kalau gua sampai bercerai dengan Rianti,gua ga akan dapat warisa.Nah,sekarang gua sedang mencari cara bagaimana supaya gua ga jadi bercerai dengan Rianti.Gua masih cinta sama dia dan gua juga ga mau kehilangan warisan."
"Busyeet dah...tadi aja lo diam aja.Sekalinya ngomong panjang kaya rel kereta" Irawan Terkekeh.
"Ngapain lo malah ketawa,bukannya bantuin gue.Lo punya ide ga,apa yang harus gua lakukan?"
Irawan terdiam sebentar" Gini Dik,setau gua nih ya,seorang istri yang sedang hamil haram hukumnya dia dicerai oleh suaminya."
Andika mengerutkan dahinya,mencerna perkataan Irawan."Itu artinya gua harus buat Rianti hamil."
"Nah,pintar lo Dik."
"Gimana gua mau buat Rianti hamil,melihat gua aja di sudah tidak sudi,apalagi tidur bareng.Lagi pula gua dengan Rianti sudah tinggal terpisah."
__ADS_1
"Lo cari akal dong,biasanya kan lo yang paling banyak akal."
Andika diam memanggut manggut dan kemudian tersenyum penuh arti.