
"Pak Mahendra,saya melihat lewat rekaman cctv,bu Widya dan bu Rianti bertengkar" Lapor pak petugas keamanan yang menjaga hari itu,saat Mahendra berada diparkiran.
Memang Mahendra pernah mengatakan kepada petugas keamanan agar melaporkan kepadanya jika ada sesuatu yang mencurigakan yang terekam cctv.
"Baik terimakasih,tolong kirim ke ponsel saya rekamannya" Mahendra masuk kedalam mobil dan menunggu kiriman rekaman cctv dikirim.Lima menit kemudian rekaman cctv berhasil dikirim ke ponsel Mahendra.
Mahendra sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.Tampak Widya memarahi dan menampar Rianti.Sekarang Mahendra tau apa yang membuat Rianti tiba-tiba memutuskannya.
Mahendra dengan tergesa-gesa memasuki rumah,kebenaran semua sedang berkumpul diruang keluarga.
"Bu,ini apa maksudnya?" Mahendra langsung menghampiri bu Widya dan memperlihatkan rekaman cctv itu.Semua mendekat pada bu Widya, ingin melihat apa yang diperlihatkan Mahendra.
Semua terkejut dan tampak tak percaya bu Widya yang begitu penyayang dan lembut hatinya bisa berbuat setega itu pada Rianti.
"Mengapa kalian semua memandang ibu seperti itu!" Bu Widya merasa kesal.
"Jadi ibu yang menyuruh Rianti untuk memutuskan dan menjauhi Hendra?"
"Iya benar,memangnya kenapa?!" Bu Widya tidak merasa bersalah apalagi menyesal.
"Bu,mengapa ibu tega,ibu juga menampar Rianti.Apa ibu lupa,Rianti itu juga seorang ibu,sama seperti dirimu bu" Mahendra begitu kecewa.
"Jangan kamu samakan ibu dengan dia,awas saja kalau kamu sampai balikan sama janda itu.Ibu tidak akan menganggap kamu lagi sebagai anak atau ibu akan bunuh diri aja sekalian biar kamu puas!"Semua terkejut dengan ucapan bu Widya.
"Istighfar bu!" Seru Elara dan pak Heriawan bersamaan.
"Widya,dimana hati nuranimu,sampai bisa bicara begitu terhadap anakmu sendiri" Nenek sampai geleng-geleng kepala lihat kelakuan menantunya itu.
"Jadi kalian semua bersekongkol mau menantang saya.Kalian semua pengkhianat,terutama kamu ayah!' Bu Widya menunjuk pada suaminya.Pak Heriawan pura-pura terkejut menunjuk dirinya.
Bu Widya berjalan cepat menuju kamarnya,kemudian berhenti sebentar menatap pada suaminya.
"Mulai saat ini ayah tidur diluar saja,ibu tak akan izinkan ayah tidur dikamar" Bu Widya masuk kamar dan membanting pintu dengan keras.
__ADS_1
"Yah,tolong bujuk ibu agar mau menerima Rianti" Pinta Mahendra.
"Iya,kamu urus aja urusanmu dengan Rianti,biar ibu kamu ayah yang urus" Pak Heriawan berjalan menyusul istrinya kekamar.
"Sayang buka pintunya!"
"Nggak akan,tidur saja sana diluar!"
"Terus nanti ayah tidur sama siapa?"
"Terserah!"
"Yasudah,ayah cari teman tidur aja deh diluar"
"Bodo amat!"
***
Bu Halimah menyambut Rianti dan Andre dengan antusias dan menceritakan secara detail mengenai penyakit Hepatosirosis yang di idap Andika.
Rianti tidak menyangka mantan suaminya itu menderita penyakit yang ganas.
"Sejak sakit Andika sekarang tinggal di sini,karna di rumahnya, Siska tidak mau mengurusnya.Semoga kedatangan Andre bisa menghibur Andika,karna Andika lebih gampang tersinggung dan emosi" Bu Halimah mengantarkan Rianti dan Andre ke kamar Andika.
"Dika,ini ada Andre dan mamanya datang" Pintu diketuk bu Halimah.Tidak mendapat jawaban bu Halimah membuka pintu yang tidak dikunci dari dalam.Di atas tempat tidur ada Andika sedang rebahan.Dia kaget ada Andre dan Rianti di kamarnya.
"Papa..." Andre setengah berlari menghampiri Andika dan memeluknya.Andika dan Andre melepas kangen,sementara Rianti dan bu Halimah hanya melihat.
"Andre,main dulu kedepan ya sama nenek" Bu Halimah mengajak cucunya kedepan.Dia paham,Rianti mau bicara berdua dengan Andika.
Rianti bingung bagaimana mau memulai perbincangan dengan Andika.Sepertinya Andika tidak ada niat juga untuk membuka obrolan mereka.
"Mas,aku turut prihatin ya,semoga mas Andika bisa dapat donor liver yang cocok sesegera mungkin dan sembuh seperti sediakala" Akhirnya Rianti yang memulai.
__ADS_1
Tiba-tiba air wajah Andika berubah" Jangan sok perduli kamu,dasar munafik!' Rianti terperanjat dari duduknya mendengar perkataan Andika.
"Di Hati kamu,pasti kamu bersorak gembira menertawai saya kan? Andika berdiri berkacak pinggang.
"Apa maksud kamu mas?" Rianti pun ikut berdiri dengan wajah bingung.
"Jangan pura-pura bodoh,kamu senangkan aku sakit parah begini,apalagi aku hanya punya waktu enam bulan untuk hidup jika tidak dapat pendonor."
"Mas Andika,biarpun mas bukan suami aku lagi,tapi kamu tetap ayah dari anakku mas,mana mungkin aku berharap kematianmu."
"Pergi dari sini sekarang juga,pergiii...!" Andika mendorong tubuh Rianti hingga terbentur pintu.
Mendengar teriakan Andika bu Halimah bergegas datang.
"Ada apa Rianti?" Rianti meringis kesakitan.
"Ma,suruh dia pergi! Andika tidak perlu kehadiran dia disini.Andika tidak mau dikasihani" Wajah Andika merah padam akibat rasa dongkol.
Bu Halimah membawa Rianti keluar dari kamar tiba-tiba Andika memanggil mamanya.
"Ma,Andika mau,Andre ada disini.Andika butuh Andre."
Rianti menatap pada Andika,"Mas,tidak boleh ambil Andre.Jangan jadikan sakit mu untuk mengambil Andre!"
"Saya tidak mengambilnya,saya hanya ingin ditemani anak saya,disisa usia saya.Andre juga anak saya,saya juga berhak atas dia."
"Biarkan Andre di sini dulu sementara,kamu jangan kuatir Rianti,ada mama yang akan menjaga Andre,dia akan aman" Bu Halimah menuntun Rianti ke ruang tamu,Rianti hanya mengangguk yakin pada perkataan mantan mertuanya itu.
"Ma,berhubung mas Andika sekarang tinggal di sini,Rianti berniat untuk tinggal di rumah Rianti yang dulu waktu masih bersama Andika.Tapi Rianti bingung,disana kan masih ada Siska dan kedua orang tuanya,Apalagi saat ini Rianti sedang tidak punya pekerjaan,Rianti ingin buka usaha di rumah itu" Ucap Rianti ketika sudah duduk diruang tamu.
"Nanti mama bicarakan dulu pada Andika dan papanya.Oiya sayang,kalau kamu butuh uang,kamu jangan sungkan untuk bilang sama mama.Kamu sudah mama anggap seperti putri mama sendiri" Sahut bu Halimah.
Rianti mendengar ponselnya berdering dari dalam sling bag nya.Dengan cepat Rianti mengambil dan melihat nama Mahendra yang tertera dilayar ponselnya.Tapi langsung dirijek oleh Rianti,karna ada bu Halimah didekatnya.
__ADS_1