
Mahendra melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rianti dengan sendu.Menatap bibir yang pernah gagal dia cicipi.Mendekatkan wajahnya perlahan.
Rianti waspada takut kejadian waktu itu terulang lagi.Mulai memejamkan matanya ketika merasa bibirnya dikecup lembut oleh Mahendra.
Dengan gemas Mahendra memagut bibir Rianti namun menyesapnya dengan lembut,bergantian bibir atas dan bawah.Darah keduanya memompa lebih cepat.Rianti membalas apa yang dilakukan Mahendra. Mendapat balasan,Mahendra lebih berani memperdalam ciumannya dan menjelajahi setiap sudut dan sisi mulut Rianti.
Keduanya mengakhiri ciuman pertama mereka ketika mulai kehabisan nafas.Mahendra menempelkan keningnya pada kening Rianti sambil meresapi kebahagian yang baru saja dia rasakan.
"Terimakasih ya sayang atas kebahagiaan ini " Mahendra membelai wajah dan merapihkan anak rambut Rianti.Rianti hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kamu harus cerita,bagaimana kamu sampai bisa suka sama saya."
"Tapi sambil dipeluk" Rianti membalikkan badannya membelakangi Mahendra dan menyandarkan punggungnya didada pemuda itu.
Mahendra menyilangkan tangannya memeluk pinggang Rianti,sepertinya mereka berdua sangat menyukai posisi itu.
"Dulu diam-diam aku menyukaimu,siapa sih gadis di sekolah waktu itu yang tidak menyukai seorang Mahendra,pemuda tampan,pintar,kaya.Tapi aku tidak berani menampakkannya karna takut dibully sama cewek-cewek penggemar berat kamu.Lagi pula aku cukup tau dirilah,mana mungkin cowok ngetop seperti kamu tertarik dengan cewek seperti aku.Jadilah aku hanya menyukaimu dalam diam" Rianti menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Mahendra.Rianti dapat merasakan debar jantung Mahendra.
"Ah coba waktu itu kamu menampakkan sinyal,pasti aku akan menembak kamu dulu" Ada nada penyesalan di ucapan Mahendra.
"Seandainya ada meteor jatuh,saya mau buat permintaan.Saya mau waktu diputar kembali ke zaman kita waktu SMA.Saya ingin mengungkapkan perasaan saya dan menjadikan kamu kekasih hati ku" Wajah Mahendra menengadah ke langit.
"Mana ada meteor siang-siang begini" Rianti berbalik badan menghadap Mahendra.
"Kan seandainya" Mahendra mencubit hidung Rianti gemas.
"Sekarang giliran kamu,mengapa kamu bisa sampai menyukai ku dulu,secara kan banyak yang lebih cantik dan populer dari aku waktu itu."
__ADS_1
"Justru itu,saya lebih menyukai yang mendam-mendam seperti kamu.Apalagi waktu itu kamu selalu jadi bintang disekolah,setiap ada lomba pasti kamu yang dipilih mewakilkan sekolah.Disaat yang lain sibuk dandan untuk mendapatkan pacar,kamu sibuk belajar.Diam-diam saya mengagumi kamu,lama kelamaan rasa kagum itu berubah jadi rasa suka."
Mereka tertawa mengingat masa-masa disekolah.
***
"Ayah,ibu,nenek,Elara...Hendra membawa Rianti kembali kerumah ini.Hendra akan melamar Rianti saat ini dihadapan kalian semua" Mahendra menggenggam erat tangan Rianti yang duduk disebelahnya.Kemudian mengeluarkan cincin yang sudah dia persiapkan.
Bu Widya hendak langsung kabur ketika tau Mahendra membawa Rianti tapi ditahan oleh suaminya."Tolong hargai mereka sayang" Bu Widya terpaksa kembali duduk disebelah pak Heriawan walau wajahnya terus diangkat keatas karna congkaknya.
"Kami semua pasti mendukungmu Hendra" Ucap pak Heriawan sambil melirik istrinya yang duduk di sampingnya.
"Hah dasar anak idiot,dia itu bukan anakku,sepertinya dia dulu tertukar di rumah sakit,dasar bodoh!" Gerutu bu Widya didalam hati,matanya melirik kesal pada Mahendra.
"Nenek senang mendengarnya,akhirnya kalian akan menikah juga.Pesta pernikahannya harus di rayakan besar besaran" Nenek terlihat antusias.
Rianti merasa malu dan sungkan,apalagi bu Widya selalu menatapnya dengan sinis.
"Wah...kak Hendra romantis!" Elara bertepuk tangan ketika Mahendra menyematkan cincin kejari manis Rianti.
"Berarti tinggal menentukan tanggal pernikahan,semoga semuanya lancar!" Ucapan nenek di sambut Aamiin oleh semuanya kecuali bu Widya.
Elara mendekat pada Rianti dan memperhatikan cincin yang tadi disematkan Mahendra kejari Rianti.
"Wow...ini kan cincin berlian mahal!!! Harganya miliyaran loh .Persis seperti cincin yang diberikan pangeran Hary waktu bertunangan dengan Meghan Markle.Widiih...kak Hendra kayanya cinta mati nih sama kak Rianti" Teriak Elara membuat Rianti kaget mendengar harganya,apalagi bu Widya.
Bu Widya pura-pura cuek tapi diam-diam matanya melirik pada jari Rianti.
__ADS_1
"Masa sih El?" Rianti menatap tak percaya pada Elara.
"Kalau nggak percaya,kakak bisa lihat di google" Elara membuka situs google di ponselnya, mencari cincin seperti yang di pakai Rianti.
"Tuh kan kak" Tunjuk Elara,mata Rianti terbelalak kaget.
"Nggak apa-apa mahal untuk calon istri,nantikan kalau sudah menikah istri yang mengurus suami,melahirkan dan mengurus anak-anak.Tidak sebanding pengabdian dan pengorbanannya dibanding harga cincin itu" Ucapan nenek sukses membuat Bu Widya kepanasan dengan cepat dia berlalu kekamar.
"Ya Tuhan...! Pekik bu Widya.Apa istimewanya dia.Lihat saja saya tidak akan tinggal diam."
***
Keesokan siangnya,"Mana cincin yang kemarin di berikan Hendra buat kamu!' Bu Widya menengadahkan tangannya begitu Rianti sampai di kafe, tempat dia mengajak Rianti bertemu.
"Tante Widya,maaf bukan saya lancang untuk melawan.Tapi ini cincin pemberian Mahendra untuk melamar saya.Jadi saya tidak wajib menyerahkannya pada tante,ini hak saya" Jawab Rianti pelan tapi tegas.
"Oh jadi kamu sudah berani melawan saya? Cepat buka sekarang! Atau saya akan ambil paksa dari jari kamu!" Bentak bu Widya dengan mata melotot.
Dengan terpaksa Rianti melepaskan cincin itu dan menyerahkannya kepada bu Widya.Karna suara bu Widya yang membentak,orang-orang mulai memperhatikan mereka.
"Jangan cerita pada Mahendra,kalau dia tanya dimana cincinnya bilang saja kamu simpan.Kamu nggak pantas pakai cincin ini.Janda seperti kamu cocoknya pakai emas imitasi" Bu Widya mendengus kesal.
Rianti merasa sakit hati bu Widya terus mengungkit ungkit status jandanya tapi dia harus bertahan demi Mahendra.
"Satu lagi,sampai mati pun saya tidak pernah merestui kamu dengan anak saya.Seandainya pun kalian sampai menikah,itu karna saya terpaksa.Bilang sama Mahendra tidak usah pakai pesta-pesta,akad saja sudah cukup.Apa kamu tidak merasa malu,janda aja pakai di pajang- pajang didepan tamu.Membayangkannya saja,saya sudah malu.Uuuh...saya sudah mau gila lihat wajah kamu.Cepat kamu pergi sana!" Bu Widya menenggak habis minuman dinginnya,tenggorokan terasa kering karna dari tadi ngomel terus.
Rianti berjalan keluar dari kafe dengan langkah menunduk,dadanya terasa sesak,air matanya yang dari tadi ditahan akhirnya keluar juga.
__ADS_1