Aku Memilih Berpisah

Aku Memilih Berpisah
Episode 42


__ADS_3

Selesai jam kantor Mahendra menghampiri Rianti ke mejanya.


"Kamu sudah siap?"


"Ah iya pak,tapi...bisakah kita ketemuannya di depan mini market sebrang pak.Saya tidak mau orang kantor menggosipkan kita" Rianti memandang sekeliling kuatir ada yang melihat mereka.


"Ok,saya tunggu di depan mini market" Sebenarnya Mahendra ingin protes kenapa ketemuannya harus di depan mini market.Tapi lebih baik menurut apa kata Rianti daripada berdebat dulu.


"Hendra,kamu mau ngajak aku kencan dimana sore sore gini?" Rianti memandang sekeliling hanya ada danau buatan yang dikelilingi pepohonan.Dan beberapa abang penjual mie ayam bakso,gorengan dan minuman.


"Ya ke sini sayang" Andika mengambil tangan Rianti dan menggandengnya.


Perasaan hangat mengalir keseluruh tubuh Rianti saat tangan Andika menggenggam erat tangannya.Mereka berdua berjalan menyusuri pinggir danau dengan bergandengan tangan.Sesekali Mahendra merapihkan rambut Rianti yang diterbangkan angin sore yang bertiup sepoi sepoi.


"Tapi tempatnya sepi begini?"


"Kalau hari libur ramai,apalagi malam minggu.Sebentar lagi juga ramai,kamu lihat aja tuh,orang-orang mulai berdatangan" Mahendra menunjuk pada mobil dan motor yang sedang mencari tempat untuk parkir.


"Kamu tau dari mana tempat ini? Atau jangan-jangan kamu dulu kalau pacaran kesini ya?" Rianti memandang Mahendra dengan senyum menggoda.


"Bukan...dulu aku pernah mengantar ayah ketempat ini.Ayah berniat membangun properti disini tapi gagal karna harga tanahnya tidak cocok."


"Kamu percaya nggak...dulu aku pernah berkhayal berjalan menelusuri pinggir danau ini dengan kamu" Mahendra berhenti dan berdiri menghadap Rianti dan memegang kedua tangannya.


"Masa sih?" Mata Rianti terbelalak tak percaya.


"Iya,dan sekarang bukan hanya sekedar khayalan tapi jadi kenyataan."


"Hen...kata Sania...kamu sudah suka sama aku sejak kita duduk di bangku SMA...benar ya?" Tanya Rianti dengan mata mata berbinar binar.


"Iya benar...bahkan sampai saat" Mahendra menatap Rianti dengan tatapan penuh cinta.


"Kok aku nggak tau sih...bukannya dulu kamu dekat dengan...siapa tuh ya namanya...cewek yang paling beken dulu di sekolah."


"Melinda"


"Ah iya Melinda"


"Memang dulu aku dekat dengan Melinda,hanya dekat tapi nggak pacaran,tapi di hatiku tetap hanya ada kamu.Sejak pertama aku lihat kamu aku sudah jatuh cinta" Dengan hati berbunga bunga Mahendra membuat pengakuan.


Rianti senang ternyata dulu rasa sukanya tidak hanya sepihak.


"Terus kenapa kamu nggak berusaha untuk dekati aku?" Rianti semakin penasaran.


"Waktu itu,bokap nyokap melarang anak anaknya untuk pacaran,apalagi setelah aku tau bahwa lulus SMA aku harus kuliah keluar negri.Ya sudah aku hanya memendam cintaku."


"Di Amerika pasti banyak cewek yang suka sama kamu,secara kamu kan tampan,keren,pintar,kaya....pokoknya kamu perfect banget menurut aku."

__ADS_1


"Aku itu tipe laki laki yang kalau sudah jatuh cinta...susah berpindah ke lain hati.'


"Hendra...aku sangat tersanjung dan bahagia di cintai oleh kamu" Rianti tersenyum malu dan menundukkan kepalanya.


Rianti kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Mahendra.


"Hendra...sebenarnya aku juga...nggak jadi ah...rahasia" Rianti menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kau harus mengatakannya Rianti,kau sudah membuatku penasaran."


"Aku Sudah bilang rahasia,Hendra" Rianti tertawa dan berlari kecil menjauh dari Mahendra.


"Rianti...kamu curang ya...ayo katakan sekarang juga" Mahendra berlari mengejar Rianti.


Rianti terus berlari sambil tertawa meledek Mahendra.


"Awas kamu ya,aku akan tangkap kamu!" Mahendra mempercepat larinya.


Saat akan menggapai Rianti,tiba tiba Rianti hampir terjatuh karna berlari dengan memakai sepatu high heels.Untung Mahendra dengan cepat menangkapnya.


Mahendra memegang punggung Rianti dan menahannya agar tidak terjatuh.


Mahendra menatap wajah Rianti penuh kekuatiran.Rianti pun menatap wajah Mahendra,terlihat Mahendra begitu mengkuatirkan dirinya.Untuk beberapa saat mereka saling tatap dalam diam.


Mahendra memajukan tubuhnya lebih dekat pada Rianti,matanya masih terus menatap pada Rianti tanpa berkedip.Perlahan tatapan matanya turun pada bibir merah jambu Rianti.Pelan tapi pasti bibir Mahendra mulai mendekat.


Rianti dengan perlahan mulai memejamkan matanya menanti bibir Mahendra mendarat di bibirnya,siap menanti kecupan Mahendra.


"Tring-tring...tet-tet...!"


"Tring-tring...tet-tet...!"


Mahendra terkesiap,tubuhnya membeku.Kecupan pertamanya untuk Rianti gagal total.Mahendra menjauhkan wajahnya dengan perasaan kecewa.


Begitupun dengan Rianti,posisinya serba salah.Ingin membuka matanya tapi rasa malu telah menyergap dirinya.Ingin rasanya dia terbang dan lenyap tak bersisa seperti asap.


Dengan terpaksa Rianti membuka matanya,tampak Andika menatapnya dengan wajah tegang penuh serba salah.


Karna rasa malu yang luar biasa Rianti menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya,Kemudian membalikkan badannya membelakangi Mahendra.


"Rianti maaf,kamu nggak perlu merasa malu" Mahendra berdiri didepan Rianti dan memegang kedua bahunya.


"Ngga mau,kamu jahat,aku benci sama kamu" Rianti merajuk sambil menangis.


"Sstt...sayang-sayang...sini peluk" Mahendra membawa Rianti kedalam pelukannya dan merebahkan kepala Rianti di dadanya.


"I'm so sorry sweet heart"Mahendra mengecup puncak kepala Rianti.

__ADS_1


Aroma tubuh Mahendra membuat Rianti lebih tenang,dan nyaman.


"Aku pernah dulu pernah berjanji tak akan pernah membuat wanita yang kusukai menangis.Tapi justru aku membuatmu menangis di kencan pertama kita" Mahendra menarik nafas panjang dan mengeratkan pelukannya.


Yakin jika Rianti sudah tenang,Mahendra mengangkat wajah Rianti.


Tampak mata Rianti sembab dan hidungnya memerah.Mahendra merasa gemas,ingin rasanya dia menggigit hidung itu.


"Sayang...kamu tambah cantik kalau sedang ngambek" Mahendra tertawa ringan melihat Rianti menggembungkan pipinya.


"Iih...Hendra" Rianti memukul mukul dada Mahendra.


Mahendra menangkap kedua tangan Rianti dan mengecupnya dengan lembut.


"Sayang...bagaimana kalau kita ulang adegan tadi?" Mahendra menaikan sebelah alisnya.


"Nggak mau,memangnya syuting film" Rianti merajuk lagi.


Tiba tiba ponsel Mahendra berdering lagi,Mahendra mengambil dan melihat nama yang meneleponnya ternyata dari ibunya.


"Mahendra"


"Iya bu"


"Kamu sedang ada dimana?'


"Oh ini...sedang makan malam dengan teman"


"Jangan bilang kamu sedang makan malam dengan janda itu"


"Ah nggak bu"


"Hendra,nenek kamu dan Elara sudah sampai di rumah.Sebaiknya kamu cepat pulang karena nenek nggak sabaran ingin ketemu."


"Baik bu,Hendra usahakan cepat pulang" Hendra kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya setelah ibunya selesai menelepon.


"Tante Widya ya Hen?" Tanya Rianti.


"Iya,ibu nyuruh pulang,ada nenek dan Elara adikku datang dari Belanda."


"Ya sudah,kalau begitu kita pulang."


"Masih jam delapan sayang,aku masih ingin bersamamu."


"Hendra,kasihan nenek dan adikmu menunggu."


"Sepuluh menit lagi aja,aku ingin melihat bintang bersamamu" Mahendra memeluk Rianti dari belakang.

__ADS_1


"Lihat sayang,bintang-bintang itu begitu cerah...secerah hatiku karna ada kamu di pelukanku" Mahendra menunjuk ke atas pada bintang-bintang di langit.


Rianti menyandarkan kepalnya didada Mahendra dengan nyaman.Ikut menikmati pemandangan dilangit.


__ADS_2