Aku Memilih Berpisah

Aku Memilih Berpisah
Episode 32


__ADS_3

"Dika,lo ga mau ke rumah sakit dulu untuk mengobati luka lo itu?"


"Nggak Wan,malu gua.Nanti kalau dokternya tanya luka gua kenapa,bingung gua mau jawab apa.Masa gua bilang kecelakaan,mana ada luka kecelakaan bonyok gini."


"Terus mau gua antar kerumah?"


"Jangan Wan,stres gua dirumah lihat bapak mertua gua,kerjanya minta uang mulu,cari hotel yang ada disekitar sini!" Mata Andika celingukan siapa tau nemu hotel yang dekat dari posisi mereka.


"Di rumah kan ada Siska yang obati luka lo nanti.Kalau dihotel siapa yang ngurus lo?"


"Ya lo lah Wan."


"Buset dah,teman ga berakhlak lo ya Dika,dikasih hati minta jantung!"


"Dari pada lo dikasih hidup minta mati.Mau lo ga gua pinjami uang lagi kalau lo lagi butuh."


" Iya dah...Tuh didepan ada hotel" Irawan membelokkan mobil masuk pelataran hotel.


Sampai di kamar hotel Irawan membantu membersihkan dan mengobati luka Andika.


"Wan,gua sudah ga punya harapan untuk memiliki Rianti kembali" Ucap Andika sambil menahan perih di lukanya.


"Gua ga sudi Rianti dimiliki oleh pria lain,terutama pria seperti Mahendra.Mahendra itu paket komplit,wajahnya lebih tampan dari gua.Lebih kaya,pendidikannya pun lebih tinggi.Lo punya ide ga,biar ga ada laki laki yang berani mendekati Rianti."


"Banyak jalan menuju Roma bro,tinggal pilih mau lewat jalan yang mana."


"Maksud lo?"


"Kalau lo ga mau Rianti di dekati pria lain,lo tinggal bikin perhitungan dengan pria itu biar menjauh dari Rianti,bereskan?"


"Benar juga ide lo Wan...lo kelihatannya aja bodoh ya tapi ternyata pintar" Andika menepuk pundak Irawan.


"Emangnya lo,kelihatannya pintar tapi ternyata bodoh" Ucap Irawan ngakak sambil menjauh dari Andika yang menatapnya dengan horor.


"Kalau gua bodoh,gua ga akan jadi manager!" Andika meraih kotak obat dan melemparkannya ke wajah Irawan.


"Btw besok gua izin dengan alasan apa sama si bos,ini bisa dua tiga hari baru sembuh."


"Bilang aja lo habis digigit anjing gila milik


tetangga sebelah" Sahut Irawan asal.

__ADS_1


"Gua serius nih Wan,ga ada alasan yang lebih bagus apa?"


"Lo punya otak ga sih Dika,dari tadi gua yang lo suruh mikir" Irawan mulai kesal.


"Beneran gua ga bisa mikir.Yang ada dalam pikiran gua hanya Rianti."


"Atau bilang aja lo habis di serang tetangga sebelah karna godain istrinya" Irawan kembali ngakak.


"Ngaco lo ah,udah biar gua aja yang mikirin alasannya.Kalau sudah selesai lo pulang aja,gua mau istirahat!"


***


Ardi mengunjungi Mahendra di apartemennya.Mahendra sudah balik dari rumah sakit kemarin.Sebenarnya dia ingin menghadiri sidang paripurna gugat cerai yang di ajukan Rianti terhadap suaminya.Mahendra bersyukur gugat cerai Rianti dikabulkan hakim.Dia ingin segera melepaskan status janda Rianti.Berhubung Rianti masih dalam masa iddah,Mahendra harus lebih bersabar agar tidak menimbulkan fitnah.


"Bagaimana Keadaan lo Hen,sudah sehat?" Ardi masuk dan langsung duduk di sofa di sebelah Mahendra.


"Bukan hanya sehat tapi pulih" Jawab Mahendra penuh semangat.


"Lo kayanya bahagia banget hari ini.Jangan bilang lo senang dengan status baru Rianti" Ardi menatap Mahendra penuh selidik.


"Pastilah gua senang,dia sudah bebas dari suaminya yang kejam itu.Gua punya kesempatan untuk masuk dalam hidupnya" Mahendra tersenyum sumringah.


Mahendra meraih ponselnya yang ada di atas meja yang ada di depan sofa.


Mahendra memutar video yang dikirim Ardi.Video persidangan di pengadilan.


Wajah Mahendra marah saat Andika mengambil Andre dan membawanya kabur.Tampak Rianti menangis dan menjerit histeris.Mahendra tidak melanjutkan melihat video itu.Hatinya begitu sakit melihat Rianti menangis.


"Ngapain lo rekam yang begini,bikin hati gua hancur" Mahendra meletakkan ponselnya kembali keatas meja.


"Lo lanjutkan aja lihat videonya!"


Mahendra kembali meraih ponselnya dan melanjutkan melihat video tadi.


Matanya terbelalak tak percaya melihat Rianti melepaskan sepatu high heelsnya dan berlari cepat kilat mengejar Andika.Mahendra semakin tidak percaya dan bola matanya hampir keluar ketika melihat Rianti menghajar Andika.Sosok anggun dan lemah lembut berubah menjadi kuat dan tangguh demi buah hatinya.


"That's my Wonder women" Gumam Mahendra tersenyum tipis.


***


Tiga hari setelah sembuh dari luka lukanya,Andika kembali ngantor.Ketika baru saja mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya,ada telepon dari resepsionis memanggil.

__ADS_1


"Pagi pak Andika"


"Iya,pagi"


"Maaf mengganggu pak,ini ada seorang bapak mau ketemu dengan pak Andika."


"Tapi saya tidak ada bikin janji sama seseorang" Kening Andika berkerut.


"Memang belum bikin janji katanya pak,tapi ini penting,kalau bapak tida turun dia yang akan naik keatas."


"Siapa namanya?"


"Namanya pak Emir."


"Uhh...ada apa dia mau ketemu saya,pakai acara datang ke kantor segala" Gerutu Andika.


"Ya sudah suruh tunggu,terimakasih!"


Andika turun ke lantai bawah sambil merepet." Kalau ga ditemui takut bikin ribut itu orang,pasti dia mau minta uang."


Saat sampai dilantai bawah, benar saja pak Emir sedang berdiri dengan berkacak pinggang.Dengan gaya premannya dia sedang mengomeli resepsionis tadi.Kadang Andika tidak habis pikir dengan pak Emir,sudah tua,malas,miskin,sombong juga,entah apa yang bisa di banggakan dari dia.


Begitu Andika ada di hadapannya"Dika,lihat nih karyawan mu,dia membuat saya menunggu lama di sini.Apa dia tidak tahu kalau saya menantu manajer di perusahaan ini,pecat saja dia!" Pak Emir marah marah.


Andika meringis,dia melirik sang resepsionis yang melihat kesal pada pak Emir.


"Pak,saya hanya manajer disini,masih ada pemimpin tertinggi dari saya di sini yaitu pemilik perusahaan ini.Jadi bapak jangan marahi dia,bapak tidak punya hak untuk memarahinya dan saya tidak punya hak memecat dia" Andika menarik pak Emir keluar.


"Ada apa bapak mencari saya?"


"Pertanyaan macam apa itu,tentu saja untuk meminta uang karna sudah kewajiban kamu menafkahi kami."


"Kewajiban?"


"Iya,sejak kamu menikah dengan Siska otomatis kami jadi orang tua mu dan menjadi kewajiban mu memberi kami makan.Sudah beberapa hari kamu tidak pulang dan tidak memberi kami uang, kamu mau menelantarkan kami?!'


Andika tercenung beberapa saat penuturan pak Emir beberapa saat sebelum akhirnya menjawab."Bagaimana bapak bisa menganggap ku memiliki tanggung jawab atas hidup bapak? Aku ini hanya menantu,Siska yang anak bapak,jadi Siska yang punya tanggung jawab terhadap hidup bapak,bukan saya."


"Apa bedanya? Kamu kan suaminya.Suami itu bertanggung jawab terhadap hidup istrinya,berarti bertanggung jawab juga atas hidup orang tua istrinya."


Andika mengepalkan tangannya karna kesal,bagaimana bisa mertuanya itu dengan tidak tau malu datang kekantor minta uang.Bagaimana bisa mertuanya itu mengaku hidup mereka jadi tanggung jawabnya.Benar benar mertua tidak tau diri.Ingin rasanya Andika memukul wajahnya hingga bonyok.

__ADS_1


__ADS_2