
Eleanor menghirup udara segar dan menikmati pandangan pantai dihadapannya sekarang. Eleanor telah sampai di Astralia, Eleanor menginap di hotel yang terhubung langsung dengan pantai.
Eleanor akan menikmati liburannya, Eleanor duduk dikursi pantai sambil menikmati wine.
Eleanor menggunakan bikini warna kuning gelap sehingga membuat tubuh sexy nya semakin kelihatan. Eleanor mengambil ponselnya lalu bersiap untuk mengambil foto.
Hasil fotonya sangat cantik Eleanor tampak sangat sexy, siapapun yang melihat Eleanor maka akan terpana akan kecantikan Eleanor yang natural. Eleanor meletakan ponselnya, ia tidak memposting ke media sosial hanya untuk koleksi pribadi saja.
Pemandangan pantai di sore hari sangat indah, apalagi pemandangan sunset yang sebentar lagi tenggelam, warna orange itu membuat Eleanor jatuh cinta.
"Mama!" teriak seorang anak kecil membuat Eleanor terkejut.
"Cessa?" panggil Eleanor tidak percaya bisa bertemu dengan Cessa disini.
"Dimana papamu, cantik?" tanya Eleanor ketika ia tidak melihat Liam.
"Papa sedang berbicara dengan uncle Nial, ma." Cessa naik keatas pangkuan Eleanor. Dan dengan cepat Eleanor membuang wine yang tersisa digelasnya.
Eleanor tidak bertanya lagi mungkin Liam ada urusan pekerjaan yang harus pria itu kerjakan disini dan sekalian saja mengajak Cessa.
"Mataharinya cantik ma," ujar Cessa membuat Eleanor menganggukan kepalanya.
"Benar sekali, sangat cantik." Eleanor menjawab sambil mencium rambut Cessa, lalu keduanya menikmati matahari hingga benar-benar tenggelam.
Tidak jauh dari mereka Liam sedang memperhatikan keduanya. Liam mendapat laporan dari orangnya bahwa Eleanor pergi berlibur. Ketika mengetahui Eleanor pergi berlibur Liam segera menyusul Eleanor dengan jet pribadinya dan tentu saja ia membawa Cessa. Karena dengan adanya Cessa rencana untuk mendekati Eleanor akan semakin lancar.
"Papa!" Cessa memanggil Liam membuat Eleanor juga ikut menoleh kearah Liam.
"El, sungguh kebetulan sekali kita bertemu disini." Liam tersenyum pada Eleanor.
"Benar sekali Liam, kau ada urusan pekerjaan? Atau liburan?"
"Pekerjaan El, karna Cessa tidak ada yang menjaga sekalian aku mengajaknya. Kau sendiri?" tanya Liam berpura-pura tidak tahu.
"Aku sedang liburan."
"Asik, Cessa bisa liburan bersama mama." Cessa berteriak girang.
"Princess, kita tidak boleh mengganggu liburan aunty El. Cessa bisa bermain dengan uncle Nial," ujar Liam membuat Cessa langsung menangis.
'Bagus sayang menangislah lebih kencang.' batin Liam tersenyum jahat.
"Sayang, please. Dengerin papa, jangan menangis," ujar Liam mencoba membuat Cessa mengerti.
"Uwaaaa, pokoknya Cessa mau liburan sama mama. Titik." Cessa menangis kencang.
"Manis, kita akan liburan bersama sementara papamu bekerja. Bagaimana?" tanya Eleanor membuat Cessa langsung berhenti menangis.
__ADS_1
"Benar ma?"
"Iya, bagaimana Liam. Boleh?" tanya Eleanor pada Liam.
"Apa tidak apa El?" tanya Liam balik, didalam hati Liam berteriak senang.
"Tidak apa-apa Liam, kau fokus saja pada pekerjaanmu." Eleanor mengembangkan senyumnya.
"Terima kasih banyak El," ujar Liam sambil tersenyum.
"Cessa tidur dengan mama ya," pinta Cessa dengan mata berbinar membuat Eleanor tidak bisa menolak.
"Menggemaskan sekali, tentu saja boleh baby," ujar Eleanor membawa Cessa dalam gendongannya.
"Liam boleh?"
"Aku tidak bisa menolaknya El."
"Bye papa, papa akan tidur sendiri. Hihi," ujar Cessa tersenyum senang.
"Guys, selamat bersenang-senang." Liam melambaikan tangan.
Seperginya Eleanor dan Cessa, Liam langsung masuk kedalam kamar hotelnta yang tidak jauh dari kamar Eleanor.
Kemanapun Liam pergi pekerjaannya tetap mengikutinya. Nial tidak bisa membiarkan Liam beristirahat dari pekerjaan yang menumpuk.
"Tidak bisa kah aku libur bekerja?" tanya Liam lesu lalu duduk menghadap komputernya.
"Aku akan mengantar pakaian Cessa, setelah itu aku akan kembali bekerja." Liam bersiap untuk kabur namun Nial menahannya.
"Biar saya saja Tuan."
"Aku saja," ujar Liam menekan suaranya, ia ingin melihat Eleanor lagi.
"Baiklah, tapi segera kembali Tuan. Pekerjaan tidak akan selesai jika tidak dikerjakan."
"Bawel sekali seperti wanita saja, aku akan segera kembali."
Liam keluar dari kamarnya, ia mengambil ponselnya dan menelpon Eleanor.
"Hallo El, kamarmu dimana? Aku ingin mengatar pakaian Cessa," ujar Liam ketika panggilan telah terhubung.
"Kamar 305A."
"Terima kasih El, aku akan segera kesana."
Liam berpura-pura bertanya sebenarnya ia sudah tahu kamar Eleanor.
__ADS_1
Liam mengetuk pintu ketika sudah sampai didepan kamar Eleanor.
"Liam, kami sedang makan malam. Mau bergabung?" tawar Eleanor membuat Liam langsung menganggukan kepalanya.
"Pakaian Cessa kuletakan disini El," ujae Liam meletakan pakaian Cessa diatas meja.
"Papa kemari," ujar Cessa meminta Liam duduk disamping Eleanor.
"Terima kasih El, dan maaf merepotkanmu." Liam mulai mengambil piringnya.
"Its oke Liam, sepertinya liburan dengan Cessa akan menyenangkan."
Jawaban Eleanor membuat Liam tersenyum.
Eleanor beruntung memesan banyak makanan karena itu Liam bisa bergabung makan malam bersama mereka.
Cessa terus bercerita tentang perjalanannya kemari dan juga menceritakan tentang kelucuan Ceez pada Eleanor. Eleanor dan Liam menjadi pendengar yang baik untuk Cessa. Mereka berbincang sambil makan malam bersama persis seperti keluarga yang harmonis.
Setelah makan malam bersama Liam kembali kekamarnya, sedangkan Cessa dan Eleanor sudah mandi dan memakai piaya dengan warna yang sama.
"Kita memakai piaya kembar mama," ujar Cessa membuat Eleanor tersenyum.
"Benar sekali, sekarang ayo kita tidur."
"Baik mama."
"Mau aunty bacakan dongeng?" tawar Eleanor membuat Cessa menatap Eleanor dengan berbinar.
"Aunty akan menceritakan tentang 'si cantik dan buruk rupa' dongeng yang dulu sering aunty baca ketika kecil."
"Cessa mau dengar."
"Dahulu kala....."
Eleanor menceritakan dongeng tanpa buku cerita karena memang Eleanor hapal dengan dongeng masa kecilnya. Eleanor memceritakan hingga Cessa tertidur.
Liburan bersama Cessa sepertinya tidak buruk, Cessa sangat menggemaskan mana mungkin Eleanor akan menolak untuk liburan bersama.
Apalagi Cessa sangat menyukai suara detak jantungnya, detak jantung milik ibu kanduny Cessa.
Eleanor ingin memberitahu jika jantung ini adalah milik ibu Cessa tapi Eleanor tidak melakukannya karna Eleanor tidak ingin Liam salah paham. Eleanor tidak ingin Liam beranggapan jika ia mendakati Liam melalui Cessa dan menggunakan jantung ibu Cessa sebagai alasan.
Eleanor memang ingin memulai hidup baru, tapi untuk menikah kembali Eleanor masih belum kepikiran sampai sana.
Sementara itu Liam sedang bekerja, sepertinya malam ini ia akan kembali begadang. Liam melepaskan kacamatanya lalu meminum kopi yang sudah dingin. Entah sudah berapa lama kopi ini dibuat, walau begitu Liam tetap menghabiskan kopinya.
Liam sangat beruntung mempunyai putri yang cerdas sehingga ia tidak perlu memikirkan berbagai cara untuk mendekati Eleanor karena putrinya lah yang akan mendekati Eleanor.
__ADS_1
Jika putrinya ingin Eleanor menjadi ibunya maka Liam tidak ada pilihan untuk mewujudkan nya.
Liam harus menyelesaikan pekerjaannya malam ini agar besok ia bisa menghabiskan waktu bersama Eleanor dan Cessa.