
Langkah kaki Angel memasuki sebuah gedung yang sudah lama tidak di tempati, banyak debu yang bertebangan serta udara yang lembab.
“Oh, tempat macam ini, mengapa mereka harus membawa wanita itu kesini,” ucap Angel dengan sedikit jijik, karena yang menentukan lokasi dimana Eleanor di sekap adalah Sean, dan kini giliran Angel yang akan melakukan aksi nya.
“Bagaimana?” Tanya Angel pada anak buah nya.
“Dia ada di dalam dan terikat di kursi, semua nya aman, anak buah Liam belum menemukan keberadaan nya,” jawab salah satu anak buah Sean.
“Baiklah, aku akan melakukan tugas ku.” Angel kemudian memasuki ruangan itu, ia melihat jika anak buah nya menampar pipi Eleanor hingga membuat nya jatuh ke lantai.
Eleanor membuka mata, namun kepala nya terasa sangat pusing. Ia mencoba mengamati sekitar, Eleanor tersadar jika ia sedang di ikat di sebuah kursi, di dalam ruangan yang minim penerangan. Eleanor juga melihat jika ada dua orang pria berpakaian hitam yang menculik nya tadi.
“Lepaskan aku.” Eleanor berontak ingin lepas dari ikatan di kursi ini, tangan nya terikat ke belakang serta kedua kaki nya yang juga terikat. Namun pria berpakian hitam itu hanya menatap Eleanor dengan sangat tajam.
“Tolong, lepaskan aku.” Eleanor kembali berteriak berusaha mencari bantuan, Eleanor ketakutan.
“Diam.” Bentak salah satu pria itu.
“Tolong lepaskan aku.” Eleanor memohon pada pria itu.
“Tolong lepaskan aku, tolong.” Eleanor kembaki berteriak mencari pertolongan, meskipun terdengar mustahil. Karena tempat ini terpencil.
“Tidak bisakah kau tutup mulut mu itu, jika tidak ingin aku melakukan kekerasan padamu.” Pria itu mencengkram rahang Eleanor dengan sangat kuat, hingga membuat Eleanor ingin meneteskan air mata nya, mata Eleanor menatap wajah pria itu yang tertutupi oleh kain, dengan kasar pria itu menghempas rahang Eleanor.
“Awhh.” Rintih Eleanor kesakitan, ia menahan agar air mata nya tidak luruh, Eleanor tidak ingin terlihat lemah. Ia mencoba menggerakan tangan dan kaki nya, tapi tetap saja ia tidak dapat bergerak karena ikatan tali ini sangat kuat.
__ADS_1
“Liam, tolong aku.” Eleanor kembali berteriak, berharap jika Liam datang menolong nya.
“Diam.” Bentak pria itu lagi.
“Aku tidak akan diam sebelum kalian melepaskan aku, tolong lepaskan aku. Aku tidak kenal dengan kalian.” Eleanor berontak sehingga membuat suara kursi yang bergesekan dengan lantai yang kotor.
“Sialan, ku bilang diam.” Pria itu menampar pipi Eleanor dengan sangat kuat, hingga membuat tubuh Eleanor terhuyung ke lantai.
“Awh.” Eleanor merasakan sebuah tamparan yang sangat kuat di pipi nya, hingga membuat pipi nya terasa sangat panas dan nyeri.
Dua orang pria itu kemudian melepaskan ikatan tangan dan kaki Eleanor pada kursi, tapi tetap mengikat kedua tangan dan kaki nya. Hingga pandangan Eleanor menangkap seorang perempuan yang berpakaian serba hitam dengan rambut yang terikat tinggi yang menggunakan penutup wajah, hingga Eleanor tidak dapat mengenali wajah itu. Tapi bentuk tubuh nya seperti tidak asing bagi Eleanor.
Sebelum datang kesini, Angel menyempatkan diri nya untuk berganti pakaian agar tidak ketahuan oleh Eleanor. Tangan Angel seperti memberi kode pada kedua pria itu agar sedikit menyingkir, agar ia dapat lebih leluasa menyiksa Eleanor.
“Awh hiks- hentikan.” Eleanor meneteskan air mata nya, ia tidak kuat menahan sakit dan nyeri di pipi nya.
“Liam tolong aku- bugh.” Angel menendang tubuh Eleanor, Angel ingin mengumpat saat mendengar Eleanor berusaha meminta pertolongan pada Liam, namun ia tahan. Jika ia berbicara maka Eleanor dapat mengenali suara nya.
“Tidak, jangan tendang aku.” Eleanor berusaha melindung perut nya, ia takut jika Angel akan menendang perut nya, Eleanor tidak akan sanggup kehilangan calon anak nya.
“Awh, tidak ku mohon.” Eleanor semakin meneteskan air mata nya, saat Angel dengan sangat brutal menendang perut Eleanor.
“Tidak, kumohon hiksss.” Eleanor ingin melindungi perut nya namun tidak bisa, tangan nya terikat. Perut Eleanor terasa sangat sakit. Ia berharap semoga kandungan nya baik baik saja.
“Oh god, tolong aku,” ucap Eleanor dengan sangat lirih.
__ADS_1
Angel kembali menarik rambut Eleanor agar ia terduduk, kemudian kembali menampar pipi nya yang sudah berwarna biru dan robek di sudut bibir nya, lalu kaki nya kembali menendang dan menginjak perut Eleanor tanpa perasaan kasihan.
“Tidak hiks, kumohon jangan sakiti anak ku.” Eleanor menangis dengan sangat kencang, perut nya sakit, merasakan sakit di hati nya serta sakit yang sangat luar biasa di perut nya.
Eleanor tidak kuat menahan sakit ini, hingga Angel kembali menendang perut nya dan kesadaraan nya perlahan mulai menghilang. Seluruh badan nya terasa sangat sakit, seperti tulang tulang di badan nya sudah hancur oleh perlakuan kasar Angel.
Angel kemudian keluar dari ruangan Eleanor, dengan suara tawa nya yang memenuhi gedung kosong ini. Ia sangat bahagia karena telah melukai Eleanor.
“Semoga calon anak mu mati di dalam sana,” ucap Angel seraya tertawa miring, dan membuka penutup wajah nya.
Liam dan anak buah nya kini tengah mencari keberadaan Eleanor, pikiran Liam sangat kalut, ia menyesal karena sudah menuruti keinginan Eleanor yang ing pergi tanpa ada nya pengawalan dari Drex. Dan sial nya di mansion Liam, ada mata mata yang menyamar menjadi bodyguard Liam, dan itu adalah bodyguard yang Liam pilih untuk mengawasi Eleanor dari kejauhan. Liam telah kecolongan, biasa nya Liam sendiri yang akan memeriksa dokumen dari para calon bodyguard yang akan bekerja di mansion nya.
“Sial.” Liam menyugar rambut nya dengan kasar, hingga membuat rambut nya berantakan, namun penampilan Liam yang berantakn justru menambah ketampanan nya dan juga bertambah sexy.
Kini Liam beserta anak buah nya tengah berada di ruangan di mansion yang khusus untuk menyimpan alat alat canggih untuk melacak keberadaan Eleanor, dan Liam juga sudah menyebar anak buah nya gar mencari Eleanor.
“Salah satu bodyguard berkata jika sudah menemukan tempat dimana Nona Eleanor di culik, Tuan Liam,” ucap Nial yang mendapat informasi dari earpiece yang terpasang di telinga kanan nya.
“Kepung tempat itu.” Liam dengan cepat keluar dari ruangan yang berada di lantai basement mansion, menunu mobil yang akan membawa nya kepada Eleanor.
“Ergh.” Liam mengerang rendah, tatapan nya sangat tajam dan mematikan, ia tidak akan memberikan ampun pada orang yang telah berani menculik dan mencelakai Eleanor. Liam sangat khawatir dengan kondisi Elenaor, ia takut Eleanor akan merasa kesakitan dan ketakutan.
“Tidak bisakah kau lebih cepat, sialan.” Liam membentak Nial yang menurut nya mengendarai mobil dengan lambat, padahal sesungguh nya Nial sudah mengendarai mobil ini dengan sangat cepat.
“Baik Tuan,” jawab Nial, kemudian menambah kecepatan nya.
__ADS_1