AKU PEMERAN UTAMA

AKU PEMERAN UTAMA
Bab 37 : Baby bear


__ADS_3

Untuk soal pelaku penculikan Eleanor, mereka semua di bereskan oleh Drex serta yang lain nya. Nial hanya menerima informasi yang di berikan oleh Drex, tugas nya saat ini adalah menjaga Tuan nya, serta Nial juga berdoa agar kondisi Eleanor baik baik saja.


Setelah menunggu hampir satu jam, pintu Eleanor terbuka, yang pertama kali Liam lihat adalah seorang dokter wanita berusia 40 tahunan, Liam bahkan tadi mengamuk menginginkan seorang dokter wanita yang harus memeriksa Eleanor, ia tidak ingin ada pria yang berani menyentuh wanita nya, Liam sangat posesif meski di dalam kondisi yang seperti ini.


“Bagaimana keadaan nya.” Tanya Liam dengan tidak sabar.


“Nona Eleanor harus di pindahkan ke ruang inap terlebih dahulu Tuan,” jawab dokter itu dengan tenang.


“Apa dia baik baik saja, jawab aku?!” Liam tidak bisa menahan emosi nya, ia ingin segera mengetahui kondisi Eleanor.


“Anda harus tenang Tuan, sebaik nya kita bicarakan ini di dalam ruangan saya,” ucap dokter wanita itu dengan meninggalkan Liam menuju ruangan nya.


Tepat saat itu pintu ruangan terbuka meperlihatkan Eleanor dengan banyak sekali peralatan yang ada di tubuh nya, serta pakaian nya kini sudah berganti menjadi pakaian rumah sakit.


“El, apa kau baik baik saja.” Liam mendekati ranjang Eleanor, yang sedang di dorong oleh perawat. Wajah Eleanor masih pucat, namun sudah bersih dari bercak darah, penampilan kacau Eleanor kini sudah bersih. Pandangan Liam tiba tiba menatap perut Eleanor, detak jantung nya berdetak sangat cepat.

__ADS_1


“El, ku harap kau dan dia baik baik saja.”


“Tuan anda harus pergi ke ruangan dokter,” ucap Nial, agar Liam tidak kembali larut dalam kesedihan nya.


Perawat kembali mendorong Eleanor ke dalam ruang inap vvip yang akan di tempat oleh Eleanor, Liam ingin jika satu lorong itu hanya akan di tempati oleh Eleanor, ia tidak ingin jika lorong itu di isi oleh pasien lain, karena akan membuat nya berisik. Pandangan Liam menatap ranjang Eleanor yang menghilang dari tatapan nya. Namun Nial kembali membuyarkan lamunan nya.


“Tuan.” Panggil Nial, dengan segera Liam melangkahkan kaki nya menunu ke dalam ruangan dokter wanita tadi. Liam mengepalkan tangan nya, meredam emosi nya yang kembali muncul ke dalam permukaan.


Eleanor kini sudah berada di ruang inap vvip nya, dengan bantuan alat yang ada di tubuh nya. Kondisi Eleanor kini sangat lemah, bahkan wanita itu belum terbangun dari pingsan nya. Di depan rawat inap Eleanor, sudah di jaga oleh para bodyguard Liam, seluruh lantai tempat Eleanor di rawat sudah steril. Sedangkan Liam, pria itu tengah berbincang dengan dokter yang menangani Eleanor.


Liam menahan segala amarah dan emosi nya, ia tidak boleh lepas kendali.


“Lalu apa Eleanor masih bisa hamil lagi?” Tanya Liam pada sang dokter wanita, Liam tidak mengingat siapa nama dokter wanita ini. Tapi Liam sering menyumbang dana ke rumah sakit ini untuk kegiatan amal, bahkan Liam adalah salah satu donatur tetap di rumah sakit ini.


“Tentu saja masih bisa Tuan, tapi saya sarankan jika kalian ingin berhubungan tunggu sampai trauma Nona Eleanor hilang. Masa penyembuhan biasa nya dalam jangka waktu 1-2 bulan, untuk seorang wanita yang mengalami keguguran. Tapi untuk kondisi mental Nona Eleanor, saya tidak bisa memprediksikan nya. Karena mental orang berbeda beda. Tuan Liam perlu menemani Nona Eleanor melewati ini semua, dan jangan sembunyikan hal ini dari Nona Eleanor. Ia berhak tahu, meskipun akan menyakiti hati nya.” Jelas dokter itu panjang lebar.

__ADS_1


Liam semakin mengepalkan tangan nya kuat, pikiran nya menuju pada wanita yang sudah berani menyakiti Eleanor. Liam pikir wanita itu tidak akan bertindak sejauh ini, ternyata perkiraan Liam salah. Wanita itu terlalu jauh mengusik kehidupan Liam.


“Berikan yang terbaik untuk Eleanor,” ucap Liam kemudian keluar dari ruangan dokter itu. Sang dokter wanita itupun berdiri dan mengangguk sebagai tanda mengerti dari perintah Liam.


Liam tidak pernah merasa sekecewa ini, kesedihan menyelimuti hati nya. Anak yang ia tunggu tunggu dengan Eleanor kini telah tiada. Jika Liam saja merasa sesedih ini, lalu bagaimana dengan Eleanor yang belum mengetahui perihal baby bear nya. Setiap hari Eleanor senantiasa menunggu kelahiran baby bear, di awal kehamilan Eleanor memang sangat tersiksa. Namun Eleanor tidak pernah membenci anak yang ada di kandunga nya, meskipun ia dan Liam pernah bertengkar hebat, Eleanor tetap menyanyangi baby bear, panggilan kesayangan Eleanor untuk calon anak nya.


“Brengsek kau Angel.” Liam memukul tembok yang ada di hadapan nya, untuk saat ini Liam memang sengaja untuk membiarkan Angel terlebih dahulu. Namun setelah itu, Liam tidak akan pernah membuat hidup Angel bahagia, ia akan membuat hidup Angel jauh menderita dari Eleanor, satu hari Angel menyiksa Eleanor, maka balasan yang akan Liam berikan adalah seumur hidup.


Liam tidak tahu bagaimana cara nya untuk memberitahu Eleanor perihal hal ini. Orangtua Liam dan Eleanor juga belum mengetahui hal ini, jika mereka tahu pasti mereka semua akan merasa sedih.


“Tuan.” Panggil Nial karena Liam terus terusan memukul tembok hingga tangan nya sedikit mengeluarkan darah. Liam menatap Nial dengan tatapan tajam nya, mata nya menggelap karena marah, namun ada sedikit kesedihan di dalam mata Liam. Nial dapat melihat kesedihan itu.


Liam berhenti memukul tembok, tanpa menghiraukan Nial ia berjalan menuju ruang inap Eleanor. Liam dapat melihat bodyguard yang berjaga di luar ruang inap Eleanor. Liam hanya melewati mereka semua tanpa berniat membalas sapaan yang di tujukan untuk nya.


“El, ku mohon buka mata mu.” Tangan Liam menggenggam tangan Eleanor yang tidak terkena selang infus. Tangan Eleanor terasa sangat dingin, dan juga wajahnya sangat pucat.

__ADS_1


“El, kita kehilangan baby bear,” ucap Liam dengan suara serak menahan tangis. Ia menciumi punggung tangan Eleanor, mata nya tidak terlepas dari perut rata Eleanor yang sudah tidak ada lagi kehidupan disana.


__ADS_2