AKU PEMERAN UTAMA

AKU PEMERAN UTAMA
Bab 9 : Cerai


__ADS_3

“Kakak! Kau telah menghancurkan hidupku, tidak puas kau merebut Sean dariku sekarang aku kehilangan anakku karnamu!” teriak Nora menerobos masuk kedalam kamar Eleanor. Eleanor tertawa geli mendengar ucapan Nora, siapa yang merebut siapa. Lucu sekali.


“Semua kebahagianku kakak rebut, mommy, daddy, kakek, nenek, bahkan kasih sayang seluruh keluarga ada pada kakak. Setidaknya biarkan aku juga bahagia kak.”


Ucapan Nora semua tidak salah memang benar kasih sayang keluarganya terkesan pilih kasih, namun kedua orang tua mereka sangat menyanyangi Nora. Karena Eleanor adalah anak pertama ia didik untuk menjadi penerus dan Eleanor tidak tahu jika itu akan menimbulkan kecemburuan pada Nora.


“Aku terut prihatian atas meninggalkan calon bayimu, sekarang istirahatlah karena besok kau akan tinggal di villa.” Eleanor menatap prihatin pada Nora, mau bagaimana pun Nora adalah adik kandungnya. Saudara kandung satu-satunya yang ia miliki. Saudari yang dimasa lalu membunuhnya dengan racun.


“Kakak mengusirku? Aku tidak akan pergi! Aku tidak mau, kalau kakak ingin membuatku terpisah dari kak Sean itu tidak akan berhasil,” ujar Nora berteriak pada Eleanor.


“Aku akan segera bercerai, pergilah ke villa dengan damai dan renungkan semua kesalahanmu.”


“Kau adalah manusia paling jahat yang pernah ku temui kak.”


“Kalau aku jahat lalu kau apa? Iblis jahat? Pokoknya kau harus merenungkan kesalahanmu jika tidak mau angkat kaki dari rumah ini dan kita tidak akan ada hubungan keluarga lagi.” Eleanor berkata final.


“Baiklah, mulai sekarang kau bukan lagi kakakku.” Setelah mengatakan itu Nora keluar dari kamar Eleanor.


Eleanor sudah mencoba bersikap baik namun sepertinya adik kecilnya itu tidak ingin berubah, lagian itu adalah keputusan dari Nora, Eleanor tidak akan ikut campur.


Nora menghampiri Sean yang sedang meratapi nasibnya dikebun belakang.


“Sayang, kau mencintaiku bukan? Mari kita pergi dari sini dan hidup bahagia,” ujar Nora membuat Sean mengangkat kepalanya.


“Aku mencintaimu? Omong kosong macam apa itu, aku hanya mencintai istriku.” Sean berteriak marah.


“Bisakah kita bersama? Kakak tidak mencintaimu lagi.”


“Tidak bisa, aku akan melakukan berbagai cara agar Eleanor memaafkan aku, jadi pergi lah jika kau ingin pergi,” ujar Sean membuat hati Nora semakin sesak, air mata yang tadinya ia tahan jatuh ke bumi.


“Aku keguguran, anak kita telah meninggal. Bisakah kau menghiburku?” pinta Nora lemah.


“Aku tidak peduli, lagian itu belum tentu anakku. Jadi bagus jika dia menghilang.”

__ADS_1


Plak!


Tamparan keras mendarat kewajah Sean, Nora sangat marah pada Sean.


“Dasar tidak tahu diri! Sekarang aku tidak akan menyesal, mencintai pria sepertimu adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan,” ujar Nora menghapus paksa air matanya. Ia sangat mencintai Sean namun sepertinya Sean hanya bermain-main saja dengannya. Pernikahan? Cih, itu hanya ucapan manis belaka.


Nora meninggalkan Sean itulah keputusan final yang diambil oleh Nora. Cinta, sepertinya akan sulit bagi Nora mencintai lagi. Sekarang karir nya sudah hancur, anak nya sudah tiada, cinta Sean sama sekali tidak berguna, keluarga? Nora sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan keluarga. Minta maaf pada Eleanor, Nora tidak bisa melakukannya karena ia sudah sangat malu pada kakaknya. Penyesalan itu sama sekali tidak berguna.


Sekarang hanya tinggal Nora sendiri, obsesinya telah membawanya pada kehancuran. Nora membereskan barang-barangnya, ia harus segera pergi dari rumah ini.


Bawaan Nora sangat dikit, hanya 2 koper. Tabungan Nora sudah menipis karna membayar denda dengan iklan-iklan yang diputuskan karena skandalnya. Tidak ada pilihan lain bagi Nora selain menjual perhiasan dan barang-barang brend nya. Sepertinya untuk kedepan Nora akan kesulitan dalam mencari pekerjaan, maka dari itu Nora akan pergi sejauh mungkin.


Eleanor melihat kepergian Nora, Eleanor mengeraskan hatinya. Eleanor tidak bisa memaafkan Nora meski dia adalah adik kandungnya. Egois, biarkan saja karena kalau tidak begini Eleanor akan mati lagi seperti masa lalu.


“Sayang, tarik kembali ucapanmu. Aku sama sekali tidak ingin bercerai, kita tidak akan pernah berpisah.” Sean datang menghampiri Eleanor. Eleanor menghela nafas kasar, kapan ia memiliki waktu santai.​


“Sangat tidak tahu malu sekali, aku sengaja mendiamkanmu tapi sepertinya kau ingin aku memaksamu.”


“Cintamu sangat lemah, dimana letak cinta yang kau junjung sangat tinggi itu. Bukankah sudah hancur? Menara cinta yang tinggi itu bagaimana dengan mudahnya hancur begitu saja?” ujar Eleanor menatap datar Sean, Sean sekarang diam seribu bahasa. Namun ia tidak ingin bercerai, ia harus mempertahankan rumah tangganya. Tidak, bukan rumah tangga tapi status yang sudah ia dapatkan.


“Amel! Bawa mereka kemari!” perintah Eleanor membuat Sean bingung. Tidak lama kemudian Amel datang dengan 5 bodyguard.


“Apa-apaan ini sayang. Kau tidak akan tega memukuli suamimu bukan?” tanya Sean menatap Eleanor.


“Kenapa aku tidak tega? Amel kau bawa surat ceraiku bukan?”


“Saya membawanya Nyonya.”


“Kalian tolong buat dia menandatangai surat cerai,” perintah Eleanor membuat kelima bodyguard itu memukuli Sean.


Sean terus berteriak kesakitan dan memohon pertolongan dari Eleanor, namun Eleanor menulikan telinganya ia sangat menikmati pemandangan Sean yang sedang dipukuli.


“Nyonya, maafkan saya. Nona surat cerainya sudah ditandatangani.” Amel menyerahkan surat cerai pada Eleanor.

__ADS_1


“Bagus, seret dia keluar. Ah, lepaskan semua pakaiannya karena itu dibeli dengan uang perusahaan.”


“SAYANG! KAU TIDAK BOLEH MELAKUKAN INI PADAKU! SAYANG! SAYANG!”


Sean diseret keluar dengan tidak memakai busana sama sekali. Sedangkan itu Sean merasa marah namun ia tidak bisa melakukan apapun. Sekarang ia menjadi pria miskin, ah tidak sepertinya sebentar lagi ia akan ditangkap oleh polisi karena dikira pria mesum.


Eleanor bernafas lega karena ia telah mengusir penyebab kematiannya. Tidak ada lagi yang bisa membunuhnya kecuali memang sudah takdir Tuhan.


Sedangkan dilain tempat, Liam mendapat laporan bahwa Sean telah diusir dan Nora sudah meninggalkan rumah Eleanor.


“Papa, kapan kita akan bertemu mama?” tanya Cessa membuat Liam tersenyum.


“Sebentar lagi sayang, sabar ya. Mamamu akan segera tinggal disini bersamamu.”


“Oke papa.”


Liam tidak menyangka calon istrinya sangat lah cerdas, Liam harus segera memiliki Eleanor dan menjadikan ibu dari anaknya.


Liam memakaikan headphone ditelinga Cessa sebentar.


“Cari pria itu dan siksa dia,” perintah Liam pada Nial.


“Baik Tuan.”


Sean pria itu tidak boleh berkeliaran dengan bebas, Liam akan mengurung dan menyiksanya dengan sepenuh hati sampai pria itu merasakan mati berkali-kali.


“Papa, Cessa mengantuk,” ujar Cessa melepaskan headphonenya.


“Mau papa bacakan dongeng apa hari ini?”


“Apa saja asal papa yang membacakannya.”


“Manis sekali Princess papa ini.” Liam menciumi wajah Cessa membuat kedua nya tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2