
Karena Eleanor sudah keluar dari rumah sakit dan keadaan nya juga sudah membaik, maka Liam harus segera kembali ke kantor nya, ia mempunyai tanggung jawab besar disana, meskipun ada Nial namun Liam tetap harus masuk kantor.
Pagi hari ini sebelum ia kembali ke kantor, ia dan Eleanor akan pergi mengunjungi pusara anaknya yang di makamkan di tempat khusus keluarga Keith.
“Apa kau sudah siap El?” tanya Liam memasuki walk in closet, ia baru saja selesai menelpon Nial, memberi kabar jika sebelum ke kantor ia akan pergi ke pusara anak nya.
“Sudah.” Eleanor terdengar menghembuskan nafas nya kasar, ia terlihat gugup.
“Kau harus tenang.” Liam menenangkan Eleanor. Ia tahu pasti Eleanor merasa gugup.
“Ia pasti senang Mama nya yang cantik ini mengunjungi nya.” Liam mengecup pipi kanan Eleanor, lalu membawa Eleanor untuk keluar dari kamar menuju ruang makan, mereka melakukan sarapan terlebih dahulu.
“Aku hari ini harus kembali masuk ke kantor El, apa kau tak apa apa?” Tanya Liam di sela sela memakan sarapan nya, ia harus meminta izin kepada Eleanor dulu, jika Eleanor tidak mengizinkan maka Liam akan bekerja di ruang kerja nya yang ada Mansion ini.
“Aku tak apa Liam, lagi pula di rumah ini sudah ada pelayan dan bodyguard yang akan menjaga dan menemaniku. Kau juga sudah terlalu lama meninggalkan kantor.” Eleanor memaklumi posisi Liam saat ini, lagi pun keadaan Eleanor sudah sangat baik.
“Jika terjadi sesuatu kau segera hubungi aku, atau kau bisa memanggil salah satu bodyguard dan pelayan.” Liam menyudahi sarapan nya, lalu meminum segelas air putih hingga tandas.
“Aku mengerti Liam.” Eleanor juga sudah menyelesaikan sarapan nya, ia tadi meminta agar pelayan menyiapkan jus apel untuk nya.
“Baiklah, kita berangkat.” Sebelum mereka berjalan keluar Mansion, Eleanor lebih dulu membantu Liam untuk memakaikan jas nya lebih dulu, dan merapikan dengan tangan nya. Jas hitam ini sangat cocok di pakai oleh Liam, sangat pas di tubuh nya.
Mereka di temani oleh Drex, sebagai sopir mobil ini. Sedangkan di belakang mobil mereka ada satu mobil juga yang mengikuti. Karena Liam akan berpisah dengan Eleanor, ia akan langsung pergi ke kantor nya sedangkan Eleanor harus kembali ke Mansion, karena jika Liam harus mengantar Eleanor lebih dulu maka akan memakan banyak waktu.
__ADS_1
“Silahkan Tuan.” Mobil mereka berhenti tepat di depan gerbang yang bertuliskan Keith Family’s setelah 30 menit perjalanan, disini lah baby bear mereka di kuburkan.
“Apa kau sudah siap?” Tanya Liam, dengan tangan yang memegang satu bucket bunga mawar yang sengaja di bentuk menyerupai beruang.
“Te-tentu saja.” Eleanor mencengkram jas Liam dengan erat, ia menahan dirinya agar tidak menangis.
“Ia akan senang bertemu dengan mu.” Liam menyerahkan bunga yang ia pegang pada Drex, lalu mulai menuntun Eleanor memasuki area pemakaman keluarga nya. Disini juga terdapat pusara kakek dan nenek Liam, orangtua dari Papa nya. Liam juga berencana akan mengunjungi mereka, karena sudah lama ia tidak mengunjungi tempat ini.
Mereka kini telah berdiri di depan gundukan tanah, dengan batu nisan yang bertulis Baby Bear, batu itu juga terdapat ukiran beruang yang sengaja Liam pesan. Ia sengaja memberikan nama itu, karena ia tahu Eleanor sangat menyukai nama baby bear.
“Apa kabar baby bear kesayangan Papa, maafkan Papa karena baru sempat mengunjungi mu hari ini. Apa kau tahu Papa datang kesini bersama siapa, Papa kesini bersama dengan Mama, lihatlah Mama, sangat cantik bukan, kau sangat beruntung karena memiliki Mama seperti dia, Mama juga sangat mencintai mu, begitu pula dengan Papa, maafkan Papa karena tidak bisa menjaga mu waktu itu. Apa kau ingin memaafkan Papa mu ini?” Liam berlutut di depan pusara anak nya, tangan nya terulur untuk mengusap batu nisan, Liam sudah mengikhlaskan kepergian nya, namun di dalam diri Liam masih ada rasa yang masih menginginkan kehadiran nya, tangan Liam mengepal kuat menahan rasa amarah yang memenuhi diri nya.
Eleanor menatap Liam yang tengah berlutut di depan pusara anak nya, air mata nya luruh begitu saja ketika mendengar Liam mengajak berbicara pada baby bear, sesakit inikah rasanya kehilangan seseorang yang sangat ia nantikan dan ia sayangi bahkan ia pun belum pernah bertemu atau melihat bagaimana wajah nya.
“Mama ingin bertemu dan berbicara padamu.” Liam berdiri, lalu membantu Eleanor agar mensejajarkan dirinya dengan pusara baby bear.
“Aku tidak bisa Liam, hatiku terasa sangat sakit, hiks.” Hanya dengan melihat pusara nya saja hati Eleanor sudah terasa sakit, ia tidak sanggup jika harus berbicara dengan nya.
“Kau harus bisa, hapus air mata mu El. Jika kau menangis di depan nya, maka ia juga akan menangis di atas sana. Kau adalah Mama yang kuat dan hebat.” Liam menghapus air mata Eleanor, membawa ke dalam pelukan nya.
“Kau pasti bisa, dalam hidup kita harus bisa mengikhlaskan sesuatu yang sudah pergi dari kita El, membiarkan nya bahagia di kehidupan ia yang baru, ia tidak pergi meninggalkan kita, hanya saja dunia kita yang sudah berbeda.” Liam membantu Eleanor berlutut, tangan Eleanor menggenggam erat tangan Liam.
“Ta...”
__ADS_1
“Kau bisa.” Potong Liam sebelum Eleanor menyelesaikan kalimat nya, ia menghapus air mata Eleanor lalu tersenyum dengan hangat.
Eleanor memegang dada nya yang terasa sakit, sedangkan tangan kirinya memegang batu nisan yang bertuliskan baby bear dengan ukiran beruang di samping nya.
“Mama, hikss.”
“Mama merindukan mu, Mama tidak ingin kehilangan mu nak.” Tangis Eleanor kembali pecah, dikala ia kembali memanggil dirinya dengan sebutan Mama. Eleanor memeluk batu nisan anak nya, ia menumpahkan air mata nya yang begitu menyayat hati.
Liam hanya diam mengamati Eleanor dari samping, ia memberikan waktu pada Eleanor agar berbicara dengan baby bear.
“Maafkan Mama karena tidak bisa menjaga mu.”
“Hiks... Mama harap kau bahagia disana nak, maafkan Mama.” Eleanor tidak bisa menopang tubuh nya lagi, tubuh nya luruh ke tanah dengan memeluk batu nisan, ia menangis sejadi jadi nya.
“Menangislah.” Liam membawa Eleanor ke dalam pelukan nya, menenangkan nya dengan kata kaya yang positif.
“Apa kau ingin memberi nya bunga?” Liam memberi kode pada Drex agar memberikan bunga yang ia pegang. Liam menyerahkan bunga itu pada Eleanor, meskipun ia sudah tidak mengeluarkan suara tangisan nya namun air mata masih membasahi pipi Eleanor.
“Semoga kau suka bunga ini baby bear, Papa bahkan memberikan bunga yang berbentuk beruang pada mu. Maafkan Mama karena masih menangisi mu, Mama janji setelah ini tidak akan menangis. Mama dan Papa menyayangi mu,” ucap Eleanor dengan sekuat hati nya, ia menahan agar suara tangisan nya tidak terdengar. Ia sudah berjanji pada baby bear untuk tidak menangis. Ia meletakan bunga itu tepat di depan batu nisan. Kemudian mengecup batu nisan itu dengan segenap hati nya.
“Mama janji akan sering mengunjungi mu.” Untuk terakhir kali Eleanor mengusap batu nisan itu dengan lembut, kemudian menegakan badan nya.
“Papa dan Mama akan pulang, bahagia lah disana nak. Kami mencintai mu,” ujar Liam kemudian menghampiri Eleanor yang berada beberapa meter dari nya.
__ADS_1