
“El, maafkan aku. Karena aku gagal lagi untuk melindungi mu. Harus nya aku tidak mengalah padamu, harusnya aku tetap menyuruh Drex agar berada di sisimu.” Tak terasa air mata Liam terjatuh di pipi nya, hati nya sangat sakit dan sedih, seperti tertusuk oleh ribuan jarum. Tak henti henti nya nasib malang mengahmpiri wanita nya, Eleanor adalah wanita yang baik, tapi mengapa banyak bahaya yang mengancam untuk kehidupan nya.
“Ku mohon buka mata mu sayang.” Liam membiarkan air mata yang terjatuh di pipi nya, ia tetap menggenggam tangan Eleanor dan menciumi nya. Sudah lama sekali Liam tidak meneteskan air mata nya, Liam adalah manusia yang tegar, namun kali ini ia tidak bisa tegar menghadapi cobaan yang menimpa kekasih hati nya.
Liam berdiri untuk melihat wajah Eleanor dari dekat, kemudian dengan pelan mengecup bagian wajah Eleanor yabg terlihat lebam dan terluka.
“Maafkan aku.” Liam terduduk di samping ranjang, ia tidak kuat melihat wajah Eleanor yang seperti ini. Ribuan jarum menghujam jantung nya, terasa sakit sekali. Penampilan Liam benar benar kacau, bahkan di baju nya masih ada bercak bercak darah.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Liam. Nial memasuki ruangan inap dengan membawa sebuah paperbag yang berisi pakaian bersih untuk Liam.
“Permisi Tuan, ada yang ingin saya bicarakan,” ucap Nial dengen meletakan paperbag itu di atas meja.
“Mengenai Nona Lia,” ucap Nial lagi.
Mendengar nama Lia, membuat Liam merasa penasaran. Karena sebelum kejadian ini, Eleanor berkata jika ingin bertemu dengan Lia.
“Katakan,” jawab Liam, tangan nya masih menggenggam tangan Eleanor.
“Ponsel Nona Lia di bajak Tuan, yang mengirim pesan pada Nona Eleanor adalah suruhan dari Angel. Nona Lia bahkan tidak tahu apa apa mengenai ini. Ia sangat terkejut ketika mendengar kabar jika Nona Eleanor di culik dan masuk rumah sakit.” Jelas Nial, setelah menyelidiki dan menghubungi Lia.
“Nona Lia juga merasa tidak memiliki janji dengan Nona Eleanor, karena hari ini Nona Lia sedang bertemu dengan klien nya.” Jelas Nial lagi.
__ADS_1
Liam hanya mendengar setiap perkataan Nial tanpa berniat menjawab nya, pikiran Liam terlalu kacau. Karena Eleanor adalah kelemahan nya, dan kelemahan nya sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Liam tidak dapat berpikir dengan jernih, Liam hanya bisa menahan emosi nya, ia tidak ingin melakukan hal gegabah saat sedang emosi.
“Kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan selanjutnya.” Liam mempercayakan semua ini kepada Nial, kinerja Nial tidak pernah mengecawakan Liam.
“Saya mengerti Tuan.”
“Dan saya juga sudah menghubungi orangtua anda serta orangtua Nona Eleanor, mereka sedang dalam perjalanan kemari.”
“Hubungi Leon,” perintah Liam, meskipun pribadi Leon dan Liam berbanding terbalik, namun Liam sangat mempercayai Leon, dan Leon juga bisa di handalkan.
“Baik Tuan.” Nial pamit undur diri dari hadapan Liam, menutup pintu dengan sangat perlahan.
Nial merasa kasihan dengan apa yang sudah menimpa Eleanor, ia juga merasa sedih, Nial sudah menganggap Eleanor seperti saudara perempuan nya sendiri.
“Berhenti memanggil ku seperti itu Nial, kau hanya perlu memanggil ku seperti itu jika di hadapan Liam saja. Jika hanya ada kita panggil saja El.” Omel Elenaor.
“Baik No -, hmm baik El,” ucap Nial dengan sedikit canggung. Nial mengingat momen saat Eleanor berkata pada nya seperti itu.
*
Sudah satu hari Eleanor berada di rumah sakit ini, namun belum ada tanda tanda jika wanita itu ingin membuka mata cantik nya. Secara bergantian orangtua Liam dan Eleanor datang ke rumah sakit, begitu pula dengan Lia dan Leon. Sedangkan Liam, pria itu tidak pernah meninggalkan ruangan inap Eleanor. Orangtua Liam, mereka menempati sebuah hotel mewah yang ada di dekat rumah sakit, guna mempermudah akses mereka untuk mengunjungi Eleanor.
__ADS_1
Untuk Angel, Liam masih membiarkan wanita itu berkeliaran bebas di luar sana. Liam hanya memberikan waktu sampai ia akan membuat ajal Angel di ujung tanduk. Liam hanya ingin fokus pada Eleanor, semua pekerjaan sudah di tangani Nial, dan juga untuk masalah penculikan Eleanor semua nya sudah di selesaikan oleh Nial. Liam nanti hanya perlu membereskan masalah Angel saja.
Dan untuk Lia, ia benar benar tidak merasa jika mengirimi pesan pada Eleanor dan akan mengajak nya untuk bertemu di luar mansion. Karena pada saat kejadian Lia sedang ada pekerjaan.
Liam sedang menyelidiki siapa orang yang membantu Angel untuk menjalankan misi nya, Liam berpikir, tidak mungkin jika Angel melakukan ini dengan tangan nya sendiri, sudah pasti ada campur tangan orang lain. Tapi anak buah Liam belum dapat menemukan jawaban nya, mereka masih terus menyelidiki.
“Nak, apa kau tidak lelah?” Tanya Anna memeluk putra nya dari samping, hati Anna juga merasakan kesedihan yang di alami Liam, ikatan seorang ibu dan anak memang tidak dapat lepaskan. Baru kali ini ia melihat putra nya merasa kehilangan dan juga merasa sesedih ini, Anna lebih menyukai Liam yang angkuh, dan juga dingin, lebih baik daripada ia harus diam seperti ini.
“Tidak,” jawab Liam seadanya, dada nya terasa sesak.
“Kau harus istirahat Liam.” Jimmy juga membujuk Liam, agar putra nya istirahat sejenak.
“Dengarkan kedua orangtua mu Liam, apa kau ingin Eleanor marah saat membuka mata melihat mu dengan kondisi yang seperti ini, Eleanor mungkin tidak ingin menatap mu. Lihatlah penampilan mu sangat kacau, kau tidak tampan seperti biasa nya.” Goda Leon, ketampanan Liam memang tak tertandingi, ya meskipun Leon juga sama tampan nya, tapi tetap saja Liam lebih tampan. Leon berbohog, ketampanan Liam tidak berkurang sama sekali.
Mendengar ucapan Leon, Liam berpikir sejenak. Mungkin saja benar apa yang di katakan oleh Leon.
“Baiklah aku akan tidur sebentar, tolong jaga Eleanor. Bangunkan aku jika ia sudah sadar,” ucap Liam dengan tatapan memohon, memohon pada mereka agar menjaga Eleanor.
“Tentu, tidurlah.” Anna memeluk Liam dengan sayang, memberikan energi positif pada putra nya.
Liam langsung merebahkan badan nya di atas ranjang empuk yang ada di ruangan inap Eleanor, ia langsung memejamkan mata nya. Sesungguhnya Liam sangat ngantuk berat dan merasa lelah, tapi ia memaksakan diri nya agar selalu berada di sisi Eleanor.
__ADS_1
Entah sudah berapa Liam tertidur, badan nya sudah terasa lebih baik, dan juga segar. Ia sudah tidak mengantuk lagi. Ia segera bangkit dari ranjang, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin sekalian membersihkan badan, sebelum keluar melihat kondisi Eleanor. Hanya memerlukan waktu sebentar bagi Liam menyiram tubuh nya di bawah air mengalir. Tapi susana ruangan ini sangat hening. Liam bergegas menuju ranjang Eleanor, ia dapat melihat hanya ada Leon.