
Eleanor perlahan membuka mata nya, di lihatnya Liam sedang terduduk dengan kepala yang menunduk sembari memegang tangan nya yang tidak ada selang infus. Eleanor bergerak miring, ia ingin melihat wajah Liam, apa pria di depan nya ini tengah tertidur?.
“Liam.” Panggil Eleanor dengan lembut.
Liam tidak menyadari jika Eleanor sudah terbangun, karena posisi kepala nya yang merunduk, Liam lalu menatap wajah cantik Eleanor, meskipun pucat namun wajah cantik Eleanor masih terlihat dengan jelas.
“Sudah bangun, kau ingin minum?” Tanya Liam mendekatkan dirinya dengan Eleanor.
“Tidak.” Jawab Eleanor dengan mata yang terfokus pada Liam.
Tiba tiba saja pintu ruangan Eleanor terbuka, menampakan seorang dokter wanita yang pernah memeriksa kehamilan Eleanor dulu, lalu di belakang nya ada satu orang suster yang menemani nya.
“Permisi Mr.Liam, saya ingin memeriksa Mrs.Eleanor.” Ucap dokter itu.
Suster yang berada di samping dokter wanita itu, ia curi curi pandang dengan Liam, namun Liam tidak menghiraukan nya, ia hanya fokus pada Eleanor.
“Bagaimana keadaan nya?” Tanya Liam setelah dokter wanita itu selesai memeriksa kondisi Eleanor.
“Kondisi nya masih lemah dan kondisi janin nya juga, karena Mrs.Eleanor tidak bisa menelan makanan yang ia makan, ia harus tetap di rawat disini, untuk mendapatkan perawatan dan nutrisi dari cairan infus, dengan begitu setidaknya ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuh nya, meskipun secara tidak langsung. Nanti saya juga akan memberikan vitamin kepada Mrs.Eleanor.” Jelas dokter wanita itu, sedangkan suster yang di samping nya masih berusaha menatap Liam secara terang terangan.
“Apa kau kesini hanya untuk menatap ku saja?!” Ucap Liam tiba tiba, ia tidak suka jika ada seseorang yang menatapnya secara terang terangan, Liam membuat suster itu terkejut sekaligus ketakutan karena tatapan tajam Liam.
“Liam.” Ucap Eleanor menenangkan Liam, Eleanor juga menyadari jika suster itu sedari tadi berusaha curi pandang pada Liam, namun ia hanya diam.
Tatapan Liam kembali melembut ketika melihat wajah cantik Eleanor, hanya Eleanor lah yang mampu mengendalikan emosi Liam.
__ADS_1
“Kalian bisa pergi.” Ucap Liam dingin, dokter wanita dan suster itu memohon maaf kepada Liam sebelum meninggalkan ruang inap Eleanor.
“Apa kau sudah gila berani menatap Mr.Liam secara terang terangan?!” Tanya dokter wanita itu ketika keluar dari ruang inap.
“Ma-maafkan saya dokter.” Ucap suster itu dengan gugup, tatapan tajam Liam saja masih membuatnya merasa merinding.
Dokter wanita itu lalu berlalu meninggalkan suster itu di belakang nya.
“Jangan terlalu berlebihan Liam, kau membuat nya ketakutan.” Ucap Eleanor memberitahu Liam dengan pelan.
“Dia menatapku secara terang terangan El, bahkan ia berani menatapku ketika kau berada di sampingku, aku tidak melukai hati mu.” Ucap Liam memberikan alasan nya.
“Anda romantis sekali Tuan Liam.” Balas Eleanor dengan tertawa pelan.
“Aku menyukai tawamu El, aku menyukai setiap bagian tubuh mu. Kau membuat ku tergila gila padamu El.” Ucap Liam tidak berhenti memuji Eleanor.
“Jangan merepotkan mommy mu terus anak nakal.” Liam juga mengelus elus perut rata Eleanor, tangan mereka berinteraksi dengan calon bayi mereka.
“Liam.” Panggil Eleanor memegang tangan Liam, Liam menjawab nya dengan gerakan alisnya.
Oh god, Liam berharap jika Eleanor tidak memiliki permintaan anehnya lagi.
“Aku ingin melihat mu tidak memakai baju.” Eleanor mengatakan dengan puppy eyes andalan nya, sangat menggemaskan.
“Bagaimana dengan celana ku, apa kau tidak ingin melihat junior ku juga?” Goda Liam dengan mengerlingkan mata nya.
__ADS_1
Semenjak Eleanor hamil muda dan sering muntah muntah, Liam tidak pernah lagi bercinta dengan nya. Liam mengerti akan kondisi Eleanor yang tidak memungkinkan untuk di ajaknya bercinta, Liam menahan nya mati matian agar tidak mengajak Eleanor bercinta, dan itu sangat menyiksa junior kebanggan nya.
“Dasar pria mesum.” Ucap Eleanor memalingkan wajahnya.
Sedangkan itu disuatu tempat Angel sedang bersama Sean, mereka sedang merencakan sesuatu yang jahat pada Eleanor. Angel mendapatkan bebas bersyarat berkat kedua orang tua nya, sekarang waktu nya ia membalas dendam pada Eleanor.
*
Usia kandungan Eleanor kini sudah memasuki bulan ke empat, perut nya sudah sedikit menonjol, tapi jika orang yang tidak dekat dengan Eleanor pasti tidak mengira jika Eleanor tengah hamil, karena memang masih sedikit menonjol. Hubungan nya dengan Liam juga semakin mesra, sejak malam itu Liam melamar Eleanor, Liam semakin posesif kepada Eleanor dan juga sangat manja. Seperti saat Eleanor hendak meminta izin kepada Liam bahwa ia ingin pergi bersama Lia, Liam dengan cepat melarang Eleanor karena alasan tidak ingin terjadi apa apa pada Eleanor, oh god Eleanor seperti menjadi tawanan di mansion Liam. Eleanor juga berkata ingin mengendarai mobil nya sendiri, tanpa memakai supir ataupun Drex yang menemani nya, karena selama ini Eleanor seperti tidak memiliki privasi lagi jika ia ingin bertemu dengan Lia, ada Nial ataupun Drex yang akan mengawasi Eleanor.
Eleanor kini tengah bersiap siap di depan cermin yang berisikan banyak sekali peralatan make up, namun Eleanor hanya akan menggunakan make up tipis saja, serta Eleanor menggunakan pakaian casual yang membuat Eleanor merasa nyaman, Liam sedang tidak ada di mansion karena ia sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi, dan sekarang sudah siang.
“Cessa, apa kau sudah siap sayang?” tanya Eleanor masuk kedalam kamar Cessa.
“Sudah mama, Lets go kita berangkat. Cessa sudah tidak sabar bertemu baby R.” Cessa sangat menyukai Baby R.
Eleanor kini siap mengendarai mobil mewah nya membelah jalanan yang ramai akan lalu lintas.
“Kita berangkat sayang,” ucap Eleanor bahagia ketika memasuki mobil, ini adalah salah satu koleksi mobil Liam yang ada di parkiran mansion, mungkin bukan terlihat seperti parkiran tapi lebih tepatnya terlihat seperti showroom mobil yang menjual berbagai jenis mobil di dalam nya.
“Oke mama.”
Eleanor menghidupkan mesin mobil lalu siap menuju tempat yang sudah Lia tentu kan, Lia semalam memberi pesan pada Eleanor agar langsung menuju ke tempat yang sudah Lia tentukan, karena mereka akan bertemu disana.
“Mama, Cessa memutar lagu One Direction ya,” pinta Cessa membuat Eleanor menganggukan kepala nya.
__ADS_1
Eleanor dan Cessa sama-sama menyukai lagu-lagu One Direction, lebih tepat nya Eleanor yang membuat Cessa menyukai lagu One Direction. Mereka menyanyi bersama.
Eleanor mengernyitkan dahi nya saat merasa ada tiga mobil yang mengikuti nya dari belakang, tanpa pikir panjang Eleanor menambah kecepatan mobil nya, untung saja jalanan tidak begitu ramai jadi Eleanor bisa lebih cepat mengendarai mobil nya. Tapi jalan yang di tunjukan oleh maps justru membawa Eleanor ke jalanan yang sepi, dan banyak di tumbuhi oleh pepohonan tinggi di samping nya. Eleanor merasa cemas karena mobil itu masih mengikuti nya.