AKU PEMERAN UTAMA

AKU PEMERAN UTAMA
Bab 15 : Khawatir


__ADS_3

Liam langsung pergi ke rumah sakit ketika mendapat kabar Eleanor dan Cessa masuk rumah sakit. Pekerjaanya ditinggalkan begitu saja sekarang prioritas nya adalah Cessa dan Eleanor.


Sesampainya di rumah sakit Liam menemukan Cessa yang sedang menangis di pelukan pengasuh nya, luka Cessa sudah diobati. Liam sangat bersyukur Cessa tidak kenapa-kenapa.


"Tuan putri," panggil Liam menghampiri Cessa.


"Papa! Mama, hiks, mama berdarah sangat banyak," ujar Cessa menangis dipelukan Liam.


"Cessa nakal, mama berdarah papa, hiks," tangis Cessa semakin keras.


"Sayang, mama tidak apa-apa. Berdoa pada Tuhan, semoga mama tidak apa-apa. Sekarang Cessa tidak boleh menangis kencang ya, karena nanti akan mengganggu konsentrasi dokter yang memeriksa mama," ujar Liam membuat tangis Cessa berhenti seketika. Tapi air mata nya terus mengalir tanpa suara.


"Tuan putri papa sangat pintar, mama pasti baik-baik saja," ujar Liam menghapus air mata Cessa dan memeluk putri nya.


Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi.


"Dok, bagaimana keadaan El?" tanya Liam sambil menggendong Cessa.


"Pasien mengalami gegar otak ringan namun tidak berakibat fatal, sekarang pesien bisa ditemui setelah dipindahkan ke ruang rawat inap." Dokter menjelaskan tentang kondisi Eleanor.


"Terima kasih, Dok."


Liam dan Cessa masuk kedalam ruang inap Eleanor, Eleanor masih belum siuman. Cessa menjaga Eleanor, ia terus menggenggam tangan Eleanor dan berdoa kepada Tuhan agar Eleanor segera sadar.


"Jelaskan bagaimana kronologi kecelakaan yang dialami Cessa dan Elenaor," ujar Liam pada Nial, tadi sebelum ke rumah sakit Liam memerintahkan Nial untuk mencari tahu kronologi kecelakaan.


"Menurut Amel, pelayan Nona Eleanor. Nona Eleanor dengan kondisi sakit datang terburu-buru menuju sekolah dan menyelamatkan Nona Cessa. Seakan-akan Nona Eleanor tahu bahwa Nona Cessa akan mengalami kecelakaan," jelas Nial membuat Liam merasa tidak masuk akan karena Eleanor bahkan tidak mengganti piama tidur nya dan datang menyelamatkan Cessa dalam kondisi sedang sakit.


"Bagaimana dengan orang yang mencelakai?"


"Pengemudi dalam keadaan mabuk Tuan, dan dia sudah diaman kan polisi Tuan sehingga saya tidak sempat mengamankan dia."


"Buat dia dihukum seberat-berat nya karana mencelakai Cessa dan Eleanor," perintah Liam dengan dingin.


"Baik Tuan."


Dua jam kemudian Eleanor siuman membuat Cessa kembali menangis. Ia sangat senang dan bersyukur karena Eleanor telah sadar.


"Mama, maafkan Cessa karena Cessa mama jadi berdarah," ujar Cessa sambil menangis dan memeluk Eleanor. Dan dengan cepat Liam memisahkan pelukan Cessa.


"Sayang, mama baru saja siuman dan mama masih belum pulih sepenuh nya," ujar Liam membuat Cessa menganggukan kepala nya dan menghapus air mata nya.


"Bagaimana kondisi mu El? Ada yang sakit? Aku harus memanggil dokter sekarang." Liam hendak memanggil dokter namun dicegah oleh Eleanor.


"Aku baik-baik saja Liam," ujar Eleanor membuat langkah Liam terhenti.

__ADS_1


"Mama, maafkan Cessa." Cessa berkata pelan dan ia dengan susah payah menahan air mata nya berhenti.


"Tidak sayang, terima kasih karena Cessa selamat." Eleanor membawa Cessa kedalam pelukan nya, Eleanor benar-benar bersyukur Cessa tidak koma seperti masa lalu. Hari ini Eleanor menyelamatkan Cessa dan Liam dari kehancuran perusahaan Liam. Dimasa lalu perusahaan Liam bangkrut karena 'orang dalam' yang memanfaatkan kondisi Cessa untuk kehancuran Liam.


"Lain kali menyebrang jalan harus bersama pengasuh atau orang dewasa lain nya ya sayang," ujar Eleanor membuat Cessa menganggukan kepala nya.


"Cessa janji akan berhati-hati mama, Cessa tidak akan menjadi anak nakal," ujar Cessa membuat Elenaor menganggukan kepalanya.


"Anak manis sangat pintar."


*


Cessa tinggal di rumah sakit menemani Eleanor sedangkan Liam kembali lagi ke kantor.


Eleanor sedang mengupaskan apel untuk Cessa yang sekarang sedang duduk disebelah nya.


"Biar Cessa yang menyuapi mama ya," ujar Cessa mengambil piring buah yang sudah dipotong dan di kupas.


"Terima kasih anak manis." Eleanor tersenyum senang karena hari ini pun Cessa tetap menggemaskan.


"Mama say ah," ujar Cessa mulai menyuapi Eleanor


"Ah."


"Enak sekali, apalagi Cessa yang menyuapi apel nya bertambah manis berlipat-lipat," jawab Eleanor membuat Cessa tertawa senang.


Tok! Tok!


Liam masuk membawa tas kerja nya bersama Nial.


"Hallo papa, Uncle Nial," sapa Cessa masih dengan menyuapi Eleanor apel.


"Selamat siang Nona."


"Papa, apakah pekerjaan papa sudah selesai?" tanya Cessa.


"Iya Liam, bukan kah sekarang belum waktu nya pulang kantor?" Eleanor ikut bertanya juga.


"Papa is boss," jawab Liam membuat nya mendapat cibiran dari Eleanor dan Cessa.


"Luka Tuan putri bagaimana? Apakah sakit sekali?" tanya Liam membuat Cessa menggelengkan kepala nya.


"Kondisi mu bagaimana El?"


"Aku ingin segera pulang," jawab Eleanor karena tidak suka dengan aroma rumah sakit.

__ADS_1


"Mama jangan pulang dulu, mama harus sembuh baru boleh pulang." Cessa memarahi Eleanor.


"Bagus sayang, marahi saja mama mu," ujar Liam membela Cessa. Eleanor tidak bisa berkata-kata karena ayah dan anak ini sangat lah kompak.


Liam melanjutkan pekerjaan nya di ruang inap Eleanor, sedangkan Cessa ia sudah tidur disamping Eleanor.


"El, kau ingin makan sesuatu?" tanya Liam membuat Eleanor menggelengkan kepala nya.


"Tidak Liam, aku akan istirahat."


"Iya El, istirahatlah."


Tok! Tok!


Nial masuk kedalam ruang inap Eleanor sambil membawa berkas yang dibutuhkan oleh Liam.


Setelah memberikan berkas pada Liam, Nial keluar karena ia masih ada pekerjaan yang diberikan oleh Liam.


"Ada yang kau butuhkan El?" tanya Liam ketika melihat Eleanor bangun.


"Iya Liam, aku haus," jawab Eleanor membuat Liam langsung mengambil air minum untuk Eleanor.


"Terima kasih Liam," ujar Eleanor membuat Liam menganggukan kepala nya.


Karena tidak mengantuk lagi Eleanor turun dari ranjang dan membawa infusnya lalu duduk disamping Liam.


"El, jangan banyak begerak. Kau harus banyak beristirahat." Liam membantu Eleanor untuk duduk.


"Aku tidak mengantuk lagi," ujar Eleanor


Eleanor membaca berkas Liam sebentar setelah itu ia kembali meletakan berkas diatas meja. Kepala nya pusing melihat pekerjaan Liam. Liam tersenyum melihat Eleanor.


"El, baca ini saja." Liam memberikan majala yang ada didalam ruang inap.


"Terima kasih Liam." Eleanor mulai membaca majalah sementara Liam melanjutkan pekerjaan nya.


Eleanor awal nya tertarik melihat majalah namun beberapa menit kemudian ia mulai mengantuk dan tertidur.


Liam segera mendekati Eleanor dan membuat Eleanor bersandar pada nya. Liam tersenyum senang sambil melanjutkan pekerjaan nya.


Beberapa jam kemudian, pekerjaan Liam selesai. Liam menggendong Eleanor dan meletakannya diatas ranjang rumah sakit.


"Selamat malam." Liam mencium kening Eleanor dan Cessa secara begantian.


Setelah memastikan Cessa dan Eleanor tertidur dengan nyenyak Liam segera tidur di sofa rumah sakit. Liam tidur dengan kaki yang menggantung karena kaki nya lebih panjang dari pada sofa.

__ADS_1


__ADS_2