
Eleanor sudah bersiap-siap untuk pulang, liburan nya sudah usai dan sudah waktu nya pulang.
"Mama!" Cessa masuk kedalam kamar Eleanor bersama Liam.
"Mama pulang bersama Cessa kan?" tanya Cessa membuat Eleanor menganggukan kepala nya. Bagaimana bisa Eleanor menolak ajakan Cessa yang sangat menggemaskan.
"Iya cantik, sekarang mari kita pulang." Cessa tersenyum cerah lalu menggandeng tangan Liam dan Eleanor.
Eleanor akan pulang bersama Liam dan Cessa menggungakan jet pribadi Liam, awal nya Eleanor menolak namun Cessa meminta dengan sangat menggemaskan.
Cessa terus bercerita tentang banyak hal yang berkaitan tentang liburan bersama Eleanor sambil berjalan meninggalkan hotel.
"Mama, kapan akan tinggal bersama Cessa?" tanya Cessa membuat Eleanor menatap Liam tidak enak.
Liam menggendong Cessa membuat Eleanor sedikit bernafas lega.
"Nanti kalau aunty El jadi mama Cessa," jawab Liam membuat mata Eleanor hampir melotot.
"Papa, bukan aunty El tapi mama El," ujar Cessa membuat Liam terkekeh pelan.
"Iya tapi mama harus menikah dulu dengan papa," jawab Liam membuat Eleanor hampir tersedak air ludah nya sendiri.
"Mama kapan akan menikah dengan papa?" tanya Cessa polos.
"Coba tanya mama El, kapan mau menikah dengan papa," ujar Liam melimpahkan pertanyaan pada Eleanor.
"Manis, setelah sampai menginap dirumah aunty." Eleanor harus segera membelokan alur pembicaraan. Sekarang ia sudah memerah karena malu, tampak nya Liam sengaja menggoda nya.
"Boleh ma? Cessa mau sekali, janji ya ma," ujar Cessa dengan mata berbinar.
"Tentu saja sayang, kapanpun Cessa ingin menginap rumah aunty selalu terbuka lebar," jawab Eleanor tersenyum karena Cessa telah melupakan pertanyaan nya yang tadi.
"Asik! Papa harus mengantar Cessa kerumah mama ya, kata mama Cessa boleh tinggal bersama mama."
"Hanya menginap sayang, kalau Cessa sendiri yang tinggal bersama mama, papa tinggal bersama siapa?" tanya Liam berpura-pura sedih dan mengedipkan sebelah mata nya pada Eleanor.
"Mama, papa juga boleh menginap?" tanya Cessa polos membuat Eleanor membulutkan mata nya lucu, membuat Liam terkekeh pelan.
"Papa akan bekerja, kalau ada waktu papa akan menginap bersama Cessa. Benarkan aunty El?"
"Iya benar, jadi manis harus mendengarkan apa kata papa ya."
__ADS_1
"Baik mama."
"Anak pintar."
"Mama gendong," pinta Cessa membuat Eleanor langsung menggendong Cessa.
"Jadi kapan mama dan papa menikah?" tanya Cessa membuat Liam tertawa kencang.
*
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat sudah tiga bulan semenjak Eleanor liburan. Eleanor sering menghabiskan waktu nya bersama Cessa. Cessa sudah sering bolak-balik ke rumah nya mau menginap atau bermain, rumah Eleanor sudah seperti rumah juga bagi Cessa.
"Mama, Cessa mau pakai baju bunga merah muda," pinta Cessa ketika ia sudah selesai mandi.
"Baik lah tuan putri taman bunga." Eleanor memakaikan pakaian yang diingin kan Cessa.
"Hari pasti cerah melihat Tuan putri yang sangat cantik hari ini," ujar Eleanor memuji cantik nya Cessa.
"Tidak mama, hari ini akan hujan."
"Benarkah?"
Mereka keluar dari kamar dan bergabung bersama Liam yang sudah menunggu mereka di meja makan.
Dari kejauhan Eleanor dapat melihat Liam sedang berbincang bersama Nial. Mereka tampak sangat serius.
"Papa!" panggil Cessa membuat Liam menoleh pada Cessa dan Eleanor.
"Kau boleh pergi," perintah Liam membuat Eleanor mencegah Nial pergi.
"Kenapa kau mengusir Nial, kita akan sarapan bersama. Bukan begitu Nial?" tanya Eleanor membuat Nial menoleh pada Liam.
"Jangan pedulikan Liam, perutmu harus diisi agar bisa bekerja dengan baik," ujar Eleanor membuat Nial menganggukan kepala nya setelah mendapat persetujuan dari Liam.
"Terima kasih Nona."
Setelah sarapan bersama Eleanor memberikan kopi ke kamar tamu karena Liam sedang bekerja disana.
"Terima kasih El."
"Hm, bagaimana kalau kau bekerja sama dengan bank DFI dari pada bank GGA." Eleanor tidak sengaja melihat Liam yang sedang melihat kedua bank itu.
__ADS_1
"Aku hanya mengatakan saja, terserah kau mau pilih yang mana," ujar Eleanor karena tanpa sadar ia mengatakan isi hati nya. Di masa lalu bank GGA walaupun bank yang besar namun beberapa tahun kemudian bangkrut. Sedangkan bank DFI walaupun bank yang hampiri bangkrut namun dimasa depan bank itu menjadi bank terbesar.
Tidak hanya Cessa saja tapi Liam juga sering berkunjung ke rumah Eleanor. Eleanor pergi setelah memberikan kopi pada Liam. Sementara itu Liam langsung menanggip Nial dan memerintahkan untuk bekerja sama dengan Bank yang dikatakan oleh Eleanor tadi. Entah kenapa Liam memiliki firasat yang bagus.
Eleanor dan Cessa bermain di taman, Cessa membawa Ceez bemain bersama mereka. Untung saja harimau peliharaan Cessa jinak dan tidak menggigit, walau begitu ada ahli binatang yang menemani mereka bermain. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
"Mama, kata papa. Cessa sebentar lagi akan sekolah," ujar Cessa sambil memeluk Ceez, ya Tuhan Cessa sangat menggemaskan.
"Mama harus datang di hari penyambutan sekolah ya," ujar Cessa penuh harap.
"Tentu saja aunty akan datang karena Cessa telah mengundang langsung," jawab Eleanor membuat Cessa berteriak senang lalu memeluk Eleanor dan meninggalkan Ceez begitu saja.
"Nona, mainan untuk Nona kecil sudah sampai," ujar Amel memberitahu, kemarin Eleanor meminta Amel untuk mengisi ruang bermain Cessa dengan mainan baru. Di rumah Eleanor bahkan ada ruang main khusus untuk Cessa.
"Sayang, kau dengar mainan mu sudah sampai," ujar Eleanor membuat mata Cessa berbinar.
"Yey! Terima kasih mama," ujar Cessa mencium pipi Eleanor.
"Sama-sama anak manis," jawab Eleanor mencium kening Cessa.
Eleanor dan Cessa sama-sama ke ruang bermain dan benar saja mainan yang lama sudah diganti dengan yang baru.
"Ada boneka berbie kesukaan Cessa, mama terima kasih." Mata Cessa berbinar melihat banyak mainan baru diruang bermainnya.
Eleanor hanya menganggukan kepala nya, ia senang jika Cessa menyukai mainan nya.
"Mama, ayo main masak-masak," ajak Cessa membuat Eleanor tidak bisa menolak.
Sedangkan Liam sedang bersiap untuk pergi ke kantor.
"El, aku berangkat ke kantor. Titip Cessa ya," ujar Liam masuk kedalam ruang bermain.
"Oke Liam, semangat bekerja." Eleanor tersenyum lembut pada Liam.
"Papa hati-hati, nanti jangan lupa belikan Cessa maianan untuk Ceez ya papa," pinta Cessa sambil menyengir kuda.
"Baiklah, papa berangkat. El aku berangkat."
"Ya hati-hati Liam."
Setelah Liam pergi Eleanor dan Cessa melanjutkan main masak-masak mereka, tidak terasa mereka bermain hingga waktu nya tidur siang. Cessa sudah tidur dipangkuan Eleanor. Eleanor menggendong Cessa dan membawa Cessa kedalam kamar, sebelum masuk ke dalam kamar Eleanor melihat kearah jendela. Hujan deras membasahi bumi, Eleanor jadi teringat yang dikatakan Cessa tadi pagi bahwa hari ini langit tidak cerah melainkan turun hujan.
__ADS_1