AKU PEMERAN UTAMA

AKU PEMERAN UTAMA
Bab 31 : Hamil


__ADS_3

Pria yang berada di hadapan Eleanor hanya bisa memandang betapa posesifnya seorang Liam Keith dengan seorang wanita yang berada dalam dekapan nya, tentu saja pria itu mengenal Liam, seorang billionaire muda.


“Yogurt itu sekarang milik anda Nona, permisi,” ucap pria itu lalu pergi meninggalkan Eleanor dan Liam.


“Terimakasih Tuan,” balas Eleanor dengan tersenyum manis.


“Jangan tersenyum manis pada pria lain El,” ucap Liam tidak suka jika Eleanor tersenyum kepada pria lain, karena senyum Eleanor memikat hati pria.


“Aku hanya berusaha ramah kepada orang lain Liam,” balas Eleanor memberi pengertian kepada Liam.


“Aku tidak menyukai nya Eleanor.” Jika Liam sudah memanggilnya Eleanor maka pria itu benar benar tidak suka dan perkataan nya harus di turuti.


“Baiklah Liam,” ucap Eleanor dengan tersenyum, ia berusaha memahami sikap Liam.


Liam dan Eleanor kini tengah membayar semua belanjaan mereka, Eleanor berbelanja cukup banyak, satu keranjang penuh. Setelah selesai membayar kini mereka berjalan keluar supermarket menuju mobil, dan belanjaan mereka sudah ada orang yang akan membawa nya menuju mobil.


“Apa kau lelah Liam.” Tanya Eleanor ketika sudah berada di dalam mobil, Liam langsung meminum air saat mereka memasuki mobil tadi.


“Tidak El,” jawab Liam, ia hanya tidak suka saat Eleanor bingung memilih milih mana yang akan ia beli, jadi Liam menyarankan agar Eleanor membeli semua yang ia inginkan.


“Terimakasih sudah menemaniku berbelanja Liam,” ucap Eleanor mengecup bibir Liam.


“Seperti nya akan menjadi kebiasaan baru ku El, menemani mu berbelanja,” balas Liam.


“Apa kau tidak ingin berbelanja baju atau yang lain nya El.” Tanya Liam.


“Tidak perlu Liam,” jawab Eleanor.


“Apa kau yakin?” Tanya Liam lagi.


“Tentu saja Liam,” balas Eleanor dengan mengelus rahang Liam, lalu mereka berciuman sebentar.


*


“Bagaimana bisa Eleanor pingsan Liam, apa yang sebenarnya terjadi.” Tanya Anna, begitu memasuki kamar Eleanor, ia melihat menantu nya yang terbaring lemah di atas ranjang dengan wajah yang pucat.


“Sejak pagi tadi ia terus saja muntah, dan ia juga tidak memasukan makanan ke dalam mulut nya, lalu tadi ia memakan masakan mu, namun ia memuntahkan nya kembali. Dia berkata hanya kelelahan saja, namun aku pikir tidak,” jelas Liam dengan memberi ruang kepada Anna agar duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


“Malang nya menantu mama,” ucap Anna dengan mata yang berkaca kaca.


“Dia akan baik baik saja Anna.” Jimmy mengelus punggung Anna berusaha menenangkan nya.


“Kita harus menghubungi dokter Jimmy,” ucap Anna.


“Tidak perlu, aku sudah menyuruh Nial agar menghubungi dokter, mungkin sebentar lagi akan datang.” Balas Liam, ia tadi bahkan mengancam, jika dokter tidak datang dalam waktu 10 menit, ia akan menghancurkan karir dokter tersebut.


Tepat saat Liam menyelesaikan perkataan nya, Nial datang dengan seorang dokter yang mengikuti nya dari belakang. Seorang dokter perempuan, ia tidak ingin jika yang memeriksa Eleanor adalah seorang dokter pria, membayangkan Eleanor di sentuh oleh pria lain saja membuat Liam ingin menonjok nya langsung. Liam memiliki beberapa dokter pribadi yang mengabdi kepada dirinya, harus datang dengan tepat waktu saat Liam memerlukan bantuan nya.


“Selamat siang Mr.Liam.” Sapa dokter itu kepada Liam.


“Langsung saja periksa wanita ku,” ucap Liam tidak memerlukan basa basi, ia memperhatikan gerak gerik dokter itu saat mulai memerika keadaan Eleanor.


“Papa, apa mama baik-baik saja?” tanya Cessa memeluk Liam.


“Dokter akan memeriksa mama, mama pasti akan baik-baik saja.”


Liam berusaha agar terlihat tenang, sebenarnya ia sangat gugup, Liam memang pandai menyembunyikan ekspresi nya.


“Akhirnya kau membuka mata mu El,” ucap Liam lalu memeluk Eleanor, perasaan nya sekarang sedikit tenang.


“Apa yang terjadi Liam, mengapa semua orang berkumpul disini?” Tanya Eleanor, ia bingung mengapa semua nya berkumpul disini dengan suasana sedih bahkan ada satu orang dokter wanita.


“Kau tadi pingsan di dalam toilet El, syukurlah kau sudah sadar.” Liam kembali memeluk Eleanor, seperti tidak ingin kehilangan wanita yang di cintai nya.


“Aku baik baik saja Liam,” ucap Eleanor.


“Tidak, kau sedang tidak baik baik saja El,” ucap Liam dengan nada khawatir.


“Kapan terakhir anda datang bulan Eleanor?” Tanya Starley lebih mendetail.


Eleanor mematung seketika, ia bahkan tidak mengingat kapan terakhir ia datang bulan, ia semakin gelisah, sedangkan Liam, pria itu terlihat sedang bahagia.


“Anna seperti nya kita akan memiliki cucu.” Bisik Jimmy kepada sang istri.


“Aku tidak sabar ingin menimang cucu Jimmy.” Balas Anna dengan perasaan bahagia, ia akan senang jika Eleanor benar benar tengah mengandung.

__ADS_1


“Papa sudah tidak sabar ingin menimang cucu El.” Jimmy menimpali ucapan sang istri.


“Opa, apakah Cessa akan menjadi kakak?”


“Benar sekali sayang,” jawab Jimmy membuat Cessa berteriak senang.


“Apa ini adalah tanda tanda kehamilan Starley?” Tanya Liam yang tidak mengerti, tapi ia sudah merasa senang meskipun Starley belum menjelaskan lebih jauh.


“Eleanor memang tengah mengandung, kalian harus segera pergi ke dokter kandungan untuk memastikan nya,” ucap Starley, ia menyuruh Liam dan Eleanor pergi ke dokter kandungan.


“Kalian harus segera memeriksakan nya,” ucap Anna dengan penuh semangat.


“Benar Nyonya, mereka harus segera memeriksakan nya.”


“Jika begitu saya undur diri Mr. Liam,” ucap Starley kemudian pergi bersama Nial yang menunggu nya di depan pintu kamar.


“Jika begitu Papa juga akan keluar, segeralah periksa El. Papa tidak sabar menunggu kabar bahagia dari mu,” ucap Jimmy kemudian meninggalkan kamar Eleanor disusul dengan Anna.


“Hei mengapa kau terlihat murung sayang, apa kau tidak senang?” Tanya Liam, ia memperhatikan wajah Elenaor yang terlihat murung.


“Tidak, aku hanya- ,” ucapan Eleanor terpotong, ia gugup lalu memainkan kedua tangan nya.


“Apa kau mengkhawatirkan hubungan ini?” Tanya Liam memegang kedua tangan Eleanor dan menatap nya lekat lekat.


“Kau tahu, aku sangat ingin memiliki seorang anak El, dan kau juga tahu jika aku sangat mencintaimu,” ucap Liam menyakinkan Eleanor.


Eleanor yang medengar perkataan Liam mendadak mata nya berair, ia tersentuh dengan ucapan tulus Liam.


“Hikss.” Tangis Eleanor akhirnya pecah begitu saja, perasaan Eleanor hari ini benar benar sensitif.


“Kau tidak perlu menangis sayang.” Liam lalu mendekap Eleanor ke dalam pelukan nya.


“Apa kau ingin pergi ke rumah sakit untuk memastikan nya?” Tanya Liam, Eleanor hanya menjawab dengan anggukan saja.


Liam kemudian menyentuh perut datar Eleanor dan mendekatkan wajahnya di depan nya.


“Semoga kau benar benar ada disini,” ucap Liam lalu mencium perut Eleanor, Eleanor yang di perlakukan seperti ini, ia merasa senang dan terharu melihat Liam bersikap ini kepada nya. Eleanor juga mengusap rambut Liam pelan, kemudian mereka berciuman sebentar sebelum berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2