AKU PEMERAN UTAMA

AKU PEMERAN UTAMA
Bab 41 : Tidak mungkin benar


__ADS_3

Kepala Liam merunduk, entah apa yang ada di pikiran pria itu. Tangan kekarnya menggenggam tangan halus milik Eleanor, berharap jika wanita nya segera menggerakan tangan nya atau sekedar membuka mata, memberi tanda jika keadaan nya sudah lebih baik.


“El, aku sangat merindukan mu. Sangat menyakitkan melihat mu seperti ini, buka lah mata mu sayang, ku mohon.” Mohon Liam pada Eleanor, namun yang terdengar hanya suara bising dari berbagai alat yang menopang kehidupan Eleanor di dalam ruangan ini.


“Aku sangat merindukan mu, aku merindukan masakan mu, aku rindu tidur berdua di ranjang empuk milik kita, dan aku rindu omelan mu.” Liam mengecup tangan Eleanor bertubi tubi, ia akan selalu menantikan Eleanor.


“Papa kapan mama akan membuka matanya? Cessa merindukan mama,” ujar Cessa membuat Liam sadar bahwa ada Cessa disamping nya.


“Mama akan segera bangun sayang, papa juga sangat merindukan mama,” jawab Liam memeluk Cessa yang sekarang suah menangis pelan.


“Cessa, kamu harus pergi ke sekolah sayang. Setelah pulang dari sekolah kita akan kemari lagi,” ujar Anna membuat Cessa menganggukan kepala nya, awalnya Cessa tidak ingin sekolah tapi mama nya pasti sedih karena Cessa mengabaikan sekolah.


“Baik Oma.”


“Papa, Cessa berangkat sekolah ya.” Cessa mencium pipi Liam.


“Iya sayang.”


Detik demi detik berlalu, posisi Liam masih sama seperti tadi. Liam bangkit dari tempat duduk yang berada di ranjang Eleanor, ia berjalan mendekat ke jendela, sekedar ingin melihat pemandangan kota dari ruangan milik Eleanor, ia harus bersabar menunggu Eleanor.


“Tunggu ajal mu Angel.” Liam tersenyum miring mengingat perlakuan keji yang di lakukan Angel pada Eleanor dan calon buah hati nya.


Setelah di rasa puas, Liam kembali menduduki kursi yang berada di samping ranjang Eleanor dengan tenang. Tepat saat itu Liam melihat pergerakan tangan Eleanor, jari Eleanor bergerak dengan pelan. Liam menyakinkan dirinya jika ini bukan lah khayalan semata.

__ADS_1


“El, apa kau baru saja menggerakan jari mu?” Tanya Liam dengan perasaan senang, namun ia sedikit panik, ia takut jika itu hanyalah imajinasi nya saja.


Liam bergerak menjadi lebih dekat dengan badan Eleanor, tangan nya menyentuh rambut Eleanor, menjelajahi wajah Eleanor yang pucat dengan mata yang masih tertutup.


“Apa kau bisa mendengar ku El?” Liam mengenggam tangan Eleanor, tangan itu tidak lagi bergerak.


“Eleanor.” Liam berbisik pelan di samping telinga Eleanor, meskipun sebagian wajah Eleanor tertutup oleh masker oksigen, namun Liam masih bisa melihat wajah cantik milik Eleanor.


Liam menatap wajah Eleanor, saat itulah perlahan kedua mata Eleanor terbuka, dan kedua tangan Eleanor bergerak dengan pasti.


“El, apa kau bisa melihat ku sayang, apa kau bisa mendengar ku?” Liam memberikan pertanyaan bertubi tubi pada Eleanor, Liam rasanya ingin meneteskan air mata saat menyadari jika ini bukan lah imajinasi nya, wanita nya kembali membuka mata dan menggerakan kedua tangan nya.


Namun Eleanor hanya diam seribu bahasa, seperti nya wanita itu masih menyesuaikan dengan keadaan saat ini, sudah lama ia mengalami masa koma.


“Terimakasih El, kau sudah membuka mata dan kau masih mengenali ku, aku sangat merindukan, aku takut kehilangan mu El,” ucap Liam dengan lirih, ia memeluk Eleanor dengan lembut takut jika pelukan nya akan membuat Eleanor merasa kesakitan.


Mata Liam berkaca kaca ia tidak dapat menahan perasaan haru bahagia nya saat ini.


“Liams. Minum.” Liam melepas pelukan nya, lalu menatap mata Eleanor, mata nya terlihat sayu. Tangan nya terulur mengambil air putih yang berada di atas nakas.


Liam membantu Eleanor melepas masker oksigen serta membantu nya untuk meminum air putih.


“Aghh.” Suara Eleanor terdengar seperti kesakitan saat ia selesai meminum segelas air putih.

__ADS_1


“Apa ada yang sakit El, apa aku perlu memanggil dokter?” Liam terlihat sangat panik, mata nya menyelediki tubuh Eleanor saat ini, ia takut jika terjadi apa apa dengan Eleanor.


“Tidak, tidak perlu Liam,” jawab Eleanor dengan senyum tipis nya, meskipun ia merasakan sakit namun Eleanor masih memaksakan sedikit senyuman nya untuk membalas perkataan Liam.


“Aku sangat bahagia melihat mu kembali membuka mata dan memberikan senyum manis mu itu padaku El, apa kau tau, aku selalu menunggu mu, menunggu mu untuk membuka mata El. Aku sangat merindukan mu.” Liam kembali merengkuh tubuh Eleanor dengan pelan, Liam melupakan jika bisa saja Eleanor akan segera menanyakan calon buah hati mereka.


“Terimakasih selalu ada di samping ku Liam.” Eleanor membalas pelukan Liam, meskipun sedikit susah karena tangan nya masih terhubung oleh selang infus.


Cukup lama mereka berpelukan, melepas rindu satu sama lain. Hingga Eleanor membuka suara nya yang membuat Liam melepas pelukan mereka.


“Liam, apa.“ perkataan Eleanor terjeda ia seperti sedang berpikir apa yang ingin ia katakan. Sedangkan Liam pria itu seperti mengerti apa yang ingin di katakan oleh Eleanor.


Eleanor mengendurkan pelukan nya terhadap Liam, tiba tiba saja ia teringat pada kejadian yang menimpa nya beberapa waktu yang lalu. Ia mengingat bagaimana orang itu menindas nya dengan sangat keji, dan tak berperasaan. Saat itu Eleanor berusaha melindungi kandungan nya, namun tendangan oang itu sangatlah kuat, hingga kini ia belum tahu apakah kandungan nya dapat di selamatkan atau tidak. Eleanor tidak bisa membayangkan bagaimana jika harus kehilangan kehamilan pertama nya, calon buah hati nya yang pertama bersama dengan Liam orang yang Eleanor sayangi dan cintai.


Eleanor menatap Liam dengan tatapan yang serius.


“Liam, apa dia baik baik saja?” Tanya Eleanor dengan perasaan harap harap cemas, ia cemas akan jawaban yang akan di berikan oleh Liam.


Tangan Eleanor menggenggam tangan Liam dengan sangat erat, ia sangat takut mendengar jawaban Liam. Sedangkan Liam, pria yang sedang berada di hadapan Eleanor, seketika diam membeku seketika, badan Liam terlihat tegang, dan ia terlihat sedang memikirkan sesuatu, namun Liam dengan segera mengembalikan keadaan tubuhnya agar kembali menjadi rilex, ia tidak ingin membuat Eleanor curiga, meskipun jawaban Liam nanti akan membuat Eleanor merasa sedih dan kecewa.


“El, sebaiknya kau beristirahat, aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan mu.” Liam berusaha mengulur waktu, ia hendak berdiri dan berjalan memanggil dokter, namun Eleanor lebih dulu mencekal tangan Liam. Liam belum siap jika harus memberitahui Eleanor saat ini, karena keadaan Eleanor yang baru saja tersadar dari koma.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2