
Tiga hari sudah berlalu.
Belum ada tanda tanda jika Eleanor akan membuka mata nya, semalam kondisi Eleanor sempat menurun. Membuat Liam semakin mengkhawatirkan keadaan Eleanor, bukan hanya Liam namun keluarga dan juga sahabat Eleanor. Seperti biasa, siang ini Liam duduk di samping ranjang rumah sakit Eleanor, tangan Liam menggenggam erat telapak tangan Eleanor yang bebas dari selang infus.
Penampilan Liam berbeda dari biasa nya, kantung mata yang menghitam, rambut yang tidak rapi seperti biasanya, serta bulu halus yang mulai tumbuh di rahang tegas nya. Empat hari berlalu, namun keadaan Liam sudah sekacau ini. Bagaimana jika Eleanor terbaring di atas ranjang rumah sakit, lebih lama lagi. Mungkin Liam akan terlihat seperti mayat hidup.
“Sayang, ku mohon buka matamu.”
Setelah mengatakan itu pada saat itulah terdengar suara nyaring yang berasal dari samping ranjang Eleanor. Bedside monitor yang membantu mengontrol keadaan tubuh Eleanor, berubah menjadi garis lurus, yang awalnya garis itu bergelombang. Liam serta orangtua Eleanor menoleh ke atas ranjang, jantung mereka seperti berhenti berdetak, kaki mereka terasa lemas, serta kepala yang mendadak sangat pening.
“El.” Liam mendekati ranjang Eleanor, namun tidak ada yang berubah dari setiap penampilan Eleanor, wanita itu masih tetap diam dengan menutup kedua mata nya, tapi kenapa monitor itu menunjukan garis lurus. Tidak, ini tidak boleh terjadi pada Eleanor.
“Eleanor.” Pikiran Liam semakin kalut, detak jantung nya semakin tak beraturan.
“Tidak El, ku mohon jangan tinggalkan aku.” Liam mengguncang tubuh Eleanor, bermaksud agar wanita itu tetap dalam keadaan yang sadar.
Di belakang tubuh Liam, Jimmy berusaha menenangkan Anna sang isteri agar tidak berpikiran yang negatif, setelah Jimmy menekan tombol yang di berada di samping ranjang untuk menghubungi para dokter dan perawat.
“El, tidak. Ku mohon.” Liam memeluk Eleanor teramat kencang, hingga tidak menyadari jika ada air mata yang membasahi pipi nya.
__ADS_1
“Kau tidak boleh meninggalkan ku El.”
“Apa aku harus kehilangan mu juga, tidak El. Kau tidak boleh meninggalkan ku.” Suara Liam terdengar serak, berusaha menepis jika dirinya sedang menangis dan menahan kesedihan nya.
Hingga Liam tidak menyadari jika ada dokter dan para perawat yang memasuki ruang inap Eleanor untuk mengecek keadaan nya.
Dokter dan para perawat di buat terkejut dengan Liam yang menangis dengan memeluk Eleanor, memohon pada wanita itu agar membuka mata nya dan memohon agar wanita itu tidak meninggalkan nya. Seorang Liam yang terkenal dingin dan arogan ternyata menjadi sangat lemah di hadapan sang kekasih.
“Permisi Tuan, izinkan saya memeriksa keadaan Nona Eleanor,” ucap dokter itu yang di dengar oleh Jimmy dan Anna, sedangkan Liam, pria itu sama sekali tidak mendengar ucapan dokter itu. Pikiran nya saat ini hanya terfokus pada Eleanor saja.
“Tolong selamatkan cucu ku, aku tidak ingin kehilangan cucu nya, ku mohon.” Jarvis memohon kepada dokter itu dengan air mata yang membanjiri wajah nya.
“Tentu.” Kini Jimmy yang membuka suara nya, kemudian ia melangkah untuk mendekati Liam karena seperti nya pria itu tidak mendengar ucapan sang dokter, bahkan mungkin tidak menyadari kehadiran dang dokter dan perawat.
Liam menoleh ketika merasakan ada tangan yang memegang bahu kekar nya.
“Biarkan dokter memeriksa keadaan Eleanor,” ujar Jimmy, mata nya dapat melihat kesedihan yang tengah di alami oleh Liam. Terlihat jelas jika Liam sangat takut untuk kehilangan Eleanor.
“Selamatkan nyawa Eleanor, jika tidak nyawa kalian yang akan ku ambil dengan tangan ku sendiri,” ucap Liam dengan dingin serta tatapan tajam nya, yang membuat sang dokter dan perawat menunduk ketakutan.
__ADS_1
Liam berjalan keluar ruangan dengan angkuh nya, ia menahan semua kesedihan dan ketakutan nya kehilangan Eleanor. Ia tidak ingin orang lain melihat nya. Meskipun Liam berusaha menutupi nya, namun Jimmy tidak bisa tertipu oleh Liam. Jimmy dan Anna kemudian menyusul Liam meninggalkan ruangan ini, meninggalkan para dokter dan perawat untuk menangani Eleanor.
Pintu ruangan Eleanor tertutup, dokter dan perawat mempersiapkan peralatan nya.
Liam dapat melihat jika dokter itu sedang memegang alat pacu jantung, untuk membantu kerja jantung Eleanor. Pikiran Liam semakin berkecamuk, melihat badan Eleanor yang terangkat ketika dokter itu menekan dan menjauhkan alat itu dari badan Eleanor. Liam bersedekap dada menyaksikan Eleanor yang tengah berjuang di dalam sana. Ia tetap menjadi Liam yang dingin dan angkuh, ia berusaha menahan segala ego yang ada di dalam dirinya. Rasa nya Liam ingin memukul sesuatu agar meredam suasan hati nya saat ini, tangan Liam terkepal kuat. Ketika melihat dokter itu berhenti bertindak dan tengah berbicara pada perawat. Jantung Liam semakin berdetak kencang, pikiran nya kembali berkecamuk memikirkan Eleanor di dalam sana. Hingga pada akhirnya dokter itu berjalan menuju pintu keluar.
Jantung Liam semakin berdetak tak beraturan.
Pintu ruangan itu terbuka dan munculah dokter yang memeriksa Eleanor.
“Bagaimana dengan keadaan Eleanor?” Liam bertanya dengan sangat tenang, menyembunyikan rasa kecemasan nya yang membelenggu diri nya. Liam menatap dokter itu dengan tatapan tajam nya, berharap dokter itu memberi kabar baik terhadap keadaan Eleanor saat ini.
“Puji Tuhan Nona Eleanor bisa bertahan, jantung nya kembali berdetak meskipun masih lemah. Ini semua terjadi seperti ada sebuah keajaiban, mungkin karena selama ini Nona Eleanor selalu melakukan hal baik yang membuat Tuhan memberikan kesempatan diri nya untuk melanjutkan kehidupan di dunia ini,” ucap Dokter itu yang seperti tidak percaya apa yang barusan ia alami, seorang pasien yang jantung nya sudah tidak berdetak lagi namun tiba tiba saja jantung nya mampu berdetak meskipun lemah.
“Oh god terimakasih atas kebaikan mu,” ucap Anna sembari memeluk Jimmy, dan Jimmy pun membalas pelukan sang istri dengan mengecup puncak kepala nya dengan lembut.
Liam bernafas dengan sangat lega, kecemasan yang sedari tadi mengganggu pikiran nya perlahan mulai menghilang, tangan yang sedari tadi mengepal kuat kini mulai terbuka.
Hari sudah berganti, sudah terhitung dua hari sejak dimana detak jantung Eleanor berhenti. Keadaan masa sama seperti dua hari yang lalu, Liam yang senantiasa berada di samping Eleanor. Rambut rambut kasar mulai tumbuh di dagu nya serta rambut Liam yang sedikit memanjang. Mungkin untuk pria lain itu akan terlihat sangat buruk, namun berbeda dengan Liam, pria itu masih tetap tampan meskipun dagu nya mulai di tumbuhi dengan jambang serta rambut yang mulai panjang. Di ruangan ini hanya di huni oleh Liam dan Eleanor saja, jika biasa nya ada salah satu dari orangtua mereka ataupun Leon dan Lia, Liam yang meminta agar mereka semua tidak datang ke rumah sakit ini, Liam memberi waktu agar mereka bisa istirahat dan menenangkan diri. Tetapi di luar ruangan Eleanor tetap ada penjagaan ketat dari anak buah Liam. Dan juga Nial masih memegang kendali atas pekerjaan Liam di perusahaan Keith Co.
__ADS_1