Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 10


__ADS_3

“Mendingan elu tenang dulu,” bujuk Pietro.


“Lu bilang kudu tenang? Lihat Javas bro? Dia sekarat!” sentak Dioneel dengan wajah putus asanya


Sejumlah foto yang dikirimkan kakaknya Javas menunjukkan jika saat ini Dioneel berada dalam kondisi yang kritis di ICU.


“Katakan sama gue siapa yang berani nabrak Javas? Kenapa kalian semua diam?” bentak Dion dengan kemarahan yang membuat wajahnya legam.


Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan. Tentu saja, karena saat mereka mengatakan identitas si penabrak maka sudah dipastikan malam ini mereka semua tidak akan pernah tidur tenang.


“Argh!” teriak Dion sambil menghantamkan tinjunya ke arah samsak.


Dengan kekuatan penuh, kepalan tangannya menyapu samsak yang menggantung di depannya itu.


Entah dengan cara apa, tapi kemarahan itu meledak-ledak hingga membuat samsak itupun tercabik-cabik.


Melihat Dioneel semakin tak terkendali, Pietro dan Kevin pun akhirnya diskusi.


“Kita harus ngomong sama Dion kalau mereka anak buah Axel.”


“Ah, lu cari mati apa? Dion lagi emosi kayak begitu. Lu mau bilang sama dia kalau ini semua gara-gara Axel padahal jelas-jelas tatto yang adadi kaki kiri pengemudinya itu adalah anak buah Max!” papar Pietro.


“Max? Jadi anak buahnya ya?” ucap Dioneel.


Pietro dan Kevin saling berpandangan.


Kedua orang itu masih berdiam, sementara Dioneel yang akhirnya mengetahui siapa penabrak Javas benar-benar tidak akan memberi ampun kepada siapapun yang saat ini tengah tersenyum bahagia di sana karena berhasil menyakiti Death Squad.


“Kevin, sebarin undangan tanding malam ini juga. Gue mau ngadain sayembara gede-gedean. Siapa diantara anak buah Max yang berani ngaku udah nabrak Javas, gue bakal kasihkan dia yang 10 kali lipat dari balapan malam ini. Apalagi jika dia berani ngalahin gue,” tegas Dioneel dengan suara baritonya yang sangat dalam.


“Dioneel, lu yakin?” tanya Pietro.


Bagaimanapun Pietro dan Kevin saat ini merasa cukup khawatir.

__ADS_1


Melalui Kevin, Dioneel akhirnya benar-benar meminta Kevin untuk mengumumkan sayembara itu yang akan membuat siapapun merasa tertantang. Angka sepuluh kali lipat dari taruhan biasanya itu berarti nominal 300 juta akan menjadi hadiah dalam satu putaran mereka malam ini.


“Gue nggak peduli, gue cuma pengen itu anak muncul sekarang juga sebelum gue benar-benar merasa bersalah karena udah ngebiarin Javas,” ucap Dioneel sambil melemparkan ponsel ke arah salah satu anggotanya yang langsung menangkapnya dengan reflek.


Kevin si playboy Death Squad kemudian mengumumkan acara balapan itu. Kevin hanya perlu mengupload atau mengunggah satu kalimat di dalam media sosialnya maka acara balapan illegal pun akan digelar malam nanti.


Smenetara itu.kemarahannya Dioneel terhadap pelaku yang menabrak Javas membuat Dioneel benar-benar ingin fokus dan membuktikan membuktikan jika Death Squad masih berkuasa dan masih menjadi yang terbaik.


Dia kemudian membawa motornya menuju sebuah garasi yang berada di sebelah kanan markas.


“Gue nggak percaya, lihat ini! Setelah insiden Arsen akhirnya Dioneel masuk bengkelnya lagi,” ucap Kevin sambil melangkah mengikuti Dioneel.


Di dalam bengkel pribadinya ini, ada beberapa jenis mesin motor yang sering digunakan untuk balapan, tergantung pada kategori balapan yang diinginkan.


Dioneel memilah beberapa mesin empat langkah (Four-stroke engine)yang merupakan jenis mesin yang umum digunakan pada sebagian besar balapan motor. Mesin ini terdiri dari empat langkah, yaitu hisap, kompresi, pembakaran, dan buang. Mesin empat langkah ini memberikan kombinasi yang baik antara tenaga dan efisiensi bahan bakar.


“Apa gak sebaiknya elu pakai V-twin?” tanya Kevin.


Mesin V-twin adalah jenis mesin dengan dua silinder yang disusun dalam konfigurasi V. Mesin ini sering digunakan dalam balapan motor kategori superbike dan motocross. Desain V-twin juga memberikan tenaga yang besar dan torsi yang kuat, serta memberikan keseimbangan yang baik antara performa dan manuverabilitas.


“Gue butuh yang lebih dari ini. Max pasti akan memodifikasi motornya juga,” ucap Dioneel sambil memperhatikan sebuah desain mesin di depannya.


“Ini, Inline-four, kita akan pasang ini kepada HUNTER,” ucap Dioneel memutuskan.


“Dioneel, gila lu!” kekeh Pietro.


Bagaimana tidak, inline-four memiliki empat silinder yang disusun dalam satu baris lurus.


Mesin ini sering digunakan dalam balapan motor sport dan balap sirkuit. Mesin Inline-four memberikan performa tinggi dengan tingkat putaran mesin yang tinggi, sehingga cocok untuk kecepatan tinggi di lintasan lurus.


“Satu lagi, tambahkan Wankel engine! Hunter harus bisa respons cepat!” imbuh Dioneel.


Ketiganya kini duduk di tengah ruangan yang gelap, berpikir keras tentang balapan malam ini. Death Squad, adalah tim yang terkenal karena aksi berani mereka di jalanan kota yang sepi.

__ADS_1


Dalam ruangan yang penuh dengan aroma oli dan suara mesin yang bergemuruh, anggota Death Squad lainnya berkumpul di sekeliling meja. Pietro, mekanik jenius yang juga pembalap ini memiliki keahlian yang tak tertandingi dalam modifikasi kendaraan, sementara Kevin si playboy memiliki kepekaan terhadap detail yang luar biasa.


Mereka bertiga sibuk memodifikasi mesin motor sport yang akan digunakan Dioneel malam ini.


Kabar mengenai acara taruhan yang ditawarkan oleh Death Squad benar-benar didengar banyak sekali tim. Malam ini, untuk pertama kalinya, sirkuit jalanan kota dijejali para pecintanya yang hasu dengan racing action para idolanya di sirkuit liar ini.


“Tidak ada yang berani maju setelah Maxmengajukan diri,” gumam Kevin.


“Bagus, itu memang sasaran kita. Max pasti mengincar uangnya dan kita akan mendapatkan penabraknya.” Dioneel tersenyum mengatakannya.


Malam ini, Dioneel berdiri tegap di garis start, mengenakan helm balap dan jaket kulitnya yang berwarna hitam yang melambangkan keberanian dan kecepatan. Di sisinya, motor sport kesayangannya berkilau di bawah sinar matahari terik. Ia merasa tegang, tetapi juga penuh semangat menghadapi tantangan yang ada di depannya.


Max, lawan balapnya, tiba di sampingnya dengan senyuman percaya diri yang tak tergoyahkan. Dalam balapan kali ini, taruhan mereka mencapai jumlah yang luar biasa, yaitu uang sebesar 300 juta. Dioneel dan Max adalah rival abadi dalam dunia balap, dan setiap pertemuan mereka selalu memunculkan persaingan yang sengit.


"Kali ini aku akan menunjukkan siapa yang tercepat di sini, Max! Taruhan ini akan menjadi bukti bahwa aku adalah juara sejati sekaligus membongkar siapa sebenarnya anak buahmu yang berani sekali menabrak anggotaku!"


"Haha, kata-katamu sebaiknya diikuti oleh tindakan, Dioneel. Aku sudah menantikan momen ini sejak lama. Uang 300 juta akan menjadi milikku, dan gelar juara akan melekat padaku!"


Mereka berdua melihat jalur balap yang terbentang di hadapan mereka. Mata Dioneel berbinar-binar, penuh fokus dan tekad yang kuat untuk memenangkan taruhan tersebut. Ia memasang stiker khusus yang melambangkan keberuntungan di helmnya, memberikan semangat tambahan yang dibutuhkannya.


Seorang umbrella girls memberikan tanda dan kedua pembalap segera menyalakan mesin motor mereka. Suara dentingan metalik dari knalpot motor sport menggema di sekitar area balapan. Dioneel menengok ke arah Max dan melihat sorot mata penuh ketajaman yang kembali memacu adrenalinnya.


"Tiga, dua, satu... GO!"


Dioneel melepaskan koplingnya dengan cepat, memacu motornya dengan kecepatan penuh. Ia meluncur dengan lincah di antara tikungan-tikungan yang tajam, mengejar setiap peluang untuk mengungguli Max. Angin bertiup kencang di wajahnya, dan ia dapat merasakan getaran motor di setiap saraf tubuhnya.


Max juga tidak tinggal diam. Ia menjalankan motor sportnya dengan keahlian yang sama, mengikuti langkah-langkah Dioneel dengan hati-hati. Keduanya saling menggesekkan motor saat melintasi tikungan, menciptakan momen tegang dan penuh adrenalin yang membuat penonton tertahan napas.


"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Max! Aku telah melatih setiap aspek kemampuanku untuk momen seperti ini!"


"Jangan terlalu percaya diri, Dioneel! Aku akan menghancurkan mimpimu menjadi debu!"


Mereka terus saling menyusul satu sama lain, berbalapan dengan penuh semangat dan nafas persaingan yang tak tergoyahkan.

__ADS_1


__ADS_2