
Suasana di restoran Bite And Sip siang itu sangat ramai. Masakan buatan Abuela Lily benar-benar berhasil menarik para pengunjung untuk makan di sana dengan makanan khas Latin yang dia buat.
Di antara sesaknya para pengunjung, Aletta dan Dioneel tampak tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mereka membicarakan sesuatu yang terdengar serius. Sesekali Ibu Lily melihat ke arah mereka, tetapi dia mencegah dirinya untuk mencari tahu lebih jauh tentang apa yang mereka bicarakan.
Aletta menceritakan apa yang membuat dia pindah dan memulai usaha barunya di situ serta dia juga menceritakan kalau dia mengambil uang bonus dari hasil penjualan mobil yang berhasil dijual kepada Davin.
"Jadi, kau tidak perlu marah kepada ayahmu. Ini kemauanku sendiri. Aku rasa aku lebih nyaman dengan situasi saat ini. Aku bisa mengawasi kakakku 24 jam dan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya," kata Aletta mengakhiri ceritanya.
Namun Dioneel tidak terima dengan alasan gadis cantik dan mandiri yang duduk menatapnya dengan kedua matanya yang cantik dan indah itu. "Tapi, kau tidak perlu memblokirku, 'kan? Yang ini pasti kemauan ayahku yang brengsek itu!"
"Tidak juga. Awalnya aku menolak, tapi begitu aku melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan, aku pikir, kenapa tidak? Kau bisa lihat sekarang bagaimana keadaan kami, 'kan?" ucap Aletta. Dia memegang kedua tangan Dioneel dan mengusap denga ibu jarinya. "Soal blokir itu, aku hanya tidak ingin menjadi penghalang di hidupmu, Dioneel. Aku ingin kau meninggalkan dunia motormu dan tataplah masa depanmu. Kupikir, jika aku pergi, kau tidak akan lagi melihat Arsen yang akan selalu mengingatkanmu pada Axel dan geng motor kalian,"
Dioneel tertegun. Dia merasakan seperti ada sebongkah es menimpa kepalanya dan membuatnya sadar. "Kau tidak pernah menjadi penghalang di hidupku, Aletta. Ucapanmu barusan, itu justru menjadi penyemangat untukku,"
Selama sepersekian detik, Dioneel kembali terdiam kemudian dia menunduk. Pria tampan bertubuh atletis itu baru menyadari kalau dia sudah tidak memiliki apa pun lagi selain pakaian yang menempel di tubuhnya.
"Apakah restoran ini milikmu?" tanya Dioneel sambil merendahkan suaranya.
Aletta mengangguk. "Ya, kau tidak percaya?"
Wajah Dioneel merona merah. Pria itu tidak menyangka kalau akhirnya tibalah dia mengemis pekerjaan pada seseorang. "Bukannya aku tidak percaya. Tapi, bisakah kau membantuku?"
"Membantu apa?" tanya Aletta semakin penasaran.
__ADS_1
"B-, bolehkah aku bekerja di sini bersamamu? Kau boleh menggajiku berapa pun yang kau mau," tanya Dioneel menyeringai.
Kedua manik Aletta membulat. "Apa? Kau butuh pekerjaan? Tunggu! Kau serius? Atau hanya untuk mendekatiku lagi?"
Tiba-tiba saja, perut Dioneel bergemuruh kencang dan sekali lagi, wajahnya memerah. Sejak dia meninggalkan rumah ayahnya, dia tidak memegang uang sepeser pun dan pria itu hanya meminum air putih serta sisa cokelat batangan yang dia temukan di atas meja markas klub motornya.
Dioneel menyeringai lebar dan tersipu. "Ceritanya panjang. Bolehkah aku makan? Kau boleh memotong dari gajiku nanti, hehehe,"
Aletta menggelengkan kepalanya. Raut wajah gadis itu tampak khawatir. Dia berjalan dan berbisik pada Bu Lily. Tak sampai 30 menit, Bu Lily sudah membawakan semangkuk sup kacang hangat dan nasi yang terbuat dari kunyit yang biasa disebut dengan Paella. Sebagai tambahan, Bu Lily juga membuatkan churros untuk Dioneel. "Makanlah! Setelah itu, cuci piringmu sendiri. Akan kuajari kau menghidangkan makanan untuk tamu restoranku,"
Tanpa perlu diperintah dua kali, Dioneel segera menyesap sup kacang hangat itu dan menyendok sesendok besar Paella ke dalam mulutnya. "Ini enak, Bu! Kau hebat,"
Ibu Lily menggelengkan kepalanya dan membiarkan Dioneel menikmati makanan buatannya. Sementara Dioneel makan, Bu Lily berbicara kepada Aletta. "Apa dia bangkrut? Sepertinya dia sangat kelaparan,"
Aletta mengedikkan kedua bahunya. "Aku juga tidak tau. Wajahnya memang sedikit pucat, tapi tadinya kupikir itu bukan karena dia belum makan. Semoga saja tidak ada yang terjadi, Bu,"
Tebakan Bu Lily benar. Aletta memang masih sangat menyayangi pria yang membuat hidupnya banyak berubah itu. Saat Davin meminta Aletta untuk menjauh dari Dioneel, dunia gadis itu serasa berhenti berputar dan bahkan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan tanpa Dioneel di hidupnya.
Hari ini, begitu dia melihat wajah Dioneel dan dapat menyentuh tangannya, Aletta merasa tenang dan dapat bernapas kembali. Baginya, Dioneel adalah oksigen yang membuatnya untuk tetap hidup. Sebesar itulah rasa cinta yang Aletta rasakan kepada sang billionaire tersebut.
Bukan karena kekayaan yang Dioneel memiliki, tetapi lebih kepada pribadi Dioneel. Walaupun dia keras dan sangat, siapa sangka kalau pria bertato itu memiliki hati yang lembut.
Tanpa sadar, Aletta tersenyum. "Aku sepertinya terlalu cinta kepadanya, Bu,"
__ADS_1
"Jangan kau tinggalkan dia lagi dan tetaplah berada di sisinya. Kalian akan kuat bersama-sama," sahut Bu Lily diiringi dengan anggukan dari Aletta.
Setelah Dioneel selesai makan, Bu Lily benar-benar menepati ucapannya. Dia mengajari Dioneel untuk cuci piring. "Apa yang kau lakukan di rumah? Pegang piring saja tidak bisa! Pegang seperti ini dan usapkan spongenya di sisi ini, begini! Kau paham?"
Dioneel mengangguk, wajahnya penuh tekad yang kuat. Setelah memecahkan dua piring dan tiga gelas, akhirnya Bu Lily memberikan pernyataan lulus kepada Dioneel.
"Aku tidak pernah tau kalau cuci piring bisa sangat melelahkan," katanya sambil meluruskan lengan di atas meja. "Aku tiba-tiba lapar lagi,"
"Hahaha! Kau memang seorang bos besar, Dioneel. Kata Bu Lily, kau sudah bisa bekerja di sini. Bantulah kami untuk menjalankan restoran ini," ucap Aletta.
Wajah Dioneel terlihat bahagia walaupun raut lelahnya belum hilang sepenuhnya. "Benarkah? Yes, terima kasih Abuela,"
Malam itu, setelah Aletta menutup restorannya, dia menagih janji Dioneel untuk bercerita. Jauh di lubuk hatinya, Aletta berharap semoga apa pun yang diceritakan oleh Dioneel tidak ada hubungannya dengan klub motor atau dunia malamnya itu.
"Aku bertengkar hebat dengan ayahku dan aku memutuskan untuk keluar dari rumah tanpa membawa uang sepeser pun. Aku juga tidak membawa mobil ataupun pakaian. Satu-satunya pakaian yang kupunya adalah yang menempel di badanku sekarang dan motor itu, aku yang membelinya dengan memakai uangku dan atas namaku sendiri. Hanya itu yang kupunya," kata Dioneel mempersingkat ceritanya.
Aletta meneguk minuman berwarna putih yang dia tuang ke dalam dua buah sloki. "Kalau begitu, pulanglah! Aku tidak mau melihatmu terlunta-lunta. Kau bisa memakai mobil yang pernah kau berikan kepadaku,"
Dioneel mengambil tangan Aletta dan mengecupnya. "Percuma saja aku memiliki seluruh harta di dunia ini, jika sebenarnya, hartaku hanyalah kau, Aletta,"
"Aku bahkan tidak membutuhkan apa pun selain dirimu. Kumohon, jangan memintaku untuk pergi dan menjauh. Karena aku tidak akan sanggup," sambung Dioneel.
Aletta menahan napasnya saat Dioneel mengungkapkan perasaannya itu. Mereka memiliki perasaan yang sama. Aletta memeluk Dioneel dengan erat. "Aku juga tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Kumohon, tetaplah di sisiku,"
__ADS_1
Sebuah pagutan mendarat di bibir Aletta. Dioneel segera menarik gadis cantik itu untuk duduk dipangkuannya. Aletta pun merespon dengan baik pagutan dari pria yang kini resmi menjadi kekasihnya itu.
Tanpa mereka sadari, seorang pria sedang memotret kebersamaan mereka dan mengirimkan hasil gambarnya kepada seseorang. "Bos, aku sudah menemukannya,"