Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 14


__ADS_3

"Aletta! Aletta!"


Aletta menjawab lirih. Gadis itu berusaha membuka kedua matanya. Namun, hanya bayangan samar-samar yang dilihatnya. Suara mereka pun terdengar jauh sekali, tetapi Aletta sadar, dia harus membuka matanya.


Arsen, ....


Dioneel, ....


Aletta pun akhirnya berhasil terbangun dan sadar. Walaupun masih lemas, tetapi Aletta sudah sanggup untuk duduk bersandar di sofa, tempat dia terjatuh tadi.


Seseorang membawakannya segelas air hangat dan membantunya untuk minum. Setelah dahaganya dipuaskan, Aletta merasa jauh lebih baik.


Dia melihat seorang wanita yang duduk dihadapannya dan menatapnya dengan cemas.


"Apa kita tidak perlu membawanya ke dokter? Apakah dia akan baik-baik saja? Mengerikan sekali, melihat dia tiba-tiba terjatuh seperti itu," samar-samar Aletta dapat mendengar apa yang diucapkan oleh wanita itu.


Aletta berusaha mengingat-ingat, siapa nama wanita cantik itu. Raisya? Praline? Shaline? Raline? "No-, Nona Raline, ...."


Merasa namanya dipanggil, Raline segera duduk di samping Aletta dan menggenggam tangan gadis mungil itu. "Ya, Sayang? Kau mau kuantar ke rumah sakit? Atau, katakan saja padaku apa yang kau rasakan, aku akan membantumu semampuku,"


Dengan sekuat tenaga, Aletta berusaha untuk duduk tegak. Sandra yang melihat karyawan kesayangannya pingsan, ikut khawatir. "Kau ingin pulang?"


Aletta menggelengkan kepalanya. Bagaimana pun, jam kerjanya belum selesai dan selain itu, ada sesuatu yang harus dia selesaikan dengan wanita bernama Raline ini dan Dioneel. Ya, dia harus kuat!


"Aku baik-baik saja, hanya pusing sedikit. Tapi, saat ini, aku sudah merasa jauh lebih baik," jawab Aletta.


Setelah mengumpulkan tenaganya, Aletta mengajak Raline untuk test drive. Gadis itu duduk di sebelah Raline yang sudah siap di belakang kemudi.


"Maaf sebelumnya, Anda tadi bilang kalau Anda mengenal Arsen?" tanya Aletta, memulai pertanyaannya tanpa basa-basi.


Raline yang saat itu sedang mengemudi, menganggukan kepalanya. "Ya, benar. Aku menyukai dia sejak lama. Tapi, dia masih menganggapku teman,"


"Aku Aletta, adiknya Arsen," kata Aletta memperkenalkan diri sekali lagi.


Seketika saja, Raline mengerem mendadak dan mobil berhenti. "Kau apanya?"

__ADS_1


"Adiknya Arsen," jawab Aletta yang kini sudah menguasai dirinya dengan baik.


Kedua mata Raline kini memandang Aletta dengan tatapan tidak percaya. "Bagaimana mungkin kau adiknya Arsen! M-, maksudku, bagaimana kondisi Arsen sekarang? Apakah dia masih hidup?"


"Kenapa Anda bertanya apakah Kakak saya masih hidup atau tidak? Apa yang sesungguhnya terjadi padanya?" tanya Aletta.


Raline menunduk dan kemudian dia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kemudi. Dia tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena dia sendiri pun tidak melihat kejadian yang secara langsung saat itu.


"Sehari setelah kejadian itu, aku pergi ke markas mereka untuk menemui Arsen. Kami sering bertemu di sana, karena bagi arsen dan kawanannya markas besar mereka adalah rumah kedua untuk mereka dan mereka lebih nyaman berada di sana dibandingkan di tempat-tempat mewah manapun. Namun yang aku temui hanyalah Dioneel dan Javas. Dari situ aku tahu apa yang terjadi dengan arsen karena Dioneel menceritakan segalanya padaku," jawab Raline dengan suaranya yang getir.


Sementara itu, Aletta berusaha membuka kembali kenangan buruk masa lalunya yang tidak ingin dia ingat kembali. Kenangan itu begitu pahit dan menyakitkan baginya.


"Suatu hari, ...." ujar Aletta.


Di suatu hari, saat Aletta hendak pergi bekerja. Dua orang polisi datang ke rumah kontrakannya. Arsen dan Aletta adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah meninggalkan mereka sejak mereka kecil. Hal itu membuat mereka terpaksa diasuh oleh keluarga mereka yang lain, sampai akhirnya Arsen menemukan pekerjaan dan mereka memutuskan untuk hidup mandiri.


Pagi itu, dua orang petugas kepolisian datang ke rumah kontrakan Aletta, mereka mengatakan Arsen berada di rumah sakit dengan kondisi yang mengenaskan.


Aletta pun cepat-cepat datang ke rumah sakit dan seperti apa yang dikatakan oleh polisi-polisi itu, kondisi Arsen nyaris mati. Dia tak sadarkan diri, dengan luka di sekujur tubuhnya, belum lagi, darah yang terus mengalir dari hidungnya tanpa henti.


Aletta yang masih bingung, menandatangani surat persetujuan untuk dilakukan tindakan itu dengan tangan gemetar. Selama Arsen di kamar operasi, polisi menjelaskan apa yang terjadi.


"Seorang pria menelepon kami pagi tadi. Katanya ada seorang pria dipukuli oleh sejumlah geng motor menjelang subuh tadi. Pria itu memberikan kami lokasi dan alamat tempat kejadian. Begitu kami sampai, kami hany menemukan kakak Anda tergeletak di jalanan yang menyerupai lintasan motor dengan kondisi sudah seperti ini dan dia hanya seorang diri di sana," ucap polisi yang pertama.


Temannya mengangguk-angguk. "Ya, kami juga melacak orang yang menelepon kantor kami, tapi nomornya tidak aktif dan kami tidak bisa menemukan dia,"


Air mata Aletta menetes begitu saja dari matanya yang indah. "Aku tidak pernah tau kalau kakakku terlibat dalam geng motor."


Kemudian, gadis itu berdiri dan berjalan menghampiri kamar operasi. Aletta berharap semoga kakaknya dapat di selamatkan.


Satu jam berlalu,


Dua jam sudah terlewati,


Hingga tiga jam, dokter yang mengoperasi Arsen belum juga keluar dari kamar operasi. Apakah separah itu? Pikiran Aletta sudah berlarian ke sana ke mari. Dia takut kalau kakaknya tidak selamat. Dia akan menjadi sebatang kara di dunia ini.

__ADS_1


Aletta pun menangis kembali. "Kakak, kalau kakak mati, Aletta ikut,"


Operasi yang dilakukan kepada Arsen sudah berlangsung selama 8 jam lebih, sampai akhirnya dokter keluar dari kamar operasi dengan wajah lelah.


Aletta segera berdiri menghampiri dokter tersebut. "B-, bagaimana kakak saya, Dok? Apakah masih hidup?"


Dokter itu menggelengkan kepalanya. "Kami sudah melakukan semaksimal mungkin dan, ...."


Aletta jatuh ke lantai begitu dokter mengatakan itu. Dia sudah tidak sanggup menahan kesedihannya lagi, apalagi untuk mendengar berita kematian kakaknya.


Beberapa orang perawat berlari dan menggotong Aletta ke kamar rawat. Gadis itu diberikan pertolongan pertama serta dipasangi selang infus, mengingat dari pagi gadis itu belum memasukan apa pun ke dalam perutnya.


"Untunglah, hampir saja kita kehilangan dua orang hari ini," kata perawat itu.


"K-, kakak saya tidak selamat?" tanya Aletta, air matanya mengalir dan membasahi kedua pipinya.


Perawat itu tersenyum. "Semoga kakakmu cepat sadar. Operasi sudah selesai, hanya saja kakakmu belum sadar. Kau harus kuat, ya,"


Aletta mencabut infusan yang menempel.di punggung tangannya. "Aku mau lihat kakakku! Kalau kakak mati, aku juga mau ikut! Aku tidak mau sendiri, Suster! Di mana kakakku?"


Perawat-perawat itu berusaha menenangkan Aletta dan memasangkan kembali infusannya. Namun, Aletta terus memberontak dan menangis meraung-raung. "Lepas, Suster! Aku mau mati saja! Aku mau menyusul keluargaku! Suster, tolong! Aku mau ikut mereka mati! Suster! Kakak!"


Setelah itu, Aletta tidak tau apa yang terjadi. Karena detik itu juga, seorang dokter datang dan menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Aletta dan membuat gadis itu tertidur.


Raline terkesiap mendengar cerita Aletta. Dia memeluk gadis itu dan mendekapnya erat. "Aku tidak pernah tau ada kejadian seperti itu. Seharusnya aku mencari tau. Maafkan aku,"


"Tidak apa-apa, Nona. Kalau dipikir-pikir, lebih baik saat itu kakakku tidak perlu bangun, karena dia akan menderita seumur hidup. Begitu dia sadar, dia lupa dengan dirinya sendiri dan selalu berteriak setiap ada orang asing datang. Semua barang dia lemparkan dan dia mengamuk serta marah sejadi-jadinya," tutur Aletta lagi dengan suara tercekat.


Raline mengusap air matanya. "Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah sembuh?"


Aletta menggelengkan kepalanya. "Dokter bilang, kakakku belum ada perkembangan. Jadi, kondisinya masih seperti itu. Hanya saja saat ini, dia sudah jauh lebih tenang dan harus minum obat setiap selama hidupnya,"


"Oh, Aletta," Raline kembali memeluk Aletta dan membelai rambut gadis itu, seperti seorang kakak menghibur adiknya yang sedang sedih.


"Boleh aku bertemu dengan Arsen?" tanya Raline lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2