
*Bab 27*
"T-, tidak boleh! Kau harus pulang!" tukas Aletta dan mendorong tubuh Dioneel untuk segera keluar dari rumahnya.
Dioneel tertawa dan menahan dorongan dari gadis bertubuh mungil itu dengan memeluknya. "Hahaha! Kau sudah berjanji Aletta. Kalau ini selesai, kau bersedia menghabiskan malam denganku dan melanjutkan kau tau, ...," Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik, "Melanjutkan malam itu di mobil,"
Wajah Aletta menjadi semerah tomat. Ya, dia ingat sekali kejadian malam itu. Di mana dia berpagutan panas dengan Dioneel dan ketika dia menginginkan lebih dari itu, pria brengsek yang sedang menyeringai ini menghentikannya.
Aletta menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "T-, tidak! Aku tidak mau melanjutkan itu! Kau brengsek, Dioneel!"
"Hahaha! Baiklah, aku hanya meminta ini darimu, ...." Rain mengambil alih benda kemerahan yang sibuk mengomel itu dan memagutnya dengan lembut.
Dalam hitungan detik, Aletta sudah jatuh dalam pagutan panas Dioneel. Selagi mereka asik berpagutan, Kenzie tiba-tiba saja masuk ke dalam dan dia tertegun menyaksikan Aletta dan Dioneel sedang dalam posisi menempel seperti itu. "Ehem! Puanas sekali di dalam sini! Hadeeuuhh! Arsen, aku datang!"
"Kenzie!" seru Arsen dan saking senangnya dia tak sengaja membanting pintu kamarnya sendiri. "Kenzie datang!"
Aletta segera mendorong Dioneel dan mengusap bibirnya. "Ehem, benar kata Kenzie di sini panas sekali! Fuuuuhh!"
"Sampai besok, Cantik! Bro Arsen, gue balik!" seru Dioneel sambil melambaikan tangannya pada pria bertubuh kurus itu.
Selepas kepergian Dioneel, Kenzie menghampiri Aletta yang masih memegangi bibirnya. Ciuman Dioneel masih terasa lembut dan membekas di sana.
"Ta, boleh tanya?" tanya Kenzie.
Aletta tersadar dan menjawab pertanyaan Kenzie dengan sedikit terbata-bata. "Eh, oh, sorry. Kenapa, Ken?"
"Ngga apa-apa. Cuma mau nanya, apa hubunganmu dengan Dioneel? Maaf, karena aku tadi mengganggu kalian," tanya Kenzie yang sekarang merasa sungkan dan malu karena masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Hanya dengan pertanyaan seperti itu saja, wajah Aletta kembali terasa panas dan memerah. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Dioneel,"
Kenzie tidak percaya, lagipula tatapan mata Aletta saat menjawab pertanyaannya itu berlarian seolah-olah menghindari tatapan mata Kenzie. "Lalu? Tadi itu apa?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa! Jika kau bertanya kepadaku, aku juga tidak paham, Kenzie! Tapi, Dioneel mampu meluluhlantakkan duniaku, dia bisa mewarnai hidupku, Ken. Dan setiap kali aku berada di dekatnya, entah mengapa aku berdebar-debar dan aku merasa senang," jawab Aletta.
Ucapan Aletta inilah yang membuat Kenzie akhirnya sadar kalau gadis itu menyukai Dioneel. Yang menjadi masalah saat ini adalah, Kenzie sudah menyimpan perasaan suka kepada Aletta sejak lama dan kali ini, dia tidak ingin membuang kesempatan untuk mengungkapkan rasa cintanya.
Bagaimana caranya masuk ke dalam hati Aletta dan membuang Dioneel yang sudah menjajah hati gadis itu? "Aarrgghhh!" Kenzie mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau bertanya seperti itu? Dan kenapa juga kau tampak kesal dan frustrasi begitu?" tanya Aletta memperhatikan sahabat laki-lakinya itu.
Kenzie mengepalkan kedua tangannya. "Aarrggh! Apa kau benar-benar tidak tau apa yang kurasakan?"
Aletta menggelengkan kepalanya polos, wajahnya yang cantik menjadi semakin menggemaskan. "Aku tidak tau. Kau merasakan apa?"
"Aarrgghh! Kau tidak peka, Letta! Sudahlah!" Kenzie keluar dari rumah itu dengan membanting pintu rumah kontrakan Aletta.
"Loh? Hei, Kenzie! Kau kenapa?" Aletta menyusul Kenzie yang pergi dengan kesal.
Aletta sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Kenzie dan apa yang menyebabkan Kenzie sampai semarah itu kepadanya.
"Pagi, Bro. Tumben ke sini? Ada apa?" tanya Dioneel ramah.
Kenzie yang sudah dikuasai api cemburu dan emosi sejak semalam, menekuk wajahnya menjadi beberapa lipatan. "Apa hubunganmu dengan Aletta? Kau menciumnya seolah dia milikmu? Sudahkah ada pengumuman terkait hubungan kalian secara resmi?" tuntut Kenzie.
Sejurus kemudian, Dioneel tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Kenzie yang dianggapnya lucu itu. "Hahaha! Astaga, Kenzie! Kau menyukainya? Oh, seharusnya aku tau itu, hahaha!"
"Ehem! Kalau begitu, maafkan aku!" wajah Dioneel berubah menjadi serius. "Kita sekarang saingan. Bersainglah dengan sportif dan sehat,"
Kenzie menganggukan kepalanya tanda setuju. Kemudian dia mengulurkan tangannya kepada Dioneel. Mereka pun saling berjabat tangan dan mengikrarkan janji. "Sehat dan sportif,"
Namun setelah mengucapkan hal itu, seperti anak kecil yang berebutan untuk mengambil mainan, mereka pun berebutan keluar untuk masuk ke dalam mobil dan menjemput Aletta.
Sepanjang perjalanan pun mereka saling mendahului dan menyusul. Jalanan pagi itu tampak seperti sebuah lintasan balap mobil bagi mereka berdua. Beruntunglah karena hari masih pagi, tidak banyak para pengendara yang memenuhi jalan besar tersebut, sehingga mereka dapat leluasa untuk saling susul menyusul.
__ADS_1
Begitu juga saat mereka tiba di kediaman Aletta. Mereka berdua saling berebut untuk masuk ke dalam dan menyapa ibu Lily serta Arsen.
"Pagi Ibu, pagi Arsen!" sahut mereka bersamaan.
Ibu pengasuh yang biasa merawat arsen itu pun tersenyum melihat semangat mereka berdua. "Sepertinya hari ini akan cerah. Karena melihat kalian bersemangat, matahari pun akan mengendurkan sedikit teriknya,"
"Hahaha!" lagi-lagi Dioneel dan Kenzie tertawa bersamaan.
"Aletta, Nak! Teman-temanmu sudah menjemput," ujar Ibu Lily dengan suara kerasnya.
Tak lama, terdengar suara wanita dari salah satu kamar. "Oke, aku keluar!"
Aletta pun keluar sambil membawa obat untuk Arsen dan dia pun tertegun melihat Kenzie dan Dioneel saling menghimpit di depan pintu. "Kenapa kalian tidak masuk saja? Aku masih mau memberikan obat ini kepada Arsen setelah itu, ayo, kita makan bersama!"
Sontak saja Dioneel dan Kenzie saling berebut kursi makan dan pada akhirnya, mereka membuat meja makan yang kecil itu terjungkir balik karena ulah mereka.
"Apa itu!" sentak Ibu Lily. Dia melihat ke arah ruang makan dengan tangannya yang masih berlumuran sabun cuci. "Apa yang kalian lakukan? Hei, rumah ini kecil, jadi tolong berhati-hatilah atau kalian akan merubuhkan rumah ini dan mengubur kami di bawahnya!"
Dioneel dan Kenzie merapikan meja dan kursi makan itu bersama-sama ke tempatnya semula sampai akhirnya, Bu Lily menyiapkan sarapan untuk mereka. "Makan dengan tenang! Tidak perlu berebutan!"
Seusai sarapan, lagi-lagi dional dan Kenzie saling berebut untuk mengajak Aletta masuk ke dalam mobil mereka. Kedua pria itu saling menarik tangan kanan dan kiri Aleta hingga akhirnya gadis itu pun marah dan kesal.
"Apa, sih! Kalian kenapa! Tanganku sakit, tau! Aku pergi sendiri saja!" tukas Aletta sambil menghentakkan kedua tangannya.
"Aletta, aku akan mengantarmu!" balas Dioneel dan dia menghadang langkah Aletta.
Begitu pula dengan Kenzie, seakan tidak mau kalah, pemuda itu pun berdiri di hadapan Aletta. "Aku yang akan mengantarmu,"
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian saling berebut seperti ini?" tanya Aletta.
"Karena aku menyukaimu!" jawab Dioneel dan Kenzie bersamaan.
__ADS_1
***