Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 26


__ADS_3

"Akhh? Sial!"


Bughh!


"Kenapa akhirnya jadi seperti ini sih?!" teriak Dioneel dengan kembali memukul setir mobilnya sendiri.


Selepas dari acara persidangan selesai, Dioneel memang tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Saat ini lelaki itu memang benar-benar merasa bersalah, karena tak bisa menempatkan ucapannya pada Aletta yang ingin mencari keadilan untuk sang kakak.


Bughh!


"Bodoh banget sih! Bisa-bisanya kemarin aku percaya dengan kata-kata Max begitu saja!" lanjut lelaki itu kembali dengan menyalahkan dirinya.


Satu tangan Dioneel kembali terangkat ingin meninju setir mobilnya, akan tetapi sayang hal itu tak sampai terjadi. Dengan cepat Aletta menahannya, dan segera membuat lelaki tersebut menghadap sepenuhnya ke arah dirinya.


"Cukup, Dion! Seperti yang tadi aku bilang, ini semua bukan salahmu!" tekan Aletta sambil menatap lurus ke arah manik mata yang nampak enggan bertemu langsung dengan dirinya.


"Kita semua udah berusaha, Dion. Aku, kamu, dan Kenzie, semuanya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus ini! Tapi kalau hasil akhirnya sudah seperti ini, mau diapakan lagi? Kita enggak bisa merubah keputusan hakim begitu saja, Dion," lanjut Aletta, hingga membuat Dioneel menatapnya.


Apa yang dikatakan oleh Aletta memang benar adanya. Semuanya telah terlanjur terjadi, sehingga kini tak ada lagi banyak hal yang bisa Dioneel perbuat untuk mengubah semuanya. Kalaupun ada, itu pasti tidaklah dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Semua itu butuh usaha dan waktu yang lebih banyak lagi, karena ia harus mengumpulkan banyak bukti yang lebih kuat lagi tentang semuanya.


"Aku enggak apa-apa, Dion. Walau Axel enggak berhasil dinyatakan bersalah di pengadilan, tetapi seenggaknya gara-gara sidang ini aku jadi tahu siapa yang bersalah dengan Arsen. Di mataku, sekarang semuanya sudah jelas," tutur Aletta yang memaksakan dirinya untuk tersenyum, walau pandangannya terlihat sedikit berkaca-kaca.


Dioneel yang melihat tetesan air itu, dengan cepat langsung mengarahkan tangannya ke arah sana. Ia mengusap dengan pelan air mata Aletta, hingga akhirnya bergerak sedikit maju guna mengecup kening gadis cantik tersebut.


"Aku janji akan mengungkap semua kecurangan ini, Aletta! Aku akan melakukan hal itu untukmu, dan juga Arsen sahabatku!"


Aletta mengangguk, dan bergerak maju mengecup pipi lelaki itu. Tindakannya yang amat tiba-tiba, cukup membuat Dioneel sedikit terkejut. Hingga pemimpin Death Squad itu hanya bisa terdiam, sambil memegangi salah satu pipinya yang baru saja dikecup.


"Itu sebagai tanda terima kasihku atas segala usahamu yang ingin mencari keadilan untuk kakakku," ucap Aletta dengan kedua pipinya yang bersemu merah.


"Dan untuk mengungkap semua kecurangan di persidangan tadi, aku rasa kita tidak perlu terlalu terburu-buru. Biarkan saja ini berjalan sementara waktu, seperti apa yang mereka harapkan. Hingga nanti di saat mereka lengah, barulah kita bergerak untuk menghancurkannya," lanjutnya yang seketika membuat Dioneel menatapnya dengan penuh kagum.


"Kau benar-benar sungguh berbeda, Aletta! Aku jadi semakin kagum padamu!"


Setelahnya, Aletta dan Dioneel pun pergi menemui Arsen. Mereka jalan berdua saja, karena Kenzie sudah lebih dulu pulang semenjak pengadilan selesai. Katanya pengacara itu sedang sangat sibuk hari ini, sehingga tak bisa memiliki banyak waktu untuk berkumpul dengan Aletta dan juga Dioneel. Sementara untuk para anak-anak Death Squad, mereka kembali ke markasnya karena tak mau mengganggu kebersamaan Dioneel dan Aletta.

__ADS_1


"Aletta!"


Aletta cukup terkejut, karena melihatnya kakaknya yang keluar dan menyapanya dengan riang.


"Kok dia ada di sini lagi?" tanya Arsen dengan jari telunjuk yang mengarah lurus ke arah Dioneel.


"Iya, Kak. Katanya seharian ini dia mau main sama kakak, boleh 'kan?" ucap Aletta dengan lembut seraya menggenggam erat kedua tangan kakaknya itu.


Lama Arsen berpikir. Lelaki itu terus memperhatikan penampilan Dioneel dari atas sampai bawah, hingga akhirnya perlahan-lahan kepalanya pun bergerak mengangguk.


Aletta sungguh merasa lega, melihat Arsen yang mau kembali menerima kehadiran Dioneel. Ia pikir kakaknya itu akan lupa, atau kembali mengamuk seperti yang dulu.


"Baiklah, Kak. Kalau begitu, kakak dan Dioneel di sini dulu ya? Aletta mau ke dalam untuk menemui Ibu Lily dulu," tutur Aletta yang langsung pergi ke arah dapur dan meninggalkan Dioneel dan Arsen di ruang tengah rumahnya.


Untuk sesaat, kedua lelaki itu terlihat sama-sama terdiam. Mereka berdua saling melirik satu sama lain, hingga akhirnya Dioneel memutuskan untuk membuka suara lebih dulu.


"Aletta sangat baik ya?" ucap Dioneel sambil terus memandangi sahabat yang dulu sering sekali diajaknya bercanda itu.


Arsen mengangguk, sambil terus memainkan gulungan benang yang ada di tangannya. Ia terus memutar-mutarnya sampai menjadi sebuah gulungan yang cukup besar, hingga akhirnya berpindah tempat untuk berhadapan langsung dengan Dioneel secara sepenuhnya.


"Iya, Aletta baik! Arsen sangat sayang padanya! Aletta perhatian dan tulus sama Arsen, Arsen suka! Arsen mau selamanya ada di dekat Aletta dan Arsen juga enggak mau lihat Aletta sedih!" ungkap Arsen dengan polosnya, tetapi terdengar sangat sungguh-sungguh.


Walau dalam keadaannya yang seperti ini, tetapi Arsen terlihat sangat tak main-main dengan ucapannya. Lelaki itu terlihat menyampaikan dengan tulus apa yang dirasakan oleh hatinya, hingga membuat siapa pun yang masih mempunyai hati merasa tersentuh.


"Arsen suka lihat Aletta punya teman, tapi kadang Arsen juga takut!"


"Kenapa harus takut?" tanya Dioneel sambil menyeka cepat air matanya.


"Kadang Arsen takut, kalau Aletta dapet teman orang jahat! Arsen enggak mau ada yang jahat sama Aletta!" jawab Arsen dengan dahi yang terlihat menekuk ke dalam.


Terdengar ada nada emosi dari dalam sana. Dioneel paham, pasti sebagai seorang kakak Arsen juga memiliki sebuah insting untuk menjaga adiknya.


"Kau tenang aja, Bro! Aku akan pastiin, kalau Aletta akan berada di sekitar orang-orang yang baik!"


"Bro? Bro Dioneel janji?" ucap Arsen sambil mengerjap tak percaya.

__ADS_1


"Iya! Aku janji!"


Tanpa basa-basi lagi, akhirnya Arsen pun tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya. Dengan segera kakak lelaki dari Aletta itu memeluk tubuh Dioneel, hingga hampir saja membuat pemimpin Death Squad tersebut terjatuh ke belakang.


Sungguh, sudah lama sekali Dioneel tidak pernah merasakan pelukan hangat dari Arsen seperti ini!


Rasanya terasa campur aduk sekarang. Antara senang, sedih, terharu, semuanya bersatu-padu, hingga tak mampu Dioneel jabarkan dengan kata-kata lagi.


"Wih, ada apa nih? Kok pakai peluk pelukan segala?" kata Aletta yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa dua cangkir air putih dan juga satu bungkus makanan ringan yang ada di dalam kulkasnya.


Di dalam hati, Aletta sungguh sangat merasa bahagia melihat Arsen yang sudah kembali akrab dengan Dioneel. Mudah-mudahan saja dengan seperti ini, kakaknya itu bisa semakin cepat sembuh hingga kembali menjadi seperti Arsen yang dulu.


"Sekarang aku dan Arsen sudah menjadi teman, Aletta! Bagaimana, apakah kita berdua cocok?" ucap Dioneel sambil tersenyum lebar pada Aletta.


"Teman? Iya! Teman! Aletta! Ayo, kita bertiga berpelukan! Kita bertiga sekarang berteman!" timpal Arsen dengan bersorak-sorai kegirangan.


Aletta yang melihat hal itu, kini pun akhirnya melangkah maju. Ia berdiri tepat di hadapan sang kakak dan juga Dioneel, hingga akhirnya bibirnya tersenyum ketika matanya memandangi mereka berdua secara bergantian.


"Ya sudah, ayo kita berpelukan!" ajak Aletta dengan riang sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Tanpa menunggu lama, Arsen dan Dioneel pun langsung menyerbu Aletta dengan pelukannya. Kini mereka bertiga saling berpelukan, dengan senyum bahagia yang tercetak jelas di wajah mereka. Hingga akhirnya sama-sama tertawa dengan riang, ketika mereka bertiga tak sengaja terjatuh.


Brukk!


"Hahahaha! Arsen senang! Arsen punya teman sekarang!" teriak kakaknya Aletta itu seraya kembali mengapit Aletta dan Dioneel dengan kedua tangannya.


Walau sedikit terjepit, tapi akhirnya Aletta dan Dioneel bisa ikut tertawa juga. Mereka berdua sama-sama menikmati momen ini, sampai akhirnya tiba-tiba saja Arsen beranjak dan mencari sesuatu dari dalam kamarnya.


"Thanks ya, Dion. Gara-gara kamu, aku jadi bisa lihat Kak Arsen tersenyum bahagia lagi," ucap Aletta tepat di samping telinga Dioneel.


Aletta ingin beranjak hendak kembali berdiri, akan tetapi dengan cepat Dioneel menahannya hingga membuat perempuan itu terjatuh tepat di hadapannya.


"Aku rasa simpan dulu ucapan terima kasihmu padaku, Aletta. Aku ingin kau menggantinya dengan cara lain," bisik Dioneel dengan tatapan tajamnya yang terus tertuju lurus ke arah perempuan cantik yang ada di hadapannya.


"Dengan cara lain? Apa maksudmu, Dioneel?"

__ADS_1


Dioneel nampak berpikir sejenak, hingga akhirnya ia maju mengecup sekilas bibir merah menggoda milik Aletta sebelum Arsen kembali.


"Bagaimana ucapan terima kasihmu itu diganti dengan memberikanku izin untuk bermalam di sini? Bagaimana, Sayang? Apakah boleh?"


__ADS_2