Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 15


__ADS_3

"Siapa dia, Aletta?" tanya Arsen sambil menunjuk-nunjuk takut ke arah Raline.


Malam itu, Aletta mengajak Raline ke rumah kontrakannya. Gadis itu berharap, Arsen akan mengingat Raline dan mengingat semua yang terjadi kepadanya. Tak dapat dipungkiri, Aletta menuntut sebuah keadilan bagi dia dan kakaknya. Harus ada yang bertanggung jawab dalam kasus ini.


Namun selama ini, Aletta tidak pernah berani untuk mencari kawanan geng motor sampai dia bertemu dengan Dioneel, yang ternyata ketua geng motor.


Entah apakah Dioneel ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Arsen atau tidak, tetapi Aletta perlu bertanya kepada pria itu.


Aletta tersenyum. "Ini Raline, temennya kakak. Kakak inget, ngga?"


"Temen Aletta, bukan temen Arsen!" jawabnya.


Raline tersenyum kepadanya, tetapi Arsen menutupi wajahnya dengan bantal. Aletta pun membiarkan mereka berdua saling berkenalan, sedangkan dirinya harus mengantarkan Ibu pengawas Arsen pulang.


"Non, tadi obatnya sudah di minum. Saya cek di bawah lidah, pinggiran pipi, aman! Hehehe!" ucapnya memberikan laporan.


"Ibu bisa aja. Syukurlah kalo dia bisa minum obatnya dengan baik," jawab Aletta. Kemudian dia menyisipkan segenggam uang kepada Si Ibu.


Ibu itu menolak dan mengembalikan uang tersebut. "Bekum gajian. Ngga usah! Non, harus beli obat Den Arsen, 'kan? Ngga usah! Ngga usah!"


"Bawa aja, kebetulan saya ada rezeki lebih. Anggap aja sebagai bonus. Rezeki ngga boleh ditolak, hehehe." sahut Aletta memaksa.


Dengan malu-malu, akhirnya Ibu itu mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dalam kantung celana. "Terima kasih ya, Non. Semoga rezekinya dilancarkan dan segala urusannya dipermudah,"


"Amin. Saya yang berterima kasih harusnya," ucap Aletta lagi.


Setelah mengantar Ibu pulang, Aletta kembali masuk ke dalam rumah dan melihat Raline yang terus memandangi sang kakak dari jauh dengan tatapan iba. Aletta tidak suka itu! Dia tidak senang jika ada seseorang yang menatap Arsen atau mereka berdua dengan tatapan kasihan. Akan lebih baik, jika orang-orang itu memberikan mereka motivasi dan semangat, bukan hanya memandang sedih dan mengasihani seperti itu.


"Raline," sapa Aletta.


Raline terkejut dan tersenyum. "Oh, sorry. Aku hanya sedih melihatnya,"


"Tidak perlu bersedih untuk kami. Kakakku tidak mengamuk atau melemparkan barang ke arahmu, itu udah progres yang sangat luar biasa," jawab Aletta.


Raline mengambil napas panjang dan menghembuskannya. "Benarkah? Apa mungkin dia mengingatku walaupun hanya sedikit?"


"Hmm, mungkin saja. Kau sudah mencoba mengajaknya berbicara?" tanya Aletta.


Raline menggelengkan kepalanya. Aletta kembali memanggil Arsen dan meminta kakaknya itu duduk bersama. "Coba saja,"

__ADS_1


"Halo, Arsen," sahut Raline sambil melambaikan tangannya kepada pria yang sedang menatapnya dengan tatapan ingin tau itu.


"Halo, teman Aletta," jawab Arsen singkat.


Aletta tersenyum sambil berbisik kepada kakaknya itu. "Itu teman Kakak, bukan temen aku. Tapi, sekarang aku sama Raline jadi temenan,"


Arsen menatap Aletta dalam-dalam. "Aletta pinjam?"


Aletta mengangguk lagi. "Iya. Boleh, ngga?"


"Boleh!" sahut Arsen tersenyum lebar.


Dengan takut-takut, Raline bertanya kembali, "Arsen, sudah makan?"


"Sudah," jawab Arsen, lagi-lagi dia memberikan jawaban singkat. Kali ini, wajahnya sedikit ditekuk.


Aletta tau apa sebabnya Arsen merajuk. Dia tidak suka diperlakukan seperti seorang anak kecil, walaupun Aletta memperlakukan dia seperti seorang adik kecil.


"Raline, bertanyalah yang sedikit susah," ucap Aletta tersenyum. "Dia tidak suka ditanya seperti itu. Biasanya perawat dan dokter yang bertanya tentang makan, mandi, atau minum obat. Jadi, kakakku menganggapmu seorang dokter ataupun perawat,"


"Okei," jawab Raline. Dia sekarang sedikit bingung apa yang harus dia tanyakan kepada Arsen. Pria itu kini banyak berubah. Kalau dulu, mereka tidak pernah kehabisa bahan pembicaraan, tetapi saat ini, dia tidak ingin membuat Arsen mengamuk atau marah.


Karena Raline tak kunjung bicara, Aletta pun bertanya kepadanya. "Kau tadi bilang, masalah ini hanya kau dan Dioneel yang tau. Misalnya, aku ingin menuntut keadilan, apakah masih bisa? Aku sudah punya teman pengacara yang berjanji akan membantuku,"


"Tadi kau bilang tentang Dioneel. Di mana posisi dia saat itu?" tanya Aletta.


"Saat itu dia sudah berada di markasnya. Pagi harinya aku datang ke markas untuk mencari Arsen, tapi aku malah bertemu dia yang sedang menangis. Ketika aku bertanya kepanya tentang apa yang terjadi, dia memelukku dan menceritakan segalanya. Dia mengatakan kalau ini kesalahan dia dan seharusnya dia melindungi Arsen bukan ikutan kabur," jawab Raline dengan suaranya yang getir.


Kini, mereka berdua memandang Arsen yang sedang menatap jendela sambil berbicara sendiri. Tidak ada yang dapat menangkap kata-katanya, karena Arsen berbicara dengan sangat cepat.


"Aku harus bertemu dengan Dioneel kalau begitu," ucap Aletta. "Maukah kau terus membantuku?"


Raline mengangguk mantap. "Tentu saja. Bagaimana pun juga, rasa cinta itu masih tertinggal di hatiku untuk kakakmu,"


Mendengar hal itu, Aletta memeluk erat wanita cantik yang ada di hadapannya itu. "Terima kasih banyak,"


Keesokan harinya, Raline mengirimkan pesan berupa ucapan semangat kepada Aletta dan dia juga mengirimkan sejumlah makanan serta uang kepada gadis itu.


Aletta mengembalikan uang itu dan mengatakan kalau dia tidak membutuhkan uang, dia hanya membutuhkanku dukungan dari seorang teman baik.

__ADS_1


Di hari itu juga, Aletta mengirimkan pesan kepada Dioneel untuk menemuinya sepulang dia kerja nanti. Setelah menitipkan Arsen kepada Ibu pengawas, Aletta pun pergi bekerja dengan tenang.


Selesai bekerja, mobil Dioneel sudah berada di depan showroomnya. "Hei, Cantik,"


"Hai," balas Aletta sambil masuk ke dalam mobil Dioneel.


Sore itu, Aletta mengajak Dioneel ke tempat yang sedikit tenang dan jauh dari keramaian. Jantungnya sudah berlomba-lomba untuk melompat, seakan ada sebuah pertandingan seru di dalam organnya.


Dioneel pun setuju, pria itu juga mengatakan ada yang ingin dia sampaikan kepada Aletta. Sepanjang jalan itu, tangan Dioneel tak pernah lepas dari tangan Aletta.


Pria itu terus menggenggam erat tangan wanita yang dia sukai sambil sesekali dia mengecup punggung tangan Aletta.


Mereka pun tiba di sebuah kedai kopi dengan taman yang mengelilingi tempat tersebut. Dioneel mengajak Aletta untuk masuk ke kedai itu.


Setelah memesan, Aletta pun mulai membuka percakapan di antara mereka. "Dioneel, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Aku harap, kau akan menjawabnya dengan jujur tanpa ada satu pun yang kau tutupi,"


"Apa itu?" tanya Dioneel.


"Kau harus mengucapkan janjimu dulu!" tukas Aletta menegaskan.


Dioneel tersenyum. "Baiklah, tapi setelah ini, kau juga harus berjanji padaku untuk menjawab dengan jujur juga. Deal?"


Aletta mengangguk. "Deal,"


"Oke, aku berjanji akan menjawab pertanyaanmu dengan jujur. Nah sekarang, apa pertanyaanmu?" tanya Dioneel.


Aletta memejamkan matanya sesaat dan menarik napas panjang untuk mengumpulkan oksigen yang tiba-tiba saja berkurang. "Arsen, kau pernah mendengar nama itu?"


Dioneel tersentak. Dia menatap Aletta lekat-lekat. "Darimana kau tau nama itu?"


"Jawab dulu pertanyaanku! Apa kau pernah mendengar nama itu? Atau mungkin, pertanyaanku harus diganti. Apa kau mengenal Arsen?" tanya Aletta sedikit mendesak.


Dioneel mengangguk perlahan. "Ya, aku mengenalnya,"


"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Aletta lagi. Kedua maniknya mengunci netra Dioneel.


"Teman. Kami berteman baik. Apa kau mengenal Arsen?" Dioneel balik bertanya.


Aletta pun mengangguk. "Ya, dia kakakku,"

__ADS_1


"Apa!" tukas Dioneel tak percaya.


***


__ADS_2