Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 48


__ADS_3

Aletta baru saja bersiap-siap untuk berangkat kerja pagi itu. Dia mengenakan pakaian profesionalnya, memeriksa tas kerjanya, dan mengambil kunci mobilnya. Namun, sebelum dia sempat mengunci pintu kamar, pintu itu tiba-tiba terbuka, dan Dioneel melangkah masuk dengan langkah mantap.


"Dioneel?" seru Aletta kaget sambil menoleh ke arah pintu. "Kamu ngapain di sini? Aku baru mau pergi kerja."


Dioneel tersenyum dan melangkah mendekati Aletta dengan tatapan penuh nafsu. Tanpa berkata sepatah kata pun, dia memegangi pinggang Aletta dan memutar tubuh wanita itu. Aletta merasa jantungnya berdetak kencang, tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini pagi ini.


"Dioneel, apa yang kamu lakukan?" bisik Aletta, wajahnya memerah dan napasnya terengah-engah.


Dengan mata yang dipenuhi hasrat, Dioneel memeluk Aletta erat dan mendekatkan bibirnya ke bibir wanita itu. Dia menciumnya dengan penuh gairah, memagut bibir Aletta dengan sepenuh perasaan. Aletta yang merasakan kehangatan dan kelembutan bibir Dioneel, tak bisa menahan diri untuk menikmati momen ini.


"Aletta," desah Dioneel dengan suara serak. "Aku tak tahan lagi. Aku rindu padamu."


Sementara masih dalam pelukan dan ciuman yang penuh gairah, Aletta membalas dengan suara parau, "Aku juga merindukanmu, Dioneel. Tapi kita tidak bisa terus begini. Aku harus pergi kerja."


Dioneel melepaskan pelukannya perlahan dan menatap mata Aletta dengan penuh kasih sayang. "Aku tahu, sayang. Aku hanya tidak bisa menahan diri saat melihatmu. Maaf, aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu."


Aletta mencoba menenangkan diri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat momen tadi. "Kita harus berbicara tentang ini nanti, Dioneel. Saat aku pulang kerja, kita akan duduk dan bicara dengan tenang. Tapi sekarang, aku benar-benar harus pergi."


Dioneel mengangguk mengerti. "Baiklah, aku akan menunggu kamu pulang. Aku janji kita akan membicarakannya."


Aletta tersenyum lembut, merasa hangat di dalam dadanya karena cinta yang masih menyala di antara mereka. Dia mengambil kunci mobilnya lagi dan melangkah ke pintu. "Sampai nanti, Dioneel. Aku akan segera kembali."


Dioneel mengulurkan tangannya dan mengecup lembut punggung tangan Aletta. "Hati-hati di jalan, sayang. Aku akan selalu menunggumu."


Dengan senyuman di wajahnya, Aletta keluar dari kamar dan menuju mobilnya. Meski hatinya masih terasa berdebar-debar akibat momen tadi, dia yakin mereka akan menemukan jalan untuk menghadapi perasaan yang begitu kuat di antara mereka. Saat ini, dia harus fokus pada pekerjaannya, tapi dia tahu bahwa saat pulang nanti, mereka akan menyelesaikan semua yang perlu mereka bicarakan.

__ADS_1


Setelah Aletta berangkat dengan mobilnya, Dioneel melihatnya pergi dengan penuh harap dalam hati. Dia tahu bahwa momen ini adalah saat yang tepat untuk berbicara dengan Arsen, kakak Aletta, dan meminta restu untuk melamar adik perempuannya.


Dengan langkah mantap, Dioneel mencari Arsen yang biasanya berada di ruang keluarga. Dia menemukan Arsen sedang duduk di sofa sambil membaca buku. Dengan sedikit gemetar, Dioneel menghampiri Arsen.


"Arsen, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Dioneel dengan suara tegar.


Arsen mengangkat kepalanya dari buku dan memandang Dioneel dengan kejutan. "Apa yang terjadi, Dioneel? Kamu terlihat serius."


Dioneel menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Sudah lama aku dan Aletta menjalin hubungan yang serius. Aku sangat mencintainya dan ingin menjadikannya istriku. Aku ingin meminta restu darimu untuk melamar Aletta."


Arsen terdiam sejenak, matanya memperhatikan ekspresi Dioneel dengan serius. Setelah beberapa detik, dia menghela nafas panjang.


"Dioneel, kamu tahu bahwa Aletta adalah adikku yang sangat ku sayangi," kata Arsen dengan lembut. "Aku hanya ingin yang terbaik baginya. Apa kamu yakin bahwa kamu benar-benar siap untuk menjalani kehidupan bersama Aletta? Pernikahan bukanlah perkara sepele."


Dioneel menatap mata Arsen dengan tulus. "Arsen, aku benar-benar mencintai Aletta. Aku siap untuk menghadapi semua tantangan dan menjaga kebahagiaan kami bersama. Aku akan menjadi suami yang setia, pendamping yang berdedikasi, dan ayah yang baik bagi anak-anak kami kelak."


Dioneel merasa lega mendengar kata-kata tersebut. Dia menghela nafas dengan lega dan tersenyum.


"Terima kasih, Arsen. Aku berjanji untuk selalu menjaga dan melindungi Aletta sepanjang hidupku. Aku akan membuktikan bahwa keputusan ini adalah yang terbaik bagi kami berdua."


Arsen mengangguk puas. "Aku percaya padamu, Dioneel. Jaga Aletta dengan baik, dan pastikan kalian berkomunikasi dengan baik. Semoga kalian berdua menemukan kebahagiaan sejati bersama."


Dioneel merasa ringan hati setelah mendapatkan restu dari Arsen. Dia menyadari bahwa tanggung jawabnya semakin besar, tetapi dia berjanji untuk tidak pernah mengecewakan Aletta dan keluarganya.


Dengan harapan dan keyakinan dalam hati, Dioneel memutuskan untuk segera merencanakan lamaran yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

__ADS_1


Dioneel tidak ingin mengambil langkah ini secara sembarangan. Dia ingin momen lamaran mereka menjadi sesuatu yang istimewa dan tak terlupakan bagi Aletta. Dengan penuh antusiasme, Dioneel mulai menyusun rencana untuk mengubah rooftop menjadi tempat yang romantis.


Dioneel langsung menghubungi sebuah tempat penyewaan dan berhasil memesan rooftop yang memiliki pemandangan kota yang indah. Dia membicarakan dengan staf pengelola tempat tersebut untuk mendekorasi rooftop sesuai dengan tema romantis yang ingin dia ciptakan.


Dioneel memilih bunga-bunga yang disukai Aletta dan meminta agar taman kecil yang indah diletakkan di pojokan rooftop. Dia memilih bunga-bunga mawar merah, simbol cinta yang tak tergoyahkan, untuk melambangkan perasaan cintanya yang mendalam. Setiap detailnya dipikirkan dengan cermat, termasuk pencahayaan yang lembut dan hiasan-hiasan kecil yang akan memberikan nuansa romantis.


Selain itu, Dioneel juga merencanakan untuk menyajikan makan malam spesial di rooftop tersebut. Dia memilih menu-menu favorit Aletta dan memesan makanan dari restoran terdekat yang terkenal dengan cita rasanya.


Dioneel ingin memastikan bahwa semuanya sempurna untuk malam yang bersejarah ini.


Dioneel juga meminta bantuan dari beberapa teman dekatnya untuk membantu mengatur segala sesuatu dengan rapi. Mereka akan mengatur kursi-kursi dan meja-meja dengan cantik, serta membantu dengan segala detail teknis lainnya untuk memastikan semuanya berjalan lancar.


Saat malam lamaran tiba, Dioneel sangat gugup namun juga penuh semangat. Dia berdoa agar semuanya berjalan sesuai rencana dan bahwa Aletta akan menerima lamarannya dengan sukacita.


Ketika Aletta tiba di rooftop, dia terkejut melihat perubahan yang begitu menakjubkan. Bunga-bunga yang harum bertebaran di sekitar mereka, pencahayaan lembut memberikan nuansa romantis, dan makan malam yang lezat menanti mereka di meja yang terhias indah. Aletta takjub melihat keromantisan yang disiapkan Dioneel untuknya.


Dioneel, yang memakai jas dengan hati berdebar, menghampiri Aletta dengan lembut. Dia mengambil tangan Aletta dan memandangnya dengan penuh cinta.


"Aletta, kamu adalah cinta sejatiku, pasangan hidupku, dan orang yang membuat hidupku lengkap. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu. Maukah kamu menikah denganku?"


Aletta, dengan mata berkaca-kaca, tersenyum lebar. "Ya, Dioneel! Ya, aku mau menjadi istrimu!"


Dengan suara riuh rendah, teman-teman mereka yang membantu merayakan momen tersebut. Mereka bangkit dari persembunyian dan memberikan selamat kepada pasangan itu. Mereka merayakan kebahagiaan Dioneel dan Aletta, menambah keceriaan malam itu.


Dioneel dan Aletta berpelukan erat, merasakan kebahagiaan yang tak terkatakan. Mereka tahu bahwa momen lamaran ini adalah awal dari perjalanan mereka sebagai pasangan yang saling mencintai dan mendukung satu sama lain.

__ADS_1


Malam itu, di bawah langit berbintang yang bersinar terang, Dioneel dan Aletta merayakan cinta mereka dengan tawa, canda, dan janji-janji abadi yang diucapkan di antara mereka. Mereka telah menemukan cinta sejati, dan perjalanan mereka bersama sebagai suami istri telah dimulai dengan indahnya.


__ADS_2