
Pagi itu, Dioneel sudah berada di markas besar Death Squad. Dia memberitahukan kepada Javas dan yang lainnya tentang rencana yang akan dia jalankan bersama Kenzie dan Aletta.
"Kita ngga ada waktu untuk nyelidikin Max, Bos. Ini akan sulit. Lagipula, aneh sekali jika kita datang gitu saja. Ya, 'kan?" tanya Javas, sambil menghirup vape-nya dalam-dalam.
Dioneel mulai menyerah. Meminta Max untuk menjadi saksi baginya sama seperti menegakkan benang basah. Tidak mungkin! "Kira-kira, apa yang akan di minta oleh Max?"
Javas dan Kevin menggelengkan kepalanya sekaligus mengangkat bahu mereka. "Bisa apa saja dan nilainya akan besar sekali,"
"Pembagian kekuasaan, uang, apalagi?" tanya Dioneel.
"Wanita, mungkin! Hahaha! Gue inget banget waktu pertama kali dia memandang Aletta. Matanya benar-benar mengerikan!" ucap Javas.
Dioneel mengangguk-angguk. "Gue akan siapin semuanya. Gue minta lo berdua ikut gue, tapi Pietro, no! Kita akan simpan dia,"
"Oke!" sahut Javas dan Kevin bersamaan.
Maka, Dioneel menghubungi asistennya untuk menyiapkan beberapa orang gadis muda cantik yang diambil dari klub malam langganan Dioneel.
Dioneel meminta kepada asistennya untuk mengantarkan gadis-gadis muda itu ke markas besar Shadow Speed. Tak hanya gadis muda, Dioneel juga mengirimkan satu krat minuman keras beralkohol serta beberapa botol red wine dan white wine.
"Aarrgghh! Aku bangkrut!" tukas Dioneel sambil menggebrak meja kerjanya. "Awas aja kalo Max batal jadi saksi! Akan kupotong leher pria itu!"
Dioneel memberikan kabar kepada Aletta serta Kenzie dan mengatakan kalau dia sedang berusaha untuk mendekati Max.
("Benarkah? Kau baik sekali, Dioneel,") puji Aletta dalam pesannya.
Timbul niat iseng di benak Dioneel, dengan tersenyum licik dia membalas pesan Aletta. "Ya dan aku harap kau mau mengganti semua pengorbananku dengan bermalam bersamaku dua malam berturut-turut, hahaha!"
Aletta tidak membalas pesannya dan Dioneel mencebik kesal. "Akan aku dapatkan kau, Aletta! Lihat saja!" ujarnya bermonolog sambil tersenyum.
Beberapa jam kemudian, asisten pribadi Dioneel menelepon pria itu dan berikan kabar bahwa apa yang dia minta sudah disiapkan dan menunggu perintah darinya untuk segera diantarkan.
__ADS_1
"Oke, aku akan mengawal mereka! Antarkan ke alamat yang ada di pesanku!" titah Dioneel.
Selagi mobil berisi para gadis serta hadiah untuk Max berangkat, Dioneel pun menyiapkan kendaraan roda duanya dan dia menelepon Javas serta Kevin untuk berjalan bersamanya.
Mereka bertiga bertemu di satu titik yang telah mereka sepakati dan kemudian mereka berjalan bersama menuju markas besar Shadow Speed.
Tak lama, mereka sudah sampai di sebuah rumah kecil. Di depan rumah itu terdapat seperti warung yang menjual berbagai macam merek rokok serta minuman keras dan makanan.
Ketika Dioneel datang, Max dan kawan-kawannya sudah menyambut mereka dengan seringai lebar. Wajahnya tampak puas dan senang.
"Bos Dioneel," sapa Max sambil membungkuk hormat sedalam-dalamnya kepada Dioneel.
Dioneel membalas salam itu dengan membungkuk dan menempelkan tangan kanannya di dada kiri. "Bro Max, apa kabar?"
Max tertawa. "Hahaha! Dengan segala hadiah menyenangkan yang kau kirimkan kepada kami, itu membuat kabar kami jauh lebih baik, Bos Dioneel,"
"Syukurlah kalau kau suka," kata Dioneel lega. Dia khawatir jika Max akan menolak segala hadiah yang telah dia kirimkan untuk pemuda itu.
Max merangkul pundak Dioneel dan menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah yang penuh sesak itu. Para gadis yang tadi diantarkan oleh asisten pribadi Dioneel, sudah mulai beraksi. Beberapa pria memandangi gadis-gadis itu dengan tatapan lapar.
Seorang gadis mendekati mereka dan duduk menyamping di pangkuan Max. Gadis dengan pakaian tube berwarna hitam serta celana pendek berbahan jeans itu mulai menyentuh dan meraba setiap jengkal tubuh Max.
"Aku ingin meminta bantuanmu," jawab Dioneel tanpa basa basi. Dia tidak ingin membuang waktu karena mereka hanya memiliki waktu kurang dari 48 jam.
Max menunda jawabannya karena bibirnya asik berkelana di leher gadis itu. Setelah puas, dia menyeringai lebar dan menanggapi pernyataan Dioneel. "Bantuan berupa apa tepatnya? Kalau aku lihat dari banyaknya hadiah yang kau kirimkan kepadaku, bantuan yang kau minta untuk aku lakukan tampaknya cukup berat,"
"Jadilah saksiku," pinta Dioneel.
Kedua alis Max saling bertautan. "Saksi untuk apa?"
Dioneel menatap Javas dan Kevin dan mereka mengangguk. Dioneel berpikir kalau mereka tidak perlu menyembunyikan tentang Axel dan persidangannya kepada Max. Maka, Dioneel menceritakan segalanya, tetapi dia tidak menyebutkan sama sekali tentang Arsen.
__ADS_1
"Gadis cantik berbodi seperti gitar Spanyol itu ternyata adik Arsen? Jodoh tidak lari ke mana, hahaha! Lalu, posisi Axel sekarang kalah atau menang?" tanya Max lagi sambil menyeringai lebar. Tatapan mata Max sudah tidak lagi pada Dioneel, melainkan pada gadis yang duduk di pangkuannya, sementara kedua tangannya sibuk meremmas salah satu gundukan padat milik gadis itu.
"Dia membayar hakim. Itu sebabnya kami mencari bukti yang lebih kuat dan kami membutuhkan kesaksianmu," ucap Dioneel.
Max tertawa. "Kau cantik sekali, Manis," katanya pada gadis itu, sambil terus memainkan bola padat yang merekah itu, Max berusaha keras memusatkan konsentrasinya pada Dioneel. "Kau butuh kesaksianku? Supaya Axel bersalah dan dijebloskan ke dalam penjara? Begitukah?"
Pria itu melepaskan mainannya dan mengusap dagu dengan memakai tangan yang tadi dia pakai untuk bermain. "Hmmm, aku suka dengan pola pikirmu, Dionnel. Aku akan menbantumu, dengan syarat, setiap bulan kau akan memberiku ini semua. Seperti hari ini,"
"Kapan sidang selanjutnya?" tanya Max.
"Besok. Aku setuju!" jawab Dioneel sekaligus menyanggupi permintaan Max.
Max mengulurkan tangannya kepada Max dan perjanjian pun sudah disepakati. Namun, Dioneel tidak percaya begitu saja, dia memberikan dokumen yang harus ditandatangani oleh Max bahkan harus di cap dengan ibu jari mereka.
"Untuk apa ini?" tanya Max sambil membaca dokumen itu. "Kau gila! Aku harus mengembalikan pemberianmu sebanyak tiga kali lipat? Beserta dengan daerah kekuasaan yang sudah kau berikan kepadaku? Licik sekali!"
"Liciklah seperti seekor serigala, cerdaslah seperti seekor ular, dan bergerak cepatlah seperti seekor cheetah," jawab Dioneel. "Kau sudah menikmati semua pemberianku hari ini dengan begitu, kau sudah harus membantuku atau kau wajib mengembalikan semua biaya yang sudah kukeluarkan untukmu sebanyak tiga kali lipat! Silahkan tandatangan di sini,"
Dengan menggumam kesal, Max mengambil pulpen dan menandatangani dokumen tersebut. "Sudah! Bukan berarti kita berteman! Aku hanya tidak ingin rugi!"
Dioneel memeriksa kembali dokumen yang sudah bertandatangan itu. "Oke, sah! Hahaha! Senang berbisnis denganmu, Maxwell,"
"Cih!" tukasnya.
"Silahkan lanjutkan acara pesta kalian, aku tidak akan menganggu," kata Dioneel. Mereka bertiga pun berpamitan dan pergi dari markas Shadow Speed dengan membawa senyum kemenangan.
Malam itu, Dioneel menjemput Aletta. Dia menceritakan segalanya pada gadis itu. Dan respon Aletta sungguh tidak mengecewakan Dioneel. Kedua mata bulat gadis itu melebar dan entah kenapa wajahnya menjadi sangat cantik.
"Benarkah? Semoga saja Kak Arsen akan segera mendapatkan keadilan," ucap Aletta sambil menautkan kedua tangannya.
"Pasti!" tanpa aba-aba, tanpa permisi, dan tanpa kata-kata cinta, Dioneel segera mengambil alih bibir merah Aletta dan memagutnya dengan panas.
__ADS_1
"Letta, kalau kau menang, ayo, kita berkencan," sahut Dioneel tegas.
***