Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 8


__ADS_3

Bab 8 Tentang Aletta


Dioneel bangun dari tidurnya dan segera melangkah ke kamar mandi. Wajah tampan itu kini menatap pantulan dirinya di cermin sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Raut wajah yang ketakutan itu kemudian dibasuhnya dengan air..


“Lu di mana Sen?” batin Dioneel sambil kembali membasuh lagi wajahnya beberapa kali.


Hampir setiap malam sejak insiden itu, tidak ada lagi malam tenang untuk Dioneel. Bayangan Arsen selalu membayanginya.


Dion kemudian melangkah ke arah ranjang di mana Aletta tertidur.


“Aletta?” Bola mata Dion membulat lebar sementara langkahnya kini langsung bereggas keluar dari kamar.


“Woy! Bangun! Ada yang liat Aletta gak?” Dion membangunkan semua orang di markas Death Squad itu dengan suara lantangnya.


Teman-temannya itu baru membuka mata, tentu saja mereka sangat bingung dengan pertanyaan Dion barusan.


“Shit! Molor aja kalian!” gerutu Dion sambil melangkah menuju kamarnya lagi.


Tangannya dengan cepat merai ponsel. Baru membukanya, terlihat sebuah pesan masuk dari Aletta.


GUE DIPANGGIL KE SHOW ROOM, TOLONG JANGN BIKIN MASALAH LAGI. GUE MASIH BUTUH KERJA


Sebuah pesan singkat dari Aletta itu menjawab ketidak hadiran Aletta saat ini di sana, tapi bukannya lega … Dion justru merasa kesal.


‘Argh!” Dion menggeram sambil menghempaskan tubuhnya menelungkup di ranjang.


“Wangi banget sih rambut lu Al!” batin Dion sambil terus menghirup bantal yang semalam tadi digunakan oleh Aletta untuk tidur.


Bau harum wanita itu memang sudah menjadi candunya belakangan ini. Kekonyolannya pun bertambah jadi karena kini Dion merasa selalu ingin bersama dengan Aletta.


“Gue harus buat Aletta di sini,” batinnya.


Dion kemudian tersenyum.


LU KESINI SEKARANG JUGA ATAU HUTANG LU JADI SEPULUH KALI LIPAT!


Sebuah pesan singkat sengaja dikirimkan Dion dengan bernada ancaman seperti itu. Dion tersenyum membayangkan bagaimana paniknya Aletta saat membaca pesannya itu.


Tapi sayangnya, sampai beberapamenit pesan Dion tersebut bahkan masih ceklis satu.


Dion mendengus kesal sambil bolak balik memeriksa ponselnya untuk memastikan jika saja Aletta membalasnya.

__ADS_1


Tak juga mendapatkan balasan, Dion kemudian memutuskan untuk menyusul Aletta ke showroom tempatnya bekerja.


Langkah Dioneel semakin dipercepat seolah tak mau ketinggalan sesuatu yang penting.


“Lu mau kemana Boss?” tanya Javas yang heran melihat Dion sudah mengenakan jaket lengkap dengan helm kesayangannya.


“Ada urusan! Jangan lupa, tunggu informasi dari MAX, gue gak mau mereka bikin ulah lagi!” ucap Dion kepada gengnya itu memberi pesan.


“Wokeh Boss,” sahut semuanya.


Tidak akan ada yang berani bertanya kepada Dion di saat wajah pria tampan itu sedang sangat serius, salah salah itu akan jadi petaka untuk dia yang bertanya.


Dion kemudian melajukan kuda besinya meninggalkan markas Death Squad yang beradadi salah satu komplek pemukiman mewah tersbeut. Tanpa menurunkan kecepatannya sedikit pun, Dion menembus jalanan ibu kota yang padat dan ramai pagi ini.


Setengah jam perjalanan, Dion pun akhirnya sampai di rumah.


Sepi dan lengang, seperti biasa hanya ada para maid dan pengawal yang menyambutnya. Kedua orang tua Dion adalah pebisnis yang sibuk. Sehingga sangat jarang bertemu apalagi berbincang dengan Dion.


Tak banyak yang dilakukan Doneel di rumahnya, dia hanya berganti pakaian dan segera pergi setelahnya.


Kali ini, tujuannya adalah showroom tempat Aletta bekerja.


Tak sabar untuk menemui Aletta, DIon memangkas jarak dengan kecepatan tinggi demibisa segera sampai di sana.


Beruntung sekali, Dion berpapasan dengan Aletta di pintu masuk.


“Al!” panggil Dion kepada wanita cantik dengan stelan rok selutut dan kemeja stretch yang membuat lekuk tubuhnya terbingkai sempurna itu.


“Dion?” jawab Aletta tak kalah terkejut karena Dion sampai menyusul ke tempatnya bekerja.


“Mana ponselnya elu?” tanya Dioneel sambil menyipitkan bola matanya dengan sangat tajam dan mencari di mana ponsel Aletta bersembunyikarena wanita itu tak membawa tas saat ini.


Merasa tak nyaman dengan tingkah Dion yang bisa membuat rekan kerja juga atasannya marah, buru-buru Aletta mengajak Dion ke luar dari sana.


“Kenapa sih? Gue kan udah kirim pesan,” kata Aletta.


“Iya, tapi habis itu hp elu di matikan biar elu gak bisa digangu, iya kan?” timpal Dion lagi.


Entah apa yang ada dipikiran Dion sekarang, tapi dia benar-benar sangat kesal karena Aletta mematikan ponselnya.


“Maaf, hape gue gak bisa ngecahs semalaman jadinya gak nyala.” Aletta kemudian merogoh saku di bajunya lalu mengeluarkan ponsellipatnya dan menyodorkan ponselnya itu ke hadapan Dion,

__ADS_1


Dion pun tak bisa menyahut lagi.


“Udah, balik yuk. Naik!” perintah Dion.


“Balik? Aku gue kerja. Gue bakal nyamperin ke tempat elu nanti, sesuai perjanjian kan seepas kerja gue selesai,” jelas Aletta.


Tapi Dion tak peduli.


“Pokoknya naik sekarang juga!”


“Setidaknya gue harus ngejual satu atau dua unit hari ini. Gue kudu mempertahankan satu–satunya kerjaan gue ini! Elu jangan egois jadi orang!” cecar Aletta yang memang sudah sangat pusing sekali menghadapi tingkah Dion belakangan ini.


Dion menarik napas panjang sambil mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Pria itu kemudian mengajak Aletta masuk lagi ke dalam showroom.


“Gue beli sepuluh unit dan elu harus keluar dari kerjaan ini!” tegas Dion membuat bola mata Aletta nyaris mau keluar dari tempatnya.


“Ekhm, Aletta … cowok elu?” sindir Sandra-rekan kerja Aletta yang kebetulan sekali berada di dekat mereka saat ini.


Aletta menarik napas dengan berat.


“Iya, gue cowoknya Aletta.” Dion justru menajwab dengan lantang.


Ini membuat Aletta menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menurunkan kedua pundaknya secara bersamaan. Dion baru saja membuat kekacauan untuknya.


“Tampang begini doang mo beli mobil sepuluh? Yakin bang jago? Letta, keknya cowok elu ini gak tau namanya harga ya?” ejek Sandra sambil melengos pergi setelah merasa puas menjatuhkan Dion dan Aletta dengan kalimatnya itu.


“Jangan hina Aletta! Elu kira gue gak mampu beli sepuluh mobil di sini? Apa gue juga harus beli showroom ini supaya mulut ngasal elu bisa diem?” cecar Dion sangat kesa.


“Dion, udah ah! Ngapain sih besar-besarin masalah?” pinta Aletta sambil mengajak Dion pergi dari sana.


Tapi Dion yang sudah emosi karena merasa teman kerjanya Aletta itu telah menghina Aletta, jelas dia tak mundur begitu saja.


“Lu tenang ya Sayang, gue cuma gak suka cewek gue di rendahin.” Dion kemudian mengajak Aletta masuk ke bagian dalam ruangan di mana sejumlah SPG dan juga manajer showroom berada.


Sandra yang melihat kedatangan ekduanya langsung memandang dengan nyinyir.


“Bu manajer, sepertinya ada yang bakal minta diskonan lebih nih,” ucap Sandra saat Dion melangkah terus menuju meja manajer showroom.


Baru saja Dioneel hendak duduk, sebuah telepon masuk kepadanya.

__ADS_1


Wajah Dioneel mendadak menghitam oleh amarah.


__ADS_2