Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 23


__ADS_3

Minggu pertama sidang, Axel tidak datang. Dia diwakilkan oleh kuasa hukumnya, Antonio Gonzales. Seorang pria keturunan Latin yang telah lama melayani kasus hukum keluarga Axel. Namun baru kali ini, dia mengurusi hukum pidana. Wajahnya tampak takut dan ragu saat pagi itu dia berjabat tangan dengan Aletta dan Kenzie.


"Ke mana Dioneel?" tanya Kenzie dalam bisikan.


Aletta mengangkat kedua bahunya. "Dia masih rapat, begitu selesai dia akan menyusul,"


Kenzie mengangguk dan mengajak Aletta untuk segera masuk ke dalam ruangan bermeja hijau tersebut. Tak lama, majelis hakim pun memasuki ruangan.


Entah mengapa, Aletta melihat gesture yang janggal dari gerak-gerik hakim tersebut. Akan tetapi, dia tidak terlalu memperdulikan hal itu. Dia hanya akan fokus pada hasil sidang.


Kenzie membacakan gugatannya, begitu pula dengan Antonio. Pria dengan kumis tebal serta berwajah dingin itu membacakan keberatan akan tuduhan yang dilayangkan kepada kliennya. Anehnya, Antonio mengatakan saat itu Axel sedang berada di kantor untuk rapat dan setelah selesai rapat, dia baru menyusul untuk mendukung teman-temannya di arena balap.


Dari pembelaan yang dibacakan oleh Antonio, Axel tidak mengelak kalau dia memang memiliki serta mengordinir sebuah klub motor, tetapi klub motor tersebut tidak pernah melakukan balap liar ataupun pemukulan. Masih berdasarkan keterangan Antonio, Axel juga mengakui kalau klub motor mereka bernama Black Moon.


Di sinilah Antonio menyebut nama Maxwell. Dia mengatakan kalau Max adalah seorang pembelot yang haus kekuasaan. Ucapan Antonio ini disertai dengan bukti, salah satunya adalah penculikan Aletta.


"Apa mereka tidak memperhitungkan bukti rekaman Axel? Itu sudah jelas sekali bahwa Axel mengakui kalau dialah yang memukuli Arsen! Bukan Max!" bisik Aletta dengan keras kepada Kenzie.


Kenzie meminta Aletta untuk tenang. "Kita bisa mengajukan keberatan di situ. Sejauh ini, kita belum mengeluarkan bukti rekaman itu. Itu jadi titik lemah kita. Kita hanya punya satu bukti,"


Hati Aletta mencelos. "Apa artinya itu? Apakah kita akan kalah?"


"Kita lihat nanti," jawab Kenzie singkat.


Dari apa yang telah disampaikan oleh Antonio, hakim menyetujui semua pembelaan Antonio untuk Axel. Setelah Antonio selesai membacakan pembelaan, Kenzie mengajukan keberatan.


"Interupsi, Yang Mulia. Dari apa yang sudah saya dengar dan saya pelajari, bahwa tersangka hanya memutar balikkan fakta yang sebenarnya. Sejauh yang kami ketahui, saudara Maxwell, tidak ada hubungannya dengan pemukulan itu. Memang benar, Max telah menculik kakak korban, tapi kejadian itu terjadi setelah tindak pemukulan yang dilakukan oleh tersangka," kata Kenzie.


Hakim berdeham dan menurunkan kacamatanya untuk memeriksa kembali berkas-berkas yang sudah diberikan oleh kedua belah pihak. Kemudian, dia menatap Kenzie dari balik kacamatanya. "Apakah Anda memiliki bukti yang cukup kuat yang dapat membuatku yakin, kalau tersangka benar-benar bersalah?"

__ADS_1


Kenzie maju ke meja hijau dengan membawa rekaman di ponselnya. Dia meminta izin kepada dewan majelis untuk memutar rekaman itu.


" ... Pemain barteran yang kalah akan menerima hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku dan hukumannya juga bebas. Terus ya udah, awalnya nggak beneran gue mukulnya, tapi lama-lama, nggak tahulah kayak ada setan gitu yang dorong gua untuk terus mukulin Arsen nggak berhenti-berhenti,"


Seisi pengadilan pun terdiam dan beberapa dari mereka saling berbisik-bisik dan bertukar informasi. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan kalau Axel memang tersangkanya.


"Apa itu cukup, Yang Mulia?" tanya Kenzie.


Hakim tampak bingung dan dia pun terdiam sesaat. "Saya akan menunda persidangan ini hingga lusa," kemudian, dia mengetuk palu dan mengakhiri persidangan hari itu.


Begitu keluar dari ruang pengadilan, Aletta marah-marah dan mengomel. "Apa-apaan itu! Kenapa dia begitu? Apa maksudnya?"


"Dia disuap oleh Axel, Letta. Kau bisa melihat wajahnya, 'kan? Hakim itu juga takut diadili oleh pejabat hukum yang lainnya. Tuntutan Axel kepada pengacaranya juga tinggi, dia meminta persidangan ini jangan sampai tercium oleh media. Mana bisa, 'kan? Dengan separuh yang hadir adalah geng motor Dioneel dan Axel. Setelah ini aku yakin, Max akan dihadirkan sebagai saksi dari pihak Axel. Tapi, seandainya kita bisa lebih cepat, kita bisa membuat Max berada di pihak kita," ucap Kenzie panjang.


Aletta tampak lelah. "Bisakah seperti itu?"


Kenzie mengangguk. "Ya, kita bisa minta tolong pada Dioneel,"


Akan tetapi, jika apa yang dikatakan oleh Kenzie benar dan hakim itu telah disuap, maka tidak ada harapan lagi untuk mereka.


Dioneel datang di saat mereka sudah selesai. "Maaf, aku terlambat. Asisten bodohku itu sama sekali tidak bisa kuandalkan! Bagaimana hasilnya?"


"Di tunda," jawab Aletta lemas..


"Hah? Ditunda? Kenapa?" tanya Dioneel terbelalak.


Aletta dan Kenzie saling bergantian menceritakan isi persidangan hari itu. Dan Dioneel pun memiliki kesimpulan yang sama dengan Kenzie. "Dugaan praktik penyuapan. Gila! Hukum pun dibeli olehnya!"


Kenzie juga memberitahukan kepada Dioneel tentang rencananya untuk menggaet Max ke pihak mereka. "Kau bisa mendekati Max?"

__ADS_1


"Itu sulit. Max itu setia dan dia tidak mudah berganti. Ketika dia memutuskan untuk mengabdi pada satu orang, maka dia akan melakukannya sampai mati," jawab Dioneel. Kemudian, dia seperti teringat sesuatu. "Tunggu dulu! Setauku Max membelot karena ada beda pendapat dengan Axel dan dia membentuk kelompok lain dengan dia menjadi pemimpinnya, Shadow Speed! Ya, itu nama klub motornya yang baru!"


Aletta dan Kenzie saling berpegangan tangan dan dengan cepat, Dioneel memisahkan tangan mereka. "Pegang tanganku saja!"


"Bisakah kau susupi?" tanya Kenzie.


Dioneel berpikir sebentar. Agak riskan sebenarnya menyusup ke dalam sebuah geng motor yang dikendarai oleh seseorang yang memiliki niat untuk menguasai dan membalas dendam.


Pria itu sedikit ragu. Dia mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. "Sulit. Apa peran Max di sidang nanti?"


"Saksi. Aku yakin, Axel juga sedang memutar otaknya untuk merekrut beberapa anggota geng motor sebagai saksi," kata Aletta dengan cepat.


Dioneel mengangguk-anggukan kepalanya. Dia juga memikirkan hal yang sama dengan Aletta. "Ya, itu pasti. Bahkan dia akan menggelontorkan sejumlah uang hanya untuk merekrut saksi bayaran,"


"Aku akan mencoba menghubungi Javas dan Kevin untuk membantuku memata-matai Shadow Speed dan setelah aku mendapatkan laporan tentang geng baru Max, aku berani menyusup ke sana," kata Dioneel.


Namun, Kenzie dan Aletta menggelengkan kepala mereka bersamaan dan ini membuat Dioneel kembali kesal. Bagaimana bisa mereka melakukan sesuatu secara serempak seperti itu?


"Kenapa kalian menggelengkan kepala? Kalian tidak setuju dengan rencanaku?" tuntut Dioneel mencebik.


"Waktunya tidak akan cukup. Kita harus bergerak cepat," jawab Aletta.


Kenzie mengangguk setuju. "Ya, kita harus bergerak sebelum Axel bergerak,"


"Kapan sidang kedua diadakan?" tanya Dioneel.


"Lusa," jawab Kenzie.


Dioneel mencelos. "Lusa? Apa kita punya cukup waktu untuk melakukan semua itu? Baiklah, malam ini bertemu di tempat Aletta. Aku akan ke markas. Tunggu kabar dariku!" Pria itu kemudian menatap Aletta sebelum pergi. "Dan kau, Letta, jangan terlalu dekat dengan jangkrik satu ini! Aku tidak suka!" kata Dioneel cemburu.

__ADS_1


***


__ADS_2