Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 11


__ADS_3

Dioneel merasakan adrenalin membara di tubuhnya saat ia memacu motornya dengan kecepatan penuh. Dalam balapan liar kali ini, ia bertarung dengan Max, rivalnya yang tangguh dan memiliki reputasi sebagai pembalap terbaik di kota ini. Mereka berdua sudah lama menantikan momen ini, di mana mereka bisa menunjukkan siapa yang paling unggul dalam kemampuan mengendarai motor.


Sorotan lampu jalan yang terang menerangi malam, memantulkan bayangan mereka berdua yang terlihat seperti sosok-sosok yang tak terkalahkan. Suara mesin motor mereka berdua bergemuruh di sepanjang jalan yang sepi. Kedua pembalap ini berani mengambil risiko tinggi.


Dioneel dan Max melaju dengan kecepatan tinggi, melewati jalan-jalan yang kosong, melintasi tikungan-tikungan tajam dengan keahlian yang menakjubkan. Kedua pembalap ini saling mengejar, saling menyalip, dan terlibat dalam kejar-kejaran yang tak terhindarkan.


"Dioneel, aku tak akan membiarkanmu memenangkan balapan ini begitu saja!" teriak Max dengan suara lantang melalui jendela mobilnya.


"Tentu saja, Max! Kamu harus bekerja keras jika ingin mengalahkanku!" jawab Dioneel sambil tersenyum meyakinkan.


Kedua motor itu seperti bayangan yang berlomba satu sama lain, menyisir jalan dengan kecepatan yang menakjubkan. Bau ban terbakar dan dentingan mesin mereka menggema di udara malam, menciptakan suasana yang penuh dengan semangat kompetisi.


Mereka melintasi jembatan, menyalip kendaraan lain dengan kecepatan yang hampir tak terlihat. Dioneel dan Max terus saling menantang dan berusaha melebihi batas kemampuan mereka sendiri. Mereka tak ragu untuk mengekspresikan keahlian mengendara mereka yang luar biasa melalui aksi-aksi yang penuh risiko.

__ADS_1


Saat balapan semakin dekat dengan garis finis, Dioneel berhasil mendapatkan keunggulan yang cukup besar atas Max. Dia menggunakan setiap kesempatan untuk melompat ke depan dan menjaga posisinya dengan baik. Namun, Max tidak menyerah begitu saja. Dia menggertakkan giginya dan memberikan semua yang dia punya dalam usaha terakhirnya untuk mengejar ketertinggalan.


Dengan mata berkaca-kaca dan napas tersengal-sengal, Dioneel mengatur kemudi motornya dengan presisi dan kecepatan yang tak tertandingi. Dia merasakan getaran adrenalin yang menguasai tubuhnya.


“Jadi, siapa orangnya?” tanya Dion kepada Max menagih.


Max terlihat kesal, dia mendapatkan 300 juta-nya dan kini identitas Brutush si mekanik terbongkar.


Max tak berkutik kali ini, dia mendapatkan 300 jutanya dan sebuah permintaan Dioneel harus diukabulkannya. Dia melepaskan Brutush yang sama artinya dengan melepaskan mekanik terbaiknya, ini membuat Max sangat kesal.


Max menatap ke arah garasi kosong yang biasanya dipenuhi dengan kebisingan mesin-mesin motor yang sedang diperbaiki. Namun, kali ini, keheningan yang menyakitkan memenuhi ruangan tersebut. Tidak ada lagi suara riuh dari suara alat-alat mekanik, dan tidak ada lagi aroma bensin yang menguar di udara. Brutush, sang mekanik setia Max, telah pergi dengan cara yang menyakitkan.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" desis Max dengan suara yang penuh amarah. Dia merasa terhina, kehilangan kehormatannya dan kalah dengan cara yang tidak adil. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu yakin dengan keunggulan motornya, sehingga tidak dapat memperkirakan hasil balapan yang merugikan ini.

__ADS_1


Sementara itu, Dioneel, pemenang balapan yang jahat dan sombong, berdiri di samping motor kesayangannya dengan senyum mengejek yang terukir di wajahnya. "Mungkin kamu harus belajar untuk tidak memamerkan keunggulanmu di depan orang yang lebih baik, Max. Sekarang, Brutush adalah milikku. Tim Death Squad-ku semakin tak terhentikan!"


"Kau kotor, Dioneel! Kau mengambil semua yang berharga bagiku!" teriak Max dengan emosi yang meluap. "Ini tidak adil!"


Dioneel tertawa sinis, mencemoohkan Max dengan sikapnya yang merendahkan. "Adil? Siapa bilang hidup ini adil, Max? Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku. Brutush adalah mekanik terbaik di sini, dan sekarang dia akan mengabdikan bakatnya padaku. Kamu hanya seorang pecundang yang tidak layak mendapatkannya."


Mendengar kata-kata tersebut, Max semakin terbakar amarahnya. Hatinya dipenuhi dengan keinginan untuk membalas dendam. Dia tidak bisa membiarkan Dioneel menghancurkan hidupnya dan menguasai segalanya.


"Mari kita lihat siapa yang akan menang di balapan berikutnya, Dioneel," ucap Max dengan suara penuh tekad. "Aku akan membuktikan bahwa keberuntunganmu hanya sesaat. Brutush mungkin telah pergi, tetapi aku akan menemukan mekanik yang lebih baik darinya. Dan saat aku mengalahkanmu, kau akan merasakan kekalahan yang pahit!"


Dioneel hanya menggelengkan kepala dengan sombong. "Impianmu hanyalah khayalan, Max. Tidak ada yang bisa menghentikan kejayaanku. Aku akan menjadi juara terus-menerus, sementara kamu akan tetap menjadi pecundang."


Max menatap Dioneel dengan mata yang berapi-api. Dia memasang senyum yang penuh tekad. "Kau akan menyesal telah memprovokasi diriku, Dioneel. Aku akan menghancurkan semua kebanggaanmu, satu balapan demi satu. Dan ketika saatnya tiba, kau akan merasakan rasa sakit yang sama seperti yang aku rasakan saat ini."

__ADS_1


__ADS_2