Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 7


__ADS_3

Bab 7


Tinju mentah melayang di pipi Axel. Seketika, pria itu terhuyung dan jatuh tersungkur. Dia berusaha bangkit berdiri dan mengusap sudut bibirnya. "Sialan!"


Dengan cepat, Axel membalas pukulan Dioneel dan pukulannya tepat mengenai hidung mancung pria tampan itu. Saling pukul dan serang pun terjadi. Aletta yang sedari tadi bersembunyi di belakang Dioneel, pergi menjauh.


Namun sayang, dia tertangkap oleh salah satu kawanan geng Axel dan pria itu membekap mulut Aletta. "Hei, Dioneel! Lihat apa yang kudapatkan?"


Dion menoleh ke sumber suara. "Shitt! Lepasin cewek itu, Max!"


Pria bernama Max dengan tindik di hidung, menyeret Aletta dan memaksanya untuk naik ke atas motor berwarna merah berlambang HD itu. "Ambil sendiri! Hahaha!"


"Sialan!" Dion berlari menghampiri Javas dan meminjam motornya. "Gue pinjem motor lo! Antek-antek Axel Keparat itu cari ulah!"


"Gue di belakang lo!" ujar Javas.


Namun Dion menggelengkan kepalanya. "Lo stand by di sini, Bro! Gue butuh lo untuk jaga di sini! Gue titip anak-anak Death Squad sama lo dan Kevin. Gue cabut dulu, ya,"


Dion segera memakai helmnya dan melajukan roda besinya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar Max yang membawa Aletta.


Setelah beberapa menit, dia melihat motor sport milik Max. Dion meningkatkan laju kecepatan motornya dan menyusul motor Max. Setelah berhasil menyamai kecepatan Max, Dion membuka kaca helmnya. "Max! Jangan macam-macam dengan wanita itu! Hentikan motormu!"


Max memberikan jari tengahnya pada Dionelle dan kembali menambah gas untuk mempercepat motornya. Dari belakang, Dion bisa melihat Aletta yang mencengkeram pinggang Max dengan ketakutan.


"Max sialan!" Dion kembali menambah kecepatan motornya. Saling adu cepat pun tak terelakkan, seolah-olah mereka sedang berada di sebuah racing track.


Beruntunglah Dion, karena Javas memiliki speaker dan toa di motornya. Dion mengambil speaker tersebut dan mulai berbicara pada Max. "Lepaskan wanita itu, setelah itu kita lanjutkan adu balap ini! Apa taruhanmu?"


Max menepikan motornya dan melepaskan Aletta. Tangan gadis itu sudah sangat dingin, rambut indahnya berantakan terkena angin, dan dia menggigil.


Melihat Max menepi, Dion mengikuti jejak Max. Motor Javas dilupakan begitu saja karena dia segera menghampiri Aletta dan memberikan jaketnya kepada gadis itu. "Kau baik-baik saja? Maafkan aku, ini di luar perkiraanku,"


Max mendorong Dion dengan kasar saat pria itu hendak memeluk Aletta. "Lo ngajak taruhan, 'kan? Kita jadiin cewek ini taruha-,"


"NO! Selain dia! Apa pun akan gue kasih, tapi dia-," Dion menunjuk pada Aletta dan menggelengkan kepalanya. "No! Dia terlalu berharga untuk menjadi sebuah barang taruhan!"


"Gue mau dia!" tutur Max bersikeras.


Dion meninju dinding toko di sampingnya untuk melampiaskan emosinya. "Shiit! Selain dia, Brengsek!"

__ADS_1


Max menertawakan Dion, baru kali ini dia melihat pria yang biasanya super berani seakan memiliki nyawa lebih dari satu itu, mengkhawatirkan seseorang. "Dioneel, Dioneel. Aku rasa kau benar-benar jatuh cinta pada gadis itu! Aku kembalikan dia padamu. Ingat, pertarungan kita malam ini belum selesai. Aku akan datang lagi!"


Pria itu kemudian naik ke atas motornya dan menghilang di telan gelapnya malam. Sementara itu, Dion memeluk Aletta. "Maaf! Maaf! Aku benar-benar meminta maaf padamu!"


Tubuh Aletta masih bergetar hebat, tangisnya pun pecah di dalam pelukan pria yang baru dikenalnya itu. "Aku takut sekali,"


Dion menenangkan gadis itu sambil merapikan rambutnya yang kusut. Setelah Aletta tenang, pria itu membawa Aletta kembali ke rumahnya dengan motor.


"Sudah mau subuh, tidur saja di sini. Aku tidak akan mengganggumu," ucap Dion.


Aletta mengangguk. Lagi-lagi, dia terpaksa meminjam kaus Dion yang kebesaran di tubuhnya. Dia lapar, tetapi rasa kantuknya lebih menguasainya. "Dioneel, thank's karena sudah membatalkan taruhan itu,"


"Anytime, Honey. Tidurlah dan lupakan segalanya," bisik Dioneel sambil mengecup kening Aletta.


Selagi Aletta tidur, Dion berjalan ke ruangannya untuk menghubungi Javas dan kawan-kawannya yang lain. Dia ingin menanyakan bagaimana kondisi di sana, setelah dia menyusul Max.


Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Dioneel mengkhawatirkan seseorang. Kejadian tadi membuatnya dejavu. Pria itu pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya.


"Semua baik-baik saja. Axel memang tampak marah, tapi kami berhasil mengatasi dia," jawab Javas.


Dion menghela napas lega. "Syukurlah,"


Dion menengadahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan kedua matanya. Namun ingatan buruk yang sempat dia lupakan, muncul kembali.


Bayang-bayang, sorak sorai, rintih kesakitan, dan kerumunan orang yang memegangi kaki dan tangannya. Ingatan mengerikan itu seakan berputar.


Beberapa tahun yang lalu,


Dioneel beserta kawanannya sedang berpacu di jalanan kosong, yang belum terpakai. Mereka saling mengadu kecepatan hanya untuk mempertaruhkan kehormatan dan harga diri mereka.


"Dion, susul mereka! Gue jaga lo di belakang!" tukas seorang pria yang beradi di sisi motor Dioneel, dia membuka kaca helmnya supaya dapat berbicara dengan jelas.


Dion tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya pada pria itu. Kemudian dia menambah kecepatan motornya meninggalkan kawannya jauh di belakang.


"Apa taruhannya kali ini?" tanya Javas, dia menjadi penunggu di garis finish.


"50 juta dan barter anggota untuk, lo taulah," jawab Kevin.


Hampir setiap malam, gerombolan geng motor akan memenuhi jalanan hanya untuk melakukan balapan one on one atau night ride. Yang menang, akan menjadi penguasa wilayah itu dan tentu saja, uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Selain itu, ini yang cukup mengerikan, mereka akan bertukar anggota dan mereka akan bertarung one on one. Jika salah satu dari mereka kalah, maka sang pemimpin baru mereka berhak memutuskan hukuman apa yang layak diberikan untuk mereka.

__ADS_1


Malam itu, Death Squad memenangkan balapan itu. Namun, Axel meminta sahabat Dioneel untuk pertukaran anggota. "Shitt! Worth it ngga nih pertukarannya?"


"Kita dapet siapa?" tanya Kevin.


"Si Algojo!" jawab Dioneel. Pria itu membandingkan kemampuan Algojo dengan kemampuan sahabatnya.


Dia pun menggeleng dan meninju meja yang berada di markasnya. "Bisa ganti?"


"Gue tanyain ke Axel," jawab Javas, dia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Axel. Tak beberapa lama kemudian, Javas kembali dan menggelengkan kepalanya. "Ngga bisa dan dia ngga mau. Kecuali kalo Arsen menang,"


"Arsen ngga mungkin menang lawan Algojo! Aarggh, dari awal harusnya gue ngga ngikutin kemauan Axel Brengsek itu!" tukas Dioneel lagi.


Hari pertandingan pun tiba. Arsen menyempatkan diri untuk datang mengunjungi Dioneel di markasnya. "Hei,"


"Bro," balas Dioneel.


Arsen tersenyum padanya. "I'll be oke,"


"Lo ngga tau Axel, Sen. Dia parah!" sahut Dioneel lagi.


Namun senyum yang diberikan Arsen membuat kekhawatirannya hilang. Dioneel tak pernah tau, kalau itu akan menjadi senyuman terakhir yang diberikan Arsen padanya.


Ya, malam itu Arsen dikalahkan dengan mudah oleh Algojo. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, Axel pun menentukan hukuman untuk Arsen.


Dioneel dan teman-temannya ada di sana, untuk menemani Arsen menjalani hukuman. Akan tetapi, dia tidak pernah menyangka hukuman yang diberikan oleh Axel dan antek-anteknya merupakan hukuman tergila yang pernah mereka lihat.


"Aargh! Uughh! Aargghh! Shiit! Aarghh!"


Pukulan demi pukulan diterima oleh Arsen. Dion hanya berteriak tanpa bisa membantunya. Ada beberapa orang berbadan besar yang memegangi tangan dan kakinya.


Arsen pun tak bisa melawan, karena tubuhnya diikat di sebuah tiang dan dia dipukuli bertubi-tubi. "Arsen! Lawan! Berontak, Brengsek!"


Teriakan Dioneel tak dapat didengar oleh Arsen yang saat itu sudah setengah sadar. Entah siapa yang menghubungi polisi, tiba-tiba saja tempat penghukuman itu didatangi oleh petugas kepolisian dan mereka diperiksa satu per satu. Sedangkan Arsen? Tidak ada satu orang pun yang mengetahui bagaimana kabar sahabat mereka itu.


Dioneel terbangun dengan napas terengah-engah seperti habis berlari. Wajahnya pucat dan keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya. Dia beranjak dari ranjangnya dan mendengar suara dengkuran halus di sampingnya.


Dioneel kembali berbaring dan memeluk tubuh Aletta. "Aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi,"


***

__ADS_1


__ADS_2