
*Bab 25*
Malam itu, Aletta seperti tersihir oleh Dioneel. Gadis itu benar-benar menikmati pagutan dari pria sekssi nan tampan itu. Pagutan yang diberikan oleh Dioneel semakin panas dan semakin dalam. Rasanya, Aletta tak akan sanggup melepaskan pagutan panas itu.
Hanya sebuah ciuman saja, membuat Aletta mendessah hebat. Dessahan Aletta membuat Dioneel bersemangat dan semakin menghujani gadis cantik itu dengan ciumannya.
Bibir Dioneel kini mulai menurun ke ceruk leher Aletta. Dia menggigit kecil leher gadis itu dan menyesapnya kuat. Aletta melengkungkan tubuhnya dan memberikan tempat untuk Dioneel menjelajah lehernya.
Tak sabar, Dioneel memundurkan kursi mobilnya dan mengangkat tubuh Aletta untuk duduk di pangkuannya. Tangannya membuka kancing kemeja Aletta satu demi satu sementara bibirnya terus memompa aliran sensasi menyenangkan ke tubuh gadis itu.
Begitu sadar kalau pakaiannya terbuka, Aletta membuka kedua matanya. "K-, kau mau apa?"
"Ini dan itu," jawab Dioneel.
Pelan-pelan, dia kembali memagut bibir merah Aletta dan mengulanginya dari awal. Dia tidak ingin, gadis itu ketakutan atau trauma karena sikap agresifnya.
Ciumannya menurun dari bibir, dagu, leher, dan kini dia menemukan mainan baru yang selama ini disembunyikan oleh Aletta. Dia memberikan kecupan di sekitar kedua bukit indah Aletta dan mencipta banyak tanda merah di sana. Sementara satu tangannya meremmas lembut salah satu pegunungan padat itu dan membuat sang pemilik melenguh dan mendessah hebat dalam pangkuannya.
Aletta pun semakin menginginkan lebih, tetapi sayangnya, Dioneel mengancingkan kembali pakaian Aletta dan membuat gadis itu tertegun. Namun, Dioneel dengan tersenyum mengecup kening Aletta dengan gemas. "Sisanya besok. Sekarang sudah malam, besok kita harus datang sidang, 'kan? Jangan sampai kita kehilangan fokus,"
Wajah Aletta memerah dan dia menunduk malu. "K-, kau benar. Ba-, baiklah,"
Dioneel masih tersenyum gemas kepada gadis itu. "Kau lucu sekali,"
Dengan wajah tersipu, Aletta turun dari mobil Dioneel dan meninggalkan pria yang masih tertawa kepadanya.
Keesokan harinya, Aletta terpana di depan cermin. Semalaman dia tidak bisa tidur dan sekarang kedua matanya bengkak. "Aarrgghh, gara-gara Dioneel!"
Arsen segera berlari ke kamar Aletta dan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu kamar adiknya itu. "Aletta kenapa teriak? Aletta takut? Aletta sakit?"
__ADS_1
"Aku ngga apa-apa, Kakak," ucap Aletta salah tingkah.
Dia lupa ada Arsen yang pasti akan mendengar teriakannya. Dia kembali menutup pintu dan melanjutkan bersiap-siap untuk menghadiri sidang kedua. Gadis itu merasa lelah dan seluruh tenaganya seakan diserap habis oleh kasus kakaknya itu.
Ketika dia hendak berpakaian, dia melihat banyak tanda merah di sekitar dadanya. Dia mengusap-usap tanda itu, tetapi tanda merah itu tak kunjung hilang. "Apa ini? Apa digigit serangga?"
Kemudian, dia melihat ada tanda merah juga di lehernya. Tiba-tiba dia teringat pagutan panas malam itu yang dia lakukan bersama dengan Dioneel. Apakah ini, ...? Aletta menutup mulut dengan tangannya. Entah kenapa, ciuman itu terasa kembali di bibir, leher, dan sekitar dada Aletta.
"Kenapa jadi keinget dia, sih? Ayolah, Letta, fokus! Fokus! Fokus!" ucapnya bermonolog sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
Tak lama, suara klakson mobil Kenzie sudah berbunyi. Bersamaan dengan itu, Bu Lily pun datang dengan senyuman pagi di wajahnya yang lembut. "Pagi, Aletta. Mana Arsen?"
Arsen menyambut Bu Lily dengan antusias. "Pagi, Ibu,"
Aletta tampak puas melihat kemajuan kakaknya dalam bersosialisasi. Dia tersenyum senang dan memeluk kakaknya dengan sayang.
Melihat hal itu, Ibu Lily meneteskan air matanya penuh haru dan memeluk mereka berdua. "Ahahaha, semoga kalian berdua mendapatkan yang terbaik. Ah, bagaimanapun juga, aku sayang pada kalian,"
Tak lama, Aletta datang juga bersama Kenzie. Mereka bertemu di satu titik dan saling memandang dengan tajam. Axel menatap Dioneel penuh dendam. "Kau tidak akan pernah menang dariku, Dioneel,"
Dioneel mendengus. "Aku hanya membantu sahabatku. Dia berhak mendapatkan keadilan. Kau lari begitu saja dan meninggalkan tanggung jawabmu seperti seorang pengecut dan alasanmu memukul dia adalah hanya karena iseng! Di mana rasa kemanusiaanmu?"
Axel mengacungkan jari tengahnya. "Leave my business and get yours, Dude! Lo udah ganggu gue dan gue ngga akan tinggal diam!"
Persidangan pun dimulai. Kali ini, tidak ada keraguan di wajah hakim. Saksi-saksi didatangkan, baik itu dari pihal Arsen maupun Axel. Para pembela saling menyerang dan seperti tak mau kalah, Dioneel beradu debat dengan Axel di depan meja hijau.
Berkali-kali hakim mengetuk palu untuk menenangkan kedua belah pihak. "Tolong hormati ruangan suci ini! Jika kalian ingin sidang ini selesai dan dilanjutkan, silahkan tenang dan tunjukkan kalau hukum di negara kita tidak seperti di hutan! Silahkan duduk untuk tersangka, terdakwa, para saksi, serta para pembela."
Sidang dihentikan selama sepuluh menit karena kericuhan yang terjadi di ruang meja hijau tersebut. Setelah semua tenang, Majelis Hakim masuk kembali dan melanjutkan persidangan.
__ADS_1
Saksi terakhir yang dipanggil adalah Max. Dioneel berharap, Max akan memegang komitmen mereka.
"Saudara Maxwell, benar? Bisa dijelaskan apa yang Anda ketahui tentang kasus ini? Apa Anda di tempat kejadian saat pemukulan itu terjadi?" tanya pembela.
Max menghela napas sebelum menjawab. "Tidak! Saya sama sekali tidak tau menau tentang kejadian pemukulan itu,"
Dioneel menggebrak meja dengan kencang. "Bohong, Yang Mulia! Dia jelas berbohong! Malam itu, kami semua ada di sana dan Max ada di sana bahkan dia ikut memukuli korban!"
Aletta menarik tangan Dioneel supaya pria itu tetap tenang. Dia sama sekali tidak tau apa yang terjadi, karena malam itu Dioneel meyakinkan dirinya kalau hari ini mereka akan memenangkan sidang. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sebesar apa kekuasaan seorang Axel? Aletta bergidik ngeri.
"TENANG!" pekik hakim itu lagi. "Apakah ada buktinya?"
Max mengangguk dan dia maju untuk menyerahkan bukti-bukti kepada hakim. Hakim itu menerima dan tampak mempelajari bukti tersebut. "Hmm, ini menarik. Apakah ada saksi lain?"
Baik Kenzie maupun Antonio menggelengkan kepala mereka. "Tidak ada, Yang Mulia,"
Kenzie kembali ke kursinya dengan langkah gontai dan menggelengkan kepalanya lemas. "Kalau ini gagal, aku minta maaf,"
"Tidak apa-apa, Kenzie. Kau sudah banyak membantuku," kata Aletta pasrah.
Mendengar suara gadis yang dicintainya kecewa, Dioneel pun memendam kemarahannya. "Kalau kita kalah, aku akan membongkar transaksi kotor yang mereka lakukan di belakang kita. Aku akan menyewa pengacara ternama dengan tim pengacaraku,"
Aletta memegang tangan Dioneel. "Tidak perlu, aku rasa aku sudah tidak memiliki tenaga untuk bolak-balik persidangan kembali,"
"Aku yang maju," jawab Dioneel penuh tekad.
Tak lama, hakim kembali berbicara. "Ehem! Menilai dari saksi serta pembelaan dan bukti-bukti yang ada. Maka dengan ini, Saudara Axel dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari segala tuduhan!"
Ketukan palu menandai akhir dari persidangan itu.
__ADS_1
***