Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 12


__ADS_3

Dioneel merayakan kemenangannya bersama dengan para Death Squad. Mereka menghabiskan malam itu dengan berpesta di markas besar Death Squad.


Karena asiknya berpesta, Dioneel tidak mendengar suara dering ponselnya. Musik yang terlalu keras serta sorak sorai kawanan itu membuat Dioneel mengacuhkan ponselnya.


"Lo keren banget sih, Bro, di menit-menit akhir. Gue akuin, hahaha!" ucap Kevin sambil membenturkan pinggiran gelasnya dengan gelas Dioneel.


Dioneel membusungkan dadanya bangga. "Jelas! Kalo kalah, ganti nama gue! Hahahaha!"


Mereka sama-sama melakukan cheers dan menenggak habis gelas berisi cairan berwarna keemasan itu. Malam itu menjadi malam milik Dioneel. Dia dielu-elukan karena telah berhasil membalas perlakuan Max pada Javas ditambah lagi, dia berhasil menggilas Max dalam adu balap malam itu.


Setelah minum lima gelas, Dioneel menepi untuk menjauhi keramaian. Dia mengambil ponselnya dan mengecek apakah ada pesan atau telepon masuk saat dia tengah berpesta.


Senyumnya merekah saat dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Aku rasa, dia tergila-gila kepadaku," kata Dioneel pada dirinya sendiri.


Dia pun melakukan panggilan kepada seseorang yang menghubunginya tadi. "Halo, Sayang. Sepertinya kau sangat merindukanku, hehehe,"


("Kau di mana? Kirimkan alamatmu, aku akan ke sana,") ujar suara dari seberang.


"Hmmm, kira-kira di mana? Apa kau merindukanku? Aku senang sekali kalau kau rindu padaku," goda Dioneel sambil tersenyum-senyum sendiri.


Teman-temannya yang melihat pemandangan itu saling menyenggol sikut satu sama lain. Baru kali ini mereka melihat ketua mereka yang biasanya sangar dan garang berubah menjadi manis dan kemerahan.


Sadat dirinya diperhatikan, Dioneel segera mengembalikan kewibawaannya. "Ehem! Gue di markas kayak biasa. Lo udaj tau, 'kan?"


("Kau kenapa?") tanya suara di seberang lagi.


"Udah cepetan dateng! Gue tunggu!" titah Dioneel dan kemudian dia mengakhiri panggilannya dengan cepat. Matanya menatap teman-temannya tajam. "Ngapain liat-liat? Ada yang aneh?"


Mereka pun tertawa melihat kemampuan duality ketua geng mereka itu. "Siapa, Bro? Pake ada kata-kata rindu begitu, hahaha!"


"Muka udah kayak tomat, tuh! Hahaha!" ejek Javas sambil tertawa.


Tak bisa dipungkiri, saat ini Dioneel memang sedang tergila-gila dengan seorang gadis yang sejak awal pertemuan dengan gadis itu, dia sudah merasa ada ketertarikan yang belum pernah dia rasakan pada gadis lain.


Namun karena dia lebih mencintai dunia motornya, sampai saat ini Dioneel belum mau memiliki komitmen dengan gadis manapun.

__ADS_1


"Shiit! Lo kayak ngga pernah ngeliat gue ngobrol sama cewek aja," tukas Dioneel berkilah.


Pietro merangkul pundak Dioneel. "Pernah, tapi kali ini lo agak lain, Bro,"


Dioneel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Bedanya di mana? Aneh-aneh aja lo semua! Tapi Aletta ini emang spesial, sih. Ngga tau kenapa, dia kayak punya magnet untuk selalu narik gue mendekat,"


"Kalo gitu, dia bukan sekedar angin segar buat lo, dong? Hehehe," tanya Kevin malu-malu.


Baru kali ini di markas itu mereka membahas masalah cinta dan wanita. Jika mereka berkumpul di sana, maka mereka akan membahas masalah otomotif, pekerjaan, tempat incaran baru mereka, atau Max dan Axel.


Dioneel mendengus lagi. "Gue belum kepikiran sampe situ. Aletta kayaknya punya trauma sama dunia kita dan ngga semudah itu untuk narik dia masuk ke dunia gue,"


"Semisal lo di minta keluar dari dunia motor sama dia, gimana?" tanya Kevin tiba-tiba.


"Gue belum mikir sampe situ. Selama ini lo, bengkel ini, anak-anak lain, dan motor gue, bukan cuma sekedar geng. Gue udah nganggep kalian kayak keluarga. Aneh aja kalo gue di minta keluar dari rumah gue sendiri dan ninggalin keluarga gue, 'kan?" jawab Dioneel. Namun jauh di lubuk hatinya, dia memang bertanya-tanya sampai kapan dia akan berada di dunia otomotif ini.


Selagi mereka terdiam memikirkan masa depan masing-masing dari mereka, terdengar suara lembut seorang gadis memasuki bengkel tersebut.


"Halo," sapa gadis itu.


"Eh, Aletta udah datang. Silahkan masuk," balas Javas ramah.


"Dion! Cewek lo dateng!" seru Kevin. Pria itu terus memandangi wajah Aletta yang cantik dengan rambutnya yang tergerai indah di punggungnya.


Dioneel sudah berganti pakaian. Sedari tadi dia memakai kaus dengan jaket denim dan sekarang dia sudah berganti pakaian dengan memakai kaus berkerah dengan dua kancing terbuka di atasnya.


"Sorry, abis mandi," kata Dioneel tersipu. "Jadi makan malam, 'kan?"


Aletta mengerenyitkan keningnya. "Heh? Makan malam?"


"Yuk, jalan sekarang. Duluan, Bray," sahut Dioneel sambil menggandeng tangan Aletta yang kebingungan.


Mereka pun pergi dengan diiringi siulan dan sorak sorai dari keluarga besar Death Squad. Dioneel mengajak Aletta makan malam di sebuah restoran elite di pusat kota. Namun sebelum mereka memasuki kawasan elite itu, Aletta sungkan untuk masuk ke dalam.


"Aku masih memakai pakaian kerja. Rasanya tidak enak sekali. Kita makan di tempat lain saja," ucap Aletta. Gadis itu memang hanya memakai kemeja yang bertuliskan nama perusahaan showroom tempat dia bekerja dan dia merasa kecil hati melihat beberapa orang keluar masuk dari restoran itu dengan memakai gaun atau pakaian yang dianggap layak.

__ADS_1


"Oke, tunggu sebentar," Dion keluar dari mobilnya dan tampak dia sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


Aletta menunggu di dalam mobil sambil sesekali melirik ke arah jam tangannya. Kira-kira dua puluh menit, Dioneel sudah kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa sehelai gaun sutera lembut berwarna merah dengan belahan di dada cukup rendah. "Pakai saja di sini, aku akan menunggumu di luar,"


"Dua menit!" titah Dioneel.


Aletta pun pindah ke kursi tengah dan mulai berganti pakaian dengan cepat. Setelah selesai, dia keluar dari mobil dan dengan wajah memerah, Aletta meminta bantuan kepada Dioneel untuk memakaikan tali gaun tersebut. "A-, aku ngga bisa pakai sendiri. Harus ada yang memegang rambutku,"


Sentuhan tangan Dioneel di tengkuk leher Aletta menimbulkan sensasi sendiri bagi gadis itu. Apalagi pakaiannya saat ini sungguh sangat terbuka. "Ba-, bagaimana? Apakah ini tidak terlalu terbuka?"


Dioneel merapikan rambut Aletta dan mengecup punggung tangan gadis itu. "Kau cantik,"


Aletta tersipu. Baru pertama kali selama hidupnya dia memakai gaun yang indah dan cukup terbuka seperti malam ini. Tak hanya bagian dadany yang rendah, gaun itu memiliki panjang semata kaki, tetapi terbelah hingga seatas lutut dan menampilkan pahanya yang putih mulus.


Selesai makan, Dioneel mengajak Aletta pulang ke rumahnya. Namun, gadis itu menolak. "Aku harus pulang, kakakku menunggu kepulanganku. Dia sedang sakit,"


"Baiklah, aku akan mengantarmu," jawab Dioneel lagi.


Akhirnya, Dion kembali melajukan kendaraannya dan menuju rumah kontrakan Aletta. Setibanya di sana, lagi-lagi Dion menahan Aletta turun. "Bagaimana kalau kau dan kakakmu tinggal di rumahku saja? Atau, aku akan meminta izin pada kakakmu supaya kau bisa tinggal bersamaku,"


Aletta tersenyum. "Sayangnya ngga bisa, Dion. Kakakku sedang sakit dan aku tidak tau kapan dia bisa sembuh,"


Dion melihat raut mata kesedihan di wajah Aletta yang cantik. Seketika itu juga, Dioneel mendaratkan ciumannya di bibir merah Aletta. "Aku akan melindungimu, itu sumpahku,"


Ciuman manis itu, segera saja berubah menjadi sebuah pagutan yang dalam. Aletta membalas ciuman Dioneel dan segera mengalungkan lengannya di pundak Dioneel.


Pagutan mereka terasa semakin panas saat Dioneel menarik tubuh mungil Aletta ke atas pangkuannya. Bibir Dionelle dengan mudah, turun ke ceruk leher gadis itu. Dia menambatkan ciumannya di sana dan menyesapnya kuat, membuat Aletta mendessah.


Di tengah panasnya permainan mereka, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari dalam rumah kontrakan tersebut.


"Aaaaaaarrggghhhh! Aaarrggghhhh!"


Aletta menarik dirinya dari dekapan Dioneel. "Kakak!" Gadis itu kemudian menatap Dioneel dengan panik. "Maafkan aku, aku harus turun!"


Seorang pria berlari keluar begitu saja ke arah jalanan, Aletta pun berlari mengejarnya dan segera menangkap pria itu.

__ADS_1


Dioneel memincingkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas. "Apakah itu kakak Aletta? Apa yang terjadi kepadanya?"


***


__ADS_2