
Keesokan harinya, Dioneel berusaha menghubungi Aletta kembali. Namun setelah empat kali pria itu meneleponnya, Aletta belum merespon sama sekali.
Kakak Aletta, entah mengapa mengganggu pikiran Dioneel. Dia sempat melihat sepintas wajah kakak Aletta tersebut dan seperti pernah bertemu dengannya, tetapi entah di mana. Apa hanya bayang-bayang dia saja? Entahlah, yang jelas Dioneel akan menanyakan tentang kakak Aletta ini kepadanya nanti.
Hal kedua yang cukup menarik perhatiannya saat ini adalah, hubungannya dengan Aletta yang dapat dibilang sudah semakin dekat. Akan tetapi, dia masih ragu untuk meneruskan perasaannya itu karena pria berparas tampan itu belum siap untuk membangun komitmen.
Namun untuk saat ini, dia tidak bisa tidak bersama dengan gadis bertubuh kecil dan berwajah cantik itu. Maka, di pagi hari itu, Dioneel menemui Aletta di showroom mobil tempatnya bekerja
Setibanya di sana, dia disambut oleh Sandra. "Mau ambil unit atau mau lihat-lihat saja?"
"Aletta mana?" tanya Dioneel. Wajahnya ketus dan tidak ramah.
"Aletta shift sore. Dia telepon tadi, katanya minta ganti shift. Kakaknya sakit," jawab Sandra.
"Sakit? Sakit apa?" tuntut Dioneel lagi.
Sandra menggelengkan kepalanya. "Aku juga kurang tau. Aletta itu wanita tertutup. Dia tidak suka menceritakan kisah hidupnya pada orang lain. Beruntunglah dia cantik dan rajin, aku senang padanya,"
"Baiklah, terima kasih," ucap Dioneel bergegas pergi.
Namun, Sandra memanggil pria itu kembali. "Kau tidak jadi mengambil tiga unit?"
"Aku akan menunggu Aletta datang. Lagipula, aku bisa langsung mengambil unit itu dengannya, 'kan? Aku pergi!" tukas Dioneel lagi dan kali ini dia benar-benar pergi meninggalkan showroom mobil tersebut.
Tak menyerah, Dioneel kembali menghubungi Aletta, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari gadis itu. Tak menyerah, dia mengirimkan pesan pada Aletta dan setelah itu Dioneel kembali ke rumah kontrakan gadis tersebut.
Sementara itu, Aletta masih bergelut dengan segala urusan Arsen. Entah apa yang terjadi, sejak malam Arsen terus mengamuk dan tidak bisa tidur.
Gadis itu pun bertanya kepada wanita yang menjaga Arsen saat wanita itu datang di pagi itu. "Bu, maaf. Apakah kakak saya minum obat dengan teratur?"
Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Nona. Saya memberikan obat itu sehari 3x, setelah makan sesuai dengan instruksi yang Nona berikan,"
"Apakah Ibu sudah memastikan apakah kakak saya benar-benar meminumnya?" tanya Aletta lagi.
Ketakutannya menjadi nyata saat Si Ibu menggelengkan kepalanya dan tampak tidak tau menahu tentang Arsen yang terkadang menyembunyikan obat di bawah lidahnya.
Setelah mengetahui apa yang terjadi, Aletta dapat menyimpulkan kalau Arsen tidak meminum obat itu dengan baik.
Kini, wajah Arsen tampak ketakutan. Laki-laki itu tau kalau Aletta akan marah kepadanya. Benar saja, Aletta segera masuk ke dalam kamar Arsen dengan berkacak pinggang dan memasang wajah galak. "Kenapa Kakak tidak minum obatnya dengan baik? Kenapa dibuang?"
"Arsen minta maaf, Aletta. Aletta jangan marah," jawab Arsen.
"Aku marah! Kakak ngamuk-ngamuk dari kemarin dan teriak-teriak! Untung saja, aku sudah pulang saat Kakak kabur! Gimana kalau aku ngga ada? Kakak mau kabur ke mana? Ngga akan ada yang tau!" tukas Aletta. Sejujurnya, gadis itu tidak akan pernah bisa marah kepada Arsen dan saat ini, dia hanya pura-pura marah kepada kakak laki-lakinya itu.
Arsen buru-buru memegangi tangan adiknya. "Arsen minum obat. Arsen janji,"
__ADS_1
"Kakak pembohong!" goda Aletta sambil membuang wajahnya.
Kakak laki-lakinya itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ngga! Jangan telepon rumah sakit, Arsen minum obat sama Ibu. Aletta kerja aja,"
Melihat tingkah lucu kakaknya, Aletta akhirnya tersenyum. "Janji obatnya diminum dan ngga dibuang?"
Arsen mengangguk cepat. "Janji! Arsen janji!"
"Kalo Kakak teriak lagi, aku langsung telepon rumah sakit, yah?" tanya Aletta lagi.
Lagi-lagi Arsen mengangguk. "Iya, Arsen di rumah sakit sama Aletta,"
Aletta terkikik. "Ngga mau! Kakak sendiri aja di rumah sakit! Kakak bandel, ngga mau minum obat!"
"Mau, Aletta! Arsen minum obat!" Arsen pun berdiri memanggil penjaga yang menjaga dirinya selama Aletta bekerja. "Ibu! Ibu! Arsen mau minum obat!"
Ibu itu segera mengambilkan sarapan untuk Arsen serta obat di meja. "Makan dulu, baru minum obat. Belum makan, 'kan?"
Arsen menggelengkan kepalanya, lalu cepat-cepat menyuapkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya. Tak lama, dia sudah membawa gelas dan obat ke hadapan Aletta. "Arsen minum obat,"
Pria itu memperlihatkan caranya minum obat pada Aletta, setelah obat tertelan dia membuka mulut dan mengangkat lidahnya. "Udah,"
"Oke, good. Kakak harus minum obat terus biar cepat sembuh. Katanya, Kakak mau bantu aku cari uang, 'kan? Makanya sehat dulu," ucap Aletta sambil mengusap tangan kakaknya.
Aletta menghampiri mobil besar itu. "Hei, Dioneel,"
"Hai, masuklah. Aku akan mengantarmu," ucap Dioneel kepadanya.
Gadis itu pun masuk ke dalam mobil itu. "Maaf, aku tidak sempat memegang ponsel. Kakakku sedang sakit, jadi-, ...."
"Tidak masalah. Kalau boleh tau apa yang terjadi dengan kakakmu? Kenapa dia teriak-teriak seperti itu?" tanya Dioneel.
"Maaf, aku belum bisa bercerita kepada siapa pun," jawab Aletta lagi.
Dioneel pun mengangguk. Dia mencoba menghormati keputusan Aletta yang memilih untuk tidak menceritakan tentang keluarganya. "Baiklah,"
"Dioneel, soal ciuman tadi malam. Mengapa kau menciumku tiba-tiba?" tanya Aletta polos, wajahnya memerah. Andaikan malam itu, Arsen tidak kabur dan mengamuk, Aletta tidak dapat membayangkan apa yang terjadi padanya.
Wajah Dioneel pun memerah. "A-, aku terbawa suasana. Tadi malam kau cantik sekali,"
"T-, terima kasih," balas Aletta. Entah mengala, cuaca siang itu rasanya panas sekali. Aletta pun mengipasi wajah dengan kedua tangannya.
Setibanya di tempat kerja, Dioneel datang dan menepati janjinya. Dia membeli 10 unit mobil atas namanya dan satu unit, dia berikan untuk Aletta.
"Eh, tidak usah!" tolak gadis itu.
__ADS_1
"Anggap saja hadiah karena kau baik," jawab Dioneel mengecup kening Aletta lalu keluar dari showroom itu.
Gadis itu selalu memohon pada hati dan otaknya supaya tidak berharap lebih pada Dioneel karena mereka belum menjadi sepasang kekasih.
Sore itu, seorang wanita datang dan dia tertarik dengan satu unit mobil tipe SUV yang ditawarkan oleh Aletta. Wanita itu sepakat untuk membelinya.
"Bisa pakai kartu atau cash?" tanya wanita itu.
Aletta tersenyum ramah kepadanya. "Kami bisa menerima keduanya. Andaikan mau kredit juga bisa, kebetulan kami sedang ada promo,"
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Aku mau cash,"
"Baik," balas Aletta lagi. Dia pun meminta data pribadi wanita itu. "Nona Raline?"
"Betul. Dan kau? Aletta Sora? Wajahmu tidak asing," kata Raline.
Aletta mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu dengan senyumannya yang manis. "Benarkah? Wajahku pasaran, Nona. Mungkin ada melihat gadis lain yang mirip denganku,"
Raline mengusap dagunya dan memutar kedua bola matanya. "Tidak! Bukan orang lain. Kau mirip dengan pria yang sempat aku cintai,"
"Hahaha! Wajahku mirip laki-laki itu? Nona, ada-ada saja," sahut Aletta dan melanjutkan mengisi data pribadi Raline.
Wanita itu masih tampak penasaran dan berusaha mengingat nama pria itu, sampai akhirnya dia menepuk tangannya. "Aaah, Arsen! Kau mirip sekali dengan Arsen,"
Jantung Aletta seakan berhenti berdetak saat mendengar nama itu. Logikanya kembali mengambil alih, nama Arsen banyak dan tidak hanya dipakai oleh kakaknya.
"Begitukah?" tanya Aletta sambil berusaha menenangkan diri.
Raline mengangguk. "Kasihan Arsen itu. Setelah kejadian dia dipukuli oleh anggota geng motornya, tidak ada satu pun temannya yang tau bagaimana nasibnya sekarang. Cukup parah lukanya waktu itu. Hanya karena kalah balapan,"
Tangan Aletta bergetar. "D-, dari mana kau tau cerita itu?"
"Sahabat baik Arsen menghubungiku keesokan harinya. Dia menceritakan segalanya dan dia merasa bersalah sekali karena tidak bisa menolong Arsen saat itu," jawab Raline.
Aletta semakin bergetar dan sesak, seakan oksigen disekitarnya di tarik begitu saja sehingga dia kesulitan untuk bernapas. "S-, siapa sahabat baik Arsen?"
Arsen tidak pernah menceritakan tentang kehidupan motornya atau teman-temannya, atau bahkan siapa wanita yang sedang dia cintai saat itu.
Aletta sudah lemas sekali rasanya, sampai dia tidak kuat memegang alat tulis. Apalagi saat Raline menyebutkan sebuah nama yang sangat dikenalnya.
"Dioneel. Dia sahabat baik Arsen." jawab Raline.
Segera saja, alat tulis yang dipegang Aletta tergelincir dari tangannya dan suara Raline terdengar semakin menjauh.
***
__ADS_1