
*Bab 32*
"Ini bonusmu karena sudah berhasil menjual seluruh mobil brand yang seharusnya kamu jual selama sebulan ini, tetapi kamu berhasil menjualnya dalam sehari!' kata Rudi sambil menyerahkan uang dalam amplop cokelat kepada Aletta.
Aletta hanya menatap Rudi dengan tatapan tidak mengerti karena dia merasa kalau dirinya tidak melakukan apa-apa sejak kemarin dan bahkan dia juga tidak menjual satu mobil pun kepada konsumen yang ada.
Saat ini, justru dia sedang pusing bagaimana caranya agar bisa menjual mobil yang menjadi tanggung jawabnya. Aletta bahkan hampir putus asa karena sebelumnya dia tidak pernah bisa menjual mobil dengan brand tersebut. Mobil mewah dengan harga yang dibandrol seharga satu rumah mewah itu, memang tergolong mobil yang sulit dijual. Namun, untuk kolektor mobil pasti mereka akan tertarik dan membelinya. Tetapi, hanya orang gila yang sanggup membeli semua unit mobil itu dalam waktu sehari.
"Tapi maaf, Pak. Saya rasa saya belum menjual satupun mobil itu. Jadi saya rasa, saya tidak pantas menerima hadiah ini," ucap Aletta yang masih tidak paham dengan apa yang terjadi di hidupnya akhir-akhir ini.
"Customer yang kemarin kamu tangani, menelpon saya dan mengatakan kalau dia akan membeli semua mobil yang kamu jual dan dia juga mengatakan kalau dia membeli mobil tersebut atas rekomendasimu! Bahkan dia sudah membayarkan semua uangnya secara cash padahal kita baru mengirim mobil tersebut nanti sore!" kata Rudi lagi.
"Customer yang kemarin? Yang mana ya, Pak? Karena saya merasa kalau saya tidak pernah bertemu dengan customer kemarin!" tanya Aletta.
"Pak Davin, namanya." kata manager showroom mobil itu lagi, sekedar untuk mengingatkan kalau-kalau karyawannya itu lupa dengan customernya.
Aletta terdiam saat mendengar nama itu disebutkan oleh manajernya. Sungguh dia tidak pernah mengira jika lelaki yang satu itu akan benar-benar membeli seluruh mobil yang ditawarkan olehnya, dan dia menganggap jika apa yang dilakukan oleh Davin adalah sesuatu yang sangat tidak berarti sama sekali, karena dia tidak akan pernah menjual harga dirinya hanya untuk sejumlah uang yang ditawarkan oleh lelaki yang satu itu.
"Sepertinya dia salah sebut nama dan saya tidak pernah menangani customer dengan nama pak Davin!" kata Aletta yang memang ingin menolak apa yang ditawarkan oleh lelaki yang satu itu. Karena bagaimanapun juga bagi Aletta, apa yang dilakukan oleh Davin adalah bentuk dari merendahkan dirinya sebagai seorang perempuan.
"Sudahlah, kamu tidak perlu berdebat! Justru kamu harusnya berterima kasih karena dia mau membeli semua mobil yang kamu jual, sehingga kamu bisa mendapatkan bonus yang sangat besar, dan kamu juga bisa mengambil libur selama sisa bulan ini!" kata Rudi yang memang sedang tidak ingin berdebat sama sekali dengan Aletta dan kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Aletta.
Aletta masih saja duduk pada tempat duduknya dan memikirkan langkah apa yang seharusnya dia lakukan dalam hal ini. Bagaimanapun juga dia tidak ingin dianggap menjual harga dirinya hanya karena sejumlah uang kepada lelaki yang sudah dengan sombongnya menunjukkan kalau dia bisa membeli segala sesuatu yang ada di dunia ini. Bukan hanya itu, Aletta juga tidak ingin dicap sebagai perempuan yang mau menjual hubungan dan juga perasaannya pada sejumlah uang yang ditawarkan oleh Davin kepadanya.
Aletta yang memang mendapatkan keringanan pekerjaan memutuskan untuk segera kembali ke rumah dan menemui Kenzie untuk meminta saran kepada lelaki yang satu itu terhadap masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
__ADS_1
Bagaimanapun juga dia tidak ingin salah langkah dalam menghadapi permasalahan tersebut karena sekali saja dia salah langkah bisa jadi akan membuatnya menyesal seumur hidup.
Aletta menyerah dan akhirnya kembali ke rumahnya dengan wajah kacau dan perasaan yang campur aduk. Ada kesal, marah, sedih, dan bingung. Dia tidak tau bagaimana mengontrol suasana hatinya saat dia sampai di rumah.
"Bro Dioneel mana?" tanya Arsen ketika Aletta baru saja sampai di rumahnya dan mendapati pertanyaan dari sang kakak yang justru dia benar-benar tidak berharap akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Arsen.
"Dia sedang bekerja, dan belum bisa mampir ke rumah!" kata Aletta dengan wajah sedikit ditekuk karena dia memang sedang tidak ingin membahas mengenai hal tersebut karena terbayang dengan apa yang dikatakan oleh Davin kemarin.
"Bro Dioneel menyakiti Aletta?" tanya Arsen lagi. Dia mengikuti kemana pun adiknya itu melangkah.
"Tidak! Dia tidak menyakitiku! Aku hanya lelah, Kak," jawab Aletta sambil masuk ke dalam kamarnya. Tak lama dia sudah keluar kembali dari kamarnya karena mengkhawatirkan keadaan Arsen. Dia takut kalau kakaknya itu tiba-tiba mengamuk dan berteriak-teriak.
Dengan menarik napas panjang, Aletta mengajak Arsen duduk bersama di meja makan. "Apa Kakak menyukai Dioneel?"
Arsen mengangguk tanpa dosa. "Aletta juga suka, 'kan?"
Arsen memandang Aletta dengan tatapan kosong. Namun di balik kosongnya tatapan itu, Aletta tahu kalau Arsen sedang memikirkan dirinya. Karena Arsen membelai rambutnya dan menyandarkan kepalanya sendiri di pundak Aletta.
"Hei, Kakak mau pindah, ngga? Kita cari rumah yang lebih besar dan kita ajak Ibu Lily juga. Mau?" tanya Aletta.
"Bro Dioneel?" tanya Arsen lagi.
Aletta tau kalau kakaknya belum siap berpisah dengan Dioneel dan dia memejamkan matanya sesaat. "Ya udah, kita tidur dulu, yuk!"
Gadis itu pun memberikan obat kepada kakaknya dan setelah itu dia masuk ke dalam kamar untuk memikirkan apa yang akan dia putuskan untuk kedepannya. Apakah dia akan menerima uang bonus dari Rudi lalu pindah? Ataukah dia akan tetap bertahan di sana dan menolak uang pemberian itu?
__ADS_1
"Aarrgghh! Tuhan, tolong aku! Apa yang harus aku lakukan?" tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan berat. Butiran bening dari sudut matanya pun kembali turun dan dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal untuk mengeluarkan segala perasaannya hari itu.
Keesokan harinya setelah Ibu Lily datang, Aletta membicarakan sesuatu dengannya dan wajah Ibu Lily menjadi sedih, tetapi dia nampak mengangguk setuju dengan apa yang dibicarakan oleh Aletta.
Setelah itu, Aletta berpamitan untuk pergi menemui Rudi sambil membawa sepucuk surat di tangannya. Setibanya di showroom, dia memberikan surat itu kepada Rudi.
"Dan apa ini?" tanya Rudi sambil membuka surat itu dan dia membacanya dengan cepat. "Kau mengundurkan diri?"
Aletta mengangguk. "Bonus kemarin, apakah Tuan masih akan memberikannya kepadaku?"
"Tidak bisakah kau membatalkan surat ini? Kau pegawai yang cukul kompeten, Aletta. Belum tentu aku bisa menemukan penggantimu," tanya Rudi lagi. Dia mengakui begitu Aletta bergabung bersama mereka, angka penjualan di showroom tersebut meningkat dengan signifikan.
Aletta menggelengkan kepalanya. "Aku harus fokus mencari rumah sakit untuk mengobati kakakku," jawab Aletta berbohong. Hanya itu satu-satunya cara supaya dia diizinkan untuk keluar dari showroom tersebut.
Rudi tak kuasa menahan dan dia memberikan uang bonus kepada gadis itu dengan berat hati. "Semoga kau sukses, Aletta,"
Beberapa hari kemudian, Dioneel hendak menemui Aletta di rumahnya. Namun, seorang ibu pemilik kontrakan itu mengatakan kalau Aletta sudah pindah rumah dari beberapa hari yang lalu dan dia tidak menyebutkan ke mana alamat barunya.
Merasa dikhianati, Dioneel pun bergegas ke tempat kerja Aletta. Lagi-lagi dia dikecewakan dengan jawaban Rudi. "Sia resign. Memang seperti ada yang aneh, setelah dia mendapatkan mega bonus atas penjualan unit mobil atas nama ayahmu, dia mengundurkan diri secara tiba-tiba,"
"Ayahku?" tanya Dioneel.
Rudi mengangguk. Setelah mendapatkan penjelasan dari Rudi, Dioneel mengendarai mobilnya dengan membabi buta ke kediaman Davin. Dia marah sekali kepada ayahnya itu.
"Papa! Papa!" tukasnya.
__ADS_1
Begitu dia melihat Davin, Dioneel melemparkan sesuatu yang hampir mengenai wajah Davin. "Apa-apaan kamu, Dioneel!"
"Apa yang Papa lakukan kepada Aletta!" tanya Dioneel marah sambil mencengkeram leher ayahnya yang sudah berumur itu.