
Bab 42
"Tidak, Dioneel. Kau tak perlu membayar apa pun untuk tawaranku yang satu ini. Biar nanti aku yang meminta tolong pada pamanku secara langsung, dan aku yakin dia pasti akan membantu kita secara cuma-cuma," ucap Pietro yang seketika membuat kepala tertunduk Dioneel menjadi perlahan-lahan naik ke atas.
Dioneel menatap tak percaya pada sahabatnya itu, hingga akhirnya sedetik kemudian ia pun langsung memeluk erat tubuh Pietro sebagai tanda terima kasihnya yang tak terucap.
"Kalau kau mau, aku akan segera pergi ke kediaman pamanku sekarang. Mudah-mudahan saja dia sedang tidak sibuk, sehingga bisa segera membantumu dan juga Aletta untuk segera memenjarakan Axel secepatnya!" lanjut Pietro yang kembali berusaha menyakinkan.
"Baiklah kalau begitu, Pietro. Sebelumnya aku akan mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Maaf kalau aku jadi merepotkanmu dengan masalah ini," ucap Dioneel yang kembali memeluk erat anak buah yang selalu ia andalkan dalam menembus gelapnya malam dengan kecepatan tersebut.
"Tidak perlu seperti itu juga, Dioneel. Biar bagaimanapun segala tawaran bantuan ini, tidak seberapa dengan segala kebaikanmu padaku. Kau adalah satu-satunya orang yang menerimaku lebih dulu di Death Squad, dan kau juga adalah satu-satunya orang yang sangat mengerti dengan potensiku. Sehingga karenamu, aku jadi menemukan hobi dan bakat yang sesuai denganku. Di mana karena hal itu juga, aku bisa mendapatkan uang yang cukup banyak tanpa harus repot meminta uang kepada keluargaku lagi," balas Pietro yang juga memeluk erat ketua geng yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri itu.
***
Hingga keesokan harinya, Dioneel pun langsung berupaya menemui Aletta di rumah sekaligus di tempat restorannya yang baru. Kebetulan untuk malam kemarin ia memang sengaja tak pulang ke sana, karena memutuskan untuk bermalam di markas Death Squad bersama para anggota gengnya demi membahas beberapa strategi yang harus dijalaninya ke depan nanti.
"Aletta!"
"Eh, stop!" potong Arsen yang langsung selangkah maju lebih dulu, menahan gerakan Dioneel yang seolah ingin memeluk Aletta.
Kini, pria yang wajahnya sudah terlihat kembali lebih segar dari yang kemarin itu memicingkan kedua matanya ke arah Dioneel. Arsen terus melihat ke arah Dioneel dari atas sampai ke bawah secara berkali-kali, hingga akhirnya Aletta menepuk pundak sang kakak lebih dulu untuk memberikan sedikit pengertian.
__ADS_1
"Dioneel tidak akan jahat kepadaku, Kak. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, Dioneel hanya berbuat kasar pada orang yang jahat. Bukan pada orang baik sepertiku, kakak, dan juga Bu Lily," jelas Aletta dengan lemah lembut, hingga wajah tegang Arsen perlahan-lahan menjadi sedikit lebih santai.
"Benarkah seperti itu?"
"Iya, Arsen. Dioneel itu sangat baik pada kita," jawab Bu Lily yang tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah mereka.
Mendengar hal itu, Arsen pun jadi sedikit melunak. Kebetulan juga saat ini adalah jam makan obatnya. Sehingga Bu Lily berinisiatif untuk membawa Arsen pergi sedikit menjauh dari Aletta dan Dioneel sebentar, demi memberikan waktu pada kedua anak muda itu untuk berbicara.
"Aku ke sini karena ingin mengabarkan suatu kabar yang cukup baik, Sayang," ucap Dioneel dengan ceria, sambil menyentuh sesaat salah satu pipi Aletta yang sangat lembut.
Seperti biasa, tatapan pria itu selalu saja berhasil masuk sampai ke dalam hati Aletta. Hingga saat ini kedua netra gadis itu terus terarah pada wajah tampan seorang Dioneel.
"Kabar apa, Dion? Apa ini menyangkut dengan Axel?" tebak Aletta yang tentunya tepat sasaran.
"Tapi, Dion. Bagaimana dengan Kenzie? Bukannya dia sudah mengurus semuanya dari awal? Aku takut dengan kemunculan paman Pietro yang tiba-tiba, malah membuatnya merasa jadi tersinggung," tutur Aletta sambil berusaha sedikit menjauh, sebelum kedekatannya dengan Dioneel di saksikan oleh Arsen.
"Tidak, Sayang. Itu tidak mungkin, karena Pietro juga menyarankan kita tetap memakai jasa Kenzie. Jadi rencananya paman Pietro akan bekerja sama dengan Kenzie dalam mengurus kasus ini, sehingga kasus ini akan bisa semakin terselesaikan dengan cepat."
"Baiklah kalau begitu, Dion. Nanti aku akan sampaikan berita ini pada Kenzie. Dan setelah itu, kapan rencananya kita semua akan bertemu atau mengurus semuanya kembali ke pengadilan?" tanya Aletta yang kini semakin merasa melihat kemenangan di depan mata.
"Tidak usah, Sayang. Biar aku saja yang menghubungi Kenzie langsung, dan yang mengurus semuanya. Aku tidak mau membiarkan dia memanfaatkan keadaan untuk mendekatimu, karena aku tidak mau merasa cemburu!"
__ADS_1
"Hahahaha! Ternyata bad boy bilioner sepertimu bisa cemburu juga ya? Tapi, memangnya aku siapa sih? Bukannya aku tidak memiliki hubungan apa pun denganmu ya? Jadi untuk apa kamu cemburu?" sambar Aletta yang malah balik menggoda Dioneel dengan perkataannya dan juga tawa lepasnya.
Melihat hal itu, Dioneel pun semakin tak bisa menahan rasa gemasnya lagi. Dengan secepat kilat ia langsung menarik tubuh Aletta mendekat, hingga akhirnya ia langsung membungkam mulut yang sedang tertawa dengan mulutnya sendiri.
Aletta yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun cukup terkejut. Akan tetapi karena hatinya yang tak bisa menolak, dia pun akhirnya jadi ikut membalasnya dan semakin tenggelam dalam kecupan yang semakin panas tersebut.
***
Sehingga selang beberapa hari kemudian, kini Axel pun semakin merasa ketar-ketir di dalam rumahnya. Ia terkejut di pagi hari ini, karena tiba-tiba saja dirinya mendapatkan sebuah undangan panggilan dari pihak kepolisian. Sehingga alhasil, dirinya pun semakin bingung saat ini.
"Akhh! Sial! Jadi ternyata Dioneel juga melaporkan kasus keributan di malam hari itu? Dan ternyata dia juga sudah melakukan visum untuk memperkuat semuanya?" tanya Axel pada sang pengacara yang baru saja datang ke tempat tinggalnya.
"Iya, Tuan. Dan tak hanya itu saja, beberapa foto tempat kejadian waktu itu juga sudah diambilnya dan dilaporkannya sebagai barang bukti. Sehingga kini, nampaknya kita akan semakin kesulitan untuk menampik semuanya," jelas sang pengacara yang tentunya semakin merasa pusing.
Dari awal, pengacara itu memang sudah mewanti-wanti Axel untuk jangan bertindak lebih jauh terlebih dahulu. Akan tetapi sayangnya, ternyata semua peringatannya itu diabaikan saja. Sehingga kini, ia semakin kesulitan untuk membantu kliennya tersebut untuk terbebas dari segala jerat hukum.
"Lalu, bagaimana dengan kasus yang satunya lagi? Apa Dioneel dan Aletta melupakan begitu saja tentang keputusan sidang beberapa waktu yang lalu?" tanya Axel yang berusaha untuk berpikiran positif.
"Maaf, Tuan. Akan tetapi nyatanya mereka semua tak seperti itu. Seperti yang Dioneel katakan di persidangan waktu itu, dia kini sudah berhasil menemukan seorang yang tepat untuk mengungkapkan semuanya."
"Apa? Maksudmua apa? Siapa orang itu?" ucap Axel terkejut, bahkan hampir membulatkan matanya.
__ADS_1
"Maaf untuk itu saya belum berhasil mencari tahunya, Tuan. Akan tetapi jika memang itu benar adanya, sepertinya kita sudah tak bisa mengelak lagi. Jika sampai benar-benar orang yang Dioneel maksud itu membuka mulut, dan menjabarkan segala bukti kalau kita telah menyuap hakim waktu itu. Kita akan benar-benar habis! Berbagai hukuman pasti langsung akan menunggu kita, termasuk dengan kurungan jeruji besi!" tutur sang pengacara, yang seketika saja ampuh membuat seluruh tubuh Axel keluar keringat dingin.