
Bab 9
"Lo serius? Di mana?"
Aletta yang sudah ketar-ketir, kini pun menoleh ke arah Dioneel. Ia melihat perubahan raut wajah pria yang belakangan ini sering sekali berada di sampingnya itu, terlebih setelah kedua matanya tak sengaja menyorot salah satu tangan Dioneel yang terkepal kuat.
"Dion lo—"
"Ssttt! Tunggu sebentar," potong lelaki itu yang langsung membuat mulut Aletta tertutup rapat.
Sejujurnya, Aletta tak suka jika melihat Dioneel yang sedang dalam mode serius seperti ini. Tatapan lelaki itu sungguh sangat membuatnya takut, terlebih dengan auranya yang terasa sangat dingin.
"Oke! Gue ke sana sekarang!"
Ketua Death Squad itu segera menyudahi panggilan teleponnya, dan beralih menatap ke arah seorang perempuan yang sedang tertunduk di sampingnya. Ia meraih pergelangan tangannya, dan mengusapnya sesaat.
"Sorry, gue enggak bisa lama-lama di sini," ucap lelaki itu yang seketika membuat Aletta menatapnya terkejut.
Bagaimana bisa Dioneel melupakan janjinya begitu saja? Apa kata teman-temannya nanti? Kalau sampai pria itu benar-benar pergi sekarang, sudah dipastikan ia akan semakin di-bully di tempat kerjanya yang baru ini.
Ya, Aletta memang baru saja pindah bekerja di showroom mobil itu. Ia pindah berkat tawaran gaji yang lebih tinggi dari yang sebelumnya.
Lagi pula dengan gaji yang lebih tinggi dari tempat kerjanya dan uang bayaran dari Dioneel, ia jadi lebih mudah mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan kakaknya. Aletta ingin kakaknya itu cepat sembuh, agar dia bisa kembali merasakan kebahagiaan dulu yang sempat dirasakannya.
"Gue balik dulu ya?" tanya Dion yang masih menunggu jawaban Aletta.
"Oh, jadi mau baik aja nih? Kayaknya tadi ada yang bilang mau beli sepuluh unit deh? Jadi itu pura-pura aja ya? Biar apa sih? Biar keliatan keren dan kaya di depan pacarnya ya?" sambar Sandra dengan kedua netra melirik sinis ke arah Aletta dan Dioneel secara bergantian.
Wanita itu tersenyum mengejek, seraya sengaja mengencangkan volume suaranya. Nampaknya Sandra sengaja melakukan itu semua, agar membuat Aletta semakin malu.
__ADS_1
"Eh, lo diem aj—"
"Apa? Jadi benar ada yang mau membeli sepuluh unit langsung dari showroom kita?" potong sang manajer yang seketika tersenyum senang.
"Iya, Bu! Kata cowoknya Aletta ini, dia mau beli sepuluh unit langsung tanpa diskon! Keren enggak tuh, Bu?" sahut Sandra semakin mendramatisir.
Hilang sudah wajah Aletta saat ini, dirinya benar-benar merasa malu. Terlebih manajernya kini sudah ikut campur, dan menanggapinya dengan serius.
"Maaf, Bu. Sebenarnya—"
"Sebenarnya apa? Lo mau bilang kalau sebenarnya cowok lo ini cuma nge-prank kita kita aja? Hah?" potong Sandra dengan senyum sinisnya yang semakin lebar.
"Hahaha! Bisa aja lo, San!"
Berbagai gelak tawa, kini mulai terdengar memenuhi sebagian ruangan. Mereka semua kompak menertawakan Aletta, di mana hal tersebut cukup memancing emosi Dioneel.
"Diam kalian semua!" hentak pria itu dengan rahang tegas yang mengeras.
"Halah! Jangan banyak ngomong lo! Coba buktiin!" tantang Sandra yang benar-benar tak tahu siapa Dioneel yang sebenarnya.
"Gue akan buktiin, tapi nanti! Saat ini ada urusan yang jauh lebih penting, yang harus gue selesaikan!" jawab ketua Death Squad itu yang akhirnya melangkah pergi lebih dulu.
Dioneel sungguh tak bisa menunda waktu lagi. Ia harus segera sampai kembali ke markas utama geng motornya, karena saat ini ada Javas yang sedang terluka berkat ditabrak oleh seseorang.
Dioneel benar-benar harus mengusut tuntas semuanya, karena ini menyangkut dengan harga diri Death Squad yang tak boleh diremehkan oleh siapa pun!
"Dion! Tunggu!" teriak Aletta yang ternyata mengejar kepergian lelaki itu.
Mendengar suara yang tak asing di telinganya, langkah Dioneel pun terhenti. Ia segera berbalik, di mana hal tersebut langsung disambut oleh sebuah tamparan keras dari perempuan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Plakk!
"Gue mau bicara sama lo, Dion!" ucap Aletta langsung setelah berhasil menampar pipi lelaki tersebut.
Dengan cepat perempuan itu menarik paksa tangan Dioneel menjauh dari atasan dan juga rekan-rekan kerjanya. Kedua matanya kini menatap nyalang ke arah lelaki itu, dengan berbagai rasa campur aduk yang ada di hati.
"Gue rasa lo bener bener gila, Dion!" ujar Aletta yang akhirnya bisa mengeluarkan rasa kesalnya.
"What? Kenapa lo jadi bilang gue gila, setelah nampar gue? Gue cuma enggak bisa lama-lama di sini, Aletta!"
"Nah! Itu! Lo gila, karena bisa dengan mudahnya pergi setelah janji yang enggak-enggak sama di depan rekan-rekan kerja gue! Mau lo apa sih? Lo mau buat gue malu di tempat kerja gue yang baru?" seru Aletta dengan satu tarikan napasnya yang panjang.
Napas perempuan itu kini terlihat naik turun, seiring dengan ledakan emosinya pada Dioneel. Aletta malu, bahkan rasanya ia sudah tak punya muka untuk berhadapan lagi dengan rekan-rekannya dan juga Sandra yang sangat tak menyukai dirinya. Dari awal kedatangannya di tempat ini, Sandra memang selalu saja menganggap dirinya sebagai saingan yang harus disingkirkan.
"Aletta, gue enggak akan ingkar janji ya! Lagi pula lo jangan khawatir, gue bisa tepati ucapan gue nanti. Untuk saat ini ada hal yang lebih penting yang harus gue urus, Aletta!"
"Lo memang selalu enggak bisa mikirin perasaan orang, Dion! Lo memang egois!" ucap Aletta akhirnya, dengan menatap tak mengerti pada pria yang telah mengikat hidupnya itu.
Selanjutnya, Aletta Tak mau meneruskan perbincangannya dengan Dioneel. Ia sudah terlanjur kecewa, hingga meninggalkan lebih dulu lelaki itu begitu saja.
"Akhh! Sial! Kenapa jadi gini sih?!" gerutu Dion yang akhirnya langsung dengan cepat menuju kembali kendaraan roda duanya.
Ketua Death Squad itu tak lagi mempedulikan Aletta. Saat ini ada yang jauh lebih penting, yang harus diurusnya. Sehingga kini, dirinya melesat cepat menembus gelapnya malam, berusaha secepat mungkin untuk kembali ke tempat markas utama Death Squad.
Bugghh!
"Siapa yang berani nabrak anak Death Squad?" tanya Dion setelah memukul dengan keras sebuah samsak tinju yang menggantung di depan markas geng motornya.
Belum melihat keadaan Javas saja, Dioneel telah berapi-api seperti ini. Bagaimana dengan nanti, setelah lelaki itu melihat keadaan Javas yang sebenarnya?
__ADS_1
Sungguh, untuk saat ini para anak-anak Death Squad benar-benar tak ingin membayangkannya. Kalau sampai itu terjadi, pasti Dioneel tak akan marah seperti ini. Lelaki itu pasti akan mengamuk, dan juga tak akan melepaskan sang pelaku begitu saja sebelum berhasil menghabisinya dalam waktu singkat.
"Kenapa lo semua diam? Cepat katakan siapa pelakunya! Atau gue yang mencari tahu semua sendiri!"