
Bab 34
"Bos!"
Dioneel terkejut, dan seketika langsung membalikkan tubuhnya menghadap para teman-temannya yang baru saja datang ke markas.
"Bagaimana?" tanya lelaki itu dingin, seraya menatap satu per satu wajah letih teman-teman satu gengnya.
"Sorry, Bro. Sampai malam ini, kita belum bisa menemukan keberadaan Aletta," tutur Kevin dengan berat hati pada ketua Death Squad tersebut.
Dioneel yang mendengar hal itu pun semakin tertunduk lemas. Ia sungguh kehilangan harapan untuk bisa bertemu lagi dengan satu-satunya wanita yang telah membuatnya tertarik dan jatuh cinta, yaitu Aletta.
"Tapi lo tenang aja dulu, Bro. Besok pagi, kita akan menyebar lagi untuk mencari Aletta di seluruh penjuru kota ini. Kalau perlu, nanti kita juga cari sampai ke luar kota. Kita enggak akan keberatan kok, sampai nanti lo bisa ketemu Aletta kembali!" tambah Javas seraya memukul pelan bahu Dioneel yang sudah ia anggap lebih dari sekedar teman itu.
Dioneel mengangguk, seraya berupaya tersenyum ke arah para anggota geng motor Death Squad. Walaupun sampai saat ini dirinya masih belum mendapati informasi tentang Aletta, akan tetapi setidaknya ia merasa sangat berterima karena semua teman-temannya itu telah berupaya sebisa mungkin untuk membantunya hari ini.
"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan besok pagi saja. Kalau perlu besok kita cari tambahan orang lagi, supaya Aletta bisa semakin cepat ditemukan!" putus Dioneel seraya beranjak dari tempat duduknya.
Sebelum benar-benar kembali ke rumahnya, Dioneel menyempatkan menatap gelapnya langit malam sekilas. Ia membayangkan wajah Aletta yang sedang tersenyum ke arahnya, hingga selanjutnya ia langsung mengendarai motornya menembus dinginnya malam.
"Aletta, aku harap besok kita bisa bertemu kembali! Aku tanpamu benar-benar hampa! Kau yang telah merubah seluruh duniaku, Aletta! Jadi tolong jangan pernah tinggalkanku seperti ini lagi!" batin Dioneel dengan terus membayangkan segala kenangan manisnya bersama Aletta.
***
Kringg! Kringgg!
Sebuah alarm tiba-tiba saja berbunyi, membangunkan seorang gadis yang baru saja terlelap dari tidurnya.
Ya, Aletta memang baru bisa tertidur sekitar jam tiga malam tadi. Karena sebelumnya, ia sama sekali tak bisa memejamkan kedua matanya berkat berbagai bayangan Dioneel yang membuatnya semakin rindu akan kehadiran sosok lelaki itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, tidak bisakah waktunya diundur terlebih dahulu? Aku masih sangat mengantuk sekali," ucap Aletta dengan lemas, seraya kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Aletta kembali memejamkan kedua matanya sesaat, sambil memeluk erat bantal guling yang ada di sisinya dengan sangat erat. Gadis itu membayangkan, bahwa Dioneel yang sedang dipeluknya saat ini. Aletta berusaha menghibur dirinya sendiri, walau nyatanya sampai saat ini ia masih belum tahu sikap apa yang nantinya akan diambilnya ketika berhadapan langsung dengan lelaki itu.
Tokk! Tokk! Tokkk!
"Aletta! Aletta! Ayo, bangun! Ini sudah pagi! Kita harus jualan! Ayo, Aletta!"
Baru saja gadis itu ingin terlelap kembali sambil membayangkan Dioneel yang tengah memeluk dirinya, tiba-tiba saja terdengar suara sang kakak yang terus menggedor pintu kamar dan terus memanggil dirinya.
Hufftt! Sebenarnya Aletta merasa tidak begitu bersemangat untuk hari ini. Ia masih saja terus kepikiran dengan Dioneel, karena sudah pergi begitu saja meninggalkan lelaki itu tanpa mengucapkan kata pamit sedikit pun.
"Aletta! Ayo, kita buka restorannya! Nanti pelanggan kita dipatok ayam!" teriak Arsen lagi yang begitu bersemangat untuk memulai usahanya barunya.
"Iya, Kak! Tunggu sebentar! Lima belas menit lagi aku keluar!" jawab Aletta akhirnya, sambil membuka kembali selimut yang sudah menutupi tubuhnya.
Dengan langkah gontai Aletta pergi menuju kamar mandi. Gadis itu membersihkan wajahnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya. Aletta berusaha untuk semangat demi memulai hari baru dan usaha barunya, meskipun segala bayang-bayang Dioneel tak pernah lepas dari hati dan pikirannya.
"Aletta!"
Baru saja Aletta keluar dari kamar, gadis itu sudah mendapatkan pelukan hangat dari sang kakak. Ternyata tadi Arsen benar-benar menunggu dirinya di depan pintu, sampai ia benar-benar menyelesaikan segala urusannya di dalam.
"Ayo kita buka restorannya, Aletta! Bu Lily sudah mempersiapkan semuanya!" seru Arsen yang semakin bersemangat menarik tangan adiknya untuk keluar dan melihat ke arah tempat yang sudah ditata sedemikian rupa kemarin untuk restoran kecilnya.
Aletta tersenyum, melihat semangat menggebu dari sang kakak. Hingga akhirnya setelah sampai, ia pun langsung menghampiri Bu Lily dan membantu perempuan itu mempersiapkan segala sesuatu sebelum nanti restoran kecilnya benar-benar dibuka untuk umum.
"Semua bahan-bahan telah siap, Aletta. Kita hanya perlu menunggu para pelanggan yang akan berdatangan ke tempat ini saja," tutur Bu Lily yang juga tak kalah semangatnya dengan Arsen.
"Hmm, sepertinya kalau hanya menunggu saja itu akan cukup membosankan. Bagaimana kalau aku keluar untuk membagi-bagikan informasi tentang restoran kecil kita ini, Bu? Mudah-mudahan saja dengan begitu, akan semakin banyak orang yang mengenal dan makan di tempat kita!" lontar Aletta dengan semangat promosinya yang seketika keluar.
__ADS_1
Biar bagaimanapun, Aletta memang sangat handal dalam mempromosikan sesuatu. Gadis itu ingin memanfaatkan keahliannya yang biasa ia gunakan untuk menjual unit mobil di showroom, menjadi sesuatu yang juga mungkin saja bisa membantunya untuk memperkenalkan restoran kecilnya kepada khalayak luas.
"Baiklah kalau begitu, Aletta. Biar ibu dan Arsen yang berjaga-jaga di sini. Kami akan selalu bersiap-siap untuk memberikan pelayanan yang terbaik pada setiap pembeli yang datang ke tempat ini," sahut Bu Lily dengan tersenyum penuh ceria pada Aletta.
Saat ini Arsen sudah sibuk dengan beberapa sendok yang ia tata di sebuah tempat. Sehingga tanpa mau mengganggu kegiatan kakaknya itu, Aletta pun langsung pergi dengan membawa beberapa brosur yang sempat ia cetak dan fotokopi kemarin setelah berpamitan dengan Bu Lily.
"Hati-hati ya, Aletta!" teriak Bu Lily sambil melambaikan satu tangannya.
Aletta tersenyum dan mengangguk, selepas berhasil naik ke atas motornya. Hingga setelahnya, ia pun langsung menyalakan mesin kendaraan roda duanya itu dan segera meninggalkan rumah dan juga restoran kecil barunya untuk mulai membagikan brosur.
***
"Bos bro! Kayaknya kita punya informasi bagus nih!" ucap Kevin yang tiba-tiba saja langsung menghampiri Dioneel yang sudah siap ingin pergi untuk mencari keberadaan Aletta kembali.
"Informasi apa? Tentang Aletta?" Tanya lelaki itu yang kembali melepaskan helmnya.
Kevin mengangguk, seraya mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya. Ia menyalakan benda pipih itu, dan langsung memperlihatkan sebuah foto yang baru saja didapatkannya pada ketua Death Squad tersebut.
"Apa sih? Foto cewek? Sumpah ya, Vin. Yang ada di otakku ini cuma ada Aletta! Jadi jangan tambahkan dengan yang lain!" omel Dioneel kesal, seraya hendak kembali memakai pelindung kepalanya.
Foto yang ditunjukkan oleh Kevin, memanglah sebuah foto wanita. Wanita itu berpakaian cukup minim dengan menampilkan lekuk tubuhnya, dengan satu mata yang terlihat mengedip dan mulut yang sengaja dimajukan.
Sungguh demi apa pun, Dioneel benar-benar tidak suka diajak bercanda seperti ini. Ia tak mau membuang-buang waktunya mencari Aletta, hanya dengan melihat foto seorang wanita yang mungkin saja itu adalah gebetan Kevin.
"Eitts! Tunggu dulu, Bro! Jangan marah-marah dulu! Mending lihat lebih jelas lagi, ada siapa aja orang yang ada di sini. Coba lihat dengan lebih jelas lagi, di sini," ucap Kevin seraya tersenyum miring, sambil menunjuk foto seseorang yang tak sengaja ikut masuk ke dalam frame tersebut.
Dioneel menatapnya, dan membesarkan foto tersebut. Ia langsung melupakan foto gebetan Kevin yang baru itu, dengan mengalihkan seluruh perhatian pada seorang gadis cantik yang sedang membawa beberapa kertas di tangannya.
Ya, tidak salah lagi! Itu adalah perempuan yang dari kemarin Dioneel sangat rindukan!
__ADS_1
"Tolong tunjukkan tempat ini segeralah, Vin! Aku benar-benar tidak sabar untuk menemui Aletta, Wanitaku!" ujar Dioneel yang kini tersenyum senang, dengan terus menatap foto Aletta.