Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 46


__ADS_3

Dioneel menatap Arsen dengan tatapan kagum yang tak tersembunyi. Hatinya dipenuhi rasa terharu melihat pengampunan yang Arsen berikan kepada Axel. Meskipun sebelumnya mereka berada dalam konflik yang memanas, namun kini Arsen mampu melepaskan dendamnya dan memberikan kesempatan kedua kepada Axel. Dioneel yakin bahwa ini adalah langkah yang tepat untuk memulihkan persahabatan mereka.


"Terima kasih, Arsen. Saya benar-benar kagum dengan tindakanmu ini," ujar Dioneel dengan suara serak karena terharu. "Pengampunan adalah langkah yang mulia, dan ini membuktikan bahwa kita semua bisa belajar dari kesalahan kita."


Arsen tersenyum, mengangguk pelan. "Aku belajar banyak dari pengalaman ini, Dioneel. Keinginan untuk membalas dendam tidak akan membawa kebahagiaan dan damai. Aku ingin memberikan kesempatan kedua pada Axel karena aku yakin setiap orang bisa berubah."


Dengan semangat yang membara, Dioneel mengajak Arsen untuk menuju markas Death Squad, tempat mereka berdua berada. Mereka berjalan bersama melalui lorong-lorong yang gelap, menuju garasi yang terletak di sudut markas. Ketika mereka sampai di sana, Dioneel membuka pintu garasi dengan penuh semangat, mengungkapkan sebuah motor yang selama ini tersembunyi di dalamnya.


"Melihat motor ini, aku teringat masa-masa lalu yang penuh dengan petualangan dan kegembiraan," ujar Arsen sambil mengelus lembut bodi motor ungu tua yang terlihat agak berdebu. "Ini adalah motor kesayanganku yang sudah lama aku tinggalkan."


Dioneel berdiri di samping Arsen, senang melihat antusiasme temannya. "Aku tahu betapa spesialnya motor ini bagimu, Arsen. Jadi, mengapa tidak kita memberinya sedikit sentuhan dan mencobanya kembali?"


Arsen menatap motor itu dengan penuh cinta dan rindu. Lalu dia tersenyum lebar. "Baiklah, kita lakukan itu! Aku ingin merasakan kembali kebebasan dan semangat saat mengendarai motor ini."


Dioneel dan Arsen bekerja sama membersihkan motor itu dari debu dan kotoran yang menempel. Mereka membersihkan setiap bagian dengan penuh perhatian, seolah-olah menghidupkan kembali kenangan masa lalu. Setelah membersihkannya, Arsen mencoba menyalakan mesinnya. Mesin itu berdentum dan hidup kembali dengan kuat, seperti sebuah kehidupan yang diberikan kembali setelah tidur panjang.


"Dengar suaranya, Dioneel. Ini seperti musik bagi telingaku," ujar Arsen dengan antusias. "Aku merasa segar kembali. Terima kasih telah mengingatkanku tentang motor ini."

__ADS_1


Dioneel tersenyum puas melihat kebahagiaan di wajah Arsen. "Tidak perlu berterima kasih. Kamu adalah sahabatku, dan aku senang melihatmu bahagia. Ayo, mari kita buat beberapa kenangan baru dengan motor ini."


Mereka berdua naik ke motor tersebut dan melaju keluar dari garasi markas. Angin sejuk menyapa wajah mereka saat mereka melintasi jalan-jalan yang dulu pernah mereka jelajahi bersama. Percikan semangat dan kebersamaan mereka seolah menerangi langit yang sedang senja.


Dalam perjalanan mereka, mereka berbicara tentang masa lalu, harapan masa depan, dan makna persahabatan sejati.


Mereka merenungkan nilai-nilai pengampunan, kepercayaan, dan kesempatan kedua. Dioneel dan Arsen menyadari bahwa sebuah tindakan kecil, seperti memberikan maaf dan memberikan kesempatan kedua, bisa mengubah hidup seseorang.


Ketika matahari terbenam di cakrawala, Dioneel dan Arsen kembali ke markas Death Squad. Mereka turun dari motor itu dengan senyum lebar di wajah mereka, penuh kegembiraan. Mereka tahu bahwa persahabatan mereka telah menjadi lebih kuat dan lebih berharga setelah pengalaman yang mereka lalui.


Dengan penuh semangat, mereka berjalan ke dalam markas, siap menghadapi petualangan baru yang menanti mereka. Dioneel dan Arsen menyadari bahwa pengampunan dan kesempatan kedua adalah kekuatan yang bisa membangun kembali hubungan yang retak dan membawa cahaya dalam kegelapan.


Di pinggir jalan, Aletta, Javas, dan Pietro menyaksikan dengan kagum. Mereka terpesona oleh keahlian Dioneel dan Arsen dalam mengendalikan motor tersebut. Aletta, dengan mata berbinar-binar, melambaikan tangan kepada mereka berdua.


"Kalian berdua sungguh luar biasa!" seru Aletta dengan antusias. "Saya tidak pernah melihat kalian seperti ini sebelumnya. Kalian benar-benar menguasai motor itu dengan sempurna."


Javas dan Pietro memberikan tepukan tangan yang meriah, bergabung dalam pujian untuk Dioneel dan Arsen. "Kalian adalah tim yang tak terkalahkan," kata Javas dengan senyum lebar. "Apa rahasia di balik kepiawaian kalian?"

__ADS_1


Dioneel dan Arsen tertawa gembira, menikmati momen kebersamaan mereka dengan teman-teman mereka. "Kami belajar dari pengalaman, kesalahan, dan juga dari pengampunan yang diberikan kepada kami," jelas Arsen. "Motivasi dan semangat untuk saling mendukung dan membangun persahabatan kami membuat kami menjadi lebih baik."


Dalam perjalanan mereka, Dioneel, Arsen, Aletta, Javas, dan Pietro mengendarai bersama, saling beradu kecepatan dan keterampilan mereka. Mereka mengeksplorasi jalan-jalan yang baru, menantang diri mereka sendiri, dan mengukir kenangan indah yang tak terlupakan.


Mereka berhenti sejenak di sebuah pantai yang indah, memandangi matahari terbenam yang memancarkan cahaya oranye dan merah di langit. Sambil duduk di tepi pantai, mereka berbagi cerita, tawa, dan rencana masa depan.


"Kalian tahu, ini adalah momen yang tak terlupakan," kata Dioneel dengan penuh syukur. "Kita telah melewati masa-masa sulit, namun persahabatan kita tetap kokoh. Saat kita saling memberikan pengampunan dan kesempatan kedua, kita menemukan kebahagiaan yang lebih besar."


Aletta mengangguk setuju. "Persahabatan seperti ini sangat berharga. Kita bisa tumbuh bersama, saling mendukung, dan mencapai hal-hal luar biasa."


Malam pun tiba, dan mereka memutuskan untuk kembali ke markas Death Squad. Dalam perjalanan pulang, mereka terus menyanyikan lagu-lagu favorit mereka, mengisi malam dengan keceriaan dan kegembiraan.


Ketika mereka sampai di markas, mereka merasa bahagia dan puas. Mereka telah melampaui perbedaan dan konflik, membuktikan bahwa pengampunan dan kesempatan kedua adalah kunci untuk membangun hubungan yang kuat.


Dioneel, Arsen, Aletta, Javas, dan Pietro memasuki markas Death Squad dengan senyum di wajah mereka. Mereka siap menghadapi petualangan selanjutnya dan bersama-sama mengatasi segala rintangan yang akan datang. Persahabatan mereka menjadi lebih dalam dan tak tergoyahkan, dan mereka tahu bahwa dengan persatuan dan saling percaya, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka.


Mereka melangkah maju dengan keyakinan dan semangat, siap menghadapi masa depan yang cerah dan penuh petualangan.

__ADS_1


Saat mereka berjalan menuju ruang tengah markas Death Squad, Aletta merasakan gelombang emosi yang mengisi dadanya. Melihat Dioneel dan Arsen yang kembali dekat setelah melewati masa-masa sulit, itu sangat berarti baginya. Karena sebelumnya, hubungan antara Dioneel dan Arsen terasa tegang dan sulit diperbaiki.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Aletta memegang tangan Dioneel erat. "Dioneel, aku sangat terharu melihatmu bisa mengampuni dan mendekati kakakku. Ini membuktikan sejauh mana cinta dan kebaikan yang ada dalam hatimu," ucapnya dengan suara yang lirih.


__ADS_2