
Bab 42
Dioneel menjemput Aletta dari restoran milik wanita itu dengan senyum hangat di wajahnya. Mereka berdua telah menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama, berbagi tawa dan cerita selama makan malam mereka. Dioneel merasa begitu dekat dengan Aletta, dan dia ingin menciptakan momen yang istimewa untuk mereka berdua.
"Maafkan aku, Aletta," kata Dioneel sambil membuka pintu mobil untuknya. "Aku ingin mengajakmu ke tempat yang spesial. Aku berharap kamu akan menyukainya."
Aletta memandang Dioneel dengan penuh keingintahuan dan senyum lembut. "Tentu saja, Dioneel. Aku senang menghabiskan waktu denganmu di tempat apa pun."
Mereka melaju melintasi jalan-jalan kota menuju tempat tujuan mereka. Dalam perjalanan, Dioneel mencuri pandangan ke arah Aletta dan merasa sangat beruntung memiliki seseorang seperti dia di sisinya. Ketika mereka tiba di tempat tersebut, Dioneel berhenti di tepi perbukitan yang menghadap ke cakrawala kota.
"Inilah tempat yang kumaksud, Aletta," ujar Dioneel dengan bangga. "Pemandangan malam dari sini begitu menakjubkan. Aku berharap kamu juga merasakan hal yang sama."
Aletta melihat ke sekitar dan terpesona oleh pemandangan yang menakjubkan. Cahaya gemerlap kota, langit malam yang indah, dan suara angin yang berdesir memberikan nuansa romantis di tempat itu.
"Oh, Dioneel, ini luar biasa!" serunya sambil memeluk Dioneel dengan penuh kegembiraan. "Aku tak pernah membayangkan tempat seperti ini ada di kota kita. Terima kasih, kamu luar biasa."
Dioneel tersenyum dan membalas pelukan Aletta dengan lembut. Dia bisa merasakan getaran kebahagiaan dan kehangatan di antara mereka. Mereka berdua saling bertatapan dengan penuh cinta, mengetahui bahwa momen ini adalah satu-satunya yang mereka butuhkan untuk membuat malam itu sempurna.
"Aletta, aku ingin kamu tahu betapa pentingnya kamu bagiku," ujar Dioneel sambil meraih tangan Aletta dengan lembut. "Kamu adalah orang yang membuatku tersenyum setiap hari, yang memberiku semangat untuk mencapai impian-impianku. Aku merasa sangat beruntung bisa bersamamu di tempat ini."
Aletta tersenyum dan menjawab dengan lembut, "Dioneel, kamu juga sangat berarti bagiku. Aku tak pernah merasa begitu terhubung dengan seseorang seperti ini sebelumnya. Kamu membuatku merasa istimewa dan dicintai. Aku bersyukur bisa menghabiskan waktu denganmu."
Mereka berdua duduk berdampingan di perbukitan, menikmati pemandangan yang mempesona sambil membiarkan perasaan cinta mereka terus tumbuh. Suasana malam semakin romantis dengan bintang-bintang yang bersinar di langit dan aroma bunga-bunga yang lembut. Percakapan mereka berlanjut, dipenuhi tawa dan keakraban.
Dalam momen yang penuh kehangatan ini, mereka menyadari betapa beruntungnya mereka bisa menemukan satu sama lain. Dioneel dan Aletta saling melengkapi, membangun ikatan yang kuat dan menghadapi masa depan dengan harapan dan cinta yang tulus.
Malam itu, di bawah langit yang bercahaya, Dioneel dan Aletta menemukan kebahagiaan yang sejati bersama. Pemandangan indah di tempat itu hanya menjadi latar belakang untuk kisah cinta mereka yang tak terlupakan, yang akan terus hidup dalam kenangan mereka sepanjang masa.
__ADS_1
Setelah menikmati makan malam romantis dan momen yang indah di tempat terpencil, Dioneel mengantarkan Aletta pulang dengan penuh kehangatan. Mereka berdua duduk di dalam mobil, terus bercengkerama dan tertawa, merasa sangat berbahagia dengan perjalanan malam itu.
Namun, ketika mereka berhenti di lampu merah, tak terduga, Pietro sengaja bersenggolan dengan mobil yang berada di sebelahnya. Ia menoleh ke arah pengemudi lain dan terkejut saat menyadari bahwa itu Pietro.
"Maaf, Boss!" seru Pietro, sedikit terkejut dengan pertemuan tak terduga ini. "Aku tidak sengaja, aku sedang tidak fokus."
Dioneel, dengan senyum lebar di wajahnya, membalas, "Tidak apa-apa! Sepertinya kita bisa mengatasinya dengan baik."
Mereka berdua tertawa dan segera berpindah jalur ke samping untuk berhenti sejenak dan berbicara. Pietro menggiring mobilnya di samping mobil Dioneel, dan mereka membuka jendela mereka.
"Darimana , Boss?" tanya Pietrosambil tersenyum. "Aku tidak pernah berpikir kita akan bertemu di lampu merah!"
Dioneel juga tersenyum, merasa senang bertemu dengan Pietro. "Kabar baik, Piet! Aku sedang menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan Aletta malam ini. Kami baru saja makan malam dan sekarang dalam perjalanan pulang."
Pietro mengangguk dan melirik ke arah Aletta yang duduk di sebelah Dioneel. "Kalian sangat serasi, Boss? Dia terlihat istimewa."
Aletta tersenyum sopan dan memberi salam pada Pietro. "Senang bertemu denganmu. Dioneel selalu bercerita tentangmu."
Pietro tersenyum balik dan menganggukkan kepala. "Sama-sama, Aletta. Dioneel adalah teman terbaikku sejak dulu. Aku senang melihat dia bahagia denganmu."
Namun, tiba-tiba mood mereka berubah menjadi gugup dan kompetitif. Lampu merah berubah menjadi hijau, dan dengan tawa kecil, Pietro mengajukan tantangan kepada Dioneel, "Hey, Boss, mengapa kita tidak membuat malam ini lebih menarik? Bagaimana dengan balapan cepat sampai ke persimpangan berikutnya? Yang pertama sampai ke sana menang!"
Dioneel memandang Pietro dengan penuh semangat dan antusiasme. "Kamu tidak mengerti apa yang kamu ucapkan, Piet. Ayo, kita lihat siapa yang memiliki mobil tercepat di antara kita!"
Keduanya menatap satu sama lain dengan mata berbinar. Saat lampu hijau menyala, mereka memacu mobil mereka dengan kecepatan tinggi. Aletta dan para pengendara lain di sekitar mereka terkejut melihat aksi balapan yang tiba-tiba ini.
Kedua mobil melaju dengan kecepatan tinggi, memacu satu sama lain dan mengejar posisi terdepan. Jalanan yang biasanya tenang menjadi panggung pertarungan mereka yang mengasyikkan. Melintasi tikungan dan mengejar waktu, Dioneel dan Pietro saling beradu kecepatan, tetapi tetap dengan kehati-hatian.
__ADS_1
Tepat ketika mereka mendekati persimpangan berikutnya, Dioneel dan Pietro secara bersamaan mengurangi kecepatan mereka dan berhenti dengan selamat. Mereka berdua tertawa keras sambil mengakui bahwa balapan itu benar-benar mendebarkan.
"Kita imbang, Dioneel!" seru Pietro dengan tawa terbahak-bahak. "Aku harus mengakui, kamu benar-benar pengemudi yang handal!"
Dioneel tersenyum dan menepuk bahu Pietro dengan penuh kegembiraan. "Kamu juga hebat, Piet! Kita harus melakukannya lagi suatu hari nanti. Tapi sekarang, bagaimana kalau kita semua pergi minum bersama untuk merayakan malam yang menyenangkan ini?"
Aletta setuju dengan senyum. "Itu adalah ide yang bagus! Ayo kita pergi bersama dan melanjutkan malam yang menakjubkan ini."
Mereka berdua, bersama dengan Pietro, melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat untuk minum bersama. Perjalanan mereka tidak hanya penuh dengan balapan mobil yang menggembirakan, tetapi juga dengan kebersamaan dan persahabatan yang semakin erat.
Setelah menghabiskan waktu yang menyenangkan di rumah Aletta, Dioneel akhirnya harus pamit untuk pulang. Aletta mengantar Dioneel ke pintu, memeluknya dengan lembut.
"Terima kasih telah mengantar dan menghabiskan waktu bersamaku malam ini, Dioneel," ucap Aletta dengan penuh kehangatan. "Aku sangat menikmatinya dan berharap bisa melakukannya lagi."
Dioneel tersenyum dan membalas pelukan Aletta. "Aku juga sangat menikmati malam ini, Aletta. Kamu membuatnya begitu istimewa. Aku berharap ada banyak momen indah seperti ini di masa depan kita."
Mereka saling bertatapan dalam keheningan sejenak, merasakan kehangatan cinta yang ada di antara mereka. Meskipun mereka harus berpisah untuk sementara waktu, kebersamaan yang mereka bagikan telah meninggalkan jejak yang kuat di hati mereka.
"Aku akan merindukanmu," ujar Dioneel dengan suara lembut.
Aletta tersenyum lembut. "Aku juga akan merindukanmu, Dioneel. Tetaplah berhati-hati dalam perjalanan pulang, ya?"
Dioneel mengangguk sambil memegang tangan Aletta dengan penuh kasih sayang. "Aku akan melakukannya. Sampai jumpa lagi, Aletta. Terima kasih untuk malam yang indah ini."
Mereka saling berpelukan sekali lagi sebelum akhirnya melepaskan diri. Dioneel berjalan menuju mobilnya dengan perasaan yang penuh berkah, merenungkan momen-momen berharga yang baru saja mereka lewati.
Perjalanan pulang Dioneel berlangsung dengan hati yang bahagia dan pikiran yang dipenuhi dengan kenangan dengan Aletta.
__ADS_1