
"Ka-, kau adiknya Arsen? Kau serius?" tanya Dioneel, kedua matanya membulat.
Aletta mengangguk. "Ada banyak yang ingin aku tanyakan kepadamu,"
Dioneel menggelengkan kepalanya, dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Aletta. Bagaimana mungkin Arsen memiliki seorang adik? Arsen tidak pernah bercerita tentang keluarganya, tetapi bukankah itu untuk melindungi keluarganya jika sesuatu yang buruk menimpa dirinya?
"Buktikan kepadaku!" tuntut Dioneel, dia tidak ingin percaya begitu saja.
Aletta mengeluarkan foto dari dompetnya dan dia berikan foto bergambar dia dengan Arsen saling berangkulan sambil tertawa. "Apa sudah cukup untukmu membuktikan kalau aku adiknya Arsen?"
Dengan tangan bergetar, Dioneel mengambil foto itu dan menatap Aletta tak percaya. "Kau memata-mataiku?"
Aletta menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin, 'kan? Kau yang menculikku lebih dulu, mana mungkin aku jadi mata-mata! Pakai otakmu, Dioneel! Aku baru mengetahui kau adalah teman Arsen dari Raline. Wanita itu menceritakan segalanya kepadaku, walaupun dia tidak tau apa yang terjadi kepada Arsen,"
"Raline? Di mana kau bertemu dengan dia? Aku saja sudah lama kehilangan kontaknya," ucap Dioneel, lagi-lagi dia meragukan ucapan Aletta.
Aletta pun menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Raline. "Dia datang ke showroom, ingin membeli unit, dan begitu melihat wajahku, dia mengatakan aku mirip dengan seseorang yang dia kenal. Dan dia menyebut nama Arsen begitu saja,"
"Setelah dari situ, dia meminta izin kepadaku untuk bertemu dengan Arsen dan dia menceritakan segalanya di rumahku," sambung Aletta.
"D-, dia masih hidup? Maksudku, Arsen masih hidup? Dia selamat? Katakan padaku, dia selamat!" tukas Dioneel. Pria itu berkeringat dingin dan gemetar. Dia mengusap wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Aletta melihat perubahan wajah Dioneel dan dia mengira Dioneel memang mengetahui apa yang terjadi dengan Arsen, hingga kakaknya menjadi seperti sekarang.
"Dia masih hidup, Dioneel. Tapi, dia sakit. Trauma," jawab Aletta.
"Sekarang, biarkan aku yang bertanya kepadamu. Apa yang terjadi malam itu? Kenapa kau meninggalkan kakakku di jalan? Raline memberitahuku kalau kalian sahabat baik. Setauku, seorang sahabat tidak akan pernah meninggalkan sahabat lainnya. Baik itu dalam keadaan senang atau pun susah," sahut Aletta panjang. Tiba-tiba saja emosinya memuncak, mengingat penderitaan kakaknya yang ditinggalkan seorang diri di tengah jalan dalam keadaan terluka parah dan nyaris mati.
Dioneel memejamkan kedua matanya dan dia membenamkan wajahnya di atas kemudi mobil. Saat dia berbicara, suara yang keluar seperti suara rintihan dan tangisan. "Itu kesalahanku. Aku meninggalkan dia hanya karena aku takut polisi akan datang dan menangkapku,"
"Aku juga takut kalau harus bertanggung jawab jika Arsen meninggal. Saat itu, aku juga memiliki ketakutan yang sama. Sama-sama takut mati. Kami diserang begitu saja dan jumlah kami kalah banyak dibandingkan jumlah musuh kami," jawab Dioneel.
Aletta dapat merasakan kepedihan di dalam suara Dioneel. Dia dapat memahami rasa takut yang menggelayuti Dioneel dan teman-temannya saat itu, tetapi dia tidak dapat memahami kenapa mereka meninggalkan kakaknya seorang diri. Itu yang membuat Aletta marah.
"Tapi bukan berarti kau bisa meninggalkan kakakku seorang diri, 'kan! Polisi menemukannya dan mereka segera membawa Arsen ke unit gawat darurat. Saat itu, aku sedang bersiap-siap untuk bekerja dan polisi itu mendatangiku dan mengantarkanku ke rumah sakit. Setibanya di sana, aku dimintai tanda tangan persetujuan operasi. Setelah itu, aku tidak pernah lagi melihat kakakku yang normal. Aku menganggap, Arsen yang lama sudah mati dan aku mendapatkan hadiah kecil dari Tuhan berupa Arsen yang baru. Yang tidak akan pernah bertengkar denganku lagi, yang tidak akan pernah mengocehiku tentang pakaian yang kukenakan, atau bahkan melarangku untuk pergi berkencan dengan seorang pria yang menurutnya tidak baik," tutur Aletta, matanya berkaca-kaca saat dia mengingat kenangannya bersama Arsen sebelum kakaknya itu mengalami gangguan jiwa seperti sekarang.
Seolah-olah membaca pikiran Dioneel, Aletta mengangguk. "Ya, malam itu Arsen yang berusaha kabur sambil berteriak-teriak. Seharian itu, dia tidak meminum obatnya,"
"Ya, Tuhan. Bisakah aku bertemu dengannya?" tanya Dioneel. "Paling tidak, aku bisa meminta maaf dan menebus kesalahanku padanya,"
"Dia tidak akan mengingat hal itu dan kemungkinan besar dia tidak akan mengingatmu. Kakakku melupakan Raline," jawab Aletta pasrah.
Dioneel kembali mengusapkan tangan pada wajahnya. Dia menarik napas dan menghembuskannya dengan panjang. "Apa kamu membawanya ke dokter? Atau ke rumah sakit besar?"
__ADS_1
"Kami melakukan kontrol setiap bulan. Dokter mengatakan Arsen harus meminum obat itu seumur hidupnya. Hampir setahun sampai sejauh ini, dokter bilang Arsen belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan," jawab Aletta lagi. "Aku pun sudah nyaris putus asa, tapi kalau aku mengingat Arsen adalah keluargaku satu-satunya, aku tidak boleh menyerah begitu saja, 'kan?"
"Aku bekerja dan mencari uang hanya untuk kakakku. Aku berharap ada keajaiban terjadi. Sehingga suatu hari nanti, aku akan menemukan Arsen tersenyum kepadaku saat aku bangun dari tidurku," sambung Aletta.
Ya, hanya itulah impian dan keinginan gadis cantik itu. Dia hanya ingin melihat kesembuhan kakaknya. Untuk itulah dia berjuang dan bekerja tanpa kenal waktu.
"Aku tidak pernah menyangka, Arsen akan berakhir seperti ini. Sejak saat malam itu Aku tidak pernah dapat tidur dengan tenang karena aku terus dibayangi oleh rasa bersalahku. Aku takut Arsen mati, karena tidak ada kabar satupun dari dia. Dia seperti menghilang dari muka bumi," ujar Dioneel.
Dia berhenti sejenak dan memandang ke depan. "Kalau kau bertanya apakah aku mencari? Ya, aku mencarinya. Aku terus mencari sampai aku berhenti mencari di akhir tahun kemarin. Salah seorang temanku mengatakan, kalau Arsen meninggal di malam itu,"
"Apa itu ulah geng motor yang menculikku?" tanya Aletta.
Dioneel menganggukan kepalanya. "Ya. Hampir setiap bulan kami mengadakan sebuah perlombaan. Peraturan perlombaan itu menyebutkan, kami berhak mengadakan pertukaran pemain yang performanya terbaik saat itu untuk kembali diadu. Dan jika, salah satu dari mereka kalah, maka mereka diwajibkan untuk menerima semua hukuman yang diberikan kepadanya dari tim baru mereka,"
"Saat itu, Axel meminta Arsen sebagai ganti pertukaran kami dengan Algojo. Ternyata, Arsen kalah. Arsen tidak pandai membawa motor, tapi dia pandai menyusun strategi. Tiba-tiba saja, Axel menyeret Arsen dan memukulinya tanpa henti. Kami semua ikut membantu, adu balap pun berubah menjadi arena perang malam itu. Sampai seseorang memanggil polisi dan kami melarikan diri," ujar Dioneel melanjutkan kisahnya.
"Jadi, Axel yang memulai semua ini? Kalau begitu, untuk menebus kesalahanmu, kau wajib membantuku!" seru Aletta.
Dioneel mengerenyitkan keningnya. "Bantu apa?"
"Aku berniat menuntut keadilan untuk kakakku dan aku akan membuka kembali kasus kakakku. Jadilah saksi untuk Arsen, aku sudah memiliki pengacara untuk melanjutkan kasus ini!" jawab Aletta mantap.
__ADS_1
***