
BAB 17 Keputusan Aletta Membuka Kasus
Dioneel duduk di ruang tamu, tatapannya kosong dan pikirannya penuh dengan kebingungan. Sejak menemui Aletta dan mengetahui kebenaran mengani Arsen hingga kekasihnya itu mengungkapkan bahwa dia berniat untuk membuka kembali kasus insiden mengerikan setelah balap liar yang telah menghantui kakaknya selama bertahun-tahun. Insiden yang telah merusak hidup Arsen, teman baiknya, dan meninggalkan bekas luka yang dalam pada hatinya. Dioneel merasa campur aduk. Dia tidak yakin apakah ini adalah keputusan yang tepat atau tidak.
Dia mengambil napas dalam-dalam dan memutuskan untuk menghubungi Aletta. Dioneel tahu dia harus berbicara dengannya tentang keputusan ini, untuk mencari pemahaman dan mendapatkan kejelasan.
“Halo, Sayang. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kau sibuk?” tanya Dioneel yang tahu jika saat ini Aletta sedang bekerja tak ingin mengganggu.
“Hai, Dioneel. Ada apa?” jawab Aletta.
“Aku ingin membahas tentang keputusanmu untuk membuka kembali kasus insiden itu. Aku sedikit bingung dengan keputusan ini, jujur saja.”
“Aku tahu ini mungkin mengejutkanmu. Tapi, Dioneel, Arsen masih mengalami trauma yang hebat akibat insiden itu. Aku merasa bertanggung jawab untuk mencoba mengungkap kebenaran dan membantu Arsen dalam proses penyembuhannya.”
“Aku mengerti bahwa kamu peduli pada Arsen, kita semua peduli padanya. Tapi, apakah kamu yakin membuka kembali kasus ini adalah jalan yang tepat? Apa yang bisa kita lakukan sekarang setelah begitu lama?
“Aku memahami keragu-raguanmu, Dioneel. Tapi selama ini kita hanya mencoba melupakan kejadian itu dan membiarkan Arsen berjuang sendirian dengan trauma yang dia alami. Aku tidak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia butuh keadilan dan kebenaran.”
“Tapi bagaimana jika kita hanya memperburuk keadaannya? Bagaimana jika menghadapinya lagi malah membuatnya semakin hancur?”
“Aku tidak ingin melihat Arsen menderita, Dioneel, tapi aku percaya bahwa dia memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Dengan dukungan kita, mungkin dia bisa menemukan ketenangan dan pemulihan yang dia cari selama ini.”
“Aku khawatir tentang konsekuensi dari keputusan ini. Bagaimana jika ada orang-orang yang tidak ingin kebenaran terungkap? Apa yang akan mereka lakukan untuk menghentikan kita?”
__ADS_1
“Itu risiko yang harus kita ambil, Dioneel. Tapi jika kita membiarkan ketakutan mengendalikan hidup kita, maka kebenaran akan tetap terkubur dan Arsen akan terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya. Kita harus siap menghadapi tantangan apa pun yang mungkin muncul.”
Dioneel merenung sejenak.
Dia menghabiskan sepanjang hari ini dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran yang mendalam. Ia berada di markas Death Squad, Namun, hari ini, ketenangan dan kedamaian yang biasanya ia temukan di sini terasa terganggu oleh satu pikiran yang tak kunjung pergi.
Aletta, wanita yang telah merebut hati Dioneel, adalah orang yang sangat ia cintai. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam keadaan yang sulit dan berbahaya. Dalam masa lalunya, Dioneel pernah terlibat dalam kasus yang melibatkan Arsen juga Max, sosok berbahaya dan pemimpin kelompok gangster berbahay yang menghantui kota ini.
Kasus tersebut, yang telah terkubur dalam ingatan orang-orang dan dianggap sebagai cerita masa lalu yang sudah berakhir, menjadi ancaman yang tak terelakkan bagi Dioneel. Ia tahu betapa jahatnya Max dan kekuatan serta jaringan kriminal yang dimilikinya. Jika Max mengetahui bahwa kasus ini dibuka kembali, tak diragukan lagi bahwa ia akan melancarkan serangan balas dendam dengan segala cara yang ia miliki, termasuk mengancam nyawa Aletta yang dicintai Dioneel.
Duduk sendirian di ruangannya, Dioneel memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia merasa terjebak di antara dua pilihan yang sulit: melanjutkan hidup dengan risiko besar terhadap Aletta atau mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi dalam kasus tersebut dan menghadapi kemungkinan konsekuensi mematikan yang bisa membahayakan mereka berdua.
Dioneel tahu bahwa untuk melindungi Aletta, ia harus bertindak dengan hati-hati dan cerdas. Ia harus mencari cara untuk mengumpulkan bukti yang cukup kuat untuk mengungkap kebenaran tanpa menimbulkan kecurigaan Max. Namun, mencari bukti dalam kasus yang telah lama terkubur bukanlah tugas yang mudah. Dioneel menyadari bahwa ia mungkin harus menghadapi masa lalunya yang kelam, menghadapi musuh-musuh yang pernah ia lawan, dan mengumpulkan informasi yang tersembunyi dalam bayang-bayang yang gelap.
“Boss,” Pietro datang menghampirinya.
“Ada apa?” jawab Dioneel.
“Ada yang datang,” jawab Pietro dengan wajah yang waspada.
Dioneel pun melangkah ke luar dari ruangannya dan menemui tamunya.
“Aku tidak berlam-alam, aku dengar Aletta berniat untuk membuka kembali kasus insiden setelah balap liar yang membuat Arsen mengalami trauma hebat. Dia ingin mencari keadilan untuk Arsen dan membantu dalam proses penyembuhannya.” Axel mengatakan hal tersebut dengan sorot yang tajam menatap Dioneel.
__ADS_1
Axel terdiam sejenak, mencerna informasi yang baru saja didengarnya. Dia merenung sejenak dan kemudian menjawab dengan suara tenang.
“Aku tahu kamu ingin membantu Arsen terlebih kekasihmu, Aletta. Tapi apakah ini benar-benar keputusan yang bijak? Kita semua tahu betapa sulitnya proses itu. Bagaimana jika hal ini malah memperburuk keadaannya? Bukan hanya Max dan para gangsternya tapi juga kita smeua akan ikut diperiksa!” Axel mengatakannya kali ini dengan menggeram.
“Aku mengerti kekhawatiranmu, Axel. Tapi, jika kita tidak mengambil tindakan, bagaimana Arsen akan bisa pulih sepenuhnya? Kita tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran dan berharap semuanya akan baik-baik saja.” Dioneel bersikeras mendukung Aletta.
“Lalu bagaimana jika ada risiko yang terlibat? Bagaimana jika orang-orang yang terlibat dalam insiden itu mencoba menghentikan kita? Sebelum aparat menyelesaikannya!”
“Dengar Axel, itu juga yang menjadi kekhawatiranku. Apa kau datang kesini sebagai teman? Ataukah tetap sebagai rival?” tanya Dioneel dengan mata yang menyipit tajam.
Axel berpikir sejenak, menimbang-nimbang semua argumen yang telah disampaikan. Dia tahu bahwa keputusan ini sangat penting dan berdampak besar bagi mereka semua.
“Baiklah, aku tidak punya pilihan. Ini adalah situasi yang kompleks dan sulit, tetapi kita harus bersama-sama menghadapinya. Maxbukan musuh yang bisa kau abaikan, Dioneel! Mari kita rencanakan dengan baik dan berada di samping Arsen sepanjang proses ini.” Axel menjawabnya dengan wajah mendengus kesal menunjukan jika keputusan ini tak sepenuhnya menjadi keinginan hatinya.
“Thanks Bro, ini adalah langkah besar yang elu ambil. Gue yakin dengan kerjasama kita, kita dapat mencapai keadilan bagi Arsen dan tetap membuat geng kita aman dari Max.” Dioneel menjawabnya.
“Gue benci mengatakannya, tapi jika ini yang terbaik untuk semuanya. Gue harap ini akan menjadi jalan keluar bagi kita semua dan terutama untuk bisa menghancurkan Max!” Axel mengatakannya dengan nada menggeram.
“Deal!”
“Deal!”
Dua ketua geng tersebut akhirnya mencapai kesepakatan, Pietro yang menyaksikan ikut tersenyum bangga melihat perubahan baik tersebut.
__ADS_1