
Bab 21
Aletta yang melihat sikap Arsen langsung memeluk sang kakak dengan begitu eratnya. Dia sedikit kaget dengan respons Arsen atas pertemuannya dengan Dioneel karena sebelumnya sang kakak sungguh tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya. Arsen hanya akan histeris jika melihat suara gaung motor atau melihat acara balap motor yang disiarkan melalui televisi.
"Semua akan baik-baik saja, jangan khawatir, Kak!" kata Aletta yang berusaha untuk menenangkan Arsen yang masih saja histeris.
Arsen masih saja hosteris sambil berusaha untuk mengusir Dioneel dari kamarnya. Dia merasakan sesuatu yang membuat kepalanya berdentum dengan begitu hebatnya sehingga membuat Arsen terus-menerus berteriak dengan begitu kerasnya berusaha untuk mengusir Dioneel dari kamarnya.
Dioneel yang melihat sikap Arsen kepadanya saat ini terdiam tanpa mampu untuk mengatakan apa pun juga. Dia tidak pernah membayangkan jika sahabatnya akan menjadi seperti ini dan bahkan dia juga tidak membayangkan jika selama ini Arsen menghilang karena keadaannya yang tidak lagi memungkinkan untuk bisa berkumpul dengan dirinya dan juga kawan-kawan yang lain. Namun di satu sisi justru keadaan Arsen saat ini membuat dia benar-benar Terpukul dengan begitu hebatnya dan dia merasa sangat bersalah terhadap Arsen dan menganggap jika seharusnya saat itu sahabatnya tersebut tidak menjadi korban dari peraturan gila yang mereka lakukan.
"Pergi! Pergi!" kata Arsen yang terus aja berteriak dan memberontak meski Aletta sudah berusaha untuk memeluk Arsen dengan begitu erat dan menenangkannya, tetapi sayangnya hal tersebut tidak berhasil sama sekali.
Biasanya Arsen akan langsung tenang ketika Aletta memeluknya dengan begitu erat, tetapi saat ini berbeda dengan biasanya dan dia merasakan sakit yang begitu hebat di dalam dadanya ketika melihat kondisi sang kakak yang masih saja seperti saat ini. Pada awalnya dia hanya berpikir jika kakaknya tersebut hanya tidak dapat mengenali Dioneel saja tanpa histeris seperti saat ini. Namun ternyata dirinya salah besar karena kenyataannya Arsen histeris dan tidak bisa dia tenangkan sama sekali.
__ADS_1
"Sorry, Bro, ini salah gue!" kata Dioneel yang entah saja kapan dia mulai menitipkan air mata ketika melihat kondisi sahabatnya seperti saat ini.
Dioneel benar-benar terpuruk di dalam rasa bersalah yang begitu hebatnya dan bahkan dia tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menempuh semua kesalahannya di masa lalu. Andai saja dia bisa mengulang waktu maka dia akan berusaha agar kejadian tersebut tidak terjadi dan dia tidak perlu kehilangan sahabat yang sangat berarti di dalam kehidupannya.
"Pergi! Pergi!" kata Arsen yang masih saja histeris karena keberadaan Dioneel di hadapannya.
"Sebaikanya kamu pergi dari kamar ini dan biarkan aku menenangkan kakakku terlebih dahulu nanti kita akan bicara!" kata Aletta yang meminta Dioneel untuk segera keluar dari kamar Arsen agar dia bisa menenangkan kakaknya tersebut.
Dioneel tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang dikatakan oleh Aletta barusan dia terlebih dia juga sadar jika apa yang dikatakan oleh gadis itu adalah pilihan terbaik yang bisa diambilnya saat ini. Dia tidak ingin melihat sahabatnya terus-menerus histeris hanya karena melihat keberadaannya di kamarnya tersebut. Baginya saat ini yang terpenting adalah kondisi Arsen karena kalau lelaki yang satu itu tidak juga membaik maka dia akan terus-menerus hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang begitu hebatnya Dan dia tidak menginginkan hal tersebut terjadi.
Dioneel tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Kenzie karena dia sendiri bingung harus menjawab apa. Terlebih saat ini fokus dia adalah keadaan Arsen yang dia sadari jauh dari kata baik-baik saja. Hidupnya saat ini benar-benar merasa hancur dan rasa bersalah yang begitu dalam sedang menggelayuti hidupnya saat ini.
Kenzie yang tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Dioneel hanya bisa terdiam dan berusaha untuk mengerti keadaan lelaki yang satu itu. Bagaimanapun juga dia sangat yakin kalau keadaan Dioneel saat ini pasti jauh dari kata baik-baik saja mengingat ini pasti kali pertama bagi Dioneel melihat keadaan Arsen setelah selama beberapa waktu kehilangan kontak dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Dia sudah tenang? tanya Dioneel saat melihat Aletta keluar dari kamar Arsen dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan juga rasa lelahnya.
"Ya, sekarang dia sudah jauh lebih tenang dan sekarang sedang tidur setelah meminum obat penenang tadi!" kata Aletta sambil duduk di dekat Dioneel dan kemudian memejamkan mata hanya untuk membuat dirinya sedikit lebih tenang. "Maaf karena kamu harus melihat keadaannya yang seperti itu!"
"Tidak! Kamu tidak salah sama sekali dan Arsen juga tidak salah karena yang salah dalam hal ini adalah aku! Tidak seharusnya waktu itu aku menerima tantangan yang diberikan oleh Axel dengan aturan gilanya!" kata Dioneel yang masih saja merasa kalau semuanya adalah tanggung jawabnya.
Aletta tidak langsung memberikan reaksi atas apa yang dikatakan oleh Dioneel kepada dirinya karena dia perlu memikirkan segala sesuatunya dengan baik. Bagaimanapun dia sadar jika salah satu penyebab kakaknya menjadi seperti saat ini adalah Dioneel, tetapi tetap saja dia masih merasa sedikit berat untuk melakukan hal itu terlebih saat ini mereka sedang berusaha untuk menjerat pelakunya.
"Ini bukan salahmu dan bukankah kita sedang berusaha untuk menjerat pelakunya?" tanya Aletta yang berusaha untuk membuat Dioneel terus menerus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi kepada Arsen.
"Aku tahu kalau saat ini kita memang sedang berusaha untuk menjerat pelakunya, tetapi tetap saja aku tidak bisa cuci tangan begitu saja atas semuanya dan bagaimanapun juga semuanya tidak akan terjadi kalau aku tidak menerima tantangan itu saat itu!" kata Dioneel yang masih saja merasa bersalah atas semua yang terjadi.
"Sepertinya kita tidak perlu terus menerus merasa bersalah dan saling menyalahkan karena bagaimanapun semua sudah terjadi, yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara kita untuk mengungkap semuanya dan juga menjerat sang pelaku dengan hukuman yang setimpal!" kata Kenzie yang merasa jika apa yang mereka bicarakan tidak perlu diperpanjang lagi. "Aku mendengar kalau saat ini Polisi sudah menetapkan Axel sebagai tersangka dari kasus yang sedang kita tangani saat ini!"
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Aletta yang sedikit kaget dengan kabar tersebut dan dia pun senang dengan hal itu.
"Tapi sepertinya kita jangan terlalu senang dulu karena aku tahu bagaimana Axel, dia adalah orang yang tidak mudah untuk kalah dan dia akan melakukan apa pun agar bisa menang dari kita!" kata Dioneel yang meski dia senang dengan hal tersebut, tetapi dia berusaha untuk berpikir secara realistis mengingat dia mengetahui dengan baik bagaimana sifat dari Axel.