
Keesokan harinya, dua orang pria mendatangi sebuah rumah yang diketahui rumah itu adalah tempat tinggal seorang petinggi negara, tepatnya majelis hakim.
Dua pria itu masuk ke dalam dengan membawa dua koper berwarna hitam. Tak sampai satu jam, kedua pria itu keluar dari rumah megah dan mewah itu. Koper yang mereka bawa pun tampak hilang dari pegangan mereka.
Di hari yang sama, Aletta mendapatkan telepon dari Kenzie yang mengajak gadis itu untuk bertemu dengannya bersama-sama dengan Dioneel.
"Sekarang? Aku harus bekerja. Jemput aku saja setelah aku selesai," kata Aletta.
("Oke, pukul lima aku akan tiba di sana. Sebenarnya ini mendesak sekali, tetapi baiklah, aku akan menemuimu di kantormu,") balas Kenzie.
Tak lama, gadis itu sudah mengakhiri panggilannya. Sebelum berangkat kerja hari itu, Aletta menyempatkan diri untuk memperkenalkan Dioneel kepada Arsen, sekaligus menggali informasi apa yang masih diingat oleh kakaknya itu.
"Kak, tadi malam, kenapa Kakak teriak-teriak pada Dioneel? Itu temen Kakak, tau," tanya Aletta dengan suara lembut.
Arsen mengernyitkan keningnya dan dia berpikir keras. "Dioneel, ... Bro Dioneel,"
Kini, Aletta yang mengerutkan dahinya. "Bro? Kakak panggil Dioneel dengan sebutan Bro? Kakak kenal dengannya?"
Di luar dugaan, Arsen mengangguk. "Arsen kenal! Arsen tau! Arsen takut!"
"Takut? Kakak takut sama Dioneel? Kakak mau cerita ke aku, ngga?" tanya Aletta lagi tanpa mendesak kakaknya itu.
Arsen tampak berpikir keras. Dia membuka mulutnya lalu mengatupkannya kembali. Pemuda yang masih terlihat tampan itu seakan ragu untuk mengatakan sesuatu. "Arsen, ... Arsen takut Bro Dioneel,"
Aletta menghembuskan napasnya panjang. "Kalo Kakak takut, nanti aja ceritanya,"
Setelah memberikan pelukan hangat kepada Arsen, Aletta pun bersiap pergi bekerja. Hari ini ada target yang harus dia capai. Walaupun, saat itu Dioneel sudah memberikan seratus juta kepadanya, tetapi Aletta tetap akan bekerja dan dia sama sekali tidak memakai sisa uang pemberian Dioneel tersebut.
Saat dia hendak keluar pintu, Arsen berteriak, "Aletta ngga boleh ketemu sama Bro Dioneel lagi! Ngga boleh! Bahaya!"
Gadis cantik itu pun mendekati Arsen dan dengan lembut bertanya kepadanya, "Kenapa bahaya?"
"Nanti Bro Dioneel kabur! Aletta ngga ditolongin!" ucap Arsen, dia menguik-nguik pinggiran kukunya pertanda kalau pemuda itu panik dan dalam posisi merasa terancam bahaya.
Aletta tersenyum. "Kalo ada bahaya, nanti aku bisa lawan sendiri. Kakak ngga perlu khawatir sama aku. Oke? Aku kerja dulu ya, Kak,"
__ADS_1
Arsen mengangguk dan menguap. Reaksi obat di tubuhnya mulai bekerja dan dia mengantuk. Aletta pun menganggukkan kepalanya ke arah ibu pengasuh Arsen dan meminta wanita paruh baya itu untuk mengajak Arsen ke kamar.
Di tempat kerja, lagi-lagi Aletta berhasil mencapai target. Bahkan melebihi target yang diminta oleh Sintia, selaku store manager showroom itu.
Bisik-bisik pun terdengar. Namun Aletta tidak memperdulikan bisikan-bisikan tersebut. "Untuk apa didengarkan? Tidak penting. Bisikan mereka tidak membuatku kaya raya,"
Sintia tampak puas dengan jawaban karyawan teladannya itu. "Bagus! Aku senang kau memiliki sikap seperti itu,"
Tak terasa, jam kerja Aletta selesai. Dua mobil penjemputnya sudah terparkir rapi di depan showroom. Dari mobil pertama, Kenzie keluar dan melambaikan tangannya kepada Aletta. Di mobil yang kedua, Dioneel keluar dan memberikan tatapan tajam pada Kenzie.
"Ngapain ke sini?" tanya Dioneel ketus.
"Jemput. Duluan, ya," balas Kenzie sambil bergegas pergi masuk ke dalam showroom tempat Aletta bekerja.
Dengan kesal, Dioneel berlari mendahului Kenzie dan menarik kerah baju pria itu ke belakang. Kemudian, dia menarik tangan Aletta, mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Tak lama, mereka sudah berkumpul di sebuah kafe kopi dan dessert di pusat kota. Wajah Aletta tampak marah dan geram. "Jadi, persidangan itu dibatalkan sepihak? Bagaimana dengan tuntutanku?"
"Kalah sebelum berperang, itu yang terjadi pada gugatan kita," ucap Kenzie datar.
Dioneel pun setuju dengan opini Aletta. "Aku rasa seperti itu. Maksudku, kita baru selesai menyerahkan berkas ini ke persidangan dan persidangan telah memeriksa semua bukti serta alibi semua yang terkait dengan kejadian itu. Semua bukti memang mengarah kepada Axel, apalagi dengan adanya rekaman itu. Sudah cukup seharusnya untuk menyeret dia ke penjara! Kenapa di batalkan dan kenapa seolah -olah kita menarik gugatan itu?"
"Kita masih bisa mengajukan banding dan meminta hakim untuk menggugat Axel kembali. Kalau hakim menolak, kit dapat mencari bukti bahwa Axel menyuap majelis hakim dan kita menuntut keduanya," ucap Kenzie diplomatis.
Aletta dan Dioneel mengangguk-angguk setuju. "Oke, kita lakukan itu,"
Keputusan pun sudah diambil dan hari itu juga, Kenzie kembali melayangkan gugatannya kepada Axel. Setelah itu, dia memberikan kabar kepada Dioneel dan Aletta dan meminta mereka untuk bersabar. "Semoga dugaan kita salah dan berharaplah yang terbaik,"
Malam itu, Aletta kembali mengajak Dioneel ke rumahnya. Dia ingin membuat Arsen mengenal Dioneel kembali seperti dia mengenal Raline dan Kenzie.
"Tunggu di sini sebentar, aku tidak ingin Arsen histeris seperti kemarin," ucap Aletta pada Dioneel.
Dioneel mengangguk dan Aletta pun perlahan masuk je dalam dan segera menemui Arsen. "Kakak, aku bawa teman lagi. Apa Kakak mau bertemu dengan temanku?"
Arsen memiringkan kepalanya, kedua alis matanya saling bertautan. "Teman? Bro Dioneel? Raline? Kenzie? Teman Aletta yang lain? Aletta banyak teman, Arsen senang,"
__ADS_1
Aletta tersenyum. "Aku mengajak Dioneel datang lagi. Tapi, kalo Kakak ngga mau ketemu dia, ngga apa-apa. Nanti aku minta Dioneel pulang,"
"Jangan pulang!" tukas Arsen menggelengkan kepalanya.
"Kakak mau ketemu sama dia? Nanti teriak-teriak lagi, ngga?" tanya Aletta penuh kelembutan.
Arsen menggelengkan kepalanya lagi. "Arsen ngga teriak. Tapi, Aletta duduk di sini. Jangan ke mana-mana! Arsen ngga boleh teriak, nanti perawat dateng dan bawa Arsen,"
"Iya, bawa aja kalo Arsen teriak-teriak niy!" sahut ibu Lily, pengasuh Arsen sambil tertawa kecil. Kemudian, dia berpamitan kepada Aletta.
Setelah mengantar Nyonya Lily, Aletta kembali ke dalam. Kali ini dia menggandeng Dioneel bersamanya. "Kakak, ini Dioneel. Boleh Dioneel masuk?"
Arsen berlari dan berdiri di hadapan Dioneel seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi pencuri yang tertangkap. "Dioneel! Bro Dioneel datang! Arsen ngga teriak-teriak! Arsen tahan takut! Arsen pintar,"
Aletta menepuk pucuk kepala Arsen dengan sayang. "Iya, Arsen pintar. Kakak masih takut?"
Seringai lebar muncul di wajah Arsen. Pemuda itu mengangguk bersemangat. "Takut! Arsen takut!"
Dioneel merangkul Arsen dan mengajaknya duduk di sebuah sofa sambil menceritakan siapa dirinya. Dengan sabar, dia bertanya kepada Arsen. "Kau sudah makan?"
Arsen mengangguk.
Dioneel pun bertanya kembali tentang keseharian Arsen dirumah dan jawaban pemuda itu tetap sama. Dia hanya mengangguk dengan bersemangat.
Aletta menghela napas lega. Paling tidak, hari ini kakaknya itu sudah bisa mengalahkan ketakutannya sendiri. Gadis itu pun mengambil buku catatan Arsen dan mencatat kemajuan Arsen hari ini sambil mengucap syukur.
Keesokan harinya, kabar gembira datang dari Kenzie. Pagi-pagi sekali dia sudah mengirimkan pesan kepada Aletta dan gadis itu segera menghubunginya. "Benarkah? Kau sungguh-sungguh dan tidak sedang mencandaiku?"
("Tentu saja aku bersungguh-sungguh. Minggu depan, sidang pertama akan dilaksanakan. Persiapkan dirimu, Letta!") ucap Kenzie di telepon.
Dengan penuh senyum, Aletta menghubungi Dioneel melalui panggilan video dan ternyata pria tampan itu baru saja terbangun dari tidurnya. ("Ada apa, Sayang? Kau merindukanku? Matahari saja belum terbit, tapi kau sudah menelponku. Ah, aku tersanjung,")
"Dioneel, dengarkan aku baik-baik! Minggu depan, persidangan pertama akan dibuka! Kita akan maju untuk memberikan keadilan untuk kakakku, Dioneel! Akhirnya, yang kutunggu-tunggu telah tiba!" suara Aletta tercekat karena menahan tangis bahagia yang dia rasakan pagi itu.
***
__ADS_1