Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 37


__ADS_3

Matahari pagi itu terlihat begitu bersemangat memamerkan sinarnya. Bahkan semangat matahari mengalahkan semangat seorang pria muda yang masih tengah berbaring di peraduannya. Pria itu memeluk seorang wanita yang umurnya terpaut cukup jauh dengan dirinya. Mereka berdua sama-sama tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuh mereka.


Suara ketukan di pintu membangunkan keduanya. Si pria bangun lebih dulu. "Kau belum pergi?"


"Kau belum membayarku! Kau memintaku menginap, itu terhitung biaya tambahan," jawab wanita itu.


Si pria itu dengan malas mengambil ponselnya dan meminta si wanita memasukan nomor rekening. "Aku tidak suka membawa uang tunai. Masukan nomor rekeningmu dan tulis saja berapa nominal yang kau inginkan. Tidak lebih dari tiga juta dollar!"


Wanita itu tersenyum dan dengan wajah bahagia, jari-jarinya mulai menari di atas keypad ponsel pintar milik pelanggannya tersebut. Setelah selesai, dia mengembalikan ponsel itu ke atas nakas dan dia berjalan keluar dari kamar itu.


Tadi malam, si pria merayakan kemenangannya. Orang suruhannya berhasil memberikan informasi tentang keberadaan seseorang yang selama ini dicarinya.


"Dioneel! Sepertinya dia sudah bertobat dan kembali ke jalan yang benar, hahaha! Baru kali ini aku melihat dia mengenakan apron sambil mengelap meja seperti itu, huh! Apakah dia meremehkanku? Atau dia sudah jatuh?" kata pria itu.


Tak lama, seorang asisten pria itu menghampirinya di ruang makan dan berbisik kepadanya. Wajah pria itu perlahan berubah. "Benarkah begitu? Wah, aku tak habis pikir,"


"Benar, Tuan Axel," jawab si asisten.


"Pastikan informasi ini valid, karena aku akan ke sana untuk menemuinya," kata Axel.


Kemudian si asisten kembali berbisik, kali ini wajah asisten itu tidak bisa dibilang tenang. "Ini mengenai masalah penyuapan itu, Tuan. Anda mendapatkan panggilan ke kepolisian di minggu-minggu ini dan mereka sudah menemukan bukti kuat untuk menjerat Anda dengan hukum,"


"Gobblok! Apa saja kerjaanmu sampai kita kecolongan seperti itu?" tanya Axel geram. Dia menjentikkan jari-jarinya untuk mengusir rasa panik yang mendera dirinya saat itu.


Asisten Axel menunduk serendah mungkin. Mereka kecolongan saat ini karena lengah. Mereka tidak memperhatikan adanya CCTV yang dipasang di jalan dekat rumah sang hakim.


"Tenang! Kita harus tenang! Kau tau siapa aku, 'kan? Aku selalu berhasil lolos dari hal-hal seperti ini," kata Axel mencoba untuk tenang. Di kepalanya sudah tersusun rapi beberapa rencana dan dia hanya butuh tenang supaya rencana itu matang dan berhasil.


Hal yang pertama harus dia lakukan adalah, "Aku harus bertemu dengan Dioneel dulu, setelah itu kita bisa tentukan apa yang sebaiknya kita lakukan. Apa dia bersama anak buahnya? Kevin, Javas, atau siapa pun itu?"


Asisten Axel menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Dia hanya bersama wanita yang bertemu dengan kita di pengadilan,"


Kedua alis Axel terangkat. "Benarkah? Menarik! Apa yang dia lakukan dengan wanita itu? Kenapa die terpisah dengan kawanannya? Cari tau tentang itu! Begitu kita mendapatkan jawaban, kita akan bergerak! Ingat, perhatikan detail!"

__ADS_1


"Baik, Tuan," jawab si asisten. Lalu, dia membungkuk kembali dengan hormat sebelum akhirnya dia pergi.


Sementara itu di rumah Aletta, Bu Lily sudah bersiap-siap untuk membuka restorannya. Aletta keluar untuk membantunya. Bahkan, Arsen pun ikut membantu walaupun tidak bisa berlama-lama membantu.


"Apa pekerja kita belum bangun?" tanya Bu Lily.


Aletta tersenyum. "Dioneel? Belum, dia belum bangun. Kurasa selama ini, dia tidak pernah tidur. Tadi kuintip ke kamarnya dan tidurnya sangat pulas. Seperti bayi kecil yang kelelahan,"


Bu Lily mengajari Arsen cara mengupas kentang dengan menggunakan pisau kupas. Tak perlu waktu lama bagi Arsen untuk menguasai kemampuan barunya itu.


Sambil dibantu oleh Aletta, Bu Lily membuat sarapan untuk mereka berempat. Setelah sarapan hampir jadi, Bu Lily meminta Aletta untuk membangunkan Dioneel.


Aletta pun masuk ke dalam kamar pria tampan itu. Dioneel tidur dengan memakai pakaian Arsen yang kekecilan di tubuhnya, sehingga pakaian itu memperlihatkan perut Dioneel yang rata.


"Dioneel, apa kau sudah bangun?" tanya Aletta dengan suara pelan. Namun, mata Dioneel masih terpejam. Aletta mengusap lengan Dioneel dengan lembut. "Hei, sarapannya sudah siap. Ayo, makan dulu bersama kami!"


Tidak ada tanda-tanda pria itu akan bangun. Aletta mendekatkan wajahnya ke wajah Dionell dan gadis memperhatikan kekasihnya yang masih tertidur lelap. "Apa kau mengantuk sekali sampai tidak mendengar panggilanku? Dioneel! Bangun!"


Aletta mendorong lengan Dioneel sekuat tenaga. "Dion, lepaskan aku! Ayo, kita bangun! Aah, kau berat!"


Dioneel mengecup bibir Aletta dan seketika itu juga Aletta terdiam. Pria yang biasa disapa Dion itu tertawa melihat reaksi kekasihnya. "Hahaha, lain kali bangunkan aku dengan ciuman selamat pagi. Aku pasti lebih cepat bangun,"


Tanpa kata-kata lagi, Dioneel memagut bibir Aletta yang tampak menggairahkan pagi itu. Aletta merespon dengan baik pagutan kekasihnya.


Pagutan itu dengan cepat berubah menjadi pagutan yang panas dan semakin dalam sampai Arsen memanggil nama Aletta dengan cukup kencang.


"Aletta makan! Aletta makan! Di mana Aletta?" ucap Arsen.


Aletta cepat-cepat turun dari tubuh Dioneel dan mengusap bibirnya. "P-, pokoknya kau sudah bangun,"


Dioneel tertawa kecil saat Aletta keluar dari kamarnya. "Mungkin aku akan menikah cepat dan benar katamu, Aletta, aku harus meninggalkan dunia gemerlapku,"


Aktivitas pagi itu berlangsung dengan cepat. Omelan Bu Lily kepada Arsen yang tidak menghabiskan makanannya meramaikan suasana pagi hari yang cerah itu.

__ADS_1


"Arsen! Ini belum habis! Buka lebar mulutmu!" titah Bu Lily sambil menyuapi Arsen dengan telaten. Arsen pun mematuhi perintah ibu pengasuhnya itu, walaupun setelahnya dia akan terus bergumam tidak jelas.


Pagi berganti siang dan siang berganti petang dengan cepat. Tanpa terasa, Dioneel sudah dapat beradaptasi dengan gaya kepemimpinan Bu Lily dan restoran itu semakin ramai berkat para pengunjung yang datang hanya untuk melihat ketampanan Dioneel.


"Seharusnya kau menjadi maskot dan berdiri di depan sana, Dioneel," tukas Bu Lily. Aletta pun tertawa mendengarnya.


Menjelang malam, tamu-tamu kembali mulai memadati restoran dengan makanan Latin itu. Dioneel dan Aletta dengan cekatan melayani para tamu yang datang silih berganti.


Hingga ada beberapa orang tamu yang mengejutkan Aletta. "Apa restorannya masih buka?" tanya tamu pria itu.


Aletta mematung dan dia cepat-cepat masuk ke dalam. Dia mencari Arsen, setelah dia menemukan kakaknya itu, Aletta membawanya ke kamar. "Kak, di luar ramai sekali. Kakak jangan keluar dulu, yah. Kakak santai aja sambil mendengarkan lagu,"


"Arsen tidak pusing," jawab Arsen. Biasanya kalau Arsen mengeluh pusing, Aletta akan mengajak Arsen untuk mendengarkan musik dan berdiam diri di kamar selama beberapa waktu.


"Pokoknya di sini aja dulu. Oke?" titah Aletta. Dia lun bergegas keluar. Jantungnya berdegup kencang dan dia bertanya-tanya darimana orang-orang itu tau alamat rumahnya.


Sementara itu di luar, Dioneel dan si tamu pria itu saling memandang dengan tajam. "Ada urusan apa kau datang kemari, Axel?"


Axel tersenyum. "Aku lapar dan menemukan restoran ini. Tidak ada yang salah dengan itu. Oh, tunggu! Kau sudah beralih profesi menjadi pelayan restoran, Tuan Dioneel?"


Tawa Axel yang mengejek membuat darah Dioneel mendidih, untungnya Aletta datang tepat waktu. Dia memberikan buku menu pada Axel. "Apa pesananmu?"


Axel menarik tangan Aletta dan mencium bibirnya. "Aku pesan kau, Sayang,"


Satu tinju mendarat di pipi Axel dan dengan cepat dia menarik tangan Aletta. "Jangan pernah kau sentuh dia, Sapi Brengsek!"


Pertarungan sengit pun terjadi. Dioneel dan Axel saling memukul dan berbaku hantam. Aletta berusaha memisahkan mereka berdua, tetapi malah dia jatuh terpelanting.


Bu Lily bergegas masuk ke dalam untuk menenangkan Arsen. Namun sialnya, Arsen sudah berlari keluar dan berteriak. "Aletta! Aletta!"


Melihat Arsen keluar, Axel menghentikan pertikaiannya dan memandang Arsen dengan tatapan mengerikan. "Teman lamaku, lihat siapa yang aku temukan di sini? Dia masih hidup! Hahahaha!"


***

__ADS_1


__ADS_2