Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 38


__ADS_3

"Kak Arsen!"


Aletta memekik kencang, di saat ia menyadari tatapan berbeda dari Axel yang baru menyadari keberadaan sang kakak. Untuk saat ini Aletta memang benar-benar merasa takut, ia takut kalau Axel akan memanfaatkan keberadaan kakaknya lagi sebagai bentuk dari kemarahan dan juga rasa egoisnya.


Bughh!


"Sampai kapan pun dia bukan temanmu, Axel," ucap Dioneel dengan napas yang terlihat naik turun, dan juga kepalan tangannya yang semakin mengerat.


Kesabaran Dioneel kali ini memang sudah benar-benar habis. Ia benar-benar sangat kesal sekali dengan Axel, karena terus berusaha mengganggu hidupnya. Apa lagi sekarang kini dirinya sedang berada di tempat Aletta, dan sempat membuat wanita kesayangannya itu terjatuh hingga membuat Arsen muncul menampakkan dirinya.


Sementara yang dipukul, Axel malah semakin menyeringai lebar. Pria itu sama sekali tidak merasa kesakitan dan juga takut dengan sikap Dioneel saat ini, karena dirinya yang masih tak begitu percaya bisa menemui Arsen di tempat ini setelah sekian lama tak berjumpa.


Axel pikir, selama ini Arsen telah tiada. Akan tetapi nyatanya sekarang, sosok yang dulu pernah ia ambil dari Dioneel tersebut masih jelas-jelas hidup dan tampil di hadapannya.


Siapa yang akan menyangka, kalau dirinya bisa kembali dengan sosok yang pernah ia habisi beberapa tahun yang lalu?


Tentu Axel benar-benar sangat tidak menyangkanya. Apa lagi, sekarang ia baru juga mengetahui kalau ternyata Dioneel sudah mengetahui hal ini dan sudah kembali dekat dengan sosok tersebut.


"Ternyata Arsen itu kakakmu, Aletta?" tanya Axel yang semakin menyeringai lebar, walau kenyataannya kini Dioneel telah menarik kuat-kuat kerah bajunya.


Aletta yang masih berada di tempat awal terjatuhnya itu pun semakin bergeming. Untuk saat ini ia sama sekali tak tahu harus melakukan apa, karena dirinya yang terlalu mengkhawatirkan sang kakak yang mungkin saja akan menjadi incaran Axel selanjutnya.


"Wow, kalau dilihat-lihat kalian berdua memang mirip sih! Tapi kau Aletta, kau tetap terlihat jauh lebih menarik dari kakakmu yang kurus ini!" ucap Axel dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah gadis yang terkenal dekat dengan Dioneel tersebut.


Bughh!

__ADS_1


"Jaga ucapanmu dan juga sikapmu, Axel!" teriak Dioneel yang semakin tak sabaran.


Andai saja Dioneel tak ingat dengan segala aturan dan hukum yang ditegakkan di negeri ini, mungkin sudah dari tadi ia akan menghabisi riwayat musuh bebuyutannya yang satu ini. Akan tetapi sayangnya, setelah dipikir-pikir kembali itu semua tak bisa dilakukan oleh Dioneel begitu saja. Ia juga tak mau Aletta menjadi takut kepadanya karena telah menghabisi Axel saat ini di hadapannya, sehingga sekarang sedang berusaha sebisa mungkin mengontrol emosinya.


"Wow! Sepertinya kau memang sangat menyayangi Aletta ya, Dioneel? Kalau begitu aku jadi semakin penasaran dengan bagaimana reaksimu nanti, jika ada sesuatu yang terjadi dengan Aletta," ucap Axel dengan senyum iblisnya yang kian membuat tekanan darah Dioneel semakin meninggi.


Bughh!


"Sialan kau! Bisa-bisanya aku mengancam ku seperti itu? Kau memang pria pecundang, Axel! Tidak ada pria sejati yang menggunakan wanita sebagai alat balas dendamnya! Kalau kau punya dendam padaku, lampiaskan lah pada ku langsung! Bukan orang lain!" geram Dioneel yang kini semakin emosi, hingga semakin menarik kerah baju Axel ke atas.


"Oh ya? Sayangnya aku tidak peduli dengan hal itu, karena yang terpenting bagiku adalah melihatmu semakin sengsara dan hancur, Dioneel!"


Brakkk!


Sebuah bunyi hantaman yang cukup keras seketika saja membuat seluruh orang yang ada di sana memekik ketakutan, hal itu tak terkecuali dengan Arsen yang baru saja hendak membantu sang adik untuk kembali berdiri.


Dioneel baru saja melemparkan tubuh Axel ke sebuah tumpukan kursi yang ada di belakangnya, hingga membuat semua benda-benda yang ada di belakangnya berceceran dan terpelanting jauh berantakan.


Nampaknya, kali ini Dioneel benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi. Ia sungguh sangat kesal dengan Axel, yang tadi sempat terang-terangan mengakui akan menggunakan Aletta sebagai salah satu alat untuk membuatnya hancur.


Sehingga setelah berhasil membuat musuhnya itu terjatuh, Dioneel pun langsung tanpa basa-basi melayangkan berbagai pukulan ke arah wajah Axel. Semakin alam pukulan itu semakin membabi buta, hingga lambat-laun mulai menghancurkan dan mengacaukan semua benda-benda yang ada di sekitar restoran kecil yang baru saja Aletta bangun dengan bantuan Bu Lily, dan juga kakaknya.


Sementara Arsen, pria yang tadi sempat berteriak karena terkejut dengan suara kencang tersebut, kini semakin terlihat ketakutan. Langkahnya yang tadinya hendak tertuju pada sang adik yang sempat terjatuh, kini mulai semakin bergerak tak menentu.


Tiba-tiba saja Arsen seperti kehilangan arah, dengan kedua tangannya yang terus berusaha menutupi kedua telinganya. Berkali-kali kakaknya Aletta itu terlihat memejamkan matanya, seiring dengan berbagai suara ketakutannya yang terus-menerus disusul dengan suara hantaman dari Axel dan juga Dioneel yang sedang berkelahi hebat.

__ADS_1


"Kak Arsen! Masuklah kembali ke rumah, Kak!" teriak Aletta yang tengah berusaha bangkit, dan hendak menghampiri sang kakak yang sedang nampak terlihat sangat ketakutan sekali.


Di tengah upayanya untuk bangkit berdiri seperti semula, Aletta juga tak lupa untuk memanggil nama Bu Lily. Hanya satu-satunya wanita itu yang diharapkannya untuk mengamani sang kakak, karena saat ini salah satu kakinya benar-benar terasa sangat sakit.


Bugghh!


"Manusia seperti kau sepertinya memang layak aku lenyapkan dari muka bumi ini!" geram Dioneel yang kini benar-benar sudah terbakar api emosi.


Prangg!


"Sebelum kau berhasil melenyapkanku, aku akan melenyapkanmu lebih dulu, Dioneel! Kau yang harus mati terlebih dahulu, agar nanti Aletta bisa berbahagia denganku!" sahut Axel yang kini sudah berhasil mendapatkan sepotong pecahan kaca, dan langsung mengarahkan benda tajam itu ke arah salah satu tangan Dioneel yang sedang mengurungnya.


Ssrttt!


"Akkkk! Arsen takut! Tolong! Tolong Arsen! Arsen enggak mau dipukul!" teriak kakaknya Aletta itu, tepat di saat kecuran cairan berwarna merah mulai membasahi salah satu tangan Dioneel.


Tiba-tiba saja, sekelebat bayangan yang cukup buruk muncul kembali di benak kakaknya Aletta tersebut. Hingga semakin lama, rasa ketakutan yang dialami oleh Arsen pun kian menjadi-jadi. Saat ini Arsen benar-benar tak bisa mengontrol dirinya sendiri, hingga membuatnya semakin berteriak dan terus berusaha berlari ke sana ke mari seolah ingin mencari tempat yang aman.


Sementara itu Dioneel masih merintih kesakitan, hingga membuat Axel berhasil terlepas dari jeratannya. Sampai akhirnya tanpa basa-basi lagi pria itu pun segera membalas segala pukulan yang telah Dioneel layangkan kepadanya, tanpa menghiraukan segala teriakan Arsen yang terus saja terdengar memenuhi situasi ini.


"Arsen! Aletta! Ayo, kita masuk! Sebentar lagi polisi akan datang!" teriak Bu Lily dari dalam, dengan berlari tergopoh-gopoh guna menghampiri Arsen yang nampak terlihat sangat ketakutan dan juga Aletta yang terlihat sangat kesakitan.


Mendengar kata polisi, Axel pun seketika saja langsung menyudahi pukulannya pada Dioneel. Ia tentu tidak mau menyulitkan dirinya sendiri, hingga dirinya memutuskan untuk segera pergi sebelum polisi datang menemui dirinya.


"Sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa hidup tenang, Dioneel! Aku akan pastikan hal itu!" bisik Axel pada musuh bebuyutannya, sebelum benar-benar pergi dari tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2